
Delia berjalan dengan tergesa,tanpa melihat di sekitarnya,sedangkan di sisi lorong rumah sakit lainnya Rey pun berjalan bersama Dion di sisinya.Mereka tidak menyadari akan kehadiran Delia yang bersisian jalan dengan Meraka, begitu pun dengan Delia tidak menyadari kehadiran Rey .
"Hai....Rey." Sapa seseorang yang tengah berdiri di depan Rey di saat ingin memasuki ruangan nya,Rey dan Dion yang memang bertujuan menemuinya pun menghentikan langkah nya setelah di sapa lebih dulu.
"Hai Dion,ada apa dengan bos mu ini, wajahnya di tekuk seperti itu?" Tanya Ramon ,ya seseorang itu adalah Ramon sahabat Rey sejak menginjak bangku kuliah.
"Biasalah..." Jawab Dion sambil melirik Rey yang tak ada senyum - senyumnya itu .
Rey melenggang masuk keruang kerja Ramon meninggalkan Ramon dan Dion yang sedang mengobrol,melihat tingkah Rey ,Ramon memberi kode kepada Dion dengan menaikkan salah satu alisnya,sedangkan Dion yang melihat kode dari Ramon hanya menaikkan bahunya lalu berjalan meninggalkan Ramon menyusul Rey masuk ke ruang kerjanya.
" Bos dan bawahan sama saja,sama - sama menyebalkan." Lirih Ramon kesal namun tetap melangkah masuk keruangan nya menyusul dua orang menyebalkan itu .
"Bagaimana dengan tawaran ku?" Tanya Rey to the point sambil duduk di kursi depan meja kerja Ramon, sementara Dion berdiri di sisi sang bos.
Ramon menghela nafas pelan lalu berjalan ke kursi kebesaran nya.
"Aku bisa saja, mengelola rumah sakit itu tapi....?"
Ramon menjeda ucapannya sambil memainkan pulpennya di jemarinya dan mengetuk-ngetuk nya di meja.
"Katakan..." Seru Rey , Rey tidak ingin membuang waktunya untuk sekedar tawar menawar.
" Aku juga,harus fokus di rumah sakit ini,kamu tahu kan rumah sakit ini di bangun ayahku untuk aku kembangkan,jadi kalau aku menerima tawaran mu,aku tidak bisa begitu fokus pada keduanya,aku butuh asisten untuk membantuku." Jelas Ramon.
"Kamu atur saja." Ucap Rey menyerahkan semua pada Ramon,karna selain Ramon tidak ada lagi yang bisa dia andalkan dan percaya.
"Baiklah...aku akan segera mencari asisten untuk membantuku."Putus Ramon menerima tawaran Rey untuk membantu nya mengelola rumah sakitnya.
Rey beranjak meninggalkan tempatnya dan berlalu begitu saja,di ikuti oleh Dion,sedangkan Ramon hanya melongo tak percaya bisa-bisanya Rey meninggalkan nya tanpa pamit atau sekedar basa basi.
" Menyebalkan." Runtuk Ramon kesal karna di tinggal sendiri.
Rey berjalan di lorong rumah sakit,namun saat akan berbelok matanya menangkap sesuatu yang begitu ia kenal.
"Delia...." Lirih Rey pelan namun masih dapat di dengar oleh Dion.
Dion pun menatap ke arah di mana Rey menatap,dan apa yang di lihat oleh Rey pun di lihat oleh Dion,mereka sama- sama melihat Delia tengah duduk termenung dengan melipat kakinya dengan memeluk nya diatas kursi,Delia tidak menyadari bahwa ada dua pasang mata yang sedang menatap ke arahnya.
Sejenak Rey terlena,namun seketika sadar dan dengan memasang wajah juteknya ia melanjutkan langkahnya dan di ikuti oleh Dion sambil menggeleng pelan melihat tingkah bosnya itu .
__ADS_1
Rey membisu hingga di dalam mobil, pikirannya terbagi - bagi,bahkan ia tak menyadari jika mobil sudah melaju pergi meninggalkan rumah sakit.
Setibanya di hotel tempatnya menginap,Rey masih saja kepikiran dengan Delia ...ia jelas melihat Delia dalam keadaan tidak baik-baik saja,dan yang membuat nya semakin gelisah kenapa Delia tidak bekerja dan berada di Surabaya,hatinya mengatakan ada yang tidak beres tapi perasaan itu segera di tepis nya.Ia tidak ingin larut dalam pikirannya sendiri .
Rey berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket,setelah berada dalam kamar mandi Rey masuk ke bathub berendam menenangkan pikirannya, sejenak matanya terpejam,namun tiba-tiba bayangan Delia muncul,Delia berlari tak tentu arah,ia di kejar orang-orang yang tak di kenal,mereka memakai seragam hitam-hitam,saat itu Delia sudah begitu lelah berlari hingga ia berada di sebuah puncak gunung,tak ada jalan lain selain melompat ke bawah jika ingin selamat dari kejaran orang -orang tak di kenal itu, sementara orang -orang itu semakin mendekati Delia yang tengah berdiri ketakutan,mereka semakin mendekati Delia membawa senjata untuk menghabisi Delia.
