
Setelah mengemudi tiga puluh menit mereka pun akhirnya tiba di sebuah apartemen,mereka berjalan menuju lift untuk mengantarkan mereka ke apartemen tempat tinggal sementara Ramon dan Vio selama berada di kota Hamburg.
"Menyebalkan." Gerutu Vio sambil berjalan di belakang Ramon dan wanita itu.
"Tidak tahu malu,aku ada di sini kan apa mereka lupa jika di sini ada aku yang melihat kemesraan mereka itu."
Bugh...bugh...
"Auhhhhhh....." Pekik Vio sambil mengusap dahi nya karna terbentur oleh punggung Ramon.
Vio yang berjalan di belakang Ramon tanpa sengaja menabrak punggung Ramon yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kalau mau berhenti bilang dong,kan sakit ni jidat." Omel Vio sambil mengusap dahi nya.
"Orang itu kalau jalan liat kedepan ,bukan liat kebawah." Ucap Ramon sambil menatap Vio .
"sudahlah,dari tadi kalian itu ribut saja,ayo masuk." Ujar wanita itu sambil membuka pintu apartemen miliknya,ya Ramon sebelum berangkat ke kota ini ia sudah menghubungi Sophia sahabat kecilnya terlaebih dahulu.
Sophia tinggal di kota Hamburg,ia keturunan Indonesia Jerman,ayahnya orang asli Jerman dan ibunya orang Indonesia tepatnya di kota Bogor.Ramon dan Sophia merupakan sepupu jauh,dari kecil mereka begitu dekat,hingga akhirnya berpisah saat Ramon memutuskan untuk kuliah di London sedangkan Sophia memilih kuliah di Jerman.
Ramon dan Sophia sama-sama berdarah Jerman.nenek buyut perempuan mereka bersaudara sehingga mereka masih ada hubungan kekerabatan.
__ADS_1
Keluarga mereka pun sangat dekat,keluarga Ramon yang kini menetap di London sedangkan keluarga Sophia menetap di Jerman,meski pun tinggal di negara yang berbeda keduanya begitu sangat dekat.
"Silahkan duduk,maaf ya sedikit berantakan." Ujar Sophia lalu berlalu meninggalkan Ramon dan Vio di ruang tamu.
"Kenapa tidak mengatakan kalau ada orang lain yang juga akan tinggal bersama kita,jadi aku tidak perlu membuang-buang energi untuk berdebat denganmu." Ucap Vio sambil duduk di sofa,sedangkan Ramon menatap ke arah sebuah bingkai foto yang terpajang di atas sebuah buket yang terletak di sudut ruangan.
Sebuah bingkai foto yang cukup besar dan terlihat dua orang pria dan wanita berseragam SMA dengan saling memandang dan tersenyum.
Vio yang merasa hening di ruang tamu itu,matanya menelisik isi ruangan itu,dan di sudut ruangan dekat jendela Vio melihat punggung Ramon yang sedang menatap sesuatu,tapi Vio tak bisa melihat apa yang sedang di tatap Ramon karna punggung Ramon menghalangi pandangannya.Karna penasaran Vio pun beranjak dan menghampiri Ramon,ia kemudian mengintip di balik punggung Ramon dan melihat sebuah bingkai foto yang tentu saja dia kenal begitu dekat dengan sosok yang ada di bingkai itu.
"Pasangan yang serasi." Ujar Vio di balik punggung Ramon.Ramon lalu menoleh kebelakang saat mendengar suara Vio,ia lalu tersenyum tipis sambil memandang wajah Vio yang terlihat begitu cantik dimatanya,entah mengapa ia begitu terpesona dengan Vio tapi karna gengsi yang setinggi langit Ramon hanya mampu mengagumi dan mencintai wanita yang sudah mencuri hatinya itu sejak bertemu pertama kali di Surabaya tepatnya di kampus tempat Vio kuliah dulu.
"Kamu mengenalnya?" Tanya Ramon sambil berjalan mundur dan berdiri tepat di sisi Vio dan nampak jelas pose dua orang itu yang terlihat begitu bahagia.
