
"Bagaimana keadaan cucu saya,dok?" Tanya ibu Rey saat melihat seorang dokter baru saja keluar dari ruang UGD.
"Anda keluarga pasien?" Tanya dokter wanita itu sambil menatap ibu Rey dan Vio bergantian.
"Iya,saya Omanya,bagaimana keadaan cucu saya dok?" Ibu Rey terlihat begitu cemas akan kondisi Rosa yang tiba-tiba kembali drop.
Dokter itu menghembuskan nafas berat,ada kabar buruk yang harus ia sampaikan pada keluarga pasiennya,dan Vio yang seorang dokter bisa membaca nya.
"Katakan saja dok,sekalipun itu adalah kabar terburuk." Ucap Vio sambil memegang pundak ibu Rey memberi kekuatan.
"Kondisi pasien kritis,saat ini kita membutuhkan donor darah untuk nya,stok di rumah sakit kami menipis dan untuk mencegah agar stok tetap tersedia sebaiknya ada keluarga pasien yang harus siap untuk mendonorkan darahnya,dan juga jaringan kanker nya sudah menyebar ke organ-organ vital pasien,kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien,tapi hasilnya kita serahkan pada Tuhan,dan sepertinya pasien mengalami tekanan dan juga terlalu banyak fikiran yang membuat nya tiba - tiba seperti ini." Jelas dokter wanita itu.
Ibu Rey yang mendengar penjelasan sang dokter tak mampu lagi berucap,ia tentu tahu penyebab cucunya itu begitu tertekan ,semua karna ulah suaminya.
"Kalau begitu saya permisi,pasien akan segera di pindahkan keruang ICU." Ucap sang dokter lalu beranjak pergi meninggalkan kedua wanita yang berbeda generasi itu.
Hiks....hiks....
Ibu Rey sudah tak mampu lagi menahan segala beban yang ia simpan sendirian, kondisi Rosa membuatnya semakin lemah dan tak berdaya.
Vio lalu memeluk ibu mertua kakak nya itu untuk memberikan ketenangan dan kekuatan pada ibu Rey.
"Sabarlah Bu,semua pasti akan baik-baik saja,yang perlu kita lakukan saat ini adalah mencari donor darah untuk Rosa."
"Rey,ya hanya Rey yang bisa melakukan itu tapi aku pun tak tahu dimana dia kini,hanya Rey yang bisa menyelamatkan Rosa."
"Kali begitu kita harus mendatangkan kak Rey kesini,hanya itu jalannya."
"Tapi aku tidak tahu dimana Rey,sudah lebih dari lima tahun ini Ki tak lagi saling berhubungan."
"Aku yang akan mencarinya." Ujar Vio meyakinkan,kini jalan itu semakin terbuka lebar.
"Aku saja tidak tahu putraku dimana,apalagi kamu."
__ADS_1
"Kita akan menemukannya Bu,jika kita serius mencarinya."
Ibu Rey menatap kedua bola mata Vio,ada keyakinan yang begitu kuat di mata indah itu .
"Sungguh kamu ingin mencarinya untuk kami?" Tanya ibu Rey tak percaya.
"Aku yakin Bu,berikan fotonya padaku,yang lainnya urusanku."
"Baiklah."
Ibu Rey menyetujui saran dari Vio,ia pun tak ingin lagi meminta persetujuan dari suaminya,karna jika suaminya tahu ia pasti tidak akan setuju dan lebih memilih untuk mencari jalan lain.
Di Indonesia Rey dan Delia sedang bersiap untuk ke Jerman ,mereka ingin memberikan kejutan pada Vio dan Revan jadi Delia memutuskan untuk tidak memberitahu mereka,ia pun ingin melihat apa saja yang adik-adiknya lakukan di negara orang .
"Semua sudah siap ?" Tanya Rey pada Delia yang sedang packing.
"Sudah mas,tinggal berangkat saja." Jawab Delia lalu duduk di samping sang suami yang duduk di pinggir ranjang.
"Kamu yakin tidak ingin mengabari mereka?"
"Terserah kamu saja,oh ya dimana Kenan?"
