
Delia masih sibuk dengan pekerjaannya,hari sudah menjelang sore tapi dia masih di sibukkan dengan pasien yang mengalami kecelakaan.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Boy saat masuk dalam UGD,Delia menoleh sebentar lalu kembali sibuk mengobati pasiennya.
Boy hanya menatap Delia yang masih sibuk merawat pasien anak korban kecelakaan itu.
"Sudah lebih baik, pendapatannya sudah berhenti." Ucap Delia sambil melepas sarung tangan medis yang melekat di telapak tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah,setelah itu di berjalan menuju wastafel untuk membersihkan tangannya.
"Kamu masih sibuk setelah ini?"
"Saya sudah mau pulang pak."
"Kamu ada waktu sebentar malam ini?" Tanya Boy saat melihat Delia sudah bersiap meninggalkan ruang UGD.Delia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Boy .
"Ada apa?" Tanya Delia.
"Aku ingin mengajakmu ke rumah,Kevin ingin bertemu dengan mu katanya."
"Oh....ya,baiklah saya juga merindukan bocah itu." Ucap Delia menerima ajakan Boy tanpa ada rasa curiga sama sekali.
"Kalau begitu bisa kita pergi sekarang,takutnya nanti kemalaman."
Delia mengangguk lalu berjalan keluar dan di ikuti oleh Boy dari belakang,Boy tersenyum penuh arti saat melihat Delia berjalan di depannya.
"Maaaf , jika aku akan melakukan ini padamu, tapi aku pasti akan bertanggung jawab dengan semua perbuatan ku." Batin Boy .
Sedangkan di kantor , perasaan Rey tiba-tiba tidak enak,seolah ada rasa khawatir yang berlebihan pada dirinya,tapi siapa yang di khawatir kannya.
"Delia mungkinkah Delia tidak baik-baik saja saat ini?" Pikir Rey lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Delia.
"Kamu di mana?" Tanya Rey khawatir saat Delia menjawab panggilannya.
"Ini lagi di parkiran klinik,mau pulang." Jawab Delia sambil berjalan pelan dan satu tangan nya memegang ponsel yang di tempel di telinga nya.
"O ya....aku..." Ponsel Delia tiba-tiba mati saat ingin memberitahu kalau dirinya akan pergi bersama Boy sebentar.Delia menghela nafas berat saat melihat ponselnya kehabisan daya.Ia lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas,lalu melanjutkan langkahnya mendekat kearah Boy yang sedari tadi berdiri bersandar di pintu mobilnya, menunggu Delia yang sedang menerima panggilan di ponselnya.
"Siapa?" Tanya Boy saat Delia sudah berada di depannya.
"Rey .." Jawab Delia pelan .
"Kenapa lagi dengannya?" Boy sengaja bertanya lagi pada Delia,Karna takutnya Delia memberi tahu kalau Delia akan pergi dengannya yang jika Rey mengetahui nya sudah pasti rencananya akan gagal lagi.
"Tidak apa-apa hanya bertanya keberadaan ku saja."
"Dia pasti kesal sekarang Karna kamu bersama ku saat ini."
Delia menggeleng pelan.
"Tidak,baru saja tadi aku ingin memberitahu nya v tapi ponselku mati."
Boy bernafas lega saat mendengar perkataan Delia.
__ADS_1
Sementara Rey begitu kesal karna ponsel Delia tiba-tiba tidak aktif saat ia berkali-kali menghubungi nomor Delia kembali.
"Siiittt...." Umpat Rey frustasi, hatinya benar-benar gelisah.
"Revan..." Rey teringat Revan kemudian menekan nomor Revan yang berada di ponselnya.
"Hallo...kakak ip.."
"Kamu di mana sekarang?" Potong Rey yang membuat Revan kesal karna sapaannya di potong begitu saja .
"Aku lagi di luar kak,ini sama pak dokter Ramon." Jawab Revan lalu menoleh ke arah Ramon yang tengah duduk di sebuah restoran untuk makan malam.
"Ngapain kalian di luar malam-malam begini,cepat pulang dan lihat keadaan Delia."
"Ini belum malam banget kak,bahkan hari baru menjelang malam." Protes Revan.
"Cepat pulang,aku mau bicara dengan Delia."
"Kenapa tidak menelfon di ponselnya saja."
"Aku tidak akan menelfon mu jika ponselnya bisa di hubungi." Kekesalan Rey semakin bertambah karena Revan terus saja membantah ucapannya.
"Bai..." Tut..Tut.. sambungan telfon di matikan oleh Rey secara sepihak dan membuat Revan kesal.
"Dasar kakak ipar menyebalkan..." Maki Revan sambil mengarahkan mulutnya tepat di depan ponselnya.
"Ada apa lagi dengan ABG labil itu?" Tanya Ramon sambil menyeruput minumannya.
"Oke lah."
Revan dan Ramon pun beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar menuju parkiran, setelah masuk ke mobil mereka pun melaju pergi.
Tak berselang lama setelah kepergian Revan dan Ramon dari restoran,sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan restoran tempat Revan dan Ramon tadi makan.
"Kita makan malam dulu ya." Ajak Boy setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
Delia mengangguk pelan dan lagi pula dia juga sudah merasa lapar.
