
"Wah sepertinya enak nich?" Ucap Rey sambil berjalan menghampiri Delia dan Vio yang sedang menikmati rawon .
Delia dan Vio pun mengarahkan pandangannya pada sesosok pria tampan yang berjalan mendekati mereka, keduanya pun tersenyum menyambut kedatangan nya.
"Mas,kamu sudah pulang?"Tanya Delia ,ia terlihat bingung karna tak biasanya Rey pulang di jam siang begini.Rey kemudian menarik kursi yang ada di samping Delia.
"Aku mau makan siang di rumah,entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali makan siang dirumah saja." Ucap Rey sambil melihat menu yang ada di meja makan.
Matanya tertuju pada sebuah masakan yang berkuah hitam itu.
"Kamu masak ini?" Tanya Rey sambil menunjuk rawon yang ada di atas meja.
"Tidak,Vio yang membawanya ." Jawab Delia sambil menyendokkan rawon ke dalam piring milik Rey.
"Hari ini ulang tahun ibu kenalanku, katanya setiap ulang tahunnya dia akan membuat rawon untuk keluarganya karna itu makanan kesukaan keluarga nya ." Ucap Vio ,namun tanpa sadar atau sengaja Vio mengucapkannya ,tapi itu berhasil membuat Rey terpaku, pikiran Rey pun melambung jauh kebelakang,dimana dulu sang ibu selalu membuat kan ya menu ini.
"Ayo mas di coba." Ucap Delia mengagetkan Rey dari lamunannya.Rey lalu menyendokkan rawon itu kemudian memasukkannya ke mulutnya dan
Deg......
Hati Rey bergetar begitu cepat,rasa dari rawon yang di makannya ini begitu sangat tak asing baginya,rasa yang tentu saja tak bisa ia lupakan,sebuah rasa yang sangat melekat dengannya ,Rey termangu mengingat bagaimana ibu nya membuatkannya dulu,rasa rawon yang sama persis dengan buatan ibunya.
"Bagaimana enak?" Tanya Delia membuyarkan lamunan Rey.
Rey menoleh kearah Delia sembari tersenyum dan mengangguk pelan,ia lalu menghentikan makannya padahal baru satu sendok yang masuk ke mulutnya.Rey meletakkan sendoknya ke piring lalu meminum air putih yang di sediakan oleh Delia .
"Mau kemana mas? Tanya Delia saat melihat Rey berdiri dari duduknya.
"Aku mau ke kamar dulu,ada yang mau aku ambil." Jawab Rey sembari berlalu dari meja makan.
Delia dan Vio saling berpandangan,menatap bingung ke arah Rey yang semakin menjauh.
"Kakak mau kemana?" Tanya Vio saat melihat Delia yang juga berdiri dari duduknya.
"Aku ke kamar dulu." Ujar Delia ,ia begitu cemas ,suaminya pergi dengan wajah yang terlihat gelisah.Delia berjalan menuju lift untuk mengantarkan nya ke kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan Vio yang masih berada di meja makan , tersenyum kecil saat melihat perubahan sikap kakak iparnya itu saat menyantap rawon yang di bawanya.
"Aku yakin kak Rey pasti teringat dirimu Bu." Lirih Vio lalu melanjutkan makannya.
"Wah.....enak nich ya makan sendiri." Sindir Revan yang tiba-tiba muncul sambil berjalan ke arah meja makan dimana Vio masih ada disana.
Vio memutar bola matanya malas ,melihat tingkah adiknya yang selalu datang tiba-tiba itu.
"Makan apa kak?" Tanya Revan saat sudah berada di meja makan.
"Kamu bisa liatkan apa itu." Ucap Vio malas.
"Namanya juga basa-basi,sensi amat sih."
Revan lalu mengambil sebuah piring dan memindahkan rawon itu ke piringnya,ia kemudian menarik kursi yang ada di depan Vio dan mendudukinya,kursi bekas duduk Rey tadi.
"Kak Delia kemana?"
"Lagi di kamar sama kak Rey."
"Kak Rey sudah pulang ?"
"Setelah makan ikut aku ke kamar. "Ucap Vio lalu berdiri dari duduknya,Revan yang memang cuek itu hanya manggut-manggut tanpa bertanya lagi,ia hanya fokus menyantap makanannya.
Vio lalu beranjak meninggalkan Revan sendirian di meja makan,ia sedang mencari ide untuk menyatukan kembali Rey dan orang tuanya,tapi ia tak akan bisa melakukan itu sendirian dan dia butuh seseorang untuk membantunya.
Didalam kamar Rey duduk termenung di sofa yang terletak di sudut kamar, kakinya ia selonjorkan di atas meja,dengan tubuh bersandar di sandaran kursi dan menatap langit-langit kamarnya.Pikirannya kini sedang berkecamuk setelah menyantap rawon yang di bawa oleh Vio,ada rasa penasaran yang menggelayut di hatinya,tapi ia pun enggan bertanya pada Vio tentang rawon itu.
"Selamat ulang tahun ma,Rey harap mama selalu bahagia dan di berikan kesehatan serta umur yang panjang,maaf ulang tahun mama kali ini tanpa Rey." Lirih Rey ,matanya mulai berembun,ia kini terlihat begitu lemah.
