Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 72


__ADS_3

Delia tiba di rumah sakit saat malam telah tiba, perasaannya tidak sejak di jalan menuju rumah sakit,hatinya seakan begitu sakit dan rasanya ingin sekali menangis,seakan ada sesuatu yang hilang darinya tapi apa?.


Delia berlari kecil di lorong -lorong rumah sakit,menuju ruangan ayahnya.Delia berhenti sejenak untuk mengambil nafas ,dari jarak sekitar lima puluh meter dari ruangan ayahnya Delia berjalan pelan,ia tidak melihat Revan dan ....


Deg ...


Beberapa perawat keluar masuk dari ruangan ayahnya dengan berlari kecil,Delia yang melihat itu langsung berlari ,jantungnya berdegup begitu cepat,takut terjadi sesuatu pada ayahnya.


Setelah tiba di depan kamar,Delia melangkah pelan masuk ke kamar ayahnya,dilihatnya beberapa perawat dan seorang dokter yang sedang melakukan pertolongan dengan menggunakan alat pacu jantung,De lia menerobos perawat yang berdiri di depannya.


"Ayah...." Delia berjalan mendekat dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.Revan yang mendengar suara Delia menoleh ke arahnya,lalu berjalan ke arah Delia berdiri.


"Ayah kenapa,Van?" Tanya Delia saat Revan sudah berada di sampingnya.


"Saat kakak ke desa,ayah tadi tersadar sebentar tapi saat akan mengatakan sesuatu pada Revan ,ayah tiba-tiba sesak dan kembali tak sadarkan diri,bahkan ayah mengalami gagal nafas." Jelas Revan menunduk menahan tangis agar tak tumpah.


Delia yang mendengar penjelasan Revan ,hanya bisa terdiam,ia kehilangan kata-kata,hanya air mata yang mewakili hatinya.


Sementara dokter Ramon masih berusaha memberikan kahidupan pada pasien dengan menggunakan alat pacu jantung,tapi sedetik kemudian alat pacu pun tak mampu menyelamatkan sang ayah.Dengan menyesal dan berat hati Ramon menghentikan alat itu karna sudah tak ada lagi respon.


Delia dan Revan tak mampu lagi bertahan, mereka berjalan mendekati sang ayah saat mereka menyadari ayah mereka telah pergi menyusul sang ibu.


"Ayah.....ayah..."Jerit Delia sambil memeluk sang ayah dengan mengguncang-guncang kan bahu sang ayah berharap agar ayahnya terbangun.Delia terduduk lemas sedangkan Revan hanya terdiam menahan tangisnya sambil memeluk sang kakak untuk memberikan kekuatan dan dukungan,mereka saling memberikan kekuatan satu sama lain.


"Maaf Del,saya sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain." Ucap dokter Ramon pelan,ia juga begitu merasa sedih .Ia gagal menyelamatkan pasiennya tapi apa daya jika Tuhan sudah berkehendak.


Delia masih terdiam,raga nya ada tapi jiwanya entah kemana.Pikirannya mengembara ke belakang saat beberapa jam yang lalu rencana untuk melenyapkan ayahnya baru di ketahui nya,tapi saat ingin menyelamatkan sang ayah justru ia di dahului maut sang ayah.


Hatinya terguguh,ia menangis tersedu-sedu,begitu kehilangan yang amat sangat,baru sebulan lalu ibunya pergi dan sekarang ayahnya menyusul,mereka jadi yatim piatu dalam sekejap.

__ADS_1


Setelah merasa lebih baik,dan sudah mampu menguasai dirinya,Delia melepaskan pelukannya dari sang adik,ia kemudian menoleh ke arah dokter Revan dan mengangguk pelan, sebagai seorang dokter ia menyadari akan posisi dokter Revan.


Sementara itu para perawat sedang melepas semua alat yang terpasang di tubuh almarhum,lalu mereka membawa mayat itu ke ruang jenasah untuk mengikuti segala prosedur yang ada.


Delia dan Revan hanya menatap dengan deraian air mata mengiringi kepergian sang ayah yang di dorong oleh perawat untuk di bawa ke kamar jenasah.


"Apa yamg terjadi dok?" Tanya Delia setelah rombongan perawat yang mendorong ayahnya menghilang di lorong rumah sakit.


Dokter Ramon menghela nafas berat.


"Sepertinya racun itu begitu cepat menyebar ke seluruh tubuh pasien dan langsung menyerang organ-organ vital nya." Jelas dokter Ramon.


"Itu artinya ayah di lenyapkan?" Gumam Delia pelan,ia begitu lemas mendengar kenyataan itu, sementara Revan begitu syok mendengar jika ayahnya dengan sengaja di lenyapkan oleh seseorang tapi siapa.Adakah musuh yang tersembunyi ,diam-diam menyerang mereka tanpa mereka sadari?


Rey memarkirkan mobilnya di halaman rumah milik orang tuanya,ia lalu turun dan melangkah masuk ke rumah,namun baru saja akan membuka pintu utama yang sedikit terbuka ,ia mendengar percakapan seseorang yang suaranya begitu familiar di telinga nya.


