
"Apa saja yang kalian lakukan dan kerjakan, menjaga satu orang saja kalian tidak becus." Maki Rey saat sudah tiba di mansion dan semua pelayan di kumpulkan di ruang tengah.
Rey terlihat begitu menahan amarahnya saat mengetahui istrinya jatuh pingsan,sorot matanya menghunus tajam seakan orang -orang itu adalah mangsanya.
"Ma...ma..maaf tuan ka~"
"Jangan banyak alasan,bukankah saya sudah mengatakan jaga Delia baik-baik jangan membiarkannya lelah apalagi mengerjakan pekerjaan rumah." Potong Rey dengan nada masih tinggi.
Sementara semua pelayan hanya bisa tertunduk mendengar segala amarah majikan mereka.
"Ada apa mas?kenapa marah-marah?"Tanya Delia yang baru saja keluar dari lift dan mendengar suaminya itu berbicara dengan nada tinggi.Semua orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arahnya,ada sedikit kelegaan yang di rasakan oleh semua pelayan saat melihat kedatangan nyonya mereka.Delia menghampiri Rey yang masih berdiri menatap dirinya .
"Sayang,kamu sudah bangun? kenapa turun ,tidak memanggilku saja." Ucap Rey dengan suara yang lembut tak nampak lagi aura kemarahan di wajahnya yang ada hanya senyum lebar saat melihat istrinya .
"Kenapa memarahi mereka?" Tanya Delia lagi saat dirinya sudah berada di samping Rey dan bergelayut manja di lengan sang suaminya.
"Karna mereka membuat mu jatuh pingsan." Jawab Rey sambil mengulas lembut lengan Delia.
"Jangan memarahi mereka, mereka tidak salah,justru berterima kasih lah pada mereka karena mereka menjagaku dengan sangat baik,maaf karena membuat mu khawatir."
"Kalian kembalilah ketempat kalian,saya dan istri saya ingin istirahat." Ucap Rey pada akhirnya padahal ia belum puas melepaskan segala kekesalan nya tapi karena istrinya tiba-tiba muncul kemarahannya seketika menghilang.Para pelayan itu pun membubarkan diri dan masuk ke kamar mereka masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh yang begitu lelah setelah seharian penuh bekerja.
Rey dan Delia kembali masuk ke lift untuk menuju kamar mereka, setelah berada di dalam kamar Rey menuntun istrinya itu menuju tempat tidur .
"Istirahat lah,kamu belum pulih sepenuhnya." Ujar Rey sambil menggandeng istrinya,tapi Delia menghentikan langkahnya saat mereka tinggal selangkah lagi dari tempat tidur.
"Kenapa?" Tanya Rey bingung karna Delia melepaskan tangannya dari genggaman Rey lalu berjalan meninggalkan Rey sambil tersenyum,Delia lalu masuk ke kamar mandi Rey berfikir Delia ingin buang air lalu ia pun berjalan menuju tempat tidur dan duduk bersandar di atas pembaringan menunggu sang istri.
Tak berapa lama Delia keluar dari kamar mandi dengan kedua tangan di belakang nya,sambil tersenyum ia berjalan menghampiri Rey yang menatapnya dengan kebingungan.
__ADS_1
"Tutup mata mu." Ujar Delia saat berada di hadapan Rey.Rey mengernyitkan alisnya tapi tetap mengikuti keinginan istrinya untuk menutup mata,ia pun menutup matanya tanpa bertanya.
"Bukalah." Lanjut Delia lagi kini kedua tangannya berada tepat di depan wajah Rey dengan sebuah benda kecil di tangannya.Rey membuka matanya dan tatapannya langsung tertuju pada sebuah benda kecil yang ada di tangan Delia, seketika Rey membelalakkan kedua matanya saat melihat benda itu,ia pun segera mengambil nya dari tangan sang istri dan menatapnya dengan lebih dekat,bibir nya seketika tersenyum bahagia saat dua garis biru terlihat dari benda kecil itu,lalu pandangan nya beralih ke arah Delia,sebuah senyuman bahagia dapat ia lihat dengan jelas di wajah sang istri.
"Ini benar?kamu~." Ujar Rey tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya karna sang istri sudah mengangguk ,Rey terlihat begitu bahagia,di tariknya sang istri kedalam pelukannya,rasa bahagia kini menyelimuti keduanya,penantian mereka kini telah terkabulkan, seorang bayi mungil akan hadir dalam keluarga kecil mereka dan melengkapi kebahagiaan mereka,Rey terus memeluk Delia dan mengecup anak rambutnya.
