Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 81


__ADS_3

"Kau..." Delia tak percaya dengan apa yang di lihat nya seorang pria yang di kenalnya duduk di dengan tersenyum lebar saat melihat Delia yang begitu terkejut melihatnya.


"Hai dokter cantik..." Sapa pria itu dengan senyum merekah sambil melambaikan tangannya.


"Pak Boy?" Ucap Delia saat sudah menguasai dirinya.


"Hhhmmm....apa kabar dokter cantik?"


"Ba....baik pak."Jawab Delia masih gugup pasalnya ia tak akan menyangka akan bertemu dengan ayah dari anak yang menjadi pasien nya dulu sewaktu di Jakarta.


"Silahkan duduk,dan Jeny terimakasih sudah mengantar dokter Delia ." Ucap Boy sambil mempersilahkan Delia duduk di kursi yang berada di depan mejanya.


Sedangkan Jeny sang sekertaris pamit keluar dengan masih di liputi ribuan tanda tanya akan apa yang di lihatnya tadi,tapi untuk menanyakan pada bosnya tentu saja ia tidak berani.


Delia berjalan pelan menuju kursi yang telah di tersedia setelah Jeny keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Boy dan Delia berdua.


"Aku tidak menyangka dan tak percaya saat sepupu ku merekomendasikan mu padaku waktu itu,Karna kamu adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit itu,dan ini adalah sebuah kehormatan bagi saya karna dokter terbaik itu kini bergabung di klinik saya."Ucap Boy panjang lebar .


"Terimakasih sudah mau bergabung." Lanjutnya lagi.


"Saya yang harusnya berterima kasih karna sudah menerima saya." Ucap Delia.


"O ya,apa kabar Devan dan ibu anda?"


"Mereka baik-baik saja,mereka juga merindukan mu dan sangat antusias saat mengetahui kamu akan datang ke Jerman."

__ADS_1


"Anda memberi tahu."


"Hhhmmm,aku tidak bisa menyembunyikan apa pun pada mereka."


Delia hanya mengangguk pelan


"Ini surat kontrak nya baca dan pahami dulu isinya baru setelah itu kamu bisa menandatangani nya jika kamu setuju dengan isinya,jika ada yang membuat mu merasa kurang setuju beritahu aku." Ucap Boy sambil menyodorkan sebuah dokumen kontrak perjanjian pada Delia,Delia menerimanya dan membukanya,ia kemudian membaca setiap pointnya,Delia begitu serius membacanya hingga ia tak menyadari tatapan Boy padanya,Boy menatap nya begitu dalam,sebuah tatapan yang sulit di artikan .


"Baiklah,aku rasa semua sesuai." Ucap Delia sambil menandatangani dokumen itu dan menutupnya kembali lalu menyodorkan ke arah Boy.


"Baiklah ,selamat bergabung dan menjadi bagian dari Devanda's klinik ." Ujar Boy sambil mengulurkan tangannya ke arah Delia di iringi senyum sumringah dan Delia pun menerima uluran tangan Boy dengan tersenyum tipis.


Dan sejak hari ini Delia telah resmi bekerja di klinik milik Boy,ia kemudian berjalan keluar dari ruangan Boy untuk ke ruangan yang sudah di siapkan dan di antar langsung oleh Boy dan pemandangan itu membuat semua mata di klinik itu memandang dengan penuh keheranan dan tanya.


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat ,hingga tak terasa malam telah tiba,Rey kini bersiap berkunjung ke apartemen milik Ramon dengan di antar oleh seorang sopir ,kurang dari tiga puluh menit Rey tiba di gedung mewah yang menjulang tinggi,dengan hati berdebar dan jantung yang berdetak begitu kencang Rey keluar dari mobil.


Ia kemudian menarik nafas pelan untuk merilekskan tubuh dan hatinya,dengan langkah pelan Rey berjalan memasuki gedung itu dan langsung menuju lift untuk mengantarkan Rey ke lantai dimana Delia berada.


Ting...suara lift berbunyi bertanda Rey telah tiba di lantai yang di tuju,hatinya semakin gugup saat langkahnya semakin dekat dengan flat milik Ramon.


