
Malam itu Rey duduk sendiri di kolam renang sambil menatap bulan dan sesekali tersenyum bahagia."Kenapa kamu selalu hadir di fikiranku,kamu selalu saja mengalihkan fokusku...kenapa juga jantungku seakan ingin keluar saat kamu ada di dekatku,apa aku sedang jatuh cinta padamu.Aku tau ini terlalu cepat jika aku mengatakan aku mencintaimu,namun itulah kebenarannya aku memang mencintaimu,apa kamu juga merasakan seperti yang aku rasakan saat ini..acchhhh sungguh aku baru merasakan perasaan seperti ini seumur hidupku itupun hanya terhadapmu.Tapi kamu selalu menjaga jarak padaku atau apa perlu aku menggunakan Rosa agar aku selalu dekat denganmu." gumam Rey pada dirinya sendiri yang tanpa di sadari ada seseorang yang tengah berdiri di belakangnya mendengar semua gumamannya,orang itu menggeleng sambil melangkah menuju tempat Rey yang sedari tadi hanya sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Siapa wanita yang telah berani membuat jantung putraku ingin keluar?"ujar orang itu kemudian duduk di samping Rey."Katakan pada mama siapa wanita itu,hhmmm?"
Rey melirik sumber suara yang ada di sampingnya yang menyadarkannya dari lamunannya."Ma..mama.." kaget Rey saat mengetahui suara tersebut adalah milik sang ibu.Ya wanita itu adalah nyonya Sukma,wanita kesayangan Rey.
"jawab pertanyaan mama tadi". tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Memangnya mama tadi tanya apa".
Nyonya Sukma menghela nafasnya melihat tingkah putranya."mama tanya siapa wanita yang telah berani ingin mengeluarkan jantungmu?"Sambil menunjuk-nunjuk dada Rey.
"si...siapa...yang mama maksud?"Gugup Rey takut sang mama mendengarkan apa yang dikatakannya tadi.
"kau ini pura-pura tidak dengar atau mau mengalihkan pembicaraan hach."kesal nyonya Sukma."katakan siapa wanita yang berhasil membuat putra mama jadi seperti ini." godanya lagi sambil menepuk bahu Rey.
__ADS_1
Rey tersenyum saat kembali mengingat Delia,fikirannya benar- benar telah di penuhi Delia seorang.Melihat Rey senyum-senyum sendiri membuat nyonya Sukma geram dia kemudian mencubit perut Rey.
"auuucchh..mama sakit,mama kenapa mencubit Rey?"
"Seharusnya mama yang bertanya kenapa kamu senyum- senyum sendiri dan cuekin mama."kesal nyonya Sukma sambil melipat kedua tangannya di dada.
Melihat tingkah mamanya yang sedang merajuk membuat Rey senyum sendiri."Entahlah ma...dia membuat Rey tidak bisa fokus,dia selalu muncul di fikiran Rey."
"Siapa wanita itu sayang?"
"mama mengenalnya,bahkan sangat kenal."
Rey menoleh menatap lekat wajah ibunya,sikap dingin kembali terlihat jelas di wajahnya saat sang ibu menyebut nama Mona.Melihat perubahan wajah Rey saat menyebut nama Mona,nyonya Sukma kini paham bahwa bukan Mona yang di sukai putranya tapi ada wanita lain tapi siapa? membuat Nyonya Sukma menggeleng pelan.Rey masih terdiam moodnya tiba-tiba berubah entah mengapa dia tidak suka nama Mona di sebut.
"Apa mama salah menyebut?" ujar nyonya Sukma pelan setelah beberapa saat saling berdiam diri,suasana yang tadinya hangat tiba-tiba mencekam.Rey masih diam pada posisinya.
__ADS_1
"Salah".jawab Rey dengan wajah dingin tanpa ekspresi masih ada rasa kesal di hatinya.
"lalu siapa wanita itu,mama tidak mengenal wanita lain yang dekat denganmu selain dirinya."
"Delia...."jawab Rey tapi kali ini dia menjawab dengan tersenyum seketika suasana hatinya tiba-tiba membaik saat menyebut nama Delia dan perubahan itu tak luput dari perhatian sang ibu.
"Dokter itu?"
"hhhmmmm."
"kalian sedang menjalin hubungan?"
"belum,tapi aku akan memulainya".Rey mantap penuh keyakinan.Kali ini keputusannya sudah membuatnya yakin.
"Apa dia tahu kamu mencintainya?"
__ADS_1
"tidak".
"aa...aa apa,jadi cinta putra mama bertepuk sebelah?"lirih nyonya Sukma namun masih bisa si dengar Rey.Rey tersenyum menatap wajah ibunya,bukan bertepuk sebelah tangan ma,tapi Rey belum mengatakan apa pun padanya."Rey menjelaskan pada sang ibu agar tidak di fikirkan ibunya,Rey paham betul kondisi ibunya yang selalu berfikiran berlebihan jika itu mengenai dirinya.Nyonya Sukma menarik nafas pelan"Apa pun keputusan mu mama dukung.apa lagi mama lihat dia wanita yang baik dan yang paling penting hanya dia yang membuat Rosa tersenyum lagi kalian berdua ternyata memiliki selera yang sama." nyonya Sukma tersenyum membayangkan anak dan cucunya menyukai wanita yang sama.