
"Baik pak,kapan saya berangkat dan ada berapa orang yang akan ikut dalam misi ini?" Tanya Vio , misi kemanusiaan ini bukanlah pertama baginya,karena setiap ada kegiatan kemanusiaan dari rumah sakit ini Vio lah dokter yang selalu di tunjuk untuk ikut berpartisipasi.
"Besok kamu dan team akan berangkat,karena tempat nya kali ini di sebuah desa terpencil di Kalimantan Timur ,ada tiga orang dokter termasuk kamu dan empat orang perawat serta beberapa tim medis lainnya yang akan membantu kalian." Jelas sang atasan .
"Baik pak,kalau begitu saya permisi untuk bersiap." Pamit Vio yang di angguki oleh atasannya, setelah itu Vio pun beranjak meninggalkan ruangan sang atasan.
Ke esokan harinya , di rumah tepatnya di kamar Vio sedang berkemas memasukkan beberapa pakaian serta perlengkapan dan kebutuhannya di desa tempatnya di kirim nanti.
Tok...tok... Terdengar suara ketukan pintu kamar dari luar.
"Masuk." Ucap Vio saat mendengar pintu kamarnya sedang di ketuk dari luar.
Perlahan pintu kamar Vio terbuka dan muncullah sang kakak dari balik pintu itu,Delia lalu berjalan masuk ke dalam kamar Vio,ia memperhatikan Vio yang sedang sibuk berkemas di atas tempat tidur.
" Semua sudah siap? Tidak ada yang kelupaankan?" Tanya Delia mengingatkan karena adiknya itu sedikit ceroboh jika melakukan sesuatu.
"Sudah kak,sepertinya tidak ada lagi deh yang tertinggal." Jawab Vio sambil menutup kopernya yang sudah berisi beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya.
"Mas Rey akan mengantarmu ke rumah sakit,dia sudah menunggu di bawah."
Vio menghentikan aktivitasnya saat mendengar ucapan Delia,ia lalu mengerutkan kedua alisnya .
"Tumben , apa kak Rey sudah tidak punya kesibukan lagi hingga dia punya waktu untuk mengantar adik iparnya ini." Sindir Vio sembari duduk di pinggir kasur di samping Delia. bukan tanpa alasan Vio mengatakan itu pasalnya selama ini Rey begitu sibuk jangankan punya waktu untuknya , waktu untuk anak dan istrinya saja begitu sulit.
"Cepatlah mas Rey menunggu mu." Ujar Delia lalu beranjak dan berjalan keluar dari kamar Vio.
__ADS_1
Vio menarik kopernya dan turun dari tangga,dari atas tangga ia sudah melihat Rey sedang duduk sarapan di meha makan bersama Kenan dan di layani oleh Delia.
"Pagi semua..." Sapa Vio saat sudah berada di meja makan , ia lalu menarik kursi yang berada di samping Kenan.
"Pagi ponakan gantengnya aunty." Sapa Vio sambil mengulas lembut rambut Kenan lalu duduk di kursi tepat di samping Kenan.
" Pagi aunty." Sapa Kenan balik lalu meneruskan kembali sarapannya. Vio menoleh ke arah Kenan ia lalu tersenyum gemas melihat ponakan satu-satunya itu yang sedang memakan roti sandwich hingga memenuhi mulutnya.
" Semua sudah siap , Vi ?" Tanya Kenan sambil menatap Vio dengan mulut yang masih mengunyah.
"Habiskan dulu makannya mas nya, baru ngomong." Potong Delia lalu memberikan segelas jus apel untuk Rey.
"Heheh maaf sayang." Kekeh Rey sembari menerima jus dari tangan Delia lalu meminunnya hingga tandas.
" sudah kak,semua sudah siap ,tidak ada yang tertinggal." Ucap Vio setelah melihat Rey meletakkan gelas kosong bekas jus nya tadi.
Vio mengangguk sebagai jawaban , ia lalu melanjutkan sarapannya dengan lahap.
