
Vio dan Ramon saling berpandangan,Ramon menatap Vio dengan tatapan penuh arti dan hal itu membuat Vio sedikit salah tingkah,ia lalu menoleh ke arah pria paruh baya yang berdiri di belakang Ramon.
"Apa kerjamu hanya tidur saja di sini?" Tanya Ramon dan hal itu membuat Vio mengalihkan tatapannya ke arah Ramon.
"Saya bekerja tuan,saya menjalankan tugas dan kewajiban saya sebaik mungkin." Tegas Vio tak terima dengan ucapan yang di lontarkan oleh Ramon padanya.
"Tapi faktanya kamu tertidur ka?"
"Meskipun saya tertidur tapi saya tidak pernah lalai,dan saya hanya manusia biasa yang juga butuh istirahat tuan."Tekan Vio dengan tatapan tajam mengarah ke arah Ramon.
"Dokter Vio,perkenalkan ini pak Ramon pemilikrumah sakit ini ."Sela pria paruh baya itu ,ia terpaksa harus memotong perdebatan antara Vio dan Ramon.
Vio menatap ke arah pria itu ,raut wajah ya menyiratkan segudang pertanyaan karena yang ia tahu bukan Ramon pemilik rumah sakit ini karena pemilik rumah sakit ini ia kenal dengan baik.
Vio memandang Ramon tak percaya,lalu kembali menatap pria paruh baya yang berdiri di samping Ramon.
"Beliau pemilik baru rumah sakit ini."Jelas pria itu seolah paham akan tatapan Vio padanya.
"Oh...maaf pak .. selamat datang di rumah sakit ini,sebuah kebanggaan bagi kami karena anda telah meluangkan waktu untuk berkunjung." Ujar Vio sembari tersenyum ramah walau dalam hatinya penuh dengan pertanyaan perihal keberadaan Ramon yang tiba-tiba muncul sebagai pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
Ramon hanya terdiam mendengar sambutan Vio padanya,sikap Vio padanya seolah mencerminkan sikap yang biasa saja,seakan Vio tak mengenali dirinya dan itu membuat Ramon sedikit kecewa ,Vio seolah tak begitu antusias bertemu dengannya padahal mereka tak pernah lagi bertemu atau pun berkomunikasi sejak berbulan_bulan terakhir mereka bertemu di malam pertunangan nya dengan Sophia.
"Maaf pak, bisa kita lanjutkan berkeliling lagi." Ucap seorang pria muda yang menjadi asisten pribadi Ramon.
"Huh.mmmm." Ramon lalu memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan Vio yang di ikuti oleh direktur rumah sakit dan asistennya, sementara Vio menatap kepergian ke tiga pria itu dengan perasaan lega dan juga penuh tanya.
"Suruh dokter tadi menghadap keruanganku." Perintah Ramon sambil berjalan di koridor rumah sakit.
"Baik pak." Jawab pria paruh baya itu.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan langkah mereka menyusuri setiap sudut rumah sakit itu.
"Maaf dok,anda di panggil pak Ramon ke ruangan nya."Ucap seorang perawat wanita yang saat itu berpapasan dengan Vio di koridor saat Vio hendak ke kantin.
"Kenapa." Tanya Vio heran.
"Tidak tahu dok,saya hanya di perintahkan untuk menyampaikan nya ke dokter,saya permisi dok." Perawat itu pun pergi meninggalkan Vio sendirian dengan masih bergelut dengan fikirannya,namun sedetik kemudian dia pun berjalan menuju lift untuk mengantarkannya ke lantai paling atas gedung rumah sakit itu.
"Saya ingin bertemu dengan pak Ramon." Ujar Vio pada seorang wanita yang duduk di kursi kerjanya tepat di depan ruangan Ramon.
"Anda sudah di tunggu dok.";Ucap sekertaris wanita itu sambil menunjuk ke arah ruangan Ramon..
Vio mengangguk lalu berjalan menuju ruangan Ramon setelah di persilahkan oleh sekertaris Ramon. Vio menyembulkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam,namun baru saja akan membuka lebar pintu itu Vio di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri tepat di depannya dan membuat kepalanya terbentur di pintu karena terkejut.
