
puk....Delia merasa tangan nya di pukul pelan oleh seseorang,ia kemudian menatap tangannya yang sedang berada di bawah jemari Vio,dan mata Delia seketika melotot saat melihat pergerakan jemari Vio yang bergerak pelan, seketika ia kehilangan kata-kata nya,Delia bahkan hanya melotot menatap pergerakan jemari Vio.
"Vi.....Vi...Vio..." Seru Delia bahagia melihat Vio memberikan reaksi melalui jarinya,dengan cepat Delia ingin memencet tombol tapi baru saja akan memencet tombol,pintu kamar Vio terbuka dan membuat Delia menoleh ke arah pintu,senyumnya semakin mengembang saat melihat orang yang baru saja membuka pintu,orang yang baru saja akan di panggilnya melalui tombol darurat tiba-tiba muncul dengan sendirinya,bukan muncul dengan tiba-tiba tapi Ramon yang tadi nya ingin memeriksa Vio terpaksa menghentikan langkahnya saat mendengar Delia mengatakan sesuatu pada Vio,dan Ramon tak ingin mengganggu keduanya jadilah ia menguping di balik pintu.
"Dokter....,lihat Vio bergerak." Ucap Delia menatap ke arah Ramon.
Ramon yang mendengar penuturan Delia, seketika menghampiri Vio dan benar saja jemari Vio bergerak meski pelan tapi setidaknya ,ada harapan besar yang kembali menyelimuti mereka setelah mereka pasrah jika Vio tak kunjung ada perubahan.
Ramon tersenyum bahagia melihat pergerakan Vio,dengan cepat ia memeriksa kondisi Vio.
"Bagaimana?" Tanya Delia tak sabar saat melihat Ramon telah selesai memeriksa kondisi Vio.
"Kondisi nya semakin membaik,dan ini adalah kabar yang sangat bahagia, tiba-tiba keadaan nya normal,kita tinggal tunggu dia membuka matanya." Jelas Ramon dengan senyum tak lepas dari bibirnya dan matanya menatap Vio begitu dalam.
"Secara tiba-tiba Vio membaik,apa ini Karna tadi aku menyebut dosen killer itu?" Lirih Delia pelan tapi masih bisa di dengar oleh Ramon.
Ramon menoleh ke arah Delia yang sedang menerka- nerka.
"Dosen killer,siapa?" Tanya Ramon penasaran saat ia mendengar Delia menyebut nama itu.
Delia menoleh ke arah Ramon,dan di tatapnya sang dokter kemudian tersenyum.
"Aku hanya berfikir,apa mungkin Karna tadi aku menyebut dosen killer itu jadi Vio memberikan reaksinya secara tiba-tiba,apa mungkin Vio menyimpan banyak kekesalan pada dosennya itu sehingga hanya nama dosen itu yang tertinggal di otak Vio,jadi saat aku menyebut dosen itu Vio langsung bereaksi?" Ucap Delia menerka - nerka.
"Siapa dosen itu,maksudku nama dosen itu?" Tanya Ramon yang mulai curiga pada dirinya sendiri,jika apa yang di pikirkan nya itu benar maka itu akan sangat membuatnya bahagia,apa lagi ia mendengar ucapan Delia dengan jelas tadi .
"Aku tidak tahu, namun sehari sebelum kebakaran itu terjadi,Vio sempat cerita kalau ada dosen baru yang mengajar di kelasnya,dosen itu sangat kejam dan membuat nya begitu kesal pada dosen itu, bagaimana tidak kesal kalau dosen itu selalu mengerjai Vio dengan menyuruh Vio ini itu.
Ramon tersenyum tipis saat mengingat kejadian dimana ia dan Vio bertemu,setelah itu mereka bertemu lagi di kampus dimana saat itu Vio adalah mahasiswa nya dan ia adalah dosen baru yang mengajar di kelasnya,banyak hal yang ia lakukan untuk membuat Vio kesal karna melihat Vio kesal membuat nya semakin gemas .
"Hai ..dokter..." Panggil Delia sambil melambaikan tangannya di depan wajah Ramon yang membuat Ramon tersadar dari lamunan nya akan ingatan nya bersama Vio.
__ADS_1
"Bagaimana menurut dokter?"
"Bagaimana apanya?" Tanya Ramon bingung,Delia memukul pelan dahinya sendiri Karna kesal pada Ramon yang ternyata tak mendengar kannya tadi.
"Jika benar dosen itu bisa membantu penyembuhan pada Vio,aku akan berusaha mencarinya ia pasti ada di Surabaya di kampus tempat Vio kuliah,aku akan meminta bantuannya."
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Karna aku yang akan menyembuhkannya." Jawab Ramon dengan senyum bahagia yang penuh dengan maksud .
"Tapi...."
"Tidak perlu melakukan apa pun serahkan padaku " Potong Ramon .
Delia mengangguk pelan, setuju-setuju saja dengan keputusan Ramon .
Kurang dari dua puluh menit Delia telah tiba di rumahnya,jarak dari rumah sakit dengan rumah tempat tinggalnya sekarang memang lebih dekat dari apartemen milik Ramon.Delia berjalan sambil menunduk memainkan ponselnya,namun saat akan membuka pintu pagar rumahnya,ia melihat sebuah mobil yang terparkir tepat di halaman rumahnya,sebuah mobil yang begitu familiar di matanya,saat melangkah masuk ia pun melihat seorang pria yang sedang berdiri menatap dirinya.