"Makasih kak.." Ucap Vio setelah turun dari mobil Rey yang sudah mengantarnya tepat di depan rumah sakit.
"Kamu berangkat menggunakan apa , Vi?" Tanya Rey dari dalam mobil.
" Bis kak,itu bis nya sudah stand by." Tunjuk Vio pada sebuah bis berwarna abu-abu yang terparkir di area parkir rumah sakit.
"Hhmmm , baiklah." Rey lalu memasang kaca matanya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya menuju kantornya,namun baru saja akan melajukan mobilnya tanpa sengaja matanya melihat seseorang turun dari mobil mewah yang berada di area parkir rumah sakit.
__ADS_1
"Ramon..." Gumam Rey sambil mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya,tapi semakin dia mempertajam penglihatannya semakin ia mengenal pria itu yang tak lain adalah Ramon. Setelah yakin akan apa yang di lihatnya matanya beralih menatap Vio yang juga sedang melihat ke arah yang sama.
"Dia disini dan kamu tidak mengatakan apa pun padaku dan Delia?" Tanya Rey dingin,ia sedikit kesal karena Vio tidak menceritakan akan keberadaan Ramon di kota ini terlebih kini Ramon berada di rumah sakit yang sama dengan Vio,dimana kemungkinan besar mereka pasti sering bertemu.
" A...aku..maksudku aku bukannya tidak ingin cerita ke kakak tapi aku lupa karena akhir-akhir ini begitu sibuk." Ucap Vio beralasan padahal ia memang berniat untuk tidak membahas apa pun jika menyangkut dengan pria yang dulu begitu dekat dengannya.
Rey menghela nafas berar,ia lalu mengurungkan niatnya untuk pergi bahkan ia membuka pintu mobnya dan keluar dari mobil.
"Kakak mau apa?" Tanya Vio sedikit panik karena wajah Rey tiba-tiba tak bersahabat.
" Pasti ada alasan tertentu hingga pria itu ada di sini,ini pasti bukan suatu kebetulan kan?" Ucap Rey sembari memandang punggung Ramon yang berjalan masuk kedalam gedung rumah sakit.
"Dia pemilik baru rumah sakit ini kak." Jelas Vio pelan sambil tertunduk.
Rey menatap Vio tak percaya,ia tak percaya akan apa yang baru saja keluar dari mulut Vio,tentu ia mengenal baik pemilik rumah sakit ini,karena dia adalah rekan kerja Rey tapi secara mendadak rumah sakit ini berganti pemilik padahal setahunya rumah sakit ini tidak punya masalah bahkan pemilik sebelumnya tidak mengalami masalah apa oun yang menyangkut dengan bisnisnya.
"Dia tidak mengganggu mu kan,kalau dia mengganggu mu , resign saja dari pekerjaanmu." Ujar Rey .
"Tidak kak, dia tidak mengganggu kok,bahkan kami seperti orang yang tidak saling mengenal,kakak tenang saja,aku bisa menghadapinya." Vio mencoba meyakinkan Rey jika Ramon tak pernah mengganggunya,dan memang benar sudah lebih dari seminggu ini mereka sudah seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal,bahkan Ramon terlihat begitu dingin dengannya.
"Baiklah,aku percaya padamu,tapi jika dia mengganggu mu katakan padaku...ingat Vi jangan terlena lagi dengan semua ucapannya dia sudah menjadi milik orang lain."
Deg....
Jantung Vio tiba- tiba terasa di remas saat kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rey.Ia hampir saja lupa jika saat ini Ramon bukanlah pria single lagi dia sudah memiliki wanita lain.
__ADS_1
"Iya kak." Ujar Vio pelan sambil menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sudah berembun.
"Ya sudah , aku pergi sekarang ,jaga dirimu." Pamit Rey sembari berjalan menuju mobilnya dan masuk kedalam setelah itu ia pun melajukan mobilnya menujun kantornya.