Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 173


__ADS_3

"Istriku..." Ujar Ramon di depan Sophia dengan tegas dan yakin.


"Aku..?" Tanya Sophia menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum bahagia.


"Bukan...Aku sudah menikah dengan wanita lain,wanita yang aku cintai." Jelas Ramon.


Bagai di sambar petir di siang bolong,senyum yang tadinya melebar kini meredup seiring dengan ucapan Ramon yang begitu menyakitinya. Dunianya seakan berhenti berputar saat mendengar Ramon telah menikah dengan wanita lain.Wanita yang di cintainya.


"Vio,apakah wanita itu adalah Vio?" Tanya Sophia sambil mengguncang bahu Ramon yang hanya terdiam tak berniat untuk menjawabnya.Namun diamnya Ramon membuat Sophia Semakin yakin jika memang benar wanita itu adalah Vio .


Tubuh Sophia tersungkur ke lantai,ia tak bisa menerima kenyataan yang baru saja di dengarnya.


"Kenapa?"Lirih Sophia masih dengan posisinya.


"Karena aku hanya mencintai satu wanita dan wanita itu adalah istriku." Jawab Ramon.


"Ramon..." Teriak ibu Ramon yang sudah tak bisa lagi menahan amarahnya,ia lalu berjalan ke arah Ramon dan menatap putranya itu dengan tajam dan penuh kekecewaan.


Plaaaaakkkkk....sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ramon dari tangan sang ibu.


"Beraninya kamu,apa yang kamu lakukan,kamu tahu pernikahan kalian kurang dari seminggu lagi dan kamu merusak segalanya." Ucap ibu Ramon dengan nada tinggi bercampur amarah.


"Tinggalkan wanita sialan itu." Perintah ibu Ramon.


"Aku tidak akan meninggalkan nya Ma,dia istriku dan aku mencintainya . Mama terima atau tidak faktanya aku telah menikahinya secara sah ." Jelas Ramon,kali ini ia tidak akan diam lagi,cukup sudah ia mengikuti kemauan keluarga, sekarang ia hanya akan mengikuti hati dan kebahagiaan nya.


"Kamu..."


"Tidak kali ini ma,Ramon tidak akan menuruti keinginan Mama.Maaf." Ramon lalu berjalan meninggalkan orang tua nya dan Sophia di dalam kamarnya,ia menuruni anak tangga lalu berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.


Sedangkan ibu nya dan Sophia masih syok mendengar pengakuan Ramon. Ayah Ramon pun berjalan keluar kamar meninggalkan dua wanita itu yang masih belum menerima kenyataan itu .


Ramon lalu berjalan keluar rumah menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.


Ramon melajukan mobilnya dengan kencang ,menuju kantornya. Setibanya di kantor i lalu turun dan masuk ke dalam gedung mewah itu tanpa membalas sapaan dari karyawan nya.


"Panggilkan Raka,suruh keruangan ku sekarang ." Perintah Ramon saat ia sudah berada di depan ruangan nya dan berhenti sejenak di depan meja sekertaris by,setelah itu ia pun masuk kedalam ruangan dan menutup pintu begitu kencang , hingga membuat sekertaris nya terlonjak kaget.


"Bis memanggil saya?" Tanya Raka saat ia baru saja masuk ke ruangan Ramon dan mendapati Ramon sedang duduk melamun di meja kerjanya.


"Pesan kan dua tiket ke luar kota,kota yang begitu jauh dari kota ini."Perintah Ramon


"Aku akan menjemputnya besok,dan ingat jangan beritahu siapa pun kemana aku pergi jika mereka bertanya pada mu." Lanjut Ramon lagi.

__ADS_1


"Aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku hari ini.",dan pergilah sekarang."


Meski penuh tanya di benaknya, Raka tetap melaksanakan melaksanakan semua perintah Ramon, ia pun bergegas keluar dari ruangan bosnya itu.


Di sisi lain ,di apartemen milik Ramon,Sophia terlihat begitu hancur ,matanya sudah begitu sembab karena terlalu lama menangis. Ke dua orang tuanya pun hanya bisa tak mampu melihat kehancuran putrinya yang di sebabkan oleh Ramon.


"Aku mau Ramon,aku hanya ingin Ramon,aku tidak ingin apa pun." Ucap Sophia sambil terisak.


"Aku akan hancur Mam,Dad...aku hancur."


Ibu Sophia lalu membungkuk dan menarik tubuh putrinya itu kedalam pelukannya, memberikan ketenangan dan kenyamanan agar putrinya itu bisa menguasai dirinya.


"Dia mencintai wanita lain sayang, lupakan saja,masih banyak pria di luar sana yang lebih baik darinya." Ucap ibu nya sambil mengelus pundak sang putri.


"Aku tidak mau yang lain,aku hanya ingin Ramon,hanya Ramon." Tegas Sophia sambil melepa pelukannya dari sang ibu.


"Tenanglah,Daddy akan membereskan semuanya,Daddy janji." Ujar ayah Sophia meyakinkan putrinya itu. Tangis Sophia perlahan reda saat ia mendengar ucapan ayahnya.


Ke esokan harinya, pagi-pagi sekali Ramon. sudah berada di bandara, semalam ia menginap di apartemen milik Raka,ia pun mengganti nomor ponselnya,karena sejak kemarin ibunya selalu menghubunginya.