Delia berjalan cepat masuk kerumahnya,namun saat akan melewati pria itu tangannya di tahan oleh pria itu.
"Ngapain kamu kemari?" Tanya Delia kesal.
"Aku ingin berbicara penting."
"Aku pikir sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi,pulanglah aku lelah." Delia menghempaskan tangannya yang dari genggaman Rey,ya pria itu adalah Rey.
Dengan langkah cepat Delia masuk kerumahnya dan menutup pintu dengan keras.
"Aku tidak akan pulang sebelum kita menyelesaikan semua masalah ini." Teriak Rey yang masih berdiri di luar .
__ADS_1
Delia henya mendengar teriakkan Rey tanpa berniat membalasnya,dengan langkah cepat ia masuk ke kamarnya,di luar petir mulai bergemuruh tanda hujan akan turun,Delia yang merasa khawatir pada Rey kemudian mengintip dari balik gorden jendela kamarnya,dan di lihatnya Rey masih berdiri pada posisinya semula, sementara petir sudah bergemuruh bersahut-sahutan dan gerimis mulai turun.Ada rasa khawatir tapi rasa kesal lebih merajai hatinya,hingga akhirnya Delia beranjak menuju tempat tidurnya.
Duarrrrrrr....suara petir semakin menggelegar dan hujan pun semakin lebat,Delia yang tadi nya memejamkan matanya tiba-tiba bangun dengan terkejut ,ia kemudian melirik jam yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya,jam menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh itu artinya Delia tertidur cukup lama Karna sepulangnya dari rumah sakit tadi pukul delapan malam.
Deg .....Delia tiba-tiba teringat dengan Rey yang tadi berdiri di depan rumahnya,namun saat melihat jam yang sudah larut Delia berfikir jika Rey sudah pulang.
Tok....tok ...Suara ketukan pintu kamar membuat Delia tersentak kaget.
"Kak... kakak..." Panggil seorang laki-laki yang di ketahui nya pasti Revan .
"Iya...bentar.." Ucap Delia lalu beranjak menuju pintu.
"Ada apa?" Tanya Delia saat ia sudah membuka pintu kamarnya dan di dapatinya Revan yang berdiri dengan panik.
"I...it ..itu..." Revan terbata -bata sambil menunjuk ke arah pintu rumah,Delia yang melihat arah telunjuk Revan, menautkan alisnya bingung dengan sikap Revan .
"Kakak ip..." Revan tak sempat menyelesaikan ucapannya Karna Delia sudah terlebih dahulu berlari ke arah pintu meninggalkan nya sendirian.Revan pun ikut menyusul Delia keluar dan saat berada di luar rumah Revan sudah mendapati Delia memangku kepala Rey yang ternyata jatuh pingsan di luar ,mungkin akibat kedinginan karna hujan begitu lebat.
Revan berlari menyusul Delia dan membantu Delia mengangkat tubuh Rey yang sudah basah kuyub dan tubuhnya begitu dingin,bahkan kulit jari-jarinya sudah mulai berkerut akibat kedinginan.
Revan dan Delia membawa Rey masuk kedalam kamar Delia dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur milik Delia.Dengan sigap Delia membuka sepatu Rey yang sudah basah dan membuka kaos kakinya,ia kemudian membuka kemeja yang melekat di tubuh Rey,Delia sudah tak ingat apa-apa lagi,ia begitu panik dan khawatir melihat kondisi Rey yang begitu memprihatinkan,saat ingin membuka celana Rey ada keraguan yang tiba-tiba muncul di hatinya,meski sudah melihat bagian tubuh Rey tapi tetap saja itu membuatnya deg-degan namun melihat kondisi Rey,Delia membuang semua rasa malu nya dan memberanikan dirinya mengganti celana Rey dengan pakaian yang telah di sediakan oleh Revan tadi,untung saja pakaian Revan bisa masuk ketubuh Rey meski agak sempit tapi setidaknya ,bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.
Setelah mengganti semua pakaian Rey dengan menggunakan pakaian Revan di tubuh Rey,Delia lalu mengusapkan minyak kayu putih di seluruh tubuh Rey,lalu mengompres nya menggunakan air hangat Karna suhu tubuh Rey panas,mungkin ia demam Karna semalaman berada di bawah air hujan.
"Kamu istirahat saja." Ucap Delia pada Revan.
"Kakak sudah tidak membutuhkan bantuan ku?" Tanya Revan meyakinkan.
"Tidak, istirahat sana,lagian dia juga harus istirahat dia tidak akan bangun sampai pagi,kakak juga mau istirahat."
"Baiklah,kalau ada apa-apa panggil aku." Ucap Revan lalu keluar dari kamar Delia menuju kamarnya sendiri untuk melanjutkan tidurnya kembali yang sempat terganggu akibat kegaduhan yang di buat Rey.
__ADS_1
"Dasar kakak ipar ,kamu harus membayarku dengan mahal Karna ini." Gumam Revan lalu merebahkan tubuhnya dia atas kasur.