
Boy kini telaah terkapar tak berdaya di atas lantai dengan bertelanjang dada, hanya sekali pukulan Boy sudah lemas tak berdaya, tulang-tulangnya serasa ingin lepas dari kulitnya akibat pukulan Rey yang bertubi-tubi seperti orang kesetanan.
Rey mengikat kedua tangan Delia menggunakan selimut agar Delia tidak membuka pakaiannya sendiri.
Cup ....
Sebuah kecupan di berikan Rey di pipi Delia,ia begitu tersiksa melihat Delia dalam penyiksaan yang teramat sangat karena menahan gejolak dan gairah yang begitu menggebu-gebu.
Setelah memastikan Delia aman ,meski tubuhnya masih menggeliat-geliat di atas tempat tidur,tapi setidaknya Delia tidak akan menelanjangi dirinya sendiri .
"Kamu akan mendapatkan hukuman setelah ini." Bisik Rey tepat di telinga Delia yang terus saja mencoba ingin mencumbu Rey . Rey lalu mengecup kening Delia untuk menyalurkan ketenangan pada Delia Setelah itu matanya mengarah ke arah Boy yang berusaha berdiri.
Rey berjalan ke arah Boy sambil menggulung lengan kemejanya.
Bugh....
Bugh...
Bugh...
Hantaman demi hantaman ia arahkan ke tubuh dan wajah Boy yang sudah tak berdaya.
"Brengsek,beraninya kau menyentuh milikku."
Bugh...
Pukulan Rey kembali mengenai wajah Boy.Hingga tubuh Boy benar-benar sudah tak berdaya,wajahnya bahkan sudah di penuhi luka dengan darah segar yang mengalir dari hidung dan bibirnya.
Rey berdiri lalu mengangkat sebelah kakinya dan bersiap ingin menginjak kan kakinya di atas perut Boy.
__ADS_1
"Hentikan....hentikan Rey." Teriak Ramon yang baru saja muncul dari arah pintu,Rey menatap ke arah Ramon sebentar lalu kembali menatap Boy yang sudah hampir kehilangan kesadarannya akibat pukulan Rey padanya.
"Hentikan,Rey..." Cegah Ramon sambil menarik tubuh Rey yang sudah bersiap akan menginjak tubuh Boy.
Rey menatap wajah Ramon dengan tatapan membunuh nya.Seketika wajah Ramon berubah pucat antara takut dan panik melihat kemarahan Rey.Selama mengenal dan bersahabat dengan Rey ini kali pertama Ramon melihat puncak kemarahan Rey yang ternyata begitu sangat menakutkan.Ramon bergidik ngeri melihat kondisi Boy yang begitu mengenaskan,wajah tampannya pun kini tak nampak,yang ada hanyalah bekas pukulan dari Rey.
Bugh....Rey memukul tembok yang ada di belakangnya, melampiaskan sisa-sisa Kemarahan yang masih menguasai nya.
Ramon melangkah mendekat ke arah Rey yang menghadap ke tembok , punggungnya terlihat naik turun menandakan ia masih dalam kemarahan yang besar.
"Jangan mengotori tangan mu dengan membunuh pria kotor itu." Ucap Ramon sambil memegang pundak Rey,tapi matanya melirik ke arah Boy .
Rey menoleh ke arah Ramon.
"Dia sudah melewati batasnya, beraninya dia ingin menjebak dan menyentuh istriku." Ucap Rey Dengan dingin,tatapan nya menatap tajam ke arah Boy yang masih terbaring begitu lemah di atas lantai yang dingin.
"Di mana kakak ku?" Tanya Revan saat masuk kedalam kamar bersama beberapa orang ,Rey dan Ramon menoleh ke arah pintu dan melihat Revan sedang berjalan mendekati mereka dan beberapa orang sedang berdiri di depan pintu.
Beberapa orang itu pun segera mengangkat tubuh Boy yang sudah lemas tak berdaya dengna wajah dan tubuh yang penuh luka.
"Bawa dia ke tempat biasanya,dan kalian pasti apa yang harus di lakukan." Lanjut Rey lagi.
"Baik bos." Jawab serentak orang - orang Rey.
Rey kemudian berjalan mendekat ke arah tempat tidur,dimana Delia sedang menggeliat.ia menatap wajah Delia yang sudah tak terkendali tak sadar denagn apa yang di lakukan nya.
"Bagaimana cara menyadarkannya?" Tanya Rey sambil duduk menatap Delia yang masih terikat selimut, sementara Revan yang melihat kakaknya yang sedang tidak baik-baik saja,segera mendekat.
