
Rey masuk ke kantor dengan tergesa-gesa,setelah mendapat telfon dari Dion pagi tadi,ia langsung bergegas berangkat ke kantor Karna ada permasalahan yang sangat meresahkannya,ia terpaksa meninggalkan Delia di apartemen padahal baru saja ia akan menikmati pagi panjangnya bersama sang istri.
"Dimana dia?" Tanya Rey saat sudah berada di ruangannya dan di sambut oleh Dion.
"Di ruang meeting bos." Jawab Dion sambil tertunduk.Ia tiba-tiba merasa merinding melihat raut wajah Rey yang nampak menahan amarah.
Tanpa berkata-kata Rey keluar dari ruangannya meninggalkan Dion.
Dion pun berjalan meninggalkan ruangan itu dan menyusul Rey ke ruang meeting.
"Mau apa anda kemari?" Tanya Rey saat memasuki ruang meeting dan melihat dua orang pria dan wanita yang tak asing di matanya.
"Hai ..Rey apa kabar? sudah lama kita tak bertemu." Ujar Ayah Mona yang sedang duduk di salah satu kursi dan di sampingnya duduk seorang wanita cantik nan seksi sedang tersenyum manis kepadanya sedang Rey tersenyum kecut melihat orang yang berada di depannya.
Rey tak menanggapi sapaan dua orang yang menyapanya dan terus berjalan melewati ke duanya.Rey lalu duduk di ujung meja sambil mengetuk-ngetuk kan jari di atas meja.
"Ada apa menemuiku?"Tanya Rey lagi .
Mona dan ayahnya saling berpandangan,lalu ayah Mona mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
"Daddy ingin kamu segera menikahi Mona secepatnya." Ujar ayah Mona dengan percaya dirinya.
Rey mengerutkan dahinya ,rasanya ia ingin meledakkan tawanya jika saja ia tak menjaga wibawanya di di depan musuhnya ini.
"Atas dasar apa saya harus menikahi putri anda, tidak ada hubungan apa pun lagi di antara kita ,dan satu lagi aku sudah menikah."
Ayah Mona lalu mengeluarkan beberapa lembar foto dan sebuah flashdisk dari map itu dan meletakkan nya di atas meja.
"Kamu tidak punya pilihan selain menerima permintaan ku,kalau tidak maka foto-foto dan video ini akan tersebar luas ."
Dion yang baru saja masuk ke dalam ruang meeting lalu mengambil lembaran -lembaran foto beserta flashdisk itu lalu memberikannya kepada Rey.
Rey menerimanya dan matanya melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya ,begitu pun dengan Dion yang tercengang melihat gambar -gambar yang tak senonoh dari foto-foto itu.
"Apa-apaan ini, kalian ingin memerasku? dengan gambar -gambar yang penuh dengan editan ini." Tanya Rey tak percaya,tapi sepertinya ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di otaknya,namun ia segera menepisnya.
__ADS_1
"Kamu lupa kejadian itu,atau perlu aku ingatkan lagi." Ujar Mona sambil berjalan mendekat ke arah Rey.
"Kamu pasti ingatkan,tidak mungkin kamu melupakan nya , bukankah kita menikmati malam indah itu,kamu bahkan memintanya terus menerus,kamu lupa."
"Diam kamu,tutup mulutmu,aku bahkan merasa tak melakukan apa pun waktu itu."
"Oh ya,tapi paginya kita sudah tak menggunakan sehelai pakaian pun,bukan."
Rey menatap tajam kearah Mona yang berdiri tak jauh darinya,sedangkan Dion hanya terdiam mencerna kejadian di depannya ini.
"Bagaimana jika foto-foto dan flashdisk ini aku berikan pada Delia,wah...pasti akan seru kan." Ujar Mona dan ucapannya itu berhasil memancing Kemarahan Rey.
Brakkkkkk....
Rey memukul meja menggunakan tangannya,lalu menatap Mona dengan menahan amarahnya.
"Sekali saja,kau mengganggu Delia..aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran yang tak akan pernah kamu lupakan."
"Jika tak ingin foto-foto ini sampai padanya ,ikuti kemauan kami,nikahi Mona maka semua akan aman."
"Beri aku waktu untuk memikirkannya." Ucap Rey melemah.pikirannya benar-benar buntu,ia kalut dan takut,bukan takut pada ancaman Mona dan ayahnya tapi takut jika Delia akan meninggalkannya lagi jika saja istrinya tahu masalah ini .
"Baiklah,satu Minggu aku memberikan waktu satu Minggu padamu ,setelah itu mau atau tidak kamu harus menikahi putriku setelah kamu nodai." Ucap ayah Mona lalu berdiri dari duduknya dan mengahampiri Mona yang sedang berdiri di samping Rey.