"Ngapain kamu mengintip seperti orang yang sedang ingin mencuri." Ujar pria itu dingin yang tak lain adalah Ramon.
"Apa yang ingi kamu pastikan,bukankah di pintu itu tertulis jelas nama pemilik ruangan ini."
"Iya,maaf." Vio tak ingin berdebat lama dengan pria yang pernah mengisi hari-harinya itu.
" Apa kamu ingin menjaga pintu di situ?" Tanya Ramon saat di lihatnya Vio masih berdiri mematung di tempatnya tak mengikuti langkah Ramon yang sudah duduk di meja kerjanya.
Mendengar ucapan Ramon yang dingin membuat Vio segera berjalan masuk ke dalam ruangan dan berdiri tepat du depan meja kerja Ramon,dimana Ramon sudah duduk di sana menunggunya.
"Duduk." Perintah Ramon sambil menatap layar laptop yang ada di depannya.
Vio menarik kursi lalu mendudukinya,sejenak ruangan itu hening,keduanya saling diam tanpa ada yang memulai pembicaraan.
"Ada apa anda memanggil saya pak?" Tanya Delia membuka pembicaraan setelah sekian detik mereka berdiam diri.
__ADS_1
"Ramon beralih menatap Vio yang duduk di depannya setelah sedari tadi matanya hanya tertuju pada layar laptop.
"Kamu tidak tahu apa kesalahanmu?"
"Maaf pak,saya tidak tahu."
"Ck...aku tidak tahu bagaimana bisa rumah sakit ini merekrut dokter yang tidak profesional seperti mu."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ramon membuat Vio menatap Ramon dengan tajam,dengan menahan kesal ia mengepalkan tangannya,tentu saja ia tidak terima jika di katakan tidak profesional,karena sepanjang dia bekerja di rumah sakit ini dia selalu bersikap profesional dan selalu mengutamakan pasiennya,bahkan ia tidak peduli jika itu bukan jam tugasnya tapi saat pasien membutuhkan nya secepat kilat ia akan menanganinya,tapi hari ini seseorang yang baru saja datang dan baru bertemu dengannya mengatakan jika ia tidak profesional dalam bekerja.
"Anda sudah tahu oasti bukan,seprofesional apa saya dalam bekerja." Ujar Vio dengan penuh penekanan, Ramon tentu tidak lupa bagaimana loyalitas Vio dalam bekerja.
"Oh...tentu,tapi itu dulu bukan,orang akan berubah seiring dengan waktu,dan aku tidak melihat Vio yang dulu di mataku." Ramon menatap Vio dalam,ya Ramon memang tak menemukan Vio yang dulu lagi,saat menatap mata Vio , Ramon tak menemukan apa pun,ia seakan tak mengenal Vio . Vio yang berada di depannya ini adalah Vio yang lain. Matanya memancarkan ketegasan dan ketajaman,tak ada Vio yang manja dan cerewet lagi.
" Ya , anda benar waktu akan merubah seseorang,jika anda merasa tidak puas dengan pekerjaan saya,saya akan mengundurkan diri." Ucap Vio tegas,ia bukan lagi Vio yang manja dan ceroboh,kini sosok Vio telah berubah menjadi Vio yang mandiri danitu
berpendirian.
"Jika tak ada lagi saya permisi, saya akan mengajukan surat pengunduran diri saya nanti." Vio lalu berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu.
" Kamu benar-benar berubah Vi." Ujar Ramon menghentikan langkah Vio yang hendak memutar handle pintu.
"Bukankah baru saja anda mrngatakan jika waktu ajan merubah seseorang." Ucap Vio dingin tanpa berbalik .
"Ya ,kamu benar..dan kamu pun berubah ." Ramon beranjak dari duduk dan melangkah menuju tempat Vio berdiri. " Dan Vio yang ada di depanku ini bukanlah yang aku krnak dulu." Sambung Ramon saat ia sudah berada tepat di belakang Vio.
Vio lalu memutar tubuhnya menghadap Ramon,posisi mereka kini saling berhadapan.
"kamu salah,kamu lah yang banyak berubah sekarang,lihatlah kini kamu pun berubah menjadi pria dingin dan menjengkelkan,tapi aku tidak akan mempertanyakan perubahan itu karena itu bukan urusanku."
__ADS_1