Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 152


__ADS_3

BB"Kamu...?" Ucap Ramon dan Vio bersamaan,ya pria itu adalah Ramon pria yang dulu selalu menemani hari-hari Vio.


,"Sayang ,maaf ya, aku nggak sengaja ketemu Vio jadi kami ngobrol sebentar ." Ujar Sophia sambil berjalan menghampiri Ramon dan melewati Vio.


" Oh tidak ap... apa-apa." Ramon terlihat gugup dan canggung karena bertemu dengan Vio.


Seketika suasana jadi canggung di tengah keramaian supermarket itu .


"Apa kabar Vi? kamu di sini? sejak kapan?" Tanya Ramon beruntun, ia tak menyangka Vio kembali ke negara ini karena setahunya Rey telah membawa Vio kembali ke Indonesia.


"Aku rasa kamu sudah mendengar kabar meninggalnya Rosa,jadi aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku ada di sini." Ujar Vio dingin sikapnya tak lagi seperti dulu ketika menghadapi Ramon,dan hal itu membuat Ramon tercengang dan tak percaya .


Ramon dan Vio saling menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.


Tringgg tringg


Dering ponsel Vio membuyarkan tatapan mereka,Vio yang menyadari ponselnya berdering segera mengambil nya dari tas kecil selempang nya,ia lalu mengusap tombol berwarna biru setelah mengetahui id pemanggil yang tertera di layar ponselnya.


"Iya kak,,aku masih di supermarket, sebentar lagi aku pulang ." Ujar Vio saat ia menjawab panggilan dari Delia.


"Baiklah,kami sedang menunggu mu,kita ingin keluar makan siang di restoran mama." Ucap Delia di balik telfon.


"Iyaslu segera pulang ." Vio mematikan panggilannya setelah tak ada lagi yang perlu di bicarakan. Ia lalu menatap ke arah dua orang yang masih berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Baiklah aku duluan." Pamit Vio sembari beranjak dari hadapan Ramon dan Sophia


"Datang lah ke acara pertunangan kami besok malam." Seru Sophia saat Vio melangkah meninggalkan mereka.


"Vio menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Sophia tentang pertunangannya dengan Ramon.Sedangakan Ramon m Ramon begitu terkejut dan tak menyangka akan ucapan Sophia kepada Vio,ia tak pernah menginginkan Vio mengetahui pertunangannya dengan Sophia,tapi sepertinya semua itu sia-sia karena kini Sophia mengundangnya ke acara pertunangan nya besok malam.


Vio lalu memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Ramon dan Sophia.


"Oh... selamat kalau begitu,semoga kalian bahagia." Ucap Vio dengan tersenyum tipis,walau hatinya serasa di cabik-cabik mendengar berita pertunangan mereka tapi ia berusaha menutupi nya dengan tersenyum.


Vio lalu kembali memutar tubuhnya dan meninggalkan Ramon dan Sophia yang masih berdiri mematung melihat kepergian Vio dari hadapan mereka.Vio berjalan menuju kasir denagn hati bagai di remas sembiluh: dan hatinya hancur berkeping,jika saja dia tidak berada di tempat umum mungkin dia akan menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala ke resahan dan rasa sakit yang menyayat hatinya . Setelah melakukan pembayaran Vio pun meninggalkan supermarket itu dimana Ramon masih berada di dalamnya dan memandang Vio dari dinding kaca,ingin rasanya ia berlari mengejar Vio saat itu juga tapi kakinya terasa Bu rantai dan tak mampu untuk mengejar wanita yang masih menguasai hatinya hingga kini.


"Ayo,,." Ajak Sophia sambil menggenggam tangan Ramon , Ramon sedikit tersentak karena Sophia membuyarkan perhatiannya dari mobil Vio yang sudah melaju pergi meninggalkan area parkir supermarket itu.Rey mengangguk sambil berjalan mengikuti langkah Sophia yang terus menempel padanya.


Sejak pulang dari supermarket Vio mengurung dirinya di kamar,ia bahkan tak ingin ikut pergi bersama keluarga kakak iparnya itu.


