
Meeting pun berjalan dengan lancar dan di akhiri dengan penandatanganan para investor termasuk Rey. Setelah semu selesai peserta meeting pun membubarkan diri dan meninggalkan ruang meeting,yang tersisa tinggal Rey dan ayahnya.
"Jika saja saya tahu lebih awal Anda adalah pemilik perusahaan ini,tentu Saay tidak akan menerima kerja sama ini." Ucap Rey dingin.Ini salahnya tidak mencari tahu lebih dulu siapa pemilik sebenarnya perusahaan yang akan ia ajak kerjasama,ia hanya percaya pada rekan kerjanya yang memang sudah sangat ia percaya dan juga perusahaan ayah Rey ini tidak menggunakan nama keluarga atau namanya sendiri tapi menggunakan nama lain yang tentu sangat baru di mata Rey.
"Saya pun sama jika saja saya tahu hal itu." Ucap ayah Rey tak kala dinginnya.
Mereka saling bertatapan dengan tajam,seakan jarak antara ayah dan putra itu begitu sangat jauh,hingga mereka bersikap seolah musuh bebuyutan.
Rey lalu beranjak meninggalkan ayahnya sendirian dengan rasa kesal dan amarah uang tertahan,tentu ia belum bisa memaafkan perbuatan ayahnya di masa lalu,ia diam hanya karena ibu dan Rosa,jika mereka tidak ada sudah pasti ia akan menyeret ayahnya itu kepenjara seperti yang di lakukan nya pada ayah Mona.
Ayah Rey terduduk lemas dengan sesak di dada. Seperti ada ribuan batu yang menghimpit nya dan membuatnya sulit untuk sekedar bernafas.
Matanya masih menatap pintu dimana Rey sudah menghilang dari balik pintu.
Tring....tring....
Dering telfon membuatnya terperanjat,ia lalu menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan dari sang istri.
"Aku segera ke sana." Ujar ayah Rey setelah berbicara dengan sang istri,wajah tiba-tiba berubah jadi cemas dan sedikit panik. Ia lalu bergegas meninggalkan ruangan meeting dan berjalan cepat keluar dari kantornya,ia bahkan tak mengindahkan sapaan dari para karyawan nya yan berpapasan dengannya.
Mobil yang di kendarai Rey melaju dengan cepat setelah ia mendapat telfon dari Delia, raut wajah nampak jelas ke khawatiran yang begitu besar.
Rey lalu memarkirkan mobilnya di area parkir rumah sakit,lalu membuka pintu mobilnya dan keluar,baru saja ia akan melangkah melangkah masuk gedung rumah sakit,langkah terhenti saat ia berpapasan dengan sang ayah yang juga baru tiba di rumah sakit,sejenak mereka saling bertatapan hingga suara Ramon menyadarkan keduanya.
"Cepatlah." Ujar Ramon memanggil Rey dan ayah nya di depan pintu masuk rumah sakit,saat itu Ramon yang sedang terburu-buru tanpa sengaja melihat Rey dan ayahnya di depan pintu.
__ADS_1
Rey dan ayahnya pun bergegas berlari kecil menuju ruang ICU mengikuti langkah Ramon yang sudah berlari lebih dulu.
"Bagaimana?" Tanya Rey dan ayahnya bersamaan,Delia dan ibu mertuanya pun saling berpandangan saat mendengar lelaki mereka bertanya secara bersamaan.
"Dokter sedang memeriksanya di dalam." Jawab Delia sembari menghampiri sang suami.Sedangkam ayah Rey berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Tidak apa-apa,Rosa pasti bisa melewati semua ini." Ujar ayah Rey sambil mengelus punggung istrinya yang masih terisak karena memikirkan kondisi Rosa yang tiba-tiba drop.
"Apa yang terjadi ?" Bisik Rey tepat di telinga Delia saat istrinya itu sudah berdiri di sampingnya.
"Tiba-tiba kondisinya menurun,hampir saja Rosa gagal nafas tapi untung lah dokter menangani nya dengan cepat .
