
Dua jam lamanya Vio berada di ruang operasi,beradu peran di meja operasi untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien. Vio begitu telaten dengan apa yang di kerjakan nya di meja operasi, melakukan bedah pada tubuh seorang pasien sudah menjadi keseharian.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya seorang wanita paruh baya pada Vio saat ia melihat Vio keluar dari ruang operasi.
"Alhamdulillah, operasi nya berjalan lancar , keadaan pasien baik-baik saja ." Jelas Vio sambil tersenyum kearah wanita yang bertanya tadi.
" Bisa saya menemuinya dok?"
"Tentu saja,tapi tunggu setelah pasien di bawa ke ruang perawatan."
Vio pun berlalu meninggalkan ruangan operasi setelah berbicara dengan keluarga pasiennya,ia berjalan menuju ruangannya dengan tubuh lemas tak bersemangat,ia begitu sangat lelah karena kurang istirahat,matanya rasanya ingin tertutup .
Vio membuka pintu ruangannya dan berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuh lelahnya dan tak membutuhkan waktu yang lama ia pun terlelap dengan pintu ruangannya yang sedikit terbuka.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman gedung rumah sakit tempat Vio bekerja,mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk gedung rumah sakit, seorang pria berseragam hitam/-hitam berlari tergopoh-gopoh menunjuk mobil yang terparkir di depan pintu masuk.
"Selamat datang tuan." sapa sang pria berseragam hitam-hitam itu dengan senyum ramah saat ia membuka pintu mobil untuk sang pemilik mobil yang baru saja keluar dari mobil mewahnya.
Tak ada senyum apa lagi membalas sapaan pria paruh baya yang di pastikan adalah seorang security.
Pria tampan dengan setelah kemeja mewah berwarna hitam itu melangkah begitu saja meninggalkan sang security yamg masih berdiri di tempatnya.
"Maaf ya pak,namanya juga orang kaya,kita yang orang miskin ini hanya butiran debu bagibyang berduit." ucap sang sopir yamg mengantarkan pria tampan tadi.
"Sudah biasa ini mah." Jawab sang security dengan senyum ramahnya tak terlihat raut kekecewaan di wajahnya mungkin hal seperti itu sudah biasa ia hadapi, menghadapi orang kaya sombong seperti pria tadi memang membutuhkan kesabaran yang besar.
__ADS_1
Di dalam gedung rumah sakit pria tampan yang yang di sinyalir adalah pemilik baru rumah sakit itu kini di sambut dengan oleh beberapa petinggi rumah sakit serta dokter-dokter yang bekerja .Mereka kini berkumpul di ruang meeting dimana semua orang telah berkumpul untuk menyambut kedatangan bos besar mereka.
. Semua orang yang ada di ruang meeting berdiri saat mereka melihat seorang pria tampan berjalan masuk melewati mereka menuju meja paling ujung dengan di ikuti dua orang pria di belakangnya.
Semua orang pun berdiri sambil menundukkan kepala sebagai penghormatan dan sambutan selamat datang kepada pria tampan yang baru saja memasuki ruangan.
Semua orang pun duduk kembali ke kursi masing-masing setelah sang pria duduk terlebih dahulu di kursinya.
Sejenak ruangan itu menjadi hening dan serasa begitu menegangkan. Semua yang hadir seolah kehilangan kata-kata,mulut mereka serasa keluh hanya dengan menatap wajah pria dingin yang duduk di ujung meja .Tak ada keramahan apa lagi senyum walau sekedar mencairkan suasana .
C
A"Selamat datang pak Ramon,suatu kebanggaan bagi kami karena anda sudah meluangkan waktu untuk berkunjung di rumah sakit ini." Ucap seorang pria memecahkan keheningan,dengan sedikit gugup takut akan menyinggung sang pria karenaenurut kabar yang beredar siapa pun yang berani mengusik apa lagi menyinggung nya maka mereka akan berada dalam masalah besar.
." Hanya sebuah gumaman yang di lontarkan nya,membuat semua yang hadir berkeringat dingin.
"Saya tidak ingin mendengar keluhan dari para pasien dan keluarganya tentang pelayanan rumah sakit ini serta hal terpenting adalah saya tidak ingin ada pegawai rumah sakit ini yang melakukan kesalahan sekecil apa pun,naik itu direktur,manager,dokter bahkan perawat jika sampai itu terjadi maka rltak ada kesempatan kedua bagi yang melakukan kesalahan apa lagi jika sampai lalai dalam tugasnya." Lanjutnya lagi .
