
" Bagaimana?" Tanya seorang pria paruh baya namun masih terlihat gagah,ia duduk di kursi kebesarannya dengan membelakangi meja kerjanya dan seseorang yang berdiri di belakang nya dengan sebuah meja kerja sebagai penghalangnya.
" Kali ini saya tidak ingin mendengar laporan yang tidak baik." Lanjut pria itu lagi sambil memutar kursinya menghadap ke arah orang yang di ajak nya berbicara itu.
" Kali ini laporan yang saya dapatkan itu kabar baik bos." Ucap anak buahnya itu dengan penuh keyakinan dengan tangan saling bertautan.
" Hehehmmmmm dimana dia ?" Tanya pria itu lagi.
" Dia dan keluarganya saat ini sedang berada di sebuah pedesaan tuan Handoko."
Ya...orang itu adalah Handoko Pratama ayah Rey,ia sedang mencari informasi keberadaan seseorang yang dapat mengancam kehidupan mewahnya selama ini.
"Hoo...rupanya dia hidup di desa."
"Tapi tuan,anak sulungnya berada di kota ini,ia seorang dokter."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan tuan."
"Siapa namanya dan berikan fotonya padaku."
"Kalau masalah itu,saya belum mengetahui nya tuan, seperti nya anak itu di lindungi orang yang mempunyai kuasa karna data dirinya sulit di temukan,tapi anda tenang saja secepatnya saya akan menemukannya."
"Heeemmmm,baiklah...saya tunggu kabar baik nya lagi,dan uang mu akan segera saya transfer kan."
" Baik tuan terimakasih." Ucap anak buah ayah Rey lalu berbalik undur diri meninggalkan ruangan itu.
Sejenak ayah Rey terdiam dengan bertopang dagu, fikirannya kembali ke masa silam berpuluh tahun yang lalu,dimana sebuah tragedi itu terjadi yang mengubah kehidupan banyak orang akibat ulahnya sendiri.
Tringgg deringan ponsel menyadarkan nya ,ayah Rey lalu mengangkat telfon nya setelah melihat id pemanggil di ponselnya itu.
" Selangkah lagi semua akan berakhir dan kita akan hidup tenang." Ucap ayah Rey pada seseorang yang menelfonnya.
" Orang itu hanya terdiam lalu mematikan ponselnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun."
__ADS_1
Ayah Rey menghela nafas berat, sejujurnya ia sudah tak ingin bergelayut dengan dunia nya di masa lalu tapi keadaan ini tidak mampu membuat hidupnya tenang selama peristiwa itu,ia selalu di hantui rasa takut berlebihan terlebih saat ia tahu saksi kunci peristiwa itu masih hidup,ia tidak ingin menghancurkan keluarga nya dengan membiarkan saksi kunci itu hidup dalam bayang-bayang keluarga nya.
"Apa kamu tidak tahu bahwa Satria saat ini masih hidup dan keberadaannya bisa menghancurkan kita." Tiba - tiba suara seseorang mengejutkannya,orang itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu atau memberi salam membuat tuan Handoko yang tadinya sedikit terkejut tiba-tiba mengembangkan senyum saat melihat orang itu yang duduk di sofa dengan menyalakan sebatang rokok untuk di hisapnya.
"Tenang saja,semua sudah aku atur dengan baik,hanya saja...." Ayah Rey menghentikan ucapannya,ia menarik nafas pelan untuk sekedar mengembalikan moodnya yang sedikit tegang tadi.
"Kenapa berhenti?"
" Anak sulungnya berada di kota ini,tapi aku belum mengetahui identitas nya,tapi tenang saja segera semua akan seperti yang sudah kita rencanakan."
" Bukankah itu lebih baik lagi,jika kita menemukan anak itu,akan lebih mudah bagi kita untuk menekannya dan membungkamnya."Ucap ayah Mona dengan seringai licik.Ya orang yang masuk tadi itu adalah ayah Mona.
"Dan satu lagi, sepertinya putramu itu sudah mulai membangkang."
" Heeemmmm tenang saja anak itu sedang jatuh cinta pada seseorang,tapi dia sangat mudah aku kendalikan,biarkan dia menikmati kebahagiaan nya dulu,pada akhirnya dia akan kembali pada Mona,tenang saja ." Ucap ayah Rey sambil beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ayah Mona duduk.
" Aku hanya tidak ingin putri kesayanganku terluka karna perlakuan Rey padanya,jika itu sampai terjadi kamu tahukan hal buruk apa yang akan terjadi." Ayah Mona lalu berdiri hendak meninggalkan ruangan itu,namun langkahnya terhenti saat ia melihat sorotan tajam ayah Rey.
" Kamu jaga saja putrimu itu,jangan sampai dia bertindak tanpa sepengetahuan kita dan menghancurkan segala nya." Peringat ayah Rey.
Ayah Mona hanya terdiam lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan ayah Rey seorang diri.