"Sudah berapa bulan?" Tanya Rey masih memeluk sang istri.
"Belum tahu,aku belum memeriksa kannya ke dokter,tadi saat aku pingsan dokter menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan kata pak Bian,tapi karna sudah malam,aku suruh saja pak Bian membeli alat tes pack ini." Ujar Delia sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Dari pagi aku mual-mual,aku sudah curiga sih,karna sudah dua bulan ini aku seperti nya telat datang bulan." Lanjutnya lagi.
"Besok pagi-pagi kita ke dokter." Ucap Rey sambil melerai pelukannya,lalu menidurkan Delia di tempat tidur.
"Istirahat lah." Rey lalu mengecup kening Delia dan berpindah ke kedua pipi dan terakhir di bibir mungil sang istri, sebenarnya ia sangat merindukan sang istri karna sudah dua hari ini ia meninggalkan Delia keluar kota,tapi melihat kondisi Delia yang masih terlihat lemah dan ada janin yang masih sangat kecil di perut sang istri terpaksa ia harus menahan hasratnya untuk tak menyentuh sang istri.
"Kamu tidak ingin menengok nya?"
Rey menundukkan wajahnya kearah sang istri yang berada dalam pelukannya,tentu ia paham kemana arah bicara sang istri,Rey tersenyum simpul karna Delia begitu paham akan dirinya meski ia tak mengatakannya.
"Apa tidak apa-apa,kamu juga masih belum pulih,aku takut terjadi sesuatu pada kalian berdua,jika~"
Delia menutup bibir Rey menggunakan jarinya,ia tidak ingin membuat Rey menahan hasratnya karna itu akan menjadi sebuah penyakit,selagi dirinya masih mampu ia akan menunaikan kewajibannya sebagai istri.Delia lalu mengecup bibir Rey dan tanpa di sadari mereka tenggelam dalam lautan cinta melepas segala kerinduan yang dua hari ini tak bertemu.
*
*
*
__ADS_1
Vio dan Revan kini telah berada di Indonesia, keduanya sedang menunggu taksi yang sudah di pesan nya tadi untuk mengantarkan mereka ke mansion milik Rey dan Delia,saat taksi sudah tiba keduanya pun masuk kedalam taksi dan melaju menuju tempat tujuan mereka.
Taksi yang di tumpangi Revan dan Vio berhenti di sebuah mansion yang mewah dengan gerbang yang menjulang tinggi menutupi keindahan dan kemewahan nya, Revan dan Vio pun keluar dari taksi itu,mereka menatap dengan takjub kediaman kakak mereka,dan mereka meyakini sang kakak kini hidup bahagia bersama Rey.
Vio lalu menekan tombol bel yang ada di dinding pagar,tak berapa lama gerbang pun terbuka dan terlihat dua orang berseragam hitam berdiri di tengah-tengah pintu .
"Cari siapa?" Tanya salah satu security itu.
"Kami adiknya kak Delia,kakak ada?" Jawab Vio,kedua security itu menatap dua orang di depannya,mereka ingin memastikan kebenaran ucapan Vio.
"Jangan memberitahu nya,kami ingin memberikan kejutan ." Ucap Vio cepat saat melihat salah satu security itu akan menelfon .
"Siapa nama kalian,disini tidak boleh sembarangan orang masuk."
"Saya Vio dan ini adik saya Revan."
Security itu kemudian kembali menatap Revan dan Vio,nampak wajah mereka terlihat ada kemiripan dengan wajah nyonya rumah mereka.
"Baiklah,tapi awas saja jika kalian berbohong."
Security itu kemudian mempersilahkan Revan dan Vio masuk,tak ingin mendapatkan kemurkaan dari tuannya,salah satu security itu mengantarkan mereka sampai pintu utama.
Pintu di buka oleh seorang pelayan wanita,dan melihat dua orang asing yang berdiri di depan pintu dan di temani seorang security.
"Katanya mereka adik-adik nona muda." Ucap security itu.
Pelayan itu pun mengangguk pelan dan mempersilahkan kedua tamu tuan rumah nya untuk masuk kedalam, sedangkan security tadi sudah kembali ke tempatnya di post penjagaan.
Revan dan Vio duduk di ruang tamu,keduanya semakin takjub dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1