
" Dok ,ada pasien darurat." Panggil seorang suster saat membuka pintu ruangan Delia.
Delia yang tengah fokus memeriksa laporan kesehatan pasien- pasiennya di kejutkan oleh suara suster itu,kemudian menatapnya lalu segera beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah suster yang tadi memanggilnya.
Delia memasuki ruang UGD dan menemukan seorang anak laki-laki sedang terbaring lemah yang di dampingi seorang wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik dan anggun.
Delia kemudian berjalan mendekati anak kecil itu lalu memeriksanya dengan seksama,kemudian tersenyum penuh kelembutan yang membuat anak kecil itu juga ikut tersenyum.
" Tidak apa - apa hanya demam biasa dan sedikit flu." Ucap Delia seraya tersenyum sambil mencubit pelan pipi cubby anak itu yang membuat nya begitu gemas.
" Tidak ada yang serius kan, dok?" Tanya wanita paruh baya itu,ia begitu takut saat sang cucu terlihat begitu lemah dengan suhu badan yang sedikit tinggi di sertai batuk.
" Tidak apa- apa hanya perlu istirahat saja,tapi sabaiknya pasien di rawat satu atau dua hari sampai benar-benar pulih." Jelas Delia lagi menatap wanita paruh baya itu .
" Baiklah, dok lakukan semua yang menurut dokter terbaik." Wanita itu pasrah saja,ia begitu mencintai cucu satu- satunya itu,selain itu ia tidak ingin ayah dari cucunya ini mengamuk karna melihat putra kecilnya itu terbaring sakit.
" Baiklah...." Delia memberikan kode kepada suster yang mendampinginya dan segera suster itu mengatur kepindahan pasien kecil itu ke ruang perawatan.
"Aku tidak apa - apa ,Oma jangan sedih." Ujar anak kecil itu saat melihat Omanya begitu sedih .
"Iya,sayang Oma baik- baik saja,hanya saja Oma sedang berfikir bagaimana caranya memberitahu Daddy mu,kamu tahukan bagaimana Daddy mu itu."
" Semua sudah siap dok." ucap seorang suster yang sedari tadi mengurus segala prosedur untuk pasien baru ini .
Delia hanya mengangguk untuk mempersilahkan suster itu membawa pasiennya ke ruang perawatan.
" Pasien akan di bawa ke ruang perawatan,nyonya silahkan menyusul." ucap suster itu kemudian menarik brankar pasien untuk di bawa ke kamar VIP .
__ADS_1
Delia hanya berdiri melihat kepergian pasiennya yang di dorong oleh seorang suster dan disisinya seorang wanita paruh baya.
Tring...tring....Delia dikagetkan oleh suara ponselnya yang berdering ia kemudian merogoh kantongnya lalu mengambil benda pipih itu dan terlihat nama orang yang menelfonnya itu.
pokemon nama yang tertera di ponselnya itu,ia kemudian menghela nafas panjang kemudian menggeser tombol hijau.
"Ya...." jawab Delia sambil menempelkan ponselnya di telinga.
" Kenapa begitu lama mengangkatnya." Suara dari seberang telfon itu terdengar begitu nyaring seperti orang yang sedang berteriak menahan kesal,Delia bahkan sampai menjauhkan ponselnya dari gendang telinganya akibat dari suara yang memekikkan telinga itu.
" Apa kamu masih sibuk." Lanjut Rey lagi,ya yang menelfon itu adalah Rey.Tapi kini suaranya tidak seperti tadi kini berubah begitu pelan dan lembut.
" Kamu bahkan menelfon beberapa menit yang lalu dengan pertanyaan yang sama." Protes Delia karna suaminya itu sudah berkali-kali menelfonnya setiap menitnya,ia bahkan harus meninggalkan pasien yang sedang di tanganinya hanya sekedar menjawab telfon suaminya itu karna jika tidak itu akan menjadi masalah yang panjang dan Delia tidak mau berdebat dengan hal - hal yang menurutnya tidak penting itu.
Semenjak mereka tinggal bersama dan memutuskan untuk memulai pernikahan mereka dari awal dan menjalani nya sebagai mana seharusnya,Rey tiba- tiba berubah posesif dan sangat manja, terkadang Delia kewalahan menghadapi sikap manja dan posesif suaminya itu,yang ia baru ketahui bahwa di balik sikap dingin,datar dan sedikit kejam menurut Delia ternyata suaminya itu adalah sosok pria yang begitu manja dan ke kanak- kanakan itu.