Ada keraguan pada Rey untuk menekan bel pintu apartemen milik Ramon, nyalinya sedikit menciut takkala ingin bertemu dengan Delia,Ia takut Delia akan menolak dirinya untuk bertemu mengingat betapa ia begitu menyakiti wanitanya dan membiarkan nya berada dalam kesulitan seorang diri,rasa penyesalan semakin menyesak dadanya namun ia bertekad untuk mengakhiri segala kesalah pahaman di antara mereka dan memulai lembaran baru menuju masa depan yang bahagia.


Ting...tong akhirnya Rey memberanikan diri untuk menekan bel,rasanya ia begitu keringat dingin secara tiba-tiba,namun beberapa kali ia menekan bel tak ada tanda orang yang akan membuka pintu,Rey merasa begitu kecewa karna tak ada yang membukakan pintu untuknya apakah tidak ada orang di dalam tapi kemana Delia malam-malam begini,ataukah ia berada di rumah sakit? pikir Rey.


Rey membalikkan tubuhnya untuk pulang dan kerumah sakit saja mungkin saja Delia ada disana,namun baru saja akan melangkah kan kakinya suara pintu terdengar di buka seseorang dan dengan cepat Rey membalikkan tubuhnya kembali ke arah pintu dan seketika dirinya di buat terkejut karna bukan Delia yang membuka pintu melainkan seorang pria yang masih sangat mudah.

__ADS_1


"Maaf cari siapa?" Tanya Revan,ya Revanlah yang membuka pintu untuk Rey,Revan dan Rey memang tidak saling kenal Karna mereka belum pernah bertemu.


"Benar ini apartemen milik Ramon?" Tanya balik Rey tanpa menjawab pertanyaan Revan,ia ingin memastikan apakah ia salah alamat atau tidak tapi ia masih sangat ingat jika nomor yang tertera di pintu adalah nomor apartemen milik Ramon.


"Iya,anda siapa? apakah teman atau keluarga dokter Ramon?"


"Iya,saya temannya,kamu siapa?"


"Oh saya dan kakak saya yang menempati apartemen ini sementara."


Rey mengerutkan alisnya,ia lalu menatap lekat ke arah Revan,saat memperhatikan wajah Revan seperti nya ia merasa wajah itu familiar dan


Deg....


"Kamu adiknya Delia?"


"Iya..."


Di tempat lain Delia sedang berada di taksi,hari ini ia benar-benar sibuk di klinik,begitu banyak pasien yang harus ia tangani, sehingga membuatnya pulang malam,biasanya jam kerjanya hanya sampai pukul lima sore,tapi hari ini entah mengapa begitu banyak anak-anak yang sakit dan itu membuatnya sedikit kewalahan tapi meski begitu Delia senang melakukan pekerjaannya itu .


Delia menghentikan taksi yang di tumpanginya saat mobil sudah berada di depan gedung apartemen tempatnya tinggal,parlahan ia membuka dan kembali menutup pintu mobil setelah ia berada di luar,Delia menghembuskan nafas pelan,entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdegup begitu kencang,seakan ada aliran listrik yang mengalir ke tubuhnya.


Dengan langkah gontai Delia memasuki gedung mewah itu ,ia masuk kedalam lift untuk mengantarkan nya ke flat tempatnya tinggal,ia berjalan dengan cepat Karna ia sudah begitu lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya.


kreeeekkkkk Delia membuka pintu apartemen,ia begitu lelah hingga tak menyadari seseorang sedang duduk di sebuah sofa yang menghadap ke pintu,jantung Rey semakin berdetak tak karuan saat dirinya melihat wanita yang telah begitu lama tak di lihatnya,dan tanpa sadar Rey berdiri dari duduknya,baru akan melangkah mendekati Delia yang masih sibuk membuka sepatu nya dengan membelakangi nya,tapi belum juga mengangkat kakinya Delia sudah membalikkan tubuhnya dan matanya bertemu mata Rey yang berdiri tepat di depannya dengan jarak beberapa meter, seketika tubuh Delia bergetar melihat sesosok yang berada di depannya,hatinya tiba-tiba bergetar dan kakinya seolah tak mampu menopang tubuhnya,begitupun dengan Rey ,ia merasakan hal yang sama,tapi tiba -tiba Rey menghentikan langkahnya saat ia ingin mendekati Delia,tatapan Delia membuat hatinya seketika menciut dan segala kata-kata yang telah ia susun seketika hilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2