
Sudah seminggu ini Rey dan Delia tidak bersama rencananya hari ini Rey akan menyusul Delia ke Surabaya,tapi sebelumnya ia akan ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan nya,Rey sengaja tidak memberitahu Delia perihal rencananya untuk menyusul istrinya itu hari ini,Rey ingin memberikan kejutan padanya.
Semua karyawan di kantor Rey menunduk saat pemilik perusahaan memasuki kantor bersama asisten setianya.
Rey berjalan memasuki lift khusus untuknya,lalu langsung menuju ruangannya ia bahkan tak membalas sapaan sekertaris nya itu yang tadi menyapanya saat Rey melewati meja sekertaris nya itu.
"Apa saja jadwalku hari ini?" Tanya Rey saat dia sudah masuk di ruangan nya dan duduk di kursinya sambil membuka laptopnya, sementara Dion yang di tanya masih berdiri di depan meja bosnya sambil mengambil tablet khusus jadwal dan segala pekerjaan bos nya itu.
"Pagi ini kita akan ada meeting dengan kolega dari Jerman perihal pembukaan hotel di Jerman dan juga siang nanti ada meeting beberapa kepala cabang kita yang akan memberikan laporan perihal kondisi kantor cabang kita bos." Jawab Dion sambil menggeser - geser layar tablet nya .
"Apa ada yang tidak beres dengan kantor cabang?"
"Tidak bos,semua baik - baik saja dan kabarnya justru kantor cabang kita mendapatkan keuntungan dua kali lipat dari bulan lalu.
"Heeemmmm." Rey mengangguk - anggukkan kepalanya sambil tersenyum karna kerja kerasnya selama tidak lah sia- sia.
"O ya kosong kan jadwal ku untuk seminggu kedepan,aku akan ke Surabaya sore nanti,dan selama aku tidak ada kamu yang akan menangani semua pekerjaan di sini ." Ujar Rey dengan santai sedang kan Dion yang di berikan tanggung jawab tersenyum kecut, rencananya untuk mengambil cuti hari ini terpaksa gagal sebelum di ajukan,setelah Rey dengan seenaknya melimpahkan semua pekerjaan nya pada Dion.
Ingin rasanya Dion memaki bosnya ini,tapi mana berani dia memaki bosnya itu yang ada dia akan kehilangan pekerjaannya dan itu akan sangat merugikan dirinya,dimana lagi dia bisa bekerja dengan gaji fantastis meski kadang pekerjaannya di luar jabatannya sebagai asisten.
"Baik bos .."Pasrah Dion dengan lemah.
Sementara di Surabaya tepatnya di desa tempat tinggal Delia.
__ADS_1
Delia dan keluarganya sedang bersiap untuk keluar jalan- jalan menggunakan mobil yang Delia beli dari hasil kerja kerasnya sebagai dokter.
Sebuah mobil Avanza hitam milik Delia keluar meninggalkan halaman rumahnya yang tidak begitu luas,Revan adik bungsu Delia yang masih menginjak bangku SMA itu turun dari mobil untuk menutup pagar dan menguncinya.
Setelah itu Revan masuk kembali ke mobil dan mobil pun melaju menuju jalan raya , Delia akan membawa keluarga nya ke pusat kota Surabaya sekaligus menjemput Vio adiknya yang kuliah di Surabaya,karna Vio yang saat itu berencana untuk pulang terpaksa batal karna tiba- tiba ia di berikan tugas oleh dosen baru yang saat itu hari pertama sang dosen mengajar.Ya Vio juga kuliah kedokteran di salah satu rumah sakit terbaik di Surabaya.
Di Jakarta saat semua pekerjaan Rey telah selesai,kini ia tengah bersiap untuk pulang ke apartemen sebentar lalu ke bandara untuk menyusul sang istri yang begitu ia rindukan,namun baru saja akan melangkah keluar ia di kejutkan oleh kedatangan ayahnya yang tiba - tiba masuk ke ruangannya,Ia pun mengurungkan niatnya untuk pulang.
"Papa..." Ucap Rey saat membuka pintu ruangan nya dan melihat sang ayah sudah berdiri di depan pintu.
