Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 150


__ADS_3

Di hotel Rey dan Delia bersiap - siap untuk kembali ke Indonesia besok pagi. Delia terlihat sedang duduk melamun di balkon kamarnya.


"Kak..." Panggil Vio di depan pintu kamar Delia yang terbuka,tak melihat Delia di dalam kamarnya,Vio pun terus masuk ke dalam karena melihat pintu balkon yang terbuat dari kaca itu terbuka.


"Kak..." Panggil Vio lagi sembari berdiri di ambang pintu.


"Ya..." Delia menoleh ke arah Vio saat mendengar suara Vio memanggilnya.


",I...itu kak..ada..." Vio menggantung ucapannya saking gugupnya .


"Ada apa sih,yang jelas dong kalau ngomong,ada apa?" Tanya Delia sedikit kesal karena ucapan Vio yang terbata-bata dan seakan sedang melihat hantu,di tambah dengan wajahnya yang pucat.


Delia menghela nafas panjang lalu beranjak dari balkon,masuk ke dalam kamar meninggalkan Vio yang terdiam .


"Eeehhh...kak." Vio bergegas menyusul Delia yang sudah masuk ke dalam kamarnya .


"Ada tamu di luar." Ucap Vio.


"Tamu ? Siapa?" Delia yang hendak duduk di sofa pun terhenti,saat mendengar ucapan Vio.


",Keluar saja." Vio lalu menarik paksa tangan Delia dan membawanya keluar kamar. Saat berada di ruang tamu Delia di kejutkan dengan kedatangan orang yang tak pernah di bayangkan nya, seseorang yang mustahil datang berkunjung.


Delia terdiam di tempatnya yang tak jauh dari tamu yang datang di hotel tempatnya menginap,ia begitu syok dan terkejut.


"Kamu tidak ingin menyambut kami?" Ujar tamu wanita yang membuyarkan keterkejutan nya.


"Ini...ya...ma.. maksudku,kalian benar-benar datang." Ucap Delia gugup,antara bahagia dan tak percaya dengan apa yang di lihatnya di depsn matanya.


"Kenapa jamu tidak mengharap kan kami datang?" Tanya wanita itu yang tak lain adakah ibu Rey,ya setelah berhasil membujuk suaminya,ibu Rey mengajaknya untuk berkunjung ke hotel tempat Rey dan Delia menginap.


"Bu...bukan begitu ma,tentu saja aku sangat senang mama dan papa berkunjung,saya hanya terkejut saja." Jelas Delia sembari menghampiri kedua orang mertuanya itu,ia pun lalu menyalami kedua tangan mertuanya.


"Silahkan duduk ma pa." Ucap Delia mempersilahkan kedua mertua nya itu duduk di sofa,sedangkan Vio masuk ke dapur untuk membuat kan minuman.


Hening...ruang tamu itu kini begitu hening,tak ada ada yang memulai pembicaraan,mereka saling buk dengan fikiran masing- masing.


"Kenan dan Rey tidak ada?" Tanya ibu Rey membuka percakapan matanya melirik kesana kemari mencari keberadaan cucu dan putranya.


"Mereka sedang keluar ma,baru saja ." Jawab Delia .


Sedari tadi ayah Rey hanya duduk terdiam mendengar kan percakapan antara istri dan menantunya itu.

__ADS_1


"Silahkan di minum.pak Bu." Ujar Vio saat sambil meletakkan minuman dan beberapa cemilan di atas meja.


"Makasih sayang." Ucap ibu Rey tersenyum melihat Vio dan Vio pun membalas dengan senyum pula.


Ting...t


Ong...


Suara bel pintu kamar Delia berbunyi, membuat ke empat orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arah yang sama.


"Itu pasti mereka." Ujar Delia sambil beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.


"Mas


as." Sapa Delia saat mendapati ternyata benar Rey dan Kenan yang memencet bel.


"Kenapa?" Tanya Rey heran melihat tingkah Delia yang tak biasanya,ia lalu masuk ke dalam , meninggalkan Delia yang masih berdiri mematung sambil memegang daun pintu.


"Sayang,apa semua su..." Ucapan Rey menggantung saat matanya melihat dua orang yang duduk di sofa.