Rey terkekeh mendengar ucapan istrinya yang terdengar sedang kesal itu.
" Aku ada di ruangan mu,cepatlah kemari." ucap Rey lalu mematikan panggilannya secara sepihak yang membuat Delia semakin kesal.
"Dasar pemaksa." Ucap Delia setelah telfon di matikan oleh suaminya itu,ia begitu kesal karna Rey selalu saja mengganggu pekerjaannya.
" Apa dia tidak mempunyai pekerjaan sehingga selalu saja mengganggu pekerjaan ku." Omel Delia di sepanjang koridor rumah sakit menuju ruangannya,bahkan ia tidak memperhatikan tatapan - tatapan mata yang melihatnya di sepanjang koridor.
Sementara Rey yang tengah duduk santai di ruangan Delia tersenyum membayangkan kekesalan sang istri,entah mengapa ia begitu gemas jika melihat istrinya kesal.
kreeeekkkkk...suara pintu yang di buka sedikit keras itu mengejutkan Rey dan ia yakin orang yang membuka pintu itu adalah istrinya,ia kemudian membalikkan tubuhnya yang tengah duduk membelakangi pintu.
__ADS_1
" Kenapa lama sekali." Ucap Rey menahan tawa saat ia melihat wajah Delia yang sedang menahan kesal dengan dada naik turun karna dia yang harusnya mengunjungi pasiennya harus tertunda karna kedatangan suaminya yang dadakan itu.
" Apa kamu sedang menganggur sekarang,sehingga mengganggu pekerjaan ku di jam segini?" Tanya Delia dengan tangan di lipat ke dadanya,ia berjalan ke arah suaminya itu.
Rey yang mendengar ocehan Delia hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal,ia begitu gemas melihat tingkah istrinya yang sedang berdiri tepat di depannya itu,jika saja ia tidak mengingat perjanjian mereka dia pasti sudah membawa istrinya itu ke tempat yang paling indah menghabiskan waktu bersama mengarungi lautan cinta.
"Heeiii..." Delia mengibas- ngibaskan tangannya di depan wajah Rey yang melamun itu,dan sontak saja apa yang di lakukan Delia berhasil membuyarkan lamunan Rey.
" Kenapa kamu?"
" Hehe,tidak apa- apa,ayo makan siang." Ajak Rey
" Apa kamu tahu ini jam berapa,ini masih jam kerja."
" Benarkah,tapi di jam ku ini sepertinya sudah jam istirahat." Rey lalu melirik jam tangan mewah yang melingkar di lengannya itu lalu tersenyum tipis setelah melihat jam,dengan tanpa rasa bersalah ia malah menarik pinggang Delia ke dalam pelukannya dan seketika tatapan mereka bertemu kemudian tanpa basa Basi Rey mencium kening pipi dan turun kebibir,awalnya ciuman itu hanya untuk melepas rindunya pada sang istri yang baru beberapa jam berpisah dengannya tapi lama-lama ciuman itu semakin menuntut ,Rey menekan tengkuk Delia untuk menahan pergerakan Delia yang sedikit memberontak akibat serangan dadakan suaminya itu.
Namun semakin lama keduanya semakin terbuai dengan adegan yang mereka ciptakan sendiri,bukan mereka tapi Rey yang memulainya yang kemudian juga di nikmati istrinya itu .
Huuuuccchhhhhhh nafas Delia tersengal karna sedikit kehilangan pasokan oksigen akibat perbuatan suaminya,ia kemudian menatap suaminya yang juga menatapnya dengan penuh kerinduan dan gairah,sebagai seorang istri ia sadar akan kebutuhan suaminya itu yang sampai saat ini belum di berikan nya,ada rasa bersalah yang timbul di hatinya karna belum bisa melakukan kewajibannya sebagai istri walau suaminya itu tidak pernah meminta haknya secara paksa.
Cup...cup... ciuman di dahi membuyarkan lamunan Delia,ia kemudian menatap suaminya itu kemudian menoleh kearah lain karna ia begitu malu akan perbuatan mereka barusan.
"Begini saja,sudah membuatku bahagia..." Ucap Rey sambil melingkarkan tangannya begitu erat di pinggang istrinya yang membuat tubuh mereka saling menempel.
Delia semakin malu dengan wajah memerah.
Cup....
__ADS_1