
"Kita harus segera melakukan sesuatu,seperti nya kita harus lebih cepat bergerak."Ucap Ramon pada Vio saat mereka sudah berada di apartemen.
"Terus apa rencanamu?"Tanya Vio yang duduk di sofa ruang tamu berhadapan dengan Ramon , mereka hanya berdua di apartemen karna Sophia pulang kerumah orang tuanya atas panggilan sang ibu.
Ramon menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sembari berfikir akan langkah yang harus mereka lakukan selanjutnya.
" Sepertinya kita harus mengajak Rey dan Delia ke kota ini,setelah itu kita akan mengatur pertemuan Rey dan ibunya." Ujar Ramon.
Vio mengangguk-angguk mendengar ide dari Ramon,menurutnya ide Ramon itu masuk akal juga.
"Tapi bagaimana caranya mereka ke kota ini ,alasan apa yang harus kita katakan pada mereka?" Tanya Vio, seperti nya ia tak ada ide sama sekali.
"Na itu,aku pun belum terpikirkan ."
Vio lalu melemparkan bantal sofa ke arah Ramon dan tepat mengenai wajah tampan Ramon .
"Jangan menggoda ku Vio,kita hanya berdua di sini,takutnya ada setan yang datang bertamu." Lirih Ramon sambil memegang bantal sofa yang di lempar oleh Vio ke arahnya.
"Maksudmu?"Vio bingung dan tak paham arah bicara Ramon.
Mana ada setan bisa datang bertamu?" Ujar Vio lagi sambil geleng-geleng kepala mendengar ucapan Ramon yang menurutnya konyol itu.
__ADS_1
Ramon menghela nafas berat ,ia menyadari jika wanita yang duduk di hadapannya itu sedikit telmi alias telat mikir.
Ramon lalu berpindah dan duduk tepat di samping Vio,mereka duduk dalam satu sofa Ramon merapatkan duduk ya ke arah tubuh Vio,dan membuat Vio merasa ada yang tak beres dan dengan refleks ia lalu menggeser tubuhnya yang sudah kepentok dengan sudut sofa.
"Ka...kamu mau apa?" Tanya Vio gugup saat wajah Ramon semakin mendekat ke wajahnya.
"Maksudku,kita hanya berdua di sini,jangan menggoda karna setan akan menjadi pihak ketiga untuk menyatukan kita." Lirih Ramon tepat di telinga Vio.
Vio lalu mendorong tubuh Ramon untuk menjauh dari tubuhnya dan ia mulai paham arah bicara Ramon.Tak berhenti di situ Vio lalu bangkit dari duduknya dan mengambil bantal sofa untuk di gunakan memukul tubuh Ramon yang masih berada di sofa.
"Berani kamu kurang ajar,aku akan memukulmu hingga babak belur." Ucap Vio sambil memukul Ramon menggunakan bantal sofa tanpa ampun.
"Aaaauuuuuuwwwwww..... ampun...ampun..." Jerit Ramon yang pura-pura kesakitan padahal aslinya pukulan Vio tidak begitu terasa di tubuhnya,ia hanya pura-pura kesakitan.
"Ternyata memukul tubuhmu itu sangat melelahkan." Ujar Vio sambil ngos -ngosan sembari mengibas-ngibaskan rambutnya.
Ramon terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulut Vio.
Setelah merasa lebih baik Vio lalu berdiri dari duduknya, bermaksud untuk masuk ke kamarnya,namun baru saja akan melangkah kakinya kram dan kakinya tak mampu untuk menahan bobot tubuhnya dan akhirnya tubuh Vio jatuh tepat mengenai tubuh Ramon yang saat itu tak bisa menahan tubuh Vio atau bergeser karna kejadian itu begitu cepat hingga tak ada waktu untuk menghindar.Tubuh Vio tepat berada di atas tubuh Ramon yang tengah terbaring di atas sofa,mata mereka saling bertemu dengan jarak yang begitu dekat bahkan nafas mereka begitu sangat terasa.
"Oh no....kalian benar-benar ya tidak liat tempat." Suara seorang wanita datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunan mereka,sadar dengan apa yang terjadi Vio lalu bangkit dari atas tubuh Ramon dan memperbaiki rambut dan pakaian nya yang terlihat sedikit berantakan.Sementara Ramon hanya terlihat santai dan tersenyum tipis seolah tak terjadi apa-apa,berbeda dengan Vio yang begitu malu karena kedapatan oleh Sophia.