"Kalian lagi ngapain disitu?" Tanya Sophia yang baru muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman kaleng serta beberap cemilan.Vio dan Ramon membalikkan tubuh mereka menghadap ke arah Sophia yang berjalan menuju sofa.
"Itu lagi liatin foto,ternyata kamu masih menyimpannya." Ucap Ramon lalu berjalan menghampiri Sophia yang sudah duduk di sofa sambil meletakkan bawaannya tadi.
Sedangkan Vio yang masih berdiri di tempatnya ,seakan ragu untuk melangkah, fikirannya kini di penuhi berbagai macam prasangka,apalagi setelah melihat foto kemesraan Ramon dan Sophia membuat hatinya seketika menciut,jika di bandingkan dengan Sophia,dirinya tak ada apa-apanya meski di lihat dari berbagai sisi,ia kalah telak.
"Ngapain kamu berdiri saja disitu." Ujar Ramon saat matanya menatap ke arah Vio yang masih berdiri mematung yang berperang dengan fikirannya sendiri.
__ADS_1
Vio yang gelagapan karna suara bariton dari Ramon membuatnya sedikit salah tingkah,ia kemudian berjalan menghampiri kedua sejoli itu yang sudah duduk berdampingan terlebih dahulu.Vio lalu duduk di sofa yang masih kosong yang ada di depan Ramon dan Sophia,matanya terus saja melirik ke arah Sophia yang terus saja bergelayut manja di lengan Ramon,dan Ramon bahkan tidak mempermasalahkan nya karna ia begitu kenal dengan Sophia,sahabat yang begitu manja dengannya.
"Heeeemmmmmm." Dehem Vio dan berhasil membuat Ramon dan Sophia melirik padanya.
"Oh..maaf Vio,aku lupa kalau ada kamu ..." Ucap Sophia sambil menyandarkan kepalanya di dada Ramon.
"Hach lupa,aku yang sebesar ini dan duduk di depannya dia lupa akan keberadaan ku, keterlaluan." Batin Vio sambil menggeleng pelan,tak habis pikir dengan teman wanita Ramon itu.
"Mereka ini benar-benar tidak tahu malu." Batin Vio. lagi,ia jengah melihat pemandangan dua orang yang berada persis di depannya.
"Maaf,aku begitu lelah,bisakah aku beristirahat sebentar?" Tanya Vio,ia tidak ingin lebih lama lagi di depan dua orang yang mungkin sedang melepaskan rindu,Vio pikir Ramon dan Sophia adalah sepasang kekasih jadi untuk menjaga hati dan pandangan nya agar tetap waras,dia harus segera menghilang sejenak dari kedua manusia itu.
"Kamu lelah,Sophia antarkan Vio ke kamarnya bisa?"Ucap Ramon .
Sophia yang sedari tadi bersandar sambil bergelayut manja di lengan Ramon terpaksa harus melepas sandaran ternyamanya,ia lalu beranjak dan berjalan menuju sebuah ruangan yang berada di ruang tengah, lalu Vio mengikuti langkah Sophia dari belakang.
Sedangkan Ramon yang sedari tadi menahan kerisihannya karna ulah Sophia akhirnya bernafas lega,sedari tadi Ramon melirik Vio yang terus memandang nya karna ulah Sophia yang terus lengket padanya,ia lalu mengambil satu minuman kaleng yang sedari tadi di siapkan oleh Sophia lalu meminumnya.
"Ini kamarmu?" Ucap Sophia sambil membuka pintu kamar untuk Vio.Kamar di sebelahnya adalah kamar Ramon dan di depan kamar Ramon adalah kamarku." Jelas Sophia lalu beranjak meninggalkan Vio yang masih berdiri menatap ruangan yang akan di tempatinya untuk beberapa hari kedepan.
"Makasih." Ucap Vio
__ADS_1
"Sama-sama,teman Ramon berarti temanku juga kan,anggap saja kamar mu sendiri jangan sungkan." Ucap Sophia dengan senyum ramah lalu berlalu meninggalkan Vio dan kembali menemami Ramon yang masih duduk di sofa.