Rey lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kaki menggantung.
"Sama bibi." Jawab Delia lalu kembali berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah sofa dimana masih ada beberapa pakaian yang belum di masukkan kedalam kopernya.
Kepergian Rey dan Delia ke Jerman kali ini begitu mendadak tiba - tiba saja koleganya mengundang mereka ke pesta peluncuran produk baru dan juga sekalian mereka ingin berlibur.
Rey dan Delia beserta Kenan pun kini dalam perjalanan menuju bandara,mereka akan berangkat hari ini dan akan tinggal selama dua Minggu di Jerman.
Sedangkan di kota Hamburg Vio masih menemani ibu Rey di rumah sakit,setelah kemarin ia bertemu tanpa sengaja dengan ibu Rey, seperti nya rencana mereka tak berjalanan sesuai keinginan.
"Opa nya Rosa masih di luar kota,dia belum bisa meninggalkan lokasi nya saat ini karena disana terjadi longsor mobil mereka terjebak." Ujar ibu Rey sambil duduk di samping ranjang Rosa.
__ADS_1
"Jangan khawatir Bu,aku akan menemani kalian disini."
Ibu Rey menatap haru kepada Vio,ia begitu berterima kasih kepada Vio karna berada di sampingnya di saat tersulit dirinya,dulu Rey yang selalu menenangkannya tapi orang yang selalu membuatnya tenang telah pergi.
Tring...tring...
Dering suara ponsel Vio berbunyi,sadar akan dering ponselnya ia lalu melepas pelukan ibu Rey lalu merogoh tas kecilnya untuk mengambil ponsel nya.
Vio tertegung saat melihat id pemanggil yang muncul di layar ponselnya, tiba-tiba ia berkeringat dingin melihat siapa yang menelponnya,Vio menoleh ke arah ibu Rey lalu tersenyum kecil saat ibu Rey juga menatap ke arahnya.
"Angkat saja." Ucap ibu Rey sambil tersenyum.
"Baiklah Bu,saya keluar sebentar menerima telfon." Ucap Vio lalu beranjak dan keluar dari kamar perawatan Rosa.
"Halo kakak."Ucap Vio saat sudah berada di luar.
"Kenapa lama sekali mengangkat nya?katakan kamu dimana ,aku dan mas Rey juga Kenan di Jerman sekarang." Ucap Delia sambil berjalan membawa kue yang telah di buatnya dan di letakkan di atas meja sementara Rey dan Revan serta Kenan menunggu di meja makan untuk menikmati kue buatan Delia.
"Kakak di Jerman? maksudku kakak di kota Berlin sekarang ini?" Ucap Vio begitu terkejut,ini di luar rencana mereka,ya Ramon dan Vio memang ingin Rey dan Delia ke Jerman tapi bukan sekarang,bahkan mereka belum memulai rencana mereka tapi Rey sudah berada di Jerman.
"Iya,kenapa kamu begitu terkejut mendengar aku di negara ini." Delia lalu duduk di kursi bergabung dengan Rey dan Revan.
"Kenapa kamu begitu terkejut mendengar aku ada di sini,apa kamu melakukan suatu kesalahan?" Tanya Delia curiga.
"Bukan begitu kak,maksudku kenapa kakak tidak memberitahu ku kalau kakak mau ke Jerman jadi aku bisa membatalkan keberangkatan ku ke kota Berlin."
"Aku ingin membalas kejutan yang kalian berikan dulu padaku." Delia lalu menatap ke arah Revan yang terkekeh mendengar ucapan Delia, ia mengingat saat dirinya dan Vio memberikan kejutan kepulangan mereka ke Indonesia beberapa tahun lalu.
"Kakak ini,aku di Hamburg Sekarang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di sini,tapi kakak tenang saja aku bersama dokter Ramon juga."
"Baiklah,tidak masalah dan sebenarnya Revan sudah memberitahu ku juga."
"Kalau Revan sudah memberitahu kakak lalu kenapa kakak bertanya lagi padaku."
__ADS_1
Delia menahan tawa dan membayangkan wajah kesal Vio di sana.