
Delia membuka tasnya lalu mengambil sebuah map yang berisi surat perceraian nya yang telah di tandatangani nya.
"Ini...." Delia memberikan map itu kepada Ramon,lalu Ramon dengan sedikit bergetar mengambil map itu perlahan ia membuka nya dan di bacanya dengan seksama.
"Kamu sudah memikirkannya,atau hanya karna terdesak?" Ucap Ramon ,ia belum ingin percaya Karna ia yakin mereka masih saling mencintai.
"Aku yakin,dan keputusan ku ini sudah benar,toh Rey juga akan menikah dengan Mona,aku yang salah seharusnya aku tidak ada di antara mereka." Delia mendongak berusaha agar air matanya tak tumpah.
"Del....kamu juga sudah tak mencintainya,dengar jangan mengorbankan masa depan mu dan kebahagiaan mu hanya untuk masalah ini,Vio akan sangat merasa bersalah jika dia tahu kalau kamu mengorbankan pernikahan mu hanya untuk nya,aku masih bisa membantu mu."
Delia menoleh menatap Ramon, tatapan nya tajam dan menusuk,Ramon yang di tatap seperti itu sedikit menciut.
"Untuk apa mempertahankan sesuatu jika salah satu nya sudah tak ingin bertahan,yang ada hanya ada luka dan sakit hati,jika Rey menginginkan perceraian maka aku akan mengabulkannya,aku tidak ingin berbalik kebelakang,cintaku pun perlahan menghilang seiring perlakuan nya padaku."
"Tapi...."
"Tidak usah membahasnya lagi,aku tidak ingin mendengar apa pun,dan berikan surat perceraian itu padanya,maaf merepotkan mu,dan ini bisakah kamu mencairkannya untukku?" Delia memberikan map yang berisi surat perceraian nya dan selembar cek kepada Ramon.
Perlahan Ramon mengambilnya dari tangan Delia,walau ada keraguan di hatinya tapi ini sudah keputusan Delia,ia pun tak berhak untuk melarangnya, sepertinya jalan satu-satunya ia harus bertemu langsung dengan Rey,ia begitu menahan kesal dan amarah dan ingin rasanya ia lampiaskan pada Rey.
Ramon berdiri dari duduknya,lalu melangkah begitu saja meninggalkan Delia,hatinya di selimuti amarah dan kecewa terhadap Rey,ia membawa map dan cek bersamanya.
Delia menatap kepergian Ramon,dan air mata itu kembali mengucur di pipi tanpa bisa ia kendalikan.
"Maaf..." Lirih Delia lalu mengusap wajahnya .
Di Singapura Rey begitu sibuk mengurus perusahaan nya yang ada di sana sekaligus mengurus Rosa, sedangkan Mona selalu saja menempel padanya,Rey merasa begitu tertekan karna adanya Mona,jika saja ia tidak mengingat misinya bersama Dion,dia sudah melemparkan Mona ke jalan.
"Berhenti lah mengikutiku Mona,atau kamu pulang saja ke Indonesia." Bentak Rey saat dirinya baru saja akan berangkat bekerja,ia sudah begitu lelah menghadapi Mona yamg selalu saja menempel padanya.
"Aku hanya ingin,ikut dengan mu saja,aku bosan sendirian." Ucap Mona dengan manja.
__ADS_1
"Jika kamu bosan pergilah jalan-jalan atau belanja,aku sibuk banyak pekerjaan."
Mona mendengus ,ia kemudian melipat tangannya di dada dengan cemberut, berharap Rey merayunya dan mengisinkannya untuk ikut,tapi semua itu hanya tinggal angan-angan Mona saja,karna kenyataan nya Rey justru meninggalkan nya sendiri di apartemen.
Mona melemparkan semua barang yang berada di dekatnya saat menyadari Rey sudah tidak ada di dekatnya,Rey sudah keluar dari apartemen.
" Sampai kapan aku harus pura-pura." Kesal Rey saat sudah berada di kantornya di Singapura.
Matanya memandang ke arah bingkai yang terpajang di atas meja kerjanya,foto nya bersama Delia di ambil saat mereka sedang berada di mansion.