Di sisi lain, tepatnya di apartemen milik Ramon,sejak pertemuan nya dengan Vio di supermarket tadi menjadikan fikirannya berkecamuk dan gelisah,ia bahkan meninggalkan Sophia di parkiran supermarket tadi dan karena perlakuan nya itu Ramon mendapatkan Omelan dari Omanya karena meninggalkan Sophia sendirian.


"Maaf Vi,maafkan aku,aku janji jika sudah waktunya aku akan menemui mum"Gumam Ramon sambil memandang bingkai kecil yang berisi fotonya dan foto Vio yang saling menggenggam dengan tersenyum bahagia,foto itu di ambil ketika mereka sedang merayakan ulang tahun Vio di apartemen milik Rey di Berlin dan yang mengambil gambar mereka adalah Revan.


Fikiran Ramon menerawang jauh ke belakang, ingatan-ingatan masalahku nya bersama Vionterus berseliweran di fikirannya.


.Dua hari berselang, acara pertunangan Ramon dan Sophia pun akan diadakan malam ini di hotel milik ayah Rey, dekorasi di ballroom hotel itu begitu mewah menandakan jika yang punya hajat bukanlah kalangan biasa,ya Ramon memilik darah biru dari ayahnya, orang tua ayahnya atau om dan opanya merupakan seorang bangsawan itulah mengapa mereka tidak sembarangan memilih calon menantu yang akan masuk ke keluarga mereka,dan menurut mereka hanya Sophia yang pantas menjadi menantu mereka,istri dari sang pewaris. Ramon satunya- satunya putra yamg ada di keluarga nya,ia anak tunggal dan ahli waris satu-satunya. Ayah sudah tidak mudah lagi untuk melanjutkan kerajaan bisnis keluarganya,dan mau tak mau Ramon lah yamg harus meneruskan semua bisnis keluarga, namun sebelum bergabung ke dalam bisnis keluarga ia harus memiliki pendamping,bukan tanpa alasan keluarga nya menginginkan Ramon menikah. Mengingat masa lalu Ramon yang seorang playboy suka berganti pacar membuat keluarga nya tak ingin Ramon kembali ke masa dimana dia menjadi seorang bad boy dan untuk menghindari itu Sophia lah jadi pilihan sang Oma dan Opa,apa lagi keluarga mereka juga begitu dekat,masih ada hubungan kekerabatan.

__ADS_1


"Vi...Vio.." panggil Delia sambil mengetuk pintu kamar Vio.


*Masuk kak." Seru Vio dari dalam kamar sambil duduk di depan meja rias.


"Sudah siap?"Tanya Delia saat sudah berada di dalam kamar Vio dan melihat sang adik sedang duduk di meja rias dengan dandanan natural namun membuat nya semakin terlihat cantik.


"cantik sekali adik kakak ini." Goda Delia sambilenaik turunkan alisnya menggoda Vio.


"Jangan menggodaku kak." ucap Vio sebal sambil berdiri dari duduknya dan tak lupa mengambil tas kecil yang ada di atas meja riasnya,ia pun berjalan meninggalkan Delia yamg masih berdiri di tempatnya.


"Vio.." panggil Delia saat menyadari kepergian Vio yang mendahuluinya.


Dia memegang pundak Vio saat Vio akan menuruni anak tangga untuk ke lantai bawah,ia kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dimana Delia masih berdiri .


"Kenapa?" Tanya Vio dengan alis mengkerut.


"Kamu baik-baik saja jika ikut?" Tanya Delia lembut,ia paham bagaimana perasaan Vio saat ini karena ia pun pernah mengalami hal yang sama,tapi bedanya Rey begitu gentle menghadapi keluarga nya ia bahkan menolak pernikahannya dengan Mona saat itu,tapi Ramon ia diam saja tak ada sedikit saja usaha untuk memperjuangkan Vio dan itu membuat Rey dan Delia kecewa pada Ramon,padahal jauh sebelum acara ini Ramon telah meminta restu untuk memperjuangkan Vio tapi apa sekarang,Ramon bahkan tak pernah memberi penjelasan atas keputusan yang ia pilih.


.


.


M.

__ADS_1


Suara


.


__ADS_2