
"Bukannya akan ke Jakarta hari ini,kenapa masih di sini?" Tanya Vio sembari berjalan mendahului Ramon setelah Ramon memberinya jalan untuk keluar.
"Tidak jadi,aku tidak bisa meninggalkan mu sendirian di sini." Jawab Ramon sambil berjalan mengimbangi langkah Vio,mereka pulang ke rumah dengan berjalan kaki karena letak klinik dan rumah tempat tinggal mereka tidaklah begitu jauh.
" Masa sih,kok aku jadi terharu."
"Benarkah,kalau begitu kita tinggal di sini saja... menjalani hidup sederhana bersama anak-anak kita kelak." Ujar Ramon sambil membayangkan kehidupan bahagia mereka di desa ini bersama anak-anak mereka kelak.
"Mimpi kamu." Sinis Vio yang langsung mematahkan angan Ramon yang baru saja ia bayangkan.
"Kok mimpi,kita kan sudah menikah dan kita bisa mewujudkannya."
Vio menghentikan langkah nya ,lalu menoleh ke arah Ramon,ia kemudian menarik nafas berat .
"Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang berlebihan karena jika harapan mu tidak seindah Kenyataan itu akan sangat menyakitkan bukan." Lirih Vio sambil menatap Wajah Ramon lalu kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Ramon yang berdiri tak bergeming mendengar ucapan Vio,sebuah ucapan yang berhasil menamparnya. Bagaimana tidak impian indah itu tak akan semudah yang ia bayangkan karena saat pernikahan mereka di ketahui maka kehancuran akan menghadang mereka.
Wajah kemarahan dan kekecewaan kedua orang tuanya pun tiba-tiba terbayang di fikirannya di tambah dengan kemarahan Rey jika Rey mengetahui pernikahan nya dengan Vio,tak bisa ia bayangkan seperti apa kemarahan Rey padanya nanti. Jika ia tidak begitu mempersoalkan kemarahan kedua orang tuanya karena ia pun telah siap menghadapi amukan mereka,tapi menghadapi kemarahan Rey itu akan sangat sulit,dan bisa saja Rey membuat nya berpisah dengan Vio untuk selamanya.
"Tidak,aku tidak akan biarkan Vio lepas lagi." Batin Ramon sambil menatap punggung Vio yang sudah berjalan jauh .
Ramon kembali melanjutkan langkahnya denah. perasaan tak menentu.
"Dimana Ramon?" Tanya ibu Sophia saat ia sudah tiba di bandara dan hanya di jemput oleh Sophai dan ibu Ramon sedangkan Ramon tak nampak batang hidungnya.
"Ohh..i..itu Ramon sedang berada di luar kota beberapa hari ini, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum pernikahan mereka nanti. Takutnya kalau tidak di selesaikan akan mengganggu honeymoon mereka,katanya Sophia ingin honeymoon keliling Eropa." Jelas ibu Ramon berbohong, padahal ia sendiri tidak mengetahui dimana dan kemana putranya itu.
"Oh..begitu,memang sebaiknya begitu...jangan sampai saat mereka sudah berada di Eropa tiba-tiba ada pekerjaan yang harus mengganggunya ,itukan akan sengat mengganggu." Timpal ayah Sophia sembari berjalan menuju mobil yang terparkir di area parkir Bandara.
"Tapi ,Ramon susah banget Pi di hubungi,dua bahkan tidak pernah menelfon Phia." Protes Sophia sembari bergelayut manja di lengan sang ayah.
__ADS_1
"Kamu harus paham dan mengerti pekerjaan calon suami mu sayang." Ucap ibu Sophia menenangkan.
"Iya, Mi..."
ke empat orang itu pun masuk kedalam mobil dan pulang ke apartemen milik Ramon.
"Kami tinggal di hotel saja." Ucap Ibu Sophia saat mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen milik Ramon.
"Kenapa,? kalian tinggal di apartemen saja,lagia Sophia tinggal sendirian di apartemen." Ucap Sophia sembari menyetir mobil.