"Jangan menyentuh istriku." Bentak Rey saat melihat Revan yang baru saja akan naik ke tempat tidur.Mendangar ucapan Rey ,Revan terpaksa menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Rey yang tengah duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengelus rambut Delia lembut.
__ADS_1
"Aku ingin melihat kakak ku." Ucap Revan lalu kembali ingin mendekati Delia.
""Berhenti di situ,Delia tidak apa-apa." Ucap Rey.
"Tidak ada obatnya selain itu.." Ujar Ramon lalu menatap ke arah Rey,sedangkan Revan hanya bisa menautkan alisnya Karna bingung arah pembicaraan Ramon.
Ramon berjalan mendekati Rey sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya,sedangkan Revan yang tadinya ingin melihat Delia terpaksa membatalkan niatnya setelah melihat tatapan Rey padanya yang seakan ingin membunuhnya.
"Ini kesempatan mu, untuk kembali padanya,lakukan saja bukankah kamu sudah lama berpuasa, saatnya berbuka puasa." Bisik Ramon tepat di telinga Rey dengan senyum penuh maksud .
Rey kemudian melirik ke samping di mana Ramon telah berdiri di sampingnya.
" Hhhhmmmm....kalian pulanglah." Usir Rey .
Ramon dan Revan saling berpandangan saat Rey menyuruh mereka pergi.
"Tapi bagaimana dengan kakakku,tidak mau meninggalkan nya sendirian disini." Tolak Revan.Rey dan Ramon menatap ke arah Revan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Rey akan mengurus kakakmu." Ujar Ramon sambil menarik tangan Revan untuk keluar dari kamar meninggalkan Rey dan Delia.Revan yang tak bisa berbuat apa-apa terpaksa harus meninggalkan Delia bersama Rey dan mengikuti langkah Ramon keluar dari kamar.
Sepeninggal nya Ramon dan Revan,kini Rey membuka selimut yang mengikat tubuh Delia,saat selimut sudah tak lagi menghalanginya,Delia dengan cepat menarik tubuh Rey , hingga tubuh Rey terbaring di atas kasur,dan dengan liarnya Delia mencumbu Rey.Sedangkan Rey hanya dapat pasrah melihat tingkah liar Delia sambil menahan tawanya Karna tak menyangka jika istrinya itu sangat agresif.
Mereka pun bergumul di atas tempat tidur,hingga sepanjang malam hingga berkali-kali seakan tenaga mereka tak ada habisnya.
Pagi telah tiba,kedua insan yang semalam sedang menghabiskan malam panjangnya kini masih terlelap di bawah selimut yang sama dengan tubuh yang tak di bungkus sehelai kain pun.
Hhhmmm...Delia menggeliat kan tubuhnya,lalu perlahan membuka matanya, sambil mengumpulkan kembali nyawanya yang masih beterbangan, samar-samar ia membuka matanya,dan betapa terkejutnya ia saat pandangan matanya langsung tertuju ke wajah tampan Rey masih terlelap tepat di depan wajahnya,sontak Delia bangun dari tidurnya,baru saja akan berdiri selimut yang menutupi tubuhnya sedikit melorot hingga memperlihatkan dadanya,Delia lalu kembali menarik selimut itu untuk menutupi rubuhnya saat menyadari dirinya tidak berpakaian,dengan kepala yang masih berat dan sedikit pusing,Delia mengumpulkan ingatannya untuk mengingat kejadian semalam.Ia benar-benar bingung sekarang.
"Apa yang terjadi?" Gumam Delia bingung lalu menatap ke arah Rey yang masih tidur.Ia lalu menghela nafas berat saat potongan -potongan kejadian semalam bermunculan di otaknya.
__ADS_1
"Untung saja bukan pria brengsek itu , terimakasih telah menolong ku,tidak...kamu pasti kesenangan kan mengatakan kesempatan ini,huch...menyebalkan untung saja kamu suamiku kalau tidak entah apa yang akan terjadi padaku,mungkin aku akan mengakhiri hidup saat ini juga jika pria brengsek itu berhasil menyentuhku." Ujar Delia sambil mengelus lembut rambut Rey,ia kemudian mengecup kening Rey,hatinya begitu lega karna bisa selamat dari jeratan Boy,tapi ia masih bingung bagaimana bisa Rey tiba -tiba berada di hotel ini.
"Hanya itu caramu berterima kasih." Ucap Rey tiba-tiba saat Delia baru saja melepas kecupan manis di keningnya, sedangkan Delia yang tertangkap basah tengah mencuri ciuman dari Rey begitu terkejut ia lalu menatap wajah Rey dengan mata masih tertutup tapi bibirnya mengembangkan senyum bahagia.