Boy dan Delia keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam restoran,mereka duduk di meja yang masih kosong, seorang pelayan berjalan menghampiri meja mereka sambil membawa buku menu.
"Selamat datang tuan dan nona,silahkan di pilih menu nya." Ujar pelayan tersebut lalu memberikan buku menu ke pada Boy .
"Kamu mau pesan apa ?" Tanya Boy sambil membaca beberapa menu yang tersedia.
"Samakan saja."
"Baiklah,aku pesan ini..ini...dan ini." Tunjuk Boy pada beberapa menu yang tersedia.
" Baiklah,silahkan menunggu tuan dan nona,segera kami mengantar pesanan anda." Ucap pelayan itu lalu beranjak pergi.
"Kamu kenapa,kok seperti nya tidak tenang?" Tanya Boy saat melihat Delia sedang gelisah .
__ADS_1
" Oh...tidak apa-apa,entah kenapa perasaanku tidak enak ."
"Kamu sakit?"
"Tidak..."
Dari kejauhan terlihat pelayan yang tadi menghampiri meja Boy dan Delia berjalan dengan membawa pesanan yang telah di pesan oleh mereka,di belakangnya juga terlihat dua pelayan pria dengan membawa menu yang di pesan oleh Boy.
Ketiga pelayan itu menata beberapa menu di atas meja,Delia bahkan melongo melihat begitu banyak nya menu yang di pesan oleh Boy.
"Silahkan,minikmati tuan dan nyonya." Ucap salah satu pelayan itu lalu mereka pun pergi.
" Kamu memesan makanan sebanyak ini,siapa yang akan memakannya." Tanya Delia sambil menatap berbagai jenis makanan yang tersaji di atas meja.
"Tentu saja kita yang akan memakannya."
Tanpa membalas perkataan Boy lagi Delia lalu menyantap makanan yang ada di hadapannya dengan lahap, sedangkan Boy juga ikut menyantap makanannya sambil melirik ke arah Delia yang duduk di depannya,ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk memasukkan bubuk yang ada di saku jasnya untuk di campurkan ke minuman Delia,namun sampai makanan Delia ludes di piring nya ,Boy belum mendapatkan cara agar ia dapat melakukan rencananya.Pikiran jahat nya menari- nari di otaknya mencari ide agar Delia pindah dari duduknya sebentar dan....
Surrrrr.....segelas minuman tumpah tepat di samping Delia yang sedang duduk menikmati makanannya,Delia yang terkejut Karna percikan minuman itu mengenai baju yang di gunakan nya, untungnya hanya percikannya saja.
"Maaf nona,saya tidak sengaja." Ucap pelayan wanita itu sambil mengelap baju Delia yang terkena minuman,wajah pelayan itu seketika berubah pucat dan keringat dingin.
"Tidak apa-apa." Ucap Delia lalu berdiri dari duduknya, sedangkan pelayan itu masih tertunduk,tubuhnya gemetar..."
"Sudahlah tidak apa-apa,kamu bisa pergi."Ujar Boy menyuruh pelayan itu pergi.
Pelayan itu lalu menoleh ke arah Boy dengan wajah yang semakin pucat .
"Maaf tuan,saya tidak sengaja menumpahkan minuman itu,entah kenapa kaki saya seperti ada yang mendorong tadi " Jelas pelayan itu takut-takut.
" Sudahlah tidak apa-apa,mungkin anda kelelahan jadi tidak memperhatikan jalan." Balas Delia sambil tersenyum tipis, pelayan itu merasa tidak enak.
"Sudahlah, lanjutkan pekerjaan mu saja." Lanjut Delia lagi,Pelayan itu pun pamit pergi meninggalkan meja Boy dan Delia sambil pikirannya bertanya -tanya siapa yang tadi mendorong kakinya sehingga dia bisa menjatuhkan minumannya tepat mengenai baju pengunjung.
"Untung saja pengunjung itu baik hati." Batin pelayan wanita itu.
"Aku ke toilet sebentar ya ." Ucap Delia lalu beranjak pergi.
Sedangkan Boy tersenyum tipis,lalu mengangguk pelan.Setelah kepergian Delia ,Boy mengeluarkan bubuk yang sedari tadi di simpannya dan dengan cepat memasukkannya ke dalam minuman Delia .
Setelah bubuk itu larut dan bercampur dengan minuman Delia,Boy pun dengan sengaja kembali memakan menu penutupnya,tak berselang lama Delia kembali dari toilet dan duduk di kursinya.
"Sudah selesai?" Tanya Boy saat melihat Delia telah duduk kembali di tempat nya.
"Sudah,bisa kita pulang sekarang...nanti kita kemalaman."
"Baiklah,tapi habis kan minumanmu dulu."
Tanpa berkata-kata Delia lalu mengambil minumannya yang masih setengah lalu meneguknya hingga habis, sedangkan Boy menatap Delia dengan senyum licik di hatinya.
Setelah membayar bill ,mereka pun beranjak dan keluar menuju parkiran mobil.
__ADS_1
Saat berada di dalam mobil ,Delia merasa tiba -tiba pusing,seolah tubuhnya sedang menahan gejolak.