
Rey mondar-mandir di ruangannya,hatinya begitu gelisah dan tak tenang.Berkali-kali ia menghubungi nomor Delia tapi,nomornya tak kunjung aktif.
"Hallo." Jawab Rey saat ponselnya berdering lalu mengangkatnya.
"Maaf bos, jet anda sudah siap lepas landas,tinggal menunggu anda,sopir sedang dalam perjalanan untuk menjemput anda." Ucap Dion di balik telfon nya.
"Sitttttttt..." Runtuk Rey lalu mematikan ponselnya begitu saja.Hatinya semakin gelisah takkalah dirinya ingin meninggalkan Delia.Apalagi sejak sore tadi ia tak mendapat kabar dari Delia,bahkan Revan pun tak kunjung menelfonnya kembali.
Rey menekan nomor Revan ,tapi Revan pun tak menjawab panggilannya,lalu Rey mengulangi nya lagi tapi hanya suara operator yang menjawabnya.Tak putus asa Rey menekan nomor Ramon,ia ingat jika tadi Revan bersama Ramon di luar,mungkin saja mereka masih bersama kini.Tapi sama halnya dengan ponsel Revan ,Ramon pun tak kunjung menjawab telfonnya.
"Kemana mereka semua sich? menyebalkan,awas saja kalian nanti." Maki Rey lalu memukul meja kerjanya meluapkan emosinya.
"Apa...?" Bentak Rey saat seorang pria membuka membuka pintu ruang kerjanya.Pria itu bergetar saat mendapat sambutan horor dari sang pemilik kuasa,apa lagi melihat wajah Rey yang kurang bersahabat.
"Seperti nya , aku datang di waktu yang salah." Batin pria itu yang masih berdiri mematung di pintu.
"Kenapa diam saja?" Bentak Rey lagi,kali ini sepertinya ia dapat sasaran pelampiasan kekesalannya.
"Ma...ma..maaf tuan,sudah waktunya berangkat,jet pribadi anda sudah siap lepas landas ." Jawab pria itu dengan gemetar.
Bugh...
Sebuah pulpen melayang dan tepat mengenai kepala pria itu.Pria itu sontak terkejut Karna tak menyangka Rey akan melemparkan pulpen ke arahnya,Karna posisi nya sedikit tertunduk tadi.
"Siapa yang menyuruhmu kemari hach?" Tanya Rey masih dalam mode kesalnya,ia lupa padahal baru saja Dion menelfon untuk memberitahu bahwa akan ada sopir yang akan menjemputnya.
__ADS_1
"Tu...tuan Dion."
"Brengsek, sepertinya Anak itu sudah mulai melawanku,awas kamu Dion."
Rey berjalan keluar ruangannya meninggalkan pria yang datang menjemput nya tadi dengan wajah kesal serta Omelan yang entah di tujukan pada siapa.
Sedangkan sang sopir ,masih berdiri di posisinya,ia begitu tercengang melihat tingkah Rey yang sedang kesal dan memaki-maki tidak jelas.
Pria itu kemudian berjalan menyusul Rey yang sudah terlebih dahulu meninggalkan nya.Saat sudah berada di luar ,pria itu melihat Rey yang sudah duduk di dalam mobil di kursi bagian belakang.Terlihat wajahnay masih di tekuk dengan pandangan tajam .
"Apa kamu sudah merindukan untuk menjadi pengangguran?" Ucap Rey dari dalam mobil,tapi kaca mobilnya di buka setengahnya.Sang sopir yang tadinya masih berdiri untuk mengambil nafas dan bersiap menerima makian yang mungkin saja masih akan berlanjut saat dirinya berada di dalam mobil yang sama dengan Rey.
Sopir itu berlari kecil memutari mobil,lalu membuka pintu di bagian kemudi, sebelum masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi pria itu membuang nafas berat.Lalu kemudian masuk dan duduk di depan kemudi.Namun baru saja ia menghempaskan pantat nya di jok kursi,ia sudah di kagetkan oleh tingkah Rey yang tiba-tiba menendang kursinya dari belakang dan membuat sang sopir sedikit terperanjat,hampir saja ia memaki jika saja tak menyadari posisi orang yang telah berani menendang kursinya.Sang sopir pun hanya bisa melirik kearah belakang melalui kaca yang menggantung di depan.Terlihat Rey sedang menekan ponselnya sambil menggerutu,bahkan saking seringnya memanggil ponsel Rey kehabisan daya.