"Sebaiknya papa berterus terang pada Rey,ayah Mona sudah bertindak sangat jauh,dan itu akan sangat berbahaya,pa." Ucap ibu Rey yang berada di ruang tamu bersama dengan suaminya.Rey yang ingin masuk , membatalkan niatnya,ada rasa ingin tahu yang tiba-tiba muncul di hatinya,ia ingin mencuri dengar percakapan kedua orang tuanya,ia merasa semua ini berkaitan dengan kecelakaan ayahnya.


Dunia Rey seakan berputar,bumi tempat nya berpijak seakan sudah tak dapat lagi di tapaki,hatinya hancur mendengar kebenaran yang menyakitkan itu,orang yang selama hidupnya begitu ia cintai dan hormati ternyata merekalah di balik kematian orang tuanya,tanpa sadar air mata merembes ke pipinya,jarinya terkepal begitu kuat menahan amarah dan kekecewaan,tapi pikirannya masih waras,ia tidak ingin gegabah mengambil tindakan, sejujurnya Rey sudah mengetahui bahwa bukan ayah Delia yang melenyapkan orang tuanya,dan ada seseorang yang mempunyai kekuasaan di balik kecelakaan ayahnya,ayah Delia hanya di kambing hitamkan karna ia begitu setia pada Bramantyo.Rey tahu semua itu saat orang suruhan nya menemukan kotak itu dan semua bukti tersimpan rapi di dalam kotak itu,Rey hanya tidak mengetahui siapa orang besar yang berada di balik kecelakaan orang tuanya,Rey baru menyelidikinya.Tapi hari ini tanpa sengaja Rey mendengar sendiri dengan telinganya dan ternyata orang tua angkatnya lah yang berada di balik semua ini,saudara kandung ayah nya sendiri.


Rey pergi meninggalkan rumah milik orang tuanya,tidak berniat lagi untuk menemui mereka,api kebencian dan kekecewaan itu begitu besar ,bahkan lebih besar dari kebencian nya pada Delia dan keluarganya.


"Delia.." Rey teringat Delia ,ia kemudian memutar mobilnya ke arah jalan menuju apartemen milik istrinya itu,dengan kecepatan di atas rata-rata ia menyusuri keramaian jalan raya .


Rey berlari masuk ke lobi apartemen milik Delia,dengan tergesa ia masuk ke lift menuju flat Delia.


Ting....Tong ..


Rey menekan bel,setelah berada di depan pintu apartemen,namun tak ada tanda-tanda orang akan membuka pintu itu.Rey terlihat putus asa karna sedari tadi Rey memencet bel .

__ADS_1


"Cari siapa?" Tanya seseorang yang berada tepat di belakang Rey.Rey membalikkan tubuhnya menghadap ke arah orang yang bertanya padanya,dengan sedikit terkejut.


"Anda cari siapa?" Tanya seorang wanita itu lagi karna Rey tak kunjung menjawab nya,Rey menatap wanita itu , sepertinya wanita itu juga seorang dokter dan mungkin baru saja pulang dari tugas malamnya .Pikir Rey


"Hheemm.." Rey berdehem menetralisir kan kegugupannya.


"Saya sedang mencari pemilik apartemen ini." Jawab Rey dengan wajah datar dan dingin.


"Saya pemiliknya." Jawab wanita itu,ia kebingungan pasalnya dia tak mengenal Rey .


Rey melongo tak percaya,tidak mungkin dia salah masuk apartemen, dia ingat betul apartemen ini jelas-jelas milik Delia,karna Delia pernah mengajaknya ke apartemen ini untuk mengambil barang-barang milik Delia waktu itu, saat mereka akan pindah ke apartemen Rey .


"Tidak, ini apartemen istri saya,anda siapa?"


Wanita itu masih kebingungan karna dia lah pemilik apartemen ini, bagaimana bisa dia tidak mengenali suaminya jika pria yang berada di depan nya ini benar suaminya.


"Jika wanita ini adalah pemilik apartemen ini,lalu kemana Delia?"Batin Rey .


"Maksud saya, kemana pemilik pertama apartemen ini?" Ucap Rey lagi.


"OOO,dokter Delia?"


"Iya,kemana dia?"


"Dokter Delia menjual apartemen dan mobilnya kepada saya,tapi kalau dimana dia,saya kurang tahu,saya hanya tahu kalau dia akan kembali ke desanya dan bekerja disana hanya itu." Jelas wanita itu.


Tubuh Rey begitu lemas mendengar penuturan wanita itu,rasa bersalah semakin merasukinya,ia yang dulu begitu mencintai Delia lalu membencinya dan mempermalukan nya di depan karyawannya,dan kini Delia pergi meninggalkan kota ini.


Rey memukul dinding apartemen itu dengan tangannya, melepaskan segala kekalutannya,sedangkan wanita itu hanya terdiam menatap bingung.

__ADS_1


"Terimakasih, permisi.." Ucap Rey lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan hati yang begitu sesak,penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan.


__ADS_2