
"Bagaimana,apa kata dokter?" Tanya Delia saat ia melihat Rey sedang berjalan menghampiri nya dengan tak bersemangat.
"Di mana mana?" Rey melirik mencari ibunya tapi tak ia temukan wanita yang membesarkannya itu.
"Ke kantin bersama Vio dan Kenan?" Jawab Delia masih dengan menatap Rey.
Rey lalu duduk di kursi di sisi Delia lalu menyandarkan kepala nya di tembok,hatinya begitu gelisah,terlihat jelas di wajahnya jika dia sedang tidak baik-baik saja
Delia lalu menautkan jemarinya dengan jemari Rey lalu mengelusnya dengan lembut.
"Apa kata dokter,semua baik-baik saja?" Tanya Delia lagi, karena pertanyaannya tadi belum di jawab Rey,walau tanpa di jawab,Delia sudah dapat menebak jika semua tidak baik-baik saja
"Katakan,jangan memendamnya sendirian."
Rey lalu menoleh dan menatap wajah Delia,ia merasa begitu nyaman dan tenang jika berada di sisi Delia.
"Tidak,semua tidak baik-baik saja,peluang hidupnya sangat kecil."
Mendengar itu,Delia tidak begitu terkejut sebagai seorang dokter jelas ia tahu kondisi Rosa.
"Jangan memberitahu kan mama dulu tentang keadaan Rosa,jika mama tahu dia pasti akan sangat syok dan khawatir.
"Iya,kamu benar mas,mama tidak boleh tahu ."
"Tidak boleh tahu apa,memang apa yang tidak boleh mama tahu?" Suara itu tiba-tiba terdengar oleh Rey dan Delia,mereka pun menoleh kearah sumber suara di mana ibu Rey sedang berjalan seorang diri menghampiri mereka.
Rey dan Delia saling pandang dengan terkejut karena ibu Rey tiba-tiba muncul di saat mereka tengah membicarakan kondisi Rosa.
"Mama sendirian,dimana Vio dan Kenan?" Tanya Delia saat menyadari ibu mertuanya itu berjalan sendirian.
"Kenan mau makan es krim,jadi Vio menemaninya beli es krim,Ramon yang mengantar mereka ke supermarket dekat sini." Jelas ibu Rey sambil duduk di samping Rey.
"Sekarang katakan apa yang tidak boleh mama ketahui?"
"Itu ma,Delia sedikit pusing,aku mengatakan kalau mama tidak boleh mengetahui nya karena itu akan membuat mama khawatir." Jelas Rey sambil memberi kode pada Delia.
"I...iya ma,aku merasa sedikit pusing."
Niat hati Rey dan Delia tidak ingin membuat ibunya cas,tapi karena alasan sakit nya Delia justru membuat ibu nya begitu cemas.Ibu Rey lalu berpindah duduk di samping Delia,ia menatap Delia begitu cemas.
"Kalau begitu pulang lah nak,untuk istirahat,mama tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Ucap Ibu Rey cemas.
Melihat kecemasan ibu mertua nya membuat Delia merasa bersalah,padahal sakit kepalanya hanyalah alasan saja.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Ma,aku baik-baik saja,ini mungkin pengaruh perjalanan saja ma." Ucap Delia menenangkan sang mertua sambil tersenyum tipis dan memberikan keyakinan pada ibu mertuanya itu jika dia baik-baik saja.
"Iya ma, mama jangan cas,Delia baik-baik saja,mama lupa kalau menantu mama ini dokter." Ucap Rey menimpali.
"Iya ya menantu mama ini kan dokter terbaik." Ibu Reyengulum senyum sembari mengelus rambut Delia lembut, kecemasan nya perlahan menghilang.
"Oh ya Rey,apa kata dokter?" Tanya ibu Rey lagi saat dirinya mengingat jika Rey tadi keruangan dokter.
Rey sedikit gugup dan berfikir untuk memberikan jawaban yang tepat untuk sang ibu.
"Semua baik-baik saja Ma."
"Syukurlah kalau begitu." Ibu Rey lega mendengar jika Rosa baik-baik saja.
"Di tempat lain,tepatnya di kediaman orang tua Rey ,ayah Rey duduk bersandar di tempat tidur,,menatap langit-langit kamar dengan fikiran berkecamuk. Bayangan masa lalu kini terus membayangi nya. Hatinya gelisah dan tak tenang.