Rey kemudian membuka lebar pintu ruangannya,lalu mempersilahkan ayahnya untuk masuk,sejak kejadian itu Rey tak lagi ke rumahnya dan lebih memilih tinggal di apartemen karna pernikahan nya belum mendapatkan restu dari ayahnya, sedangkan ibunya sudah memberikan lampu hijau.
"Mau kemana kamu?" Tanya ayah Rey saat mereka sudah berada di dalam ruang kerja Rey.
"Mau pulang ,Pa." Jawab Rey.
Rey menghela nafasnya pelan.
"Aku ingin ke Surabaya."
"Ngapain kamu ke Surabaya?"
Sebenarnya Rey enggan memberi tahu ayahnya tapi sepertinya ia harus memberi tahukan ayahnya perihal rencana nya untuk menyusul sang istri yang begitu sudah sangat ia rindukan seminggu ini.
__ADS_1
"Menyusul Delia..." Ucap Rey .
Ayah Rey melotot kan matanya lalu tersenyum sinis yang membuat Rey kebingungan akan tingkah ayahnya itu.
"Apa kamu sudah bertemu dengan orang tua gadis itu?" Tanya ayah Rey.
Rey menggeleng pelan sebagai jawaban,ayah Rey yang melihat gelengan kepala Rey sudah menduga demikian karna jika mereka sudah bertemu tidak mungkin Rey akan menyusul istrinya itu pikir ayah Rey.
Ayah Rey lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jasnya lalu memberikan amplop coklat itu kepada Rey.
Rey kebingungan saat melihat amplop yang di berikan kepadanya tapi dia tetap saja menerima amplop itu walau berbagai pertanyaan tengah memenuhi otaknya.
"Bukalah." Perintah ayah Rey saat amplop itu sudah berada di tangan Rey.
Tanpa bertanya Rey pun mengikuti perintah ayahnya ,ia lalu membuka pelan amplop itu dan mengeluarkan isinya,beberapa lembar foto dan kertas ia ambil dari amplop itu .
Deg....
Jantung Rey seakan berhenti bertdetak saat itu juga saat melihat siapa orang yang berada di foto itu,dan ia pun semakin di kejutkan dengan dokumen yang membuktikan hubungan darah istrinya itu dengan seorang pria paruh baya seusia ayahnya yang sangat ia kenal,meski saat itu usianya masih sangat kecil tapi ingatan kejadian yang menimpanya dan orang tua kandungnya tak bisa dia lupakan begitu saja termasuk orang yang berada dalam foto itu yang tersenyum bahagia berdiri disamping istrinya, sepertinya foto itu di ambil ketika Delia tengah menjalani wisuda terlihat dengan pakaian yang di gunakan istrinya itu dalam fotonya.
Rey terkulai lemas saat mengetahui sebuah fakta yang tak bisa ia terima.
"Bagaimana mungkin?" Lirih Rey pelan,hatinya begitu terluka, luka yang sangat dalam dan menggores hatinya,cinta nya yang begitu besar pada istrinya itu kini pun mulai goyah atau kah tetap bertahan meski kini ia mengetahui sebuah fakta yang menyakitkan, bahkan luka itu melebihi luka yang ia rasakan saat ayahnya tak mengakui dirinya darah daging nya saat ketahuan menikah diam-diam.Seakan seribu belati tengah menusuk - nusuk jantung dan hatinya, sementara ayah Rey yang melihat putranya itu tengah kesakitan tapi tak berdarah hanya terdiam,ia pun sama seperti putranya itu .
__ADS_1
" Dia putri orang yang kamu cari selama ini." Ucap ayah Rey tanpa menatap Rey,ia tidak ingin melihat Rey karna itu akan membuat nya ikut terluka,meski dirinya masih tak menerima akan keputusan putranya itu,tapi ia pun sangat menyayangi Rey seperti putra kandung nya sendiri.
Rey hanya terdiam dengan tatapan kosong,entah apa yang ada dalam pikirannya,yang jelas saat ini hatinya begitu terluka dan kenangan masa lalu yang kelam itu kembali berseliweran di kepalanya hingga ia pun tak sadarkan diri, seketika ayah Rey panik melihat putranya itu jatuh ke lantai dan dengan cepat menghampiri Rey yang sudah terbaring di lantai yang dingin itu sedingin hatinya kini.