Di kantor Rey begitu tidak fokus dengan pekerjaan, pikirannya tentang Delia selalu saja mengusik nya,padahal baru saja tadi pagi mereka bersama.
" Tuan.... meeting nya akan segera di mulai." Ucap Dion saat sudah berada di satu ruangan dengan Rey.
Rey menoleh lalu mengangguk dan membereskan beberapa dokumen yang ada di atas mejanya,ia lalu berdiri meninggalkan Dion yang masih berdiri menghadap nya.
"Nasib... nasib."Bathin Dion saat melihat bosnya itu sudah meninggalkan nya begitu saja tanpa sepatah kata.
Dion berjalan mengikuti langkah bosnya menuju ruang meeting.
Satu jam berlalu akhirnya meeting selesai,baru saja Rey dan Dion melangkah kan kakinya masuk ke ruangannya, mereka di kejutkan dengan kehadiran Mona yang sudah duduk manis di kursi kebesaran Rey.
" Ngapain kamu di situ?" Tanya Rey dingin,moodnya tiba - tiba memburuk melihat kehadiran Mona di kantornya.
__ADS_1
"Hanya mencoba merasakan empuknya kursi ini." Balas Mona dengan senyum di buat seseksi mungkin dengan suara di lembut- lembutkan.
Rey memutar bola matanya malas,ia begitu malas meladeni wanita yang ada di depannya itu.
"Minggirlah,aku banyak pekerjaan tidak bisa di ganggu."
Mona berdiri dari duduknya lalu melangkah kearah Rey berdiri dan Dion masih dengan setia berdiri di belakang Rey.
"Aku membawa kan makan siang untukmu,aku ingin makan siang bersama mu,selama kita bertunangan kita tidak pernah makan siang bersama."Mona memegang lengan Rey lalu menariknya dengan pelan menuju sofa,Rey hanya menurut saja,ia begitu malas mengeluarkan kata- kata untuk mantan tunangannya itu.
" Aku masih kenyang." Tolak Rey saat dia sudah duduk di sofa.
" Sedikit saja ,sayang...ini aku Lo yang memasaknya." Rengek Mona lagi.
"Berikan saja pada Dion,dia belum makan siang." Ucap Rey sambil menatap Dion yang tengah tersenyum karna akan mendapatkan makan siang gratis yang enak.
Mona memberenggut kesal karna perlakuan Rey yang makin hari semakin berubah dan menghindarinya.
"Aku ini calon istrimu Rey."
"Masih calon,belum istrikan?"
" Rey apa maksudmu?"
"Aku sudah mengatakan padamu,aku tidak mengakui pertunangan ini,dan aku sudah menikah jika kamu lupa,waktu itu aku sudah mengatakan nya kan."
Mona tak sanggup lagi menahan air matanya,untuk kesekian kalinya Rey melukai hatinya,tapi semakin dia terluka semakin besar keinginannya untuk memiliki Rey.
Mona berdiri dari duduknya ,dengan wajah yang sudah basah dengan air mata,ia lalu terduduk lemas di depan Rey yang masih duduk di kursi,melihat tingkah Mona Rey segera berdiri namun tangannya di tahan oleh Mona.
" Katakan jika semua itu bohong,Rey...kamu hanya mengerjaiku agar aku mundur kan dan membatalkan pernikahan kita iya kan?" Jerit Mona dengan berderai air mata,dirinya tidak menerima jika ada wanita lain yang merebut Rey darinya, baginya Rey adalah miliknya dulu,hari ini dan selamanya Rey hanya miliknya .
"Tapi sayangnya,itu lah kebenaran nya." Ucap Rey dingin." Aku akan menemui keluarga mu secepatnya untuk mengakhiri pertunangan ini.maaf jika aku menyakitimu tapi aku tidak mencintaimu,aku mencintai wanita lain." Jelas Rey, ia tidak ingin memberikan harapan besar kepada Mona,meski pengakuan nya ini pasti akan sampai ke orang tuanya dan pasti akan ada penolakan dan kekecewaan pada orangtuanya dan juga orang tua Mona tapi ia harus mengakhiri semua ini,meski kini ia tahu ayahnya pasti sudah tahu kabar ini,karna terlihat beberapa orang memata- matainya beberapa hari terakhir ini,itulah sebabnya ia melarang Delia keluar dari apartemen tempat tinggal mereka.
Dengan sorot mata tajam yang di iringi air mata,Mona menatap Rey penuh dengan amarah dan kecewa.
__ADS_1
"Siapa wanita itu,Rey...apa dia dokter itu?"Ucap Mona dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
Rey hanya terdiam tidak berniat menjawab nya tapi dengan kebungkaman Rey ,Mona semakin yakin dengan tebakannya,ia lalu tersenyum kecut kemudian meninggalkan Rey begitu saja tanpa sepatah kata,namun seringai licik terbit dalam fikirannya.Mona berlalu meninggalkan kantor Rey dengan persaan berkecamuk,ada kecewa,amarah dan dendam.Tekadnya kini sudah bulat.