"Awas kalian,aku akan menghukum kalian bertiga." Umpat Rey sambil melempar ponselnya di sampingnya.
Sedangkan di tempat lain,Boy membawa Delia kesebuah hotel yang tak jauh dari restoran tempat mereka makan tadi.Kondisi Delia semakin tak terkendali,ia merasa begitu gerah dan kepanasan, tenggorokannya seolah kering , berkali-kali tubuhnya menggeliat seolah sedang menahan sesuatu yang akan meledak dalam tubuhnya . Boy hanya melirik Delia ya g duduk begitu gelisah di sampingnya sambil ia tersenyum licik dengan segala rencana yang sudah ia susun dengan rapi.
Boy memarkirkan mobilnya di tempat parkir hotel,lalu keluar dari mobil, kemudian membuka pintu mobil untuk Delia yang semakin tak terkendali,rambutnya sudah begitu acak-acakan,bahkan kancing bajunya yang bagian atas sudah terlepas,ia merasa begitu panas dan kehausan.
"Kita mau kemana?" Tanya Delia saat Boy ingin memapahnya keluar dari mobil.Meski sudah tak terkendali tapi Delia dengan sekuat tenaganya menahan agar tidak kehilangan kewarasannya.
"Sebaiknya kita istirahat di hotel saja dulu sebentar, keadaan mu tidak baik-baik saja." Ujar Boy.
"Tidak,aku tidak mau." Delia menahan tubuhnya .Sebisa mungkin Delia menahan gejolak jiwanya ,dan menahan agar tidak semakin kehilangan kendali nya.
__ADS_1
"Antar aku pulang saja." Lanjut Delia lagi sambil menepis tangan Boy yang ingin menyentuh nya.
Tapi Boy memaksa Delia keluar dari mobil dengan cara menggendongnya.Delia merontah-rontah sambil melepas tangan Rey yang mencoba mengangkat tubuhnya dari dalam mobil.
"Lepaskan aku,Ach.....ah...." Delia berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendalinya,namun sepertinya usahanya tidak menampakkan hasil ,obat itu mulai mengendalikan nya ,dan semakin ia menahan gejolaknya ,semakin menyiksanya ia membutuhkan pelepasan sekarang.
Perlahan Delia mulai pasrah dalam gendongan Boy.
Boy berjalan masuk kedalam hotel,ia terus melangkah membawa Delia masuk kedalam salah satu kamar hotel yang telah di booking sebelumnya.
Boy membuka pintu kamar,menggunakan kakinya ,karena kedua tangannya tengah menggendong tubuh Delia.
"Sabarlah sayang,aku akan membuat mu puas dan membawamu terbang melayang tinggi." Ucap Boy saat Delia benar-benar sudah tak terkendali.Delia telah lupa segalanya yang ada dalam fikirannya sekarang hanya lah menuntaskan segala gejolak yang ada dalam dirinya .
Boy mulai menggerayangi tubuh Delia, perlahan-lahan ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja Delia.
Braaakkkk....
Pintu kamar hotel dimana Boy dan Delia kini berada di buka paksa oleh seorang pria hanya dengan satu kali tendangan saja.
Mata pria itu memerah dengan kedua tangan yang terkepal kuat menahan amarah yang befitu memuncak saat menyaksikan dua orang yang begitu ia kenali sedang bergumul di atas tempat tidur.Rey berjalan dengan amarah yang memang sedari sudah sedari tadi menyelimuti nya .
Bugh...
Bugh...
__ADS_1
Bugh...
Tendangan dan pukulan mengenai tubuh Rey yang sudah setengah telanjang.Sejenak Rey melirik ke arah tempat tidur melihat Delia yang sedang berada dalam pengaruh obat perangsang dengan dosis tinggi.Tubuhnya terus saja menggeliat Karna kepanasan ,untunglah dengan sigap Rey menghalanginya dan mengancing kembali kancing baju Delia yang sempat di buka oleh Boy.