Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 88


__ADS_3

"Kami berencana untuk pindah." Ujar Delia saat mereka tengah berkumpul di ruang tamu setelah menghabiskan makan malam bersama.


Rey tersedak oleh minuman yang baru saja masuk ke mulutnya akibat ucapan Delia yang tiba-tiba membuat nya membulat kan matanya, ia kemudian menoleh ke arah Ramon yang duduk di sampingnya dan Ramon pun terlihat terkejut.


"Kenapa? apa kalian tidak betah atau ada sesuatu yang mengganggu kalian atau jangan -jangan Ramon melakukan sesuatu padamu?" Tanya Rey bertubi-tubi lalu melirik tajam ke arah Ramon yang juga menoleh padanya dengan tatapan tajam Karna Rey menuduhnya sembarangan.


Ramon menjitak kepala Rey Karna kesal akan ucapan sahabatnya itu,sedangkan Revan yang melihat tingkah absurd ke dua pria yang berada di depan nya itu hanya bisa menahan tawanya , bagaimana tidak jika di luar kedua pria ini akan berubah jadi dingin dan datar tapi saat ini kedua pria itu berubah menjadi kekanak-kanakan jika ada orang lain yang melihat kelakuan mereka saat ini , hilang sudah wibawa mereka sebagai seorang bos yang dingin.


"Auuuuhhhhhh.." Rey mengusap dahinya pelan akibat jitakan dari Ramon.Sementara Ramon tidak peduli dengan lenguhan Rey,ia lalu memandang ke arah Delia lalu berpindah menatap Revan yang hanya menggoyangkan kedua bahunya sebagai jawaban atas kebingungan Ramon.


" Kalau kalian pindah dari sini ,kalian akan tinggal dimana?" Tanya Ramon .


"Tinggal bersama ku." Ucap Rey dengan penuh harap dan membuat semua yang berada di situ menatap ke arahnya.


"Kalian akan ikut denganku,tinggal bersama ku." Putus Rey.


"Tidak...." Tolak Delia cepat,ia tidak ingin berurusan dengan Rey lagi.


"Kenapa?kamu mau tinggal dimana kalau mau pindah dari sini? dan aku masih suami mu kalau kamu lupa aku berhak membawa kalian ikut denganku dengan atau tanpa persetujuan mu." Ucap Rey tegas dan membuat semua yang mendengar jadi merinding sendiri.

__ADS_1


"Aku akan tinggal di dekat klinik,di sana sudah tersedia rumah tempat tinggal khusus dokter,aku sudah memegang kuncinya kami tinggal pindah saja."


Rey menatap tajam ke arah Rey,belum jiga kekesalannya mereda kini ia kembali semakin kesal saat mengetahui Delia akan tinggal di dekat klinik yang berarti Boy akan semakin mudah mendekati Delia.


"Tidak bisa." Ucap Rey sambil berdiri dari duduknya,ia tidak akan setuju dengan rencana Delia.


"Kenapa?kamu tidak bisa melarang ku ..kita sudah berpisah dan kamu tidak punya hak atas diri ku lagi ."


"Kau...." Rey terlihat begitu menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya begitu erat.Hatinya panas mendengar penuturan Delia .Rey berjalan mendekat ke arah Delia duduk ,Delia yang sadar kalau Rey sedang menghampiri nya seketika berdiri dari duduknya.


Sedangkan Ramon dan Revan hanya terduduk sambil menonton adegan gratis antara Rey dan Delia,tak ada satu pun di antara mereka yang mau ikut campur akan masalah suami istri yang sedang berdebat sengit itu di depan mereka.


"Bagi ku kita sudah berpisah dan tak punya hubungan apapun lagi sejak kamu memberikan surat perceraian itu padaku,kamu mengakui atau tidak itu tidak penting,kita sudah berpisah." Tekan Delia tak mau kalah,kali ini ia tidak akan membiarkan hatinya terluka untuk kesekian kalinya.Cintanya kini benar-benar ia kubur begitu dalam,baginya Rey hanyalah serpihan masa lalunya yang tak perlu ia kembali lagi untuk mengulang menjalani kehidupan pernikahan seperti dulu Karna itu sama saja ia akan melukai hatinya dengan hubungan yang sama.