"Aku merindukan mu." Ucap Rey sambil menatap foto mereka dengan lekat,matanya menerawang jauh ke belakang membayangkan hari-hari bahagia yang mereka lalui meski hanya sebentar tapi berkesan.
"Setelah dari sini aku akan menjemputmu,aku janji, tunggulah aku dua Minggu lagi." Lanjutnya lagi.
...****************...
"Di mana Rey?" Tanya Ramon pada sekertaris Rey di kantor,ya hari ini Ramon ke kantor Rey untuk bertemu dengan Rey sekaligus mengantar dokumen perceraian nya yang di titipkan Delia padanya.Hari ini Ramon baru punya waktu luang untuk bertemu dengan Rey setelah beberapa hari ini Rey tak dapat di hubungi,begitu pun dengan Dion mereka berdua seolah menghilang entah kemana.
"Lalu asisten nya kemana?"
"Pak Dion sedang keluar kota, mengurus kantor cabang yang sedikit bermasalah."
"Sittt di saat begini mereka malah tidak ada." Batin Ramon kesal.
"Kapan mereka kembali?"
"Lusa pak Rey akan kembali,kalau pak Dion tiga hari lagi."
Ramon semakin di buat kesal bagaimana tidak,Delia akan berangkat ke Jerman besok,Ramon ingin memberi tahu Rey tapi Rey begitu sangat sulit di hubungi.
"Maaf Rey ,aku sudah berusaha keras membujuk Delia,tapi keputusan nya sudah bulat,ini juga salahmu." Batin Ramon lagi.
__ADS_1
'Berikan dokumen ini pada Rey atau Dion jika mereka kembali." Ucap Ramon sambil menyerahkan sebuah map berisi dokumen perceraian,ia lalu beranjak meninggalkan kantor Rey dengan lemas.
Delia dan Ravan kini sedang berkemas-kemas di rumah yang mereka sewa,besok pagi mereka akan ke Jerman membawa Vio berobat sekaligus memulai hidup baru di sana, mereka hanya membawa barang yang penting-penting saja, berupa surat-surat dan pakaian.
Setelah selesai berkemas Delia menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur,entah mengapa tiba-tiba saja ia sangat merindukan Rey,hatinya seolah menolak untuk pergi seperti ada dorongan untuk bertemu Rey tapi perasaan itu segera di tepisnya, keputusannya sudah final dan ia sudah mengambil keputusan yang tepat menurutnya.
"Kakak tidak makan." Seru Revan saat masuk ke kamar Delia.
Delia kemudian berdiri dan mengikuti langkah Revan menuju meja makan.Mereka makan begitu lahap.
"Apa kakak berencana untuk bekerja di Jerman?" Tanya Revan sambil memasukkan makanannya ke mulut .
"Rencananya begitu,kemarin Kakak bertemu dengan teman kakak dan dia menawarkan pekerjaan kepada kakak di klinik sepupunya di Jerman."
"Wah itu kebetulan yang sangat baik kak."
"Sebenarnya sudah lama dia mengajak kakak tapi kakak belum bisa menerima nya waktu itu,kemarin tanpa sengaja kakak bertemu dengannya dan kakak menceritakan kondisi Vio dan rencana kita untuk membawa Vio ke Jerman, kebetulan klinik sepupunya itu masih kosong jadi dia mengajak kakak untuk bergabung." Jelas Delia lalu meneguk air putih yang berada di depannya.
"Kakak sudah bertemu dengan sepupu teman kakak?"
Delia menggeleng pelan." Tapi dia sudah memberitahu sepupu nya itu dan sepupunya itu langsung mengiyakan,makanya dia menunggu kita di Jerman."
"OOO baiklah,Revan jadi bersemangat sekarang."
Delia mengerutkan alisnya, menatap bingung ke arah Revan yang cengengesan.
"Jadi,kamu tidak bersemangat kita ke Jerman?"
'Heheheh, awalnya begitu kak,takutnya kita akan terkatung - katung di negara orang,kita kan tidak kenal siapapun di sana."
"Huhuh kau ini." Delia melempar selembar tisu bekas lap tangannya ke arah Revan dan tepat mengenai wajah Revan.
__ADS_1
Mereka pun tertawa bersama membayangkan nasib mereka jika Delia tak bekerja di sana .