"Ayo sayang,kita pulang,biarkan Rey berfikir dengan tenang dulu ." Ucap ayah Mona untuk mengajak Mona pulang.
Mona kemudian mengangguk lalu beranjak meninggalkan Rey yang masih termenung.
"Aku tunggu Minggu depan." Ucap Mona sebelum meninggal Rey di ruangan itu.Ia dan ayahnya pun berjalan meninggalkan kantor Rey dengan senyum kemenangan Karna berhasil membungkam Rey untuk sementara ini.
"Kita harus mencari bukti lain,agar Rey semakin masuk ke dalam jebakan kita." Ucap ayah Mona saat mereka sudah berada di parkiran.
"Ayah tenang saja,semua sudah di atur dengan baik dan dia tidak akan bisa menemukan bukti yang sebenarnya ."
"Baiklah."
__ADS_1
Mona dan ayahnya pun pergi meninggalkan kantor Rey dengan mobil satu-satunya yang masih tersisa.
Sedangkan di dalam kantornya Rey masih memikirkan cara agar rencana pernikahan yang di tawarkan oleh Mona dan ayahnya tidak pernah terjadi.
"Selidiki masalah ini,aku yakin tidak melakukan apa pun pada Mona waktu itu." Ujar Rey sambil mengingat -ingat kejadian itu,tapi semakin ia mengingatnya semakin tak ada bayangan apa pun tentang kejadian malam itu ,yang ia ingat hanya saat ia mabuk dan Mona yang tiba-tiba muncul di apartemen nya,dan paginya ia sudah menemukan dirinya berada di atas tempat tidur tanpa menggunakan sehelai benangpun hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya dan tiba-tiba Mona juga berada dalam satu selimut dengan nya dengan tubuh yang sama-sama polos seprti dirinya.
"Achchhhh..." Teriak Rey frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Saya akan ke apartemen anda bos untuk menyelidikinya,mungkin saja di sana kita dapat menemukan bukti lainnya." Ucap Dion.
"Lakukan saja,tapi ingat kabar ini jangan sampai di telinga Delia."
"Baik bos."
Untung saja apartemen yang di tempati tinggal Rey dan Delia saat ini bukanlah apartemen tempat dirinya dan Mona pernah menghabiskan malam bersama,tapi apartemen yang mereka tinggali ini adalah apartemen yang baru saja di beli oleh Rey saat masih di Jerman tiga hari sebelum Rey dan Delia kembali ke Indonesia.
Rey dan Dion pun keluar dari ruang meeting menuju ruangannya, pikirannya benar-benar kalut sekarang,ingin rasanya ia memutar kembali waktu yang telah berlalu tapi semua itu tidak mungkin kan.
"Sayang ..." Ucap Rey saat masuk keruangan nya dan mendapati wanita yang di cintainya itu tengah duduk di sofa sambil memegang ponselnya.
Delia tersenyum melihat kedatangan Rey yang sedari tadi di tungguinya.
"Kenapa tidak mengabariku jika mau berkunjung sih."Lanjut Rey lagi sambil mencium kening Delia dengan lembut lalu duduk di samping sang istri.
"Tadi aku abis ketemua sama teman,di cafe dekat sini,dari tadi aku menghubungi mu tapi tidak di jawab,ya sudah aku kemari saja sekalian, lagi pula dekat kok."Jelas Delia.
"Aku mengganggu pekerjaan mu?"
"Tidaklah sayang,justru aku senang kamu kemari.Lagi pula pekerjaan ku sudah di selesaikan Dion."
Rey lalu membaringkan tubuhnya di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan Delia,hatinya tiba-tiba menjadi tenang hanya melihat senyum istrinya,beban yang baru saja memenuhi pikirannya seakan hilang saat rambutnya di belai dengan lembut oleh sang istri begitu hangat dan menenangkan nya.
"Ada apa?" Tanya Delia ,ia menunduk menatap wajah Rey yang tengah terbaring di pangkuannya.
"Tidak apa-apa,hanya sedikit lelah saja." Jawab Rey yang berusaha menutupi masalah yang sedang menjeratnya saat ini.
__ADS_1
Delia hanya manggut-manggut menanggapi jawaban suaminya itu,namun hatinya merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya itu,bukan tanpa alasan ia memikirkan itu saat melihat suaminya dari pintu tadi wajahnya sudah terlihat sedang menahan beban yang cukup berat,Delia bisa merasakannya, dulu sewaktu masih kuliah dia juga sempat mempelajari psikologi walau hanya dasarnya saja,selain belajar dasar-dasar psikologi dirinya juga mempunyai beberapa teman yang mengambil jurusan psikologi dan mereka sering bertukar ilmu saat sedang berkumpul.