Sedari kecil ia tak pernah jauh dari ibunya,waktu kuliah di luar negeri pun ibunya harus bolak balik London dan Indonesia hanya untuk menemui nya di negeri orang,tapi kini ia telah benar-benar jauh,sangat jauh dari ibunya meski berada dalam negara dan kota yang sama,tapi jarak itu seakan begitu jauh hingga mereka tak pernah saling bertemu lagi.
Peristiwa masa lalu benar-benar telah mengubah kehidupannya.
"Temui saja mas,aku yakin dia pun sangat merindukanmu kini." Ujar Delia yang tiba-tiba masuk kedalam kamar dan duduk di samping Rey sambil memeluk nya dari samping,Rey yang tersadar dari lamunannya pun membalas pelukan sang istri.
__ADS_1
"Tidak sayang,jika aku menemuinya aku akan semakin lemah,dan aku yakin ibu pun akan sangat sedih,cukup kita doakan saja dari jauh,biarkan mama terbiasa tanpa diriku dan aku pun terbiasa tanpanya." Setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya.
Delia hanya terdiam,ia tak ingin memaksa suaminya itu untuk menemui sang ibu,biarlah waktu yang akan memperbaiki segala nya,setelah ada celah Delia akan melakukan sesuatu untuk suami dan mertuanya,tapi saat ini ia pun belum menemukan caranya.
Sementara di kediaman orang tua Rey,ayah Rey yang baru saja pulang dari kantor,berjalan memasuki rumah .Saat membuka pintu rumah mewah itu,tak ada sambutan hangat seperti dulu,yang ada hanya kekosongan dan kesunyian yang kini menyambutnya , rumah nya kini tak ubahnya hanya seperti rumah kosong,seakan penghuninya tak punya gairah untuk menghidupkan rumah itu lagi.
Ayah Rey terus berjalan dan naik kelantai dua,setelah ia tak menemukan sang istri di tempat biasanya ia menghabiskan waktu.
Saat akan memasuki kamarnya,sayup - sayup ayah Rey mendengar suara orang yang sedang menangis,ia yang tadinya ingin masuk kekamar,kini berbalik arah menuju sumber suara yang berada di salah satu ruangan yang ada di lantai dua.
Semakin ia dekat dari ruangan itu semakin jelas suara tangisan itu, suara yang sangat ia kenal.Ayah Rey lalu membuka pintu ruang kerja milik Rey secara perlahan,saat pintu sudah terbuka di lihatnya sang istri sedang duduk bersandar sambil memeluk sebuah bingkai foto,ia tak menyadari kedatangan suaminya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya ayah Rey sambil memegang bahu istrinya.
Ibu Rey lalu menoleh kebelakang dan mendapati suaminya itu berdiri begitu dekat dengannya.Ibu Rey lalu mengusap pipinya pelan.Tak ada senyum yang terbit dari bibirnya saat melihat sang suami.
"Kamu sudah pulang?" Tanya ibu Rey tanpa ingin menjawab pertanyaan suaminya tadi.
"Iya baru saja,aku lapar bisa membuatkan ku makanan?"
Ibu Rey lalu berdiri dari duduknya dan meletakkan bingkai foto yang di peluk nya tadi ke tempatnya semula.Ia lalu berjalan keluar dari ruang kerja milik Rey tanpa peduli akan suaminya itu.
"Selamat ulang tahun." Ucap ayah Rey menghentikan langkah istri nya,ibu Rey yang baru saja akan keluar dari pintu menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan selamat ulang tahun dari suaminya, seharusnya ia bahagia bukan, seharunya senyumnya mengembang saat suaminya masih mengingat ulang tahunnya,tapi entah mengapa ucapan itu seolah tak lagi bermakna untuknya,apakah rasa cintanya perlahan memudar untuk sang suami? Tidak,tentu saja tidak ia masih mencintai suaminya,rasa cintanya pun masih sama seperti dulu,tapi rasa kecewa pada sang suami masih begitu besar,hingga cintanya pun sedikit ia abaikan tapi ia tetap menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri,.
Ayah Rey berjalan menghampiri istrinya yang masih berdiri mematung di ambang pintu.
"Selamat ulang tahun,maaf karna aku baru mengucapkan nya." Ucap ayah Rey sambil menatap wajah istrinya yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi mudah.
Ibu Rey lalu tersenyum tipis , sebagai seorang wanita tentu ia bahagia karna suaminya masih begitu perhatian padanya.
"Tidak apa-apa, terimakasih sudah mengingat nya." Ucap ibu Rey,ayah Rey lalu menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya,istrinya pun tak menolaknya,ia pun sadar ia sudah begitu mengabaikan sang suami, pikirannya hanya tertuju pada Rey .
"Bisakah kita melupakan segalanya dan memulai kembali menata hidup kita, menghabiskan waktu hingga Tuhan memisahkan kita." Ucap ayah Rey dengan masih memeluk sang istri.
Sedangkan ibu Rey hanya mengangguk dengan air mata yang sudah membasahi jas mewah suaminya.
__ADS_1
"Bisakah kamu melupakan Rey dan fokus pada keluarga kita saja,pada ku dan Rosa?"
Deg.....