
Delia sedang memasak makan malam di temani Revan ,Karna malam ini Ramon akan datang makan malam di apartemen nya sekaligus membicarakan sesuatu yang penting.
Selama Ramon berada di di Jerman ia tidak tinggal di apartemen miliknya yang di huni oleh Delia dan Revan,bukan Karna tidak mau tapi Rey melarang nya untuk tinggal satu apartemen dengan istri dan adik iparnya itu,Rey lebih memilih berbagi apartemen miliknya dengan Ramon daripada membiarkan pria lain tinggal satu atap dengan istrinya.
"Kak jika dokter Ramon tidak tinggal di sini ,dimana dia tinggal?" Tanya Revan sambil mengiris bawang dan duduk di kursi meja makan.
"Katanya dia tinggal di apartemen sahabat nya." Jawab Delia sambil menggoreng ayam yang ada di atas kompor.
"Kakak pikir sebaiknya kita pindah saja dari sini,tidak baik merepotkan dokter Ramon terlalu jauh,kakak tidak enak padanya." Lanjut Delia lagi.
Revan menghentikan kegiatannya yang masih memotong bawang ,ia lalu membalikkan tubuhnya menghadap Delia yang masih sibuk menggoreng ayam.
"Kalau kita pindah dari sini,kita akan tinggal dimana kak,ini bukan Indonesia loh." Ujar Revan menatap bahu kakaknya yang bergoyang Karna lengannya sedang sibuk menggoreng.
Setelah matang Delia mengangkat ayam goreng buatannya lalu membawanya ke meja makan tempat Revan sedang duduk menatap ke arahnya.Delia meletakkan ayam goreng itu di meja lalu menarik kursi untuk di dudukinya.
"Kebetulan kemarin di klinik ada penawaran tempat tinggal bagi dokter yang belum punya tempat tinggal,kalau di Indonesia semacam rumah dinas lah,di sekitaran klinik jadi rumah itu di siapkan agar dokter yang bekerja di situ tidak butuh waktu jika mendadak ada pasien yang darurat." Jelas Delia sambil memotong bawang yang tadi di kerjakan oleh Revan.
"Jadi kapan kita akan pindah?"
"Secepatnya,mungkin dalam Minggu ini,kita tinggal pindah saja di sana semua sudah tersedia,dan juga rumah itu tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat Vio di rawat."
Revan mengangguk pelan mendengar penjelasan Delia.
"Nanti kalau dokter Ramon datang,kakak akan membicarakan masalah ini padanya,biar dia bisa kembali menempati apartemen ini dan tidak perlu menginap di apartemen temannya."
__ADS_1
"Aku ikut kakak saja,yang menurut kakak baik Revan pasti akan setuju saja."
"Baiklah, sekarang bantu kakak,kamu ambil piring gi untuk makan, sebentar lagi dokter Ramon akan datang." Ucap Delia lalu berdiri dari duduk nya dengan membawa potongan bawang yang telah di potongnya tadi, sedangkan Revan berjalan mengambil piring yang berada di rak penyimpanan piring .
Setelah semua makanan sudah siap dan tertata rapi,Delia masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya,tak berapa lama ia pun telah selesai mandi dan kini telah rapi.
Delia keluar dari kamarnya dan bertemu Revan yang juga baru saja keluar dari kamarnya,kamar mereka memang saling berhadapan.
Ting....tong ...
Suara bel berbunyi membuat Delia dan Revan menoleh secara bersamaan.
"Buka pintunya,kakak mau periksa makanannya kembali." Ujar Delia lalu berjalan ke arah meja makan, sedangkan Revan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu.
Revan melongo saat melihat dua orang pria yang sedang berdiri di depan pintu dengan senyum seramah mungkin,ia menatap ke arah dua pria itu secarah bergantian.
"Hai... adik ipar." Sapa pria yang berada di samping Ramon yang tak lain adalah Rey.
"Hai...kakak ipar." Sapa balik Revan sambil melambai dengan senyum takkala ramahnya, membuat Ramon dan Rey saling pandang dengan ekspresi bingung akan sambutan Revan yang dengan santainya membalas sapaan dari Rey.
"Silahkan masuk." Ucap Revan mempersilahkan tamu nya masuk sembari memberi jalan agar kedua pria yang bertamu itu bisa masuk ke dalam.
"Dimana Delia?" Tanya Rey sambil matanya menyapu seluruh ruangan dengan berjalan pelan menuju sofa yang berada di ruang tamu tepat di depan pintu masuk.