Sedangkan ibu Rey begitu gelisah dan khawatir karena sedari hingga malam tiba suaminya tak kunjung kembali ke rumah sakit.
"Kamana ku Pa?"Gumam Ibu Rey khawatir.
"Kenapa Ma?" Tanya Delia saat melihat ibu mertua nya begitu gelisah,ia lalu meletakkan kantong plastik yang berisi makanan dia tas kursi yang terbuat dari besi itu.
Ibu Ibu Rey lalu menoleh ke arah Delia .
"Di ruangan Ramon Ma."
Ibu Rey lalu menghela nafas berat lalu duduk di kursi, kecemasan jelas tergambar di wajahnya.
"Mama baik-baik saja?"Tanya Delia sambil menatap ibu mertuanya.
"Mama sedang memikirkan papa mu,sampai sekarang kok belum kembali lagi." Lirih ibu Rey , sebagai seorang istri jelas ia mengkhawatirkan suaminya meskipun suaminya itu selalu membuatnya kesal
"Mungkin papa ,di rumah Ma,apa mama sudah menghubungi nya?"
Delia lalu membuka kantong plastik yang di bawanya tadi dan mengeluarkan kotak yang berisi makanan dan sebotol air mineral.
"Mna
"I...iya mama makan dulu,ya." Ucap Delia sembari membuka kotak makan lalu memberikannya kepada ibu mertuanya.
"Mama belum lapar,Del." Tolak ibu Rey,ia kehilangan selera makan karena terus memikirkan suaminya.
"Ini sudah lewat waktunya makan malam Ma,nanti mama sakit." Bujuk Delia lagi.
__ADS_1
"Mama kepikiran papamu,entah dimana dia sekarang,sudah makan apa belum?" Lirih ibu Rey.
Delia menghela nafas berat,ia paham akan perasaan ibu mertuanya itu,jika dia berada di posisi sang ibu mertua,dia pun akan melakukan hal yang sama. Tapi, membiarkannya melewatkan makan malam adalah keputusan yang salah.
"Mana sudah menghubungi nya?"
"Sudah berkali-kali tapi nomornya tidak aktif,itu yang membuat mama khawatir,takut terjadi sesuatu padanya karena tak biasanya dia mematikan ponselnya."
"Mama sudah menghubungi orang rumah?"
Ibu Rey menoleh ke arah Delia.
"Ma tidak kepikiran ke sana,untunglah kamu mengingatkan mama." Ibu Rey lalu menekan tombol nomor telfon rumahnya lalu menghubunginya.
"Bi,tuan sudah pulang?" Tanya ibu Rey saat telfonnya sudah tersambung dan di angkat oleh asisten rumah tangganya.
"Sudah Nya,dari sore tadi tuan sudah pulang." Jawab sang asisten rumah tangga di balik telfon.
"Dimana tuan?"
"Di kamar Nya,sejak pulang tadi tuan belum keluar makan malam?"
"Belum Nya,saya baru saja ke atas memanggil tuan makan tapi katanya tidak lapor."
"Ya sudah,kamu siapkan saja di meja mskan,saya segera pulang sekarang." Ibu Rey lalu mematikan panggilannya setelah di rasa tidak ada lagi yang ingin di ucapkan nya.
"Papa mu ada di rumah tapi belum makan." Ujar ibu Rey sembari memasukkan ponselnya ke dala tas mewah miliknya.
"Mama mau kemana?" Tanya Delia saat melihat ibu mertuanya beranjak dari kursinya padahal sang ibu mertua belum menyentuh makanannya.
"Mama mau pulang dulu,kasian papa mu, dia belum makan." Ucap Ibu Rey lalu melangkah meninggalkan Delia yang masih terbengong melihat kepergian ibu mertuanya.
Ia hanya menatap nanar punggung ibu mertuanya yang berjalan semakin menjauh.
"Sayang..." Panggil Rey lalu berjalan menghampiri Delia yang duduk termenung seorang diri.
"Mas." Delia sedikit tersentak saat Rey menepuk bahunya pelan.
"Kamu sendirian,dimana mama?" Tanya Rey sembari duduk di samping sang istri.
"Pulang." Ucap Delia lemas.
"Oh..ya sudah ,yuk kita pulang juga besok kita kemari lagi." Ajak Rey karena waktu sudah sedikit larut .
__ADS_1