__ADS_1
Sophia berjalan masuk ke dalam saat ia menghentikan langkahnya sebentar karna melihat adegan yang begitu mesra.
"Apa aku datang di waktu yang tak tepat?" Ujar Sophia sambil melipat tangannya di dada dan menaik turunkan alisnya.
"Oh...tidak...i...ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Vio cepat ia tak ingin Sophia salah paham padanya dan berfikir negatif Tentang dirinya.
Sophia yang mendengar ucapan Vio lalu duduk di samping Ramon lalu menatap pria yang sedang bersandar dengan santainya tanpa merasa bersalah,ia malah tersenyum dan matanya menatap ke arah Vio yang terlihat begitu malu dan gugup terlihat dari wajahnya yang memerah dan tubuhnya yang sedikit bergetar.
"Tadi dia ingin menggodaku." Ujar Ramon dengan santainya masih menatap wajah Vio.
Vio yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ramon itu nampak begitu terkejut dengan membelalakkan kedua matanya,ia tak mengira jika Ramon akan berkata seperti itu, matanya memerah menahan amarah pada Ramon sementara Ramon yang bermaksud hanya untuk menggoda Vio dengan ucapan nya tanpa sadar membuat wanita di sampingnya memandang rendah ke arah Vio,seakan tatapan nya pada Vio penuh dengan rasa tak suka akibat kalimat yang di ucapkan Ramon,Vio mundur kebelakang dengan perlahan matanya mulai menganak sungai,Vio Lalu membalikkan tubuhnya menuju kamarnya yang tak jauh dari tempatnya,ia pergi dengan langkah penuh sesak.
Setelah kepergian Vio ,tinggallah Ramon dan Sophia di ruang tamu dengan fikiran masing-masing,jika Ramon tampak menyesali kalimat candaannya saat melihat wajah Vio yang begitu terluka karna ucapan nya padahal ia hanya ingin mengerjai Vio saja tapi sepertinya kedua wanita itu salah paham.
"Benar dia menggoda mu saat aku tidak di sini?" Tanya Sophia .
"Tidak,tapi dia terpeleset terus jatuh dan tepat mengenai tubuhku,aku hanya ingin menggodanya saja." Ucap Ramon tapi tatapannya tak lepas dari kamar yang di masuki oleh Vio tadi.
"Syukurlah." Ucap Sophia lega,Sophia melirik ke arah Ramon yang masih menatap pintu kamar Vio,ada rasa sakit yang tiba-tiba menusuk jantungnya,tatapan Ramon pada kamar Vio membuatnya sadar akan satu hal,sebuah tatapan yang tak biasa dan penuh penyesalan.
"Kamu mencintainya?" Ucap Sophia tiba-tiba dan berhasil membuat Ramon gelapan,dan kini tanpa Ramon jelaskan pun Sophia sudah tahu jawabannya,tapi entah mengapa hatinya begitu terluka padahal Ramon belum menjawab pertanyaannya.Padahal saat perjalanan dari rumahnya ke apartemen ia begitu bahagia karna ia mendapat kabar dari orang tuanya,kabar yang begitu membuatnya bahagia,sebuah penantian yang sudah begitu lama di nantikan nya.
__ADS_1
Keluarga Ramon dan keluarga nya sudah membicarakan perihal pernikahannya dengan Ramon,ia yang begitu bahagia mendengar nya lalu pamit dan ingin memberitahukan kabar bahagia itu pada Ramon karna ia pikir Ramon pun mempunyai rasa yang tak biasa padanya,mengingat Ramon begitu dekat dan selalu menelfon serta memperhatikan dirinya meski selama ini mereka tinggal di kota bahksn di negara yang berbeda tapi Ramon selalu menyempatkan waktu untuk memberinya kabar,sebuah perlakuan yang membuatnya salah dalam memahami sikap Ramon itu.Sikap yang berbeda ia tunjukkan pada Vio dan juga membuat Vio salah dalam memahami nya,jika pada Sophia Ramon akan bersikap begitu perhatian dan lembut berbeda dengan sikapnya pada Vio,ia akan selalu menggoda Vio dan selalu membuat Vio kesal,mereka bahkan sering terlibat perdebatan yang tak penting dan membuat Vio mengira jika Ramon begitu tak menyukai dirinya.