Dalam ketakutan nya Delia hanya bisa pasrah,tidak ada orang yang dapat di mintai tolong,salah satu dari orang -orang itu mengarahkan senjatanya tepat di wajah Delia,Delia menutup matanya,namun entah kekuatan dari mana Delia tiba-tiba berteriak.
"Rey......Rey...tolong.."
"Delia...."Rey membuka matanya,dahinya di penuhi keringat,ya dia sedang bermimpi tapi mimpi itu seakan nyata.
Rey mengusap kasar wajahnya,segera ia berdiri dari tempatnya berendam.
Rey berjalan keluar dari kamar mandi,tapi Pikirannya tak bisa lepas dari mimpinya barusan, perasaan nya tiba-tiba tidak enak.
"Apakah Delia dalam bahaya , sekarang?" Batin Rey sambil bersandar di sofa.
Semakin dia berusaha melupakan dan tak peduli pada Delia tapi semakin tak bisa,jika mulutnya mengatakan benci tapi hatinya tidak.
Rey berdiri dari duduknya,membuka lemari dan memakai pakaiannya, sepertinya ia harus menyelidiki sesuatu.Rey berjalan ke arah pintu sambil menekan tombol di ponselnya menghubungi Dion.
"Bagaimana dok?" Tanya Delia khawatir,dokter pertama yang merawat ayahnya telah kembali dan kini telah memeriksa nya.
Dokter menggeleng lemah.
"Kondisi pasien semakin,menurun dan kita belum bisa melakukan operasi jika kondisinya seperti ini." Ucap dokter pelan.
"Dan ini hari terakhir saya menangani pasien,akan ada dokter yang lebih berkompeten untuk menangani pasien." Lanjut dokter lagi.
"Apa tidak ada cara lain,agar luka-luka ayah saya cepat mengering."
"Dokter yang akan menangani ayah anda,yang akan memutuskan cara apa yang perlu di lakukan,mungkin besok dia akan mulai menangani pasien, beliau sudah mempelajari kondisi pasien." Jelas dokter lagi.
Delia hanya terdiam mendengarkan penjelasan dokter.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap dokter itu berlalu pergi.
Setelah kepergian sang dokter,Delia semakin di buat khawatir akan kondisi sang ayah,belum juga ia menemukan bukti atau penjelasan dari sang ayah atas kecelakaan yang menimpa orang tua Rey.
__ADS_1
Braaaaakkkkk
Suara pintu kamar perawatan ayah Delia di buka dengan kasar dan muncullah,dua orang pria masuk ke ruangan itu,Delia yang melihat kedatangan orang tak di kenal itu berdiri dari duduknya .
"Kalian siapa?" Tanya Delia curiga.
Salah satu di antara orang -orang itu melemparkan sebuah dokumen di atas meja.
Delia melihat dengan bingung,namun tangannya mengambil dokumen itu lalu membukanya perlahan dan....
"Apa ini?" Delia begitu sangat terkejut membaca isi dokumen itu.
"Surat laporan,karna ayah anda terbukti telah melakukan tindak kriminal." Ucap salah seorang lagi.
Delia terduduk lemah,harinya meringis,air matanya bahkan hampir saja jatuh jika tidak segera di usapnya.
"Siapa yang membuat laporan ini?" Ucap Delia,meski ia tahu jawabannya tapi ia berharap bukan Rey yang melakukan nya,tapi mustahil hanya Rey yang mampu melakukan semua ini.
"Tentu saja ,atas perintah tuan Rey."
"Persiapkan saja ayah anda untuk menghadapi hukuman atau kami ada tawaran lain."
Delia menoleh kearah dua orang yang masih berdiri di dekat pintu itu.
"Apa?" Ujar Delia pasrah.
"Mengakui kesalahannya dan pergi dari negara ini maka bos kami akan membantu kalian untuk menjauh,atau.....?" Orang itu menggantung ucapannya.
Mendengar tawaran orang itu ,Delia merasa ada yang tidak beres,pasti ada sesuatu yang di rahasiakan dan Delia bukanlah seorang pengecut yang lari dari masalah,dia harus mencari kebenaran ini.Pikir Delia.
"Kalau aku menolak."Tantang Delia.
Ke dua orang itu menatap tajam ke arah Delia,mereka terlihat menahan kesal karna Delia menantang mereka.
"Maka jangan salahkan kami jika kalian berada dalam bahaya." Ancam orang itu .
"Kalau begitu , katakan pada bos mu,aku menerima tantangan nya." Ucap Delia menantang sambil berdiri dan mendekati kedua orang itu dengan tatapan tajam,meski sebenarnya ia begitu takut.
"CK..." Kedua orang tak di kenal itu pergi meninggalkan kamar perawatan ayah Delia dengan kesal karna tawaran mereka di tolak dan malah Delia menantang bos mereka.
__ADS_1
Sedangkan Delia yang berfikir jika kedua orang itu adalah suruhan Rey,padahal ia tidak tahu kalau sebenarnya ada orang lain yang sedang bermain dengannya.