Mendengar ucapan Delia ,kaki Rey serasa tak mampu lagi berpijak.
"Bagaimana dok?" Tanya ayah Rey sambil berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu ICU saat matanya melihat dokter baru saja k luar.
"Kankernya sudah menjalar ke seluruh tubuhnya dan mulai menyerang organ vital pasien,tapi Ki akan tetap berusaha melakukan yang terbaik,sisanya kita serahkan pada yang di atas." Lanjut dokter lagi .
"Apa tidak ada jalan lain dok?" Tanya Rey menimpali.
"Untuk saat ini tidak ada pilihan,kondisi pasien sangat lemah dan itu buat kami sulit mengambil tindakan,apalagi di usia nya masih terbilang di bawah umur, operasi pun keberhasilan nya sangat kecil dan sangat beresiko.
Setelah dokter menjelaskan perihal kondisi Rosa ,ia pun segera berlalu meninggalkan keluarga Rey.
Ibu Rey kembali terisak , ia begitu syok mendengar kenyataan akan kondisi Rosa.
__ADS_1
Delia lalu menghampiri ibu mertuanya yang sedang duduk begitu lemas dengan wajah sembab,ia seolah kehilangan penopang hidupnya.
Delia lalu memeluk ibu mertuanya untuk memberikan dukungan dan semangat.Ia paham akan apa yang di rasakan ibu mertuanya saat ini.
"Sabar Ma, serahkan semuanya pada Tuhan,insya Allah semua akan baik-baik saja." Ucap Delia menenangkan ibu mertuanya.
Ibu Rey lalu melerai pelukannya,dia menatap Delia dengan wajah sendu.
"Mama takut,mama takut kehilangan Rosa,sejak bayi dia tidak pernah menikmati hidupnya seperti temannya yang lain."
"Kalau begitu,kita yang akan membahagiakan nya. tapi untuk itu mana tidak boleh lemah mama harus kuat di depan Rosa,kalau mana lemah Rosa juga pasti merasakan hal yang sama."
"Mama tidak akan bisa menghadapi semua ini jika kalian tidak bersama mama.Mama sangat bahagia saat seperti ini ada kalian yang selalu bersama mama." Ujar ibu Rey sambil menatap Delia.
Sedangkan ayah Rey sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan antara istri dan menantunya itu. Ada rasa bahagia yang terbersit di hatinya saat melihat kedatangan Rey dan Delia, tapi lagi-lagi semua perasaan bahagia itu hanya di simpan di hatinya saja.
Waktu berlalu begitu cepat,siang telah berganti malam, Rey dan Delia serta orang tuanya masih di rumah sakit menemani Rosa yang entah kapan akan sadar. Sejak masuk di ruang ICU Rosa belum juga sadarkan diri,dan hal itu membuat ibu Rey semakin cemas dan khawatir.
Jika hubungan Delia dan ibu mertuanya begitu baik,tapi berbeda dengan Rey dan ayahnya meski mereka berada di tempat yang sama tapi mereka saling berdiam diri,tak ada lagi kehangatan atau obrolan yang terjadi di antara keduanya, padahal bila menelisik ke belakang Rey dan ayahnya sangatlah dekat,mereka sering menghabiskan waktu hanya sekedar mengobrol saat bersama. Tapi semua itu hanya tinggal kenangan masa lalu saja, karena saat ini mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal dan seolah tidak memiliki hubungan apa pun.
"Mama pulang saja istirahat,ini sudah larut nanti nanti mama sakit." Bujuk Rey pada ibunya,ia begitu khawatir melihat kondisi ibunya saat ini.
'Iya Ma,Mama dan papa pulang saja dulu...di sini ada dokter dan perawat yang akan menjaga dan merawat Rosa,besok kita kemari lagi." Sambung Delia sambil mengelus punggung ibu mertuanya dengan lembut.
"Kalian juga pulanglah beristirahat." Ucap ibu Rey dan di angguki oleh Delia sembari tersenyum tipis.
__ADS_1
L