"Mama..." Lirih Rey tak percaya,bukan kedatangan mamanya yang membuatnya begitu terkejut dan berubah jadi dingin,tapi kehadiran sang ayah lah yang membuat nya berubah sikap.


Ibu Rey lalu memeluk sang putra dengan penuh kasih sayang, sedangkan Rey hanya mampu terdiam,ia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang ada di depan matanya.


Kamu tidak berkunjung ke rumah,jadi mama dan papa yang berkunjung kemari. Kami tidak mengganggu mu kan?" Tanya ibu Rey sambil melepaskan pelukannya.


Rey menggeleng sebagai jawaban, lidahnya madih begitu keluh walau sekedar menyapa.


"Sebentar ma,Rey masuk dulu." Ucap Rey lalu beranjak dan pergi meninggalkan orang tuanya.


"Aku temui mas Rey dulu,ma pa." Delia pun beranjak menyusul Rey masuk ke kamar,sedangkan Ibu dan ayah Rey mereka saling berpandangan,ada rasa sesak di hati ayah Rey saat melihat tatapan Rey padanya tadi begitu dingin dsn datar. Seolah kedatangan nya tak pernah di inginkan oleh putranya itu.


"Kita pulang saja ." Ajak ayah Rey lalu berdiri dari duduknya.


"Tidak pa,bukankah kamu sudah berjanji tadi." Ucap ibu Rey menolak ajakan suaminya untuk pulang


"Lalu ngapain kita di sini tapi kita di tinggal sendirian." Kesal ayah Rey.


"Sabarlah pa,mungkin Rey begitu syok dan terkejut melihat kedatangan kita." Jelas ibu Rey sambil mengusap punggung suaminya pelan.


Di kamar,Rey sedang duduk berselonjoran di sofa, Delia yang baru masuk ke kamar menarik nafasnya pelan saat ia melihat Rey duduk di sofa. Ia lalu berjalan menghampiri Rey.

__ADS_1


"Tidak menemui mereka mas?" Tanya Delia saat sudah berada di depan Rey , ia lalu duduk di atas meja yang ada di depan Rey.


"Tidak ,kamu saja yang menemui mereka." Tolak Rey,ia malas melihat ayahnya,Rey masih menyimpan rasa sakit hati kepada pria yang di panggilnya papa itu.


"Jangan seperti itu mas,tidak baik...mereka sudah jauh-jauh datang kemari untuk mengunjungi kita,apa harus seperti ini kita bersikap pada orang tua kita."


"Dia bukan papa ku." Tegas Rey.


""Dengar mas,papa berkunjung kemari pasti ingin berbicara denganmu,jangan menyimpan kebencian begitu dalam mas,meski orang itu telah berbuat jahat pada kita tapi jangan melakukan hal yang sama dengannya ."


"Tidak,aku tidak mau bertemu dengannya,aku tidak mau jika berbicara dengannya amarah ku akan memuncak dan akan berbicara tidak baik padanya,kamu saja yang temani mereka." Rey bersikeras menolak ajakan Delia yang mengajaknya menemui orang tuanya.


"Tapi mas..."


Delia menutup mulutnya saat Rey manatap nya dengan tajam, seolah tatapan matanya ingin menembus jantung nya.


"Baiklah,aku akan menemui mereka." Ucap Delia mengalah, ia tak ingin membantah keputusan suaminya lagi .


Delia lalu berdiri dan kembali berjalan keluar untuk menemani mertuanya.


Delia menggeleng pelan dengan wajah sendu.


Ia sudah berkali-kali membujuk Rey untuk membuka pintu maaf untuk ayahnya.


Wajah Ibu Rey pun nampAk kembali muram, saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Delia.


"Maaf ma pa atas sikap mas Rey." Delia tidak enak hati karena sikap Rey yang tak ingin menemui orang tuanya.


"Dimana dia?" Tanya ayah Rey,ia yang sedari tadi hanya duduk terdiam akhirnya buka suara.


"Di kamar pa." Jawab Delia sambil menunjuk ke arah kamarnya.


Ayah Rey lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar yang di tunjuk Delia tadi.


saat


"Tidak


"Diabuka


"

__ADS_1


__ADS_2