Satu jam menunggu, akhirnya tibalah saatnya Ramon jadwal pesawat Ramon lepas landas dan meninggalkan kota ini,kota dimana begitu penuh sesak baginya dan kini ia akan meninggalkan nya dan tak akan pernah kembali lagi.


Satu jam lebih Ramon berada di pesawat,dan kini ia telah tiba di kota yang di tuju nya. Di bandara ia sudah di tunggu oleh seorang sopir yang akan mengantarnya ke sebuah tempat.


"Terimakasih pak,jemputlah saya besok." Ucap Ramon saat ia sudah berada di luar.


"Baik pak,kalau begitu saya permisi." Pamit sang sopir dan melajukan mobilnya kembali ke kota.


Sejenak Ramon memandang ke arah rumah itu,begitu sangat sepi.


"Pak Ramon." Seru seseorang dari belakang saat Ramon baru saja akan mengikatkan kakinya ke anak tangga. Ramon lalu menoleh dan melihat dokter Tiara serta beberapa orang lainnya yang sedang berjalan menghampirinya.


"Anda di sini?" Tanya dokter Tiara lagi ketika mereka sama- sama sudah berada di teras rumah,dan salah seorang dari mereka sedang membuka pintu.


"Iya,dimana Vio?" Tanya Ramon ,matanya mencari sosok sang istri di antara orang-orang itu dan ia tak melihatnya.


"Oh,Vio masih di jalan,tadi dia mampir kerumah salah seorang warga, untuk melihat persiapan warga mempersiapkan acara perpisahan lusa nanti." Jelas dokter Tiara."Masuk lah pak." Ajak dokter Tiara saat pintu sudah terbuka dan semua orang sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.


Tanpa menjawab Ramon pun melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu.


"Pak Ramon menunggu di kamar saja." Saran dokter Tiara lalu berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Ramon yang masih berdiri di tempatnya.


Ramon masuk ke dalam kamar ,ia menatap seluruh ruangan itu,tak ada yang berubah semua masih sama seperti beberapa hari yang lalu,saat ia masih berada di sini.

__ADS_1


Ramon lalu duduk di tempat tidur,ia membaringkan tubuhnya yang begitu lelah,tubuh dan jiwanya sangat lelah. Perlahan ia matanya pun terpejam.


Tepat jam tujuh malam Vio tiba di rumah,dengan wajah dan tubuh yang terlihat lelah,ia masuk ke kamarnya. Perlahan Vio membuka pintu kamar dan ia begitu terkejut saat matanya menangkap sosok pria yang sedang tertidur di atas tempat tidurnya, pelan-pelan Vio masuk ke dalam,ia mengerutkan kedua alisnya saat mendapati Ramon sedang tertidur .


*kapan dia datang ?" Gumam Vio lalu berjalan menuju lemari pakaian nya untuk mengambil handuk dan pakaian ganti,ia pun kemudian berjalan keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah beberapa saat mandi,Vio pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang begitu segar.


"Vi..." Panggil dokter Tiara saat mereka berpapasan di depan kamar mandi.


"Kapan dia datang?" Tanya Vio , mereka pun berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Tadi sore,." Jawab dokter Tiara sambil menata piring di atas meja,sedangkan Vio menyiapkan hidangan untuk mereka makan bersama.


Setelah makan malam,Vio dan Ramon masuk ke kamar.


"Kita akan pergi ke desa ini besok." Ucap Ramon saat mereka duduk saling berhadapan di lantai


"Pulang? tapi..."


"Dengar Vi, Mereka sudah mengetahui tentang pernikahan kita dan aku sangat mengenal ayah Sophia,dia akan melakukan apa pun untuk membalas kita,jadi ayo kita pergi.*


"Tapi kita akan kemana?" Tanya Vio bingung.


"Suatu tempat yang tidak ada siapa pun yang bisa mengganggu kehidupan kita.*


Vio terdiam , ia masih merasa dengan semua ucapan Ramon.


"Jika kamu mempercayaiku dan mencintai ku,ikutlah denganku besok,kita akan menjalani kehidupan kita dengan bahagia di tempat yang jauh."


Vio masih terdiam, ia pun merasa berat tapi Ramon adalah suaminya kini, kehidupan mereka kini saling mengikat dan tidak ada salahnya menjalani pernikahan ini dengan baik.Pikir Vio.


"Baiklah,apa pun keputusanmu." Ucap Vio setuju. kini ia memutuskan untuk memberikan kesempatan pada pernikahan mereka. Ramon begitu bahagia dan langsung memeluk Vio dan mereka pun saling berpelukan begitu lama.


Ke esokan harinya,Ramon dan Vio siap untuk pergi dari desa setelah mereka berpamitan ke seluruh warga dan juga teman-teman nya.


""Berhati-hatilah." Ucap dokter Farhan,ia kini merelakan Vio bersama Ramon setelah semalam ia berbicara dengan Ramon. Walau terasa sakit tapi itulah yang terbaik,karena cinta tak harus di paksakan. Ramon dan Vio pun masuk kedalam mobil dan perlahan meninggalkan desa dimana mereka di persatukan.


Selesai....


Tunggu season 2 nya Yach... di judul yang berbeda.


Terimakasih untuk semua para pembaca yang sudah meluangkan kan waktu untuk membaca karya recehan saya ini,

__ADS_1


Kritik .


__ADS_2