Rey sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya dan dengan cepat ia menarik tubuh Delia ke dalam dekapan nya dan mencuri ciuman di bibir Delia.


Delia begitu terkejut dan tak bisa mencegah dengan apa yang di lakukan Rey padanya Karna Rey begitu cepat melakukan nya tanpa memberi Delia kesempatan dan akhirnya mereka terlibat ciuman panas yang di saksikan oleh Revan dan Ramon.


Ramon yang menyadari akan adanya Revan di situ seketika melompat menutup mata Revan dan matanya sendiri.

__ADS_1


" Bisa-bisanya mereka berbuat mesum di depan bocil ini dan di depan ku yang masih polos ini." Gerutu Ramon sambil menutup mata Revan dan matanya sendiri menggunakan tangan nya.


"Aku bukan bocil lagi,aku sudah cukup dewasa dokter,aku sudah kuliah." Protes Revan tak terima dirinya di sebut masih bocil, padahal Revan bukanlah laki-laki yang polos akan dunia percintaan yang seperti mereka pikirkan itu.


Plakkkkkkkk....Sebuah tamparan mendarat di pipi Rey dan suara tamparan itu juga membuat Ramon dan Revan membuka mata mereka saat Ramon melepas tangannya yang di gunakan menutup matanya dan mata Revan,Ramon dan Revan saling berpandangan satu sama lain saat melihat adegan mesum tadi kini berubah menjadi sebuah tamparan yang begitu keras,bahkan keduanya tanpa sadar memegang pipi.


"Beraninya kamu,kamu pikir kamu siapa hach,jika kamu berfikir aku akan dengan mudahnya menerima mu kembali dan mendengarkan semua ucapanmu kamu salah.Aku bahkan sudah memutuskan hubungan dengan mu ." Seru Delia dengan nada sedikit meninggi,ia tidak bisa menerima di perlakukan seperti itu ...di perlakukan bagai wanita murahan dan di depan orang lain.


"Jangan kamu mengira aku berbaik hati padamu lalu kamu seenaknya memperlakukan ku seperti mau mu." Tunjuk Delia tepat di dada Rey dengan sorot mata penuh kekecewaan dan Rey menyadari itu .


"Pulanglah aku tidak ingin melihatmu lagi." Lanjut Delia lagi sambil terduduk lemas di sofa ,nada suara nya sudah tak meninggi lagi seperti tadi.


Melihat keadaan yang sudah tidak kondusif lagi,Ramon segera berdiri dan menghampiri Rey yang begitu syok akan apa yang Delia lakukan dan katakan padanya,sebenci itukah Delia padanya?


Rey masih tak bergeming dari tempatnya berdiri hingga tepukan di bahunya menyadarkan nya,ia lalu menoleh ke kesamping dan melihat Ramon sudah berdiri di sampingnya sambil merangkul bahunya,jika saja ia bukan pria yang mempunyai gengsi selangit sudah pasti air mata nya bercucuran begitu deras.Hatinya begitu terluka saat Delia menolak dirinya,semangat dan tekad yang kuat yang semula begitu meyakinkan dirinya,kini perlahan hilang dalam sekejap.


"Baiklah,kami pulang dulu." Ucap Ramon memecah keheningan.


Delia hanya mengangguk pelan,ia sudah tak berselera lagi untuk sekedar berucap . Ramon menarik tubuh Rey untuk segera meninggalkan apartemen tempat tinggal Delia,meski dengan hati yang sangat terpaksa Rey pun mengikuti langkah Ramon,saat akan keluar dari pintu ia menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang untuk melihat Delia,tapi wanita yang di pandang nya tidak menatapnya .Delia bahkan tak menyadari jika Rey menatap dirinya,hanya Revan yang melihat ke arah Rey sambil tersenyum tipis dengan mengangkat jempolnya sebagai dukungan semangat pada Rey,dan Rey pun membalas dengan melakukan hal yang sama,lalu berlalu meninggalkan apartemen bersama Ramon yang sudah menunggu di luar .

__ADS_1


__ADS_2