
Di Jerman Rosa sedang melakukan aktivitas seperti biasanya,hari- hari nya kini telah di sibukkan berbagai aktivitas yang tentu saja masih dalam pengawasan.
Sementara Vio di sela kesibukannya,ia masih saja mencari tahu keberadaan orang tua Rey, semenjak terakhir kali mereka bertemu di Indonesia Vio dan ibu Rey tak lagi berkomunikasi,bukan tak mau tapi nomor ponsel ibu Rey sudah tak dapat lagi di hubungi.Hingga akhirnya Vio berada di Jerman dan menceritakan segalanya pada Ramon,namun saat Ramon dan Vio ingin menemui Rosa di rumah sakit di mana Vio juga pernah di rawat di sana,mereka tak lagi menemukan Rosa.
Menurut dokter yang merawat Rosa , keluarga Rosa sudah membawanya keluar dari rumah sakit,katanya mereka akan pindah di kota lain di Jerman dan dengan terpaksa mereka harus membawa serta Rosa,padahal ayah Rey mengetahui jika Ramon bekerja di rumah sakit tempat Rosa di rawat,ia yang tak ingin berhubungan lagi dengan Rey terpaksa memindahkan Rosa,jika tidak Ramon pasti akan memberitahu keberadaan Rosa.Egois memang, hanya karna sebuah kesalahan di masalalu hingga membuat hubungan yang dulu begitu dekat kini terbentang jauh.
"Aku tidak tahu lagi kemana harus mencarinya,jika mereka masih tinggal di Jerman pasti kita akan mendapatkan alamatnya atau informasi mengenai keluarga mereka." Ucap Vio yang terlihat putus asa,lima tahun ia mencari keberadaan keluarga suami kakaknya itu,tapi sepertinya mereka menghilang tanpa jejak.
"Kita pasti akan menemukannya,jangan mengganti nomor ponselmu,aku yakin Tante Sukma akan menghubungi mu suatu hari nanti,cepat atau lambat." Ujar Ramon yakin, keyakinannya itu bukan tanpa alasan, kondisi Rosa yang akan membutuhkan darah akan membuat ayah Rey mau tak mau pasti membutuhkan Rey kecuali ayah Rey tak ingin menolong sang cucu,karna selain almarhum ayah kandung Rosa yaitu kakak Rey hanya Rey yang punya golongan darah yang sama, sedangkan pak Gunawan sang opa tak bisa membantu mendonorkan darahnya selain karna usia yang sudah lanjut ia pun punya penyakit diabetes.
"Maksudmu?" Tanya Vio bingung dengan ucapan Ramon.
Ramon menghela nafas berat,kamu ini benar-benar lulus karna cerdas atau hanya tembak ijasah saja sih." Ujar Ramon .
"Jangan mengejekku,aku ini lulusan luar negeri dengan IPK terbaik ." Ujar Vio kesal tak terima dirinya di katai seperti itu.
Ramon terkekeh mendengar ocehan Vio,ia akan sangat menyukai jika melihat Vio terlihat kesal ,yang sangat menggemaskan di mata Ramon.
__ADS_1
"Dengar ya." Ramon lalu menatap Vio dengan dalam, sebelum memulai ia mengambil nafas perlahan lalu menghembuskan nya.
"Rosa mengidap leukimia stadium empat,suatu keajaiban hingga hari ini Rosa masih bertahan hidup,bukan ingin mendoakan yang buruk untuk Vio tapi kenyataannya seiring berjalannya waktu kondisi nya akan sangat menurun,dan saat itu tiba Rosa akan membutuhkan Rey,ia akan membutuhkan donor darah dari Rey karena hanya Rey yang cocok dengan golongan darah Rosa." Jelas Ramon.
Tanpa di perjelas lagi Vio kini paham kemana arah pembicaraan Ramon.
"Tapi sebelum itu terjadi kita harus mempertemukan Tante Sukma dan Rey dulu,aku yakin Tante Sukma masih begitu merindukan Rey." Ