
Delia berjalan di lorong rumah sakit,hari ini dirinya akan menjenguk Vio sebentar,lalu melanjutkan rencananya untuk mengirim surat perceraian yang sudah ia tanda tangani ke kantor Rey.
Sementara Rey saat ini berada di bandara,ia ingin ke Singapura untuk menjemput Rosa Karna kemari ia mendapat kabar dari rumah sakit tempat Rosa di rawat, keadaan Rosa sekarang sudah membaik dan sudah di perbolehkan untuk pulang ,hanya perlu kontrol rutin saja.
Rey di temani oleh Mona untuk bertolak ke Singapura,awalnya Rey menolak saat Mona ingin ikut dengannya menjemput Rosa, tapi Karna Mona begitu keras kepala dan Rey ingin berdebat dengannya akhirnya Rey menyetujui untuk Mona ikut dengannya dan tentu saja itu membuat nya begitu antusias.
Delia membuka pintu ruangan Vio,ia melihat Vio tergeletak tak berdaya dengan beberapa slang yang menempel di tubuhnya untuk menunjang kehidupan nya .
Delia melangkah pelan mendekati Vio,hatinya begitu sesak melihat kondisi sang adik.
"Bangunlah Vio,apa kamu tidak bosan tidur,kakak dan Revan menunggumu kami merindukan mu,apa kamu tidak merindukan kami." Ujar Delia sambil mengelus lembut kepala Vio,air matanya jatuh begitu saja melihat ketidak berdayaan sang adik.Ingatannya kembali ke belakang mengingat saat-saat dimana keluarga nya masih utuh dan bahagia,meski mereka hidup dalam kesederhanaan tapi mereka begitu bahagia,Vio yang begitu ceria dan cerewet,dia tidak akan berhenti berbicara kecuali dia tidur seperti saat ini,tak ada lagi yang menjahili dirinya,meminta uang jajan atau sekedar bercerita apa saja,Vio gadis cantik,tak kalah cantik dari Delia,wajahnya perpaduan wajah Delia dan Revan,begitu manis,, bibir nya tipis dan ada belahan di tengah bibir bawahnya,alisnya sedikit tebal, serta berlesung pipit sebelah itu.
Delia mengusap pipinya ,ia lalu memandang wajah putih pucat milik Vio.
"Kakak akan melakukan apa pun agar kamu sembuh,kakak janji." Gumam Delia ,ia kemudian tersenyum tipis,baru saja akan membalikkan tubuhnya ia di kagetkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
"Sudah mengobrol nya." Goda Ramon sambil berjalan masuk menuju tempat tidur Vio.
Delia mendengus sedikit kesal pasalnya ,ia selalu saja si buat kaget.
"Selalu saja membuat ku kaget." Omel Delia sambil mengelus dadanya Karna terkejut.
Ramon hanya tersenyum mendengar Omelan Delia,ia kemudian mendekati Vio dan mulai mengecek kondisinya,Ramon menatap Vio begit dalam, tatapan yang sulit di artikan.
"Ada apa dok?" Tanya Delia saat ia melihat Ramon terdiam sambil menatap wajah Vio.Delia tidak tahu bahwa Ramon mengenal Vio,yang ia tahu Ramon hanya dokter yang menangani Vio itu saja.
Ramon menoleh ke arah Delia sebentar,lalu kembali menatap Vio, sepertinya kita harus secepatnya membawa Vio ke Jerman,aku akan menghubungi rumah sakit di Jerman untuk mempersiapkan segalanya.
Delia melongo mendengar ucapan Ramon.
"Baiklah, lakukan apa pun yang terbaik,aku hanya ingin Vio sembuh." Ucap Delia,ia akan bekerja keras untuk membayar biaya perawatan Vio di Jerman.
"Bagaimana hubungan mu dengan Rey."
__ADS_1
Deg
Hati Vio kembali di remas saat mendengar nama Rey di sebut.
"Apa semua baik-baik saja,aku tidak pernah melihatnya menjengukku." Lanjut Ramon lagi namun tatapan nya tetap mengarah ke wajah Vio.
Vio menghela nafas berat,hatinya kembali tersayat saat nama itu di sebut,nama yang sedang berusaha ia lupakan.
"Baik-baik saja." Jawab Delia pelan,air matanya hampir saja jatuh jika dia tidak segera mendongak untuk menahan nya agar tak tumpah.
Ramon menyadari itu,ia paham ada yang tidak beres dengan hubungan mereka,jika melihat keposesifan Rey terhadap Delia saat mereka bertemu di Singapura,Ramon tak akan percaya jika semua itu sudah berubah,tak sekalipun Ramon melihat kedatangan Rey ,saat ayah Delia meninggal pun Rey tak kunjung datang padahal saat itu Delia begitu terpuruk dan butuh sandaran tapi kemana Rey?
"Aku pulang dulu,aku titip Vio." Ucap Delia pamit,ia kemudian melangkah kan kakinya pelan menuju pintu.
"Kenapa Rey tak datang?" Ujar Ramon yang membuat Delia menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di depan pintu.
"Bukan urusanmu." Sinis Delia lalu melanjutkan langkahnya dan berlalu pergi.
Ramon mendesah,ia hanya ingin membantu Delia dan Ramon kembali bersatu karna ia sudah tahu hubungan Delia dan Rey sedang tidak baik-baik saja.
Ramon berjalan di lorong -lorong rumah sakit sambil mengangguk kecil saat beberapa orang menyapanya,ia kemudian menatap taman rumah sakit yang berada di depan ruangannya,baru saja akan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruangan nya,matanya menangkap sesosok wanita yang sedang duduk di kursi taman seorang diri,ia sedang menangis itu terlihat jelas dari bahunya yang bergerak.
"Menangis lah jika itu dapat mengurangi bebanmu." Seru Ramon yang berdiri tepat di belakang bangku tempat Delia duduk .
Seketika Delia menghentikan tangisannya dan mengusap pipinya,lalu menoleh ke sumber suara.
"Kamu...." Ucap Delialu kembali menatap kedepan melihat anak- anak dan beberapa pasien sedang bersenda gurau dan bermain.
"Kamu akan merasa lebih baik saat kamu membagi masalah mu pada orang lain,tidak baik memendam nya sendiri itu akan menjadi penyakit." Ujar Ramon sambil duduk di samping Delia meski tak meminta izin padanya.
"Sok tahu kamu."
"Lebih baik dok tahu kan dari pada tida mau tahu."
__ADS_1
"CK... ngapain kamu kesini?"
"Karna aku merasa ada seseorang yang sedang membutuhkan pundakku untuk menumpahkan segala bebannya."
Delia menoleh ke arah Ramon,lalu kemudian kembali menatap ke depan.
"Aku tahu ini bukan ranah ku,tapi sebagai teman aku ingin kamu membagi masalah mu sedikit agar tidak menjadi penyakit pada akhirnya."
Delia mendesah, hatinya menghangat tak kala ada seseorang yang memberi nya perhatian.
"Are you ok?"
"Hhhmmm,Aku berencana membawa Vio ke Jerman dua Minggu dari sekarang,siapka Saj segalanya,tapi...." Ucapan Delia menggantung,ada sedikit keraguan di hatinya tapi ia harus tahu agar dia dapat menghitung nya .
"Apa,kenapa tidak di lanjutkan."
"Berapa biayanya,aku tidak punya uang banyak untuk biaya pengobatan Vio, Tapi aku akan berusaha untuk mecari tambahan biayanya."
"Tidak usah terlalu memikirkan soal biaya,aku akan membantu mu." Ucap Ramon tulus.
"Tidak ,aku tidak ingin berutang Budi pada siapapun,dua milyar apakah itu cukup?"
" Aku tidak tahu apakah itu cukup atau tidak,Karna kita belum tahu berapa lama waktu yang di butuhkan untuk melakukan perawatan itu,aku rasa untuk beberapa bulan itu cukup."
"Aku akan berusaha untuk menutupi kekurangan-kekurangan nya."
Sejenak hening, keduanya terdiam mereka tengah sibuk d Ngan pikiran mereka masing-masing,Ramon akan membantu Delia untuk membiayai pengobatan Vio nantinya tapi sepertinya dia harus diam - diam melakukannya karna Delia sudah jelas menolak bantuan nya.
"Darimana kamu dapatkan dua milyar itu?"
Delia menoleh mendengar pertanyaan Ramonlu menghembuskan nafas pelan.
"Kompensasi dari perpisahan ku dengan Rey,itu uang pemberiannya jika saja aku mau menandatangani surat perceraian kami." Jelas Delia dengan suara berat, seakan sedang menahan gejolak hati yang sedang rapuh.
__ADS_1
Ron terperangah mendengar penuturan Delia,ia tak percaya tapi itu keluar dari mulut Delia sendiri.