" Kakak sedang menyiapkan makan malam." Ucap Revan santai tanpa terlihat ada gurat kemarahan atau kekecewaan di wajahnya saat bertemu dengan Rey,pria yang berstatus suami kakaknya yang dulu telah di sakitinya,Rey pikir Revan akan menyambutnya dengan kemarahan atau segala caci maki untuknya tapi ternyata perkiraan nya salah justru Revan begitu ramah dan menyambutnya dengan segala keterbukaan yang justru membuat Rey semakin bertekad untuk meluluhkan hati Delia istrinya.
__ADS_1
"Silahkan duduk,aku akan panggil kakak dulu." Ucap Revan mempersilahkan keduanya untuk duduk sembari menunggu makan malam siap.
"Tidak usah memanggilnya,biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya." Ujar Rey menghentikan langkah Revan yang baru saja melangkah kan kakinya untuk memanggil Delia.
"Duduklah di sini." Lanjut Rey lagi sambil menepuk-nepuk sofa yang berada di sampingnya.
Revan lalu membalikkan tubuhnya,lalu menuju sofa yang di tunjuk oleh Rey.
"Maaf Karna merepotkan kalian malam ini." Ujar Ramon yang merasa tak enak hati pada Delia dan Revan, sejujurnya makan malam ini adalah ide dari Rey yang menyuruh Ramon untuk menghubungi Delia untuk menyiapkan makan malam dan melarang Ramon untuk mengatakan jika dirinya juga akan ikut Karna jika Delia tahu,sudah pasti Delia akan menolak mereka.
"Tidak ada yang di repotkan kok pak dokter,kami senang bisa menjamu kalian,Karna pak dokter adalah orang yang dengan tulus membantu kami saat kami berada dalam kesulitan , untuk mengucapkan rasa terima kasih saja sepertinya tidak cukup." Ujar Revan yang tanpa sengaja menyentil hati Rey .
Rey tiba-tiba di dera rasa bersalah yang semakin besar,Karna dialah orang yang seharusnya berada di sisi Delia saat itu,tapi yang dilakukan nya justru sangat menyakiti hati istrinya.
" Kamu sudah datang,maaf membuat mu menungg...." Ucapan Delia terhenti saat matanya tertuju ke arah Rey yang saat itu masih melamun dengan segala rasa bersalahnya.
Ramon melirik ke arah Rey yang belum menyadari kedatangan Delia,ia lalu langsung menepuk bahu Rey agar tersadar dari lamunannya sendiri,dan itu berhasil Rey yang tadinya kesal karna Ramon mengagetkan nya , membuat kekesalannya menghilang saat Ramon memberi kode melalui mata nya yang melirik ke arah depan ,Rey yang menyadari lirikan mata Ramon pun mengikuti lirikan mata itu dan hatinya berdesir antara bahagia dan segan mendapati istrinya itu sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada dengan sorot mata tajam dan dingin.
"Ngapain kamu kesini,kamu tidak di undang ya." Ujar Delia masih berdiri pada posisinya.
Sedangkan Rey yang di tanya seperti itu hanya tersenyum cengengesan,seakan urat malunya ia buang jauh-jauh saat ini demi misinya menaklukkan hati Delia kembali.Rasa kesal dan kecewa karna tak di sambut hangat sang tuan rumah ia hilangkan dulu, biarlah Delia mengatakan apa pun padanya ia tak peduli,asalkan sang istri tidak memaksanya untuk meninggalkan nya .
"Hehehe....Ramon yang mengundang ku,katanya dia tidak nyaman jika datang sendirian." Ucap Rey sambil melirik ke arah Ramon yang terperangah Karna Rey mengkambing hitamkan dirinya,padahal semua ini adalah rencana Rey sendiri.
Delia menatap ke arah Ramon,dengan tatapan penuh tanya,dan Ramon pun terpaksa mengangguk sebagai jawaban jika yang di katakan oleh Rey adalah benar .
__ADS_1
Delia menghela nafas,tidak bisa berkata-kata lagi,Karna ia pun tak punya hak untuk melarang siapa saja yang boleh atau tidak boleh di ajak Ramon ke apartemen nya ini.
"Baiklah...ayo masuklah,semua sudah siap ." Ajak Delia sambil berjalan terlebih dahulu menuju meja makan yang di ikuti oleh ketiga pria yang berada di belakangnya.