"Baiklah." Ujar ayah Sophia,ia mereka memang tidak bisa menolak keinginan putri satu-satunya itu.
"Iya,Putra kalian tidak ikut?" Tanya ibu Ramon saat ia teringat jika Sophia memilik seorang kakak laki-laki dan ia belum pernah bertemu dengan putra sulung calon besannya itu.
"Dia sedang berada di luar kota,sudah beberapa bulan ini,dia ada di Indonesia tapi katanya dia berada di sebuah desa yang terpencil " Jawab ibu Sophia,putranya itu memang senang melakukan kegiatan sosial berbeda dengan Sophia yang anti dengan kegiatan sosial.
"Oh ya,kok kalian tidak mengantakan pada kami."
"Tanpa terasa mereka pun tiba dan masuk kedalam apartemen.
"Duduklah Dad,Mam,mama juga duduklah,aku siapkan ambil minuman dan cemilan dulu." Ujar Sophia lalu berjalan masuk kedalam dapur untuk mengambil minuman dan cemilan.
"Putriku sudah berubah." Ucap ibu Sophia sambil menatap putrinya yang terus berjalan masuk kedapur.
"Bos,sebaiknya anda pulang sekarang ,sopir sedang dalm perjalanan untuk menjemput anda,orang tua nona Sophia sudah tiba dan mereka terus mencari keberadaan anda bos,saya juga terus di teror nyonya." Ucap asisten Ramon di balik telfon, ia menyuruh Ramon untuk kembali ke Jakarta karena ia sudah tidak bisa menangani keadaan di Jakarta.
"Baiklah." Jawab Ramon lalu mematikan panggilan nya dan bersamaan itu Vio masuk k ke dalam kamar.
"Ramon menatap Vio yang sedang membersihkan tempat tidur , sejujurnya ia begitu berat meninggalkan Vio tapi ia pun tak bisa terus di sini karena masalah besar sedang menunggu di Jakarta yang harus di selesaikan nya.
__ADS_1
Ramon berjalan mendekati Vio yang masih sibuk membersihkan tempat tidur.
"Aku akan ke Jakarta sekarang." Ujar Ramon dan membuat Vio menghentikan pekerjaannya. ia lalu menoleh ke arah Ramon yang berdiri di sampingnya sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Sekarang juga?" Tanya Vio meyakinkan.
#"Iya,tapi kalau kamu berat untuk aku tinggalkan aku tidak akan pergi."jawab Ramon sambil menggoda sang istri.
Vio mutar bola matanya malas,ia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya,setelah itu ia pun beranjak mengambil laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Oh..baiklah, hati-hati saja di jalan karena ini sudah malam." Ucap Vio lalu duduk di lantai dan membuka laptopnya. Ramon yang tadinya berharap Vio melarang nya untuk pergi kini terlihat kecewa,ia pun duduk di sisi Vio sambil bersandar di tiang tempat tidur.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa menjemput Minggu depan atau tidak ,karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Tidak apa-apa,aku bisa pulang bersama yang lainnya."
"Sungguh,apa kamu ..."
"Jangan memikirkan ku, selesaikan saja pekerjaan mu,aku baik-baik saja." potong Vio sambil matanya menatap layar laptopnya.
"Baiklah aku akan bersiap." Ramon lalu beranjak dan mengambil tas ranselnya lalu ,ia lalu melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Biar aku saja." Suara Vio menghentikan tangan Ramon yang baru akan mengambil pakaiannya,Vio lalu maju ke depan lemari setelah Ramon menggeser tubuhnya dan memberikan jalan untuk Vio.
Vio mengambil semua pakaian Ramon yang hanya beberapa lembar lalu membawanya ketempat tidur,setelah itu ia memasukkan nya ke dalam tas ransel milik Ramon,sedangkan Ramon hanya berdiri di dekat lemari sambil memperhatikan Vio yang sedang sibuk mengemas pakaiannya, ia tersenyum bahagia karena perlahan Vio mulai memperhatikannya dan hal kecil itu membuatnya begitu berbunga-bunga.
"#
"#Aaa#
__ADS_1
"