"Itu tidak akan terjadi pak,semua pegawai yang di rekrut di rumah sakit ini adalah yang terbaik dan profesional." Ucap pria paruh baya yang di ketahui sebagai direktur yang di tunjuk tunjuk untuk mengelolah rumah sakit ini
"Baiklah,saya ingin bukti bukan hanya sekedar ucapan saja." Ramon memandang sang direktur dengan tarspan tajam,ia lalu mengarahkan tatapannya pada semua orang yang ada di ruangan itu.
,"Aku ingin berkeliling rumah sakit ini." ujar Ramon sambil berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan itu ia tak peduli dengan tatapan orang-orang yang di lewati nya. Mereka pun membubarkan diri dan satu persatu meninggalkan ruangan itu setelah Ramon dan asistennya yang di sertai direktur direktur rumah sakit itu meninggalkan ruangan terlebih dahulu.
Ramon berjalan menyusuri setiap lorong-lorong rumah sakit,ia pun menyempatkan diri untuk masuk ke ruang rawat inap hingga ruangan para dokter yang bekerja di rumah sakit miliknya.
__ADS_1
Langkahnya terhenti ketika matanya tanpa sengaja melihat ke salah satu ruangan dokter yang pintu sedikit terbuka,dari luar ia bisa melihat seorang wanita yang sedang tertidur dengan lelap di sofa dengan wajah yang tertutupi rambut panjangnya. Ramon menoleh ke arah direktur yang berdiri di samping nya dengan wajah berkeringat dingin saat menyadari tatapan pria di sampingnya itu seakan ingin melahapnya hidup-hidup.
"Dia salah satu dokter bedah terbaik yang di milik ruha sakit ini, sepertinya dia kelelahan pak karena sejak kemarin dia kurang istirahat karna begitu banyak pasien yang di tanganinya." Jelas sang pria dengan sedikit terbata,ia tahu membela dokternya karena dia tahu se profesional apa sang dokter yamg tengah berbaring di dalam itu.
"Bukankah itu sudah menjadi kewajibannya,dia bekerja di rumah sakit ini jadi dia harus mengikuti aturan rumah sakit ini,bukan tidur seenaknya apa lagi di jam kerja seperti ini." Ramon lalu berjalan menuju ruangan dimana dokter wanita itu sedang tertidur dengan lelap.
"Mati lah kamu Vio,maaf aku tidak bisa membela mu kali ini." Batin sang pria saat melihat Ramon membuka pintu ruangan Vio dengan sedikit membanting,namun suara bantingan pintu yang keras tidak sedikitpun mengganggu Vio dari lelapnya.
"Apa kerjamu di rumah sakit ini hanya tidur saja." Bentak Ramon dengan membanting sebuah gelas ke lantai yang dengan seketika membuat Vio terkesiap dari tidurnya,Vio begitu terkejut hingga tak menyadari melemparkan bantal sofa yang sialnya tepat mengenai wajah Ramon. Vio lalu duduk mengumpulkan nyawanya masih beterbangan , setelah di rasa cukup ia lalu berdiri dan melihat beberapa orang yang sudah berdiri di depannya,di antara orang-orang itu Vio hanya mengenal satu sosok saja hanya sang direktur rumah sakit danbyang lainnya serasa asing di mata Vio.
2`
*
X
"
Bapak kira-kira dong kalau membangunkan orang,aku kan tadi sudah izin untuk beristirahat sebentar." Omel Vio tak terima dengan cara direkturnya itu membangun kan dirinya .
"Jika ingin tidur sebaiknya tinggal di rumah saja, jangan bekerja di rumah sakit ini. Rumah sakit ini tidak membutuhkan dokter pemalas seperti mu." Ujar Ramon yang yang berada di belakang Vio.
Tak terima dengan ucapan seorang pria yang menganggapnya pemalas Vio pun memutar tubuhnya menghadap ke arah pria yang baru saja saja mengatainya pemalas,Namun saat menatap pria itu matanya membelalak tak percaya begitupun dengan sang pria ,mereka berdua begitu terkejut setelah saling berhadapan.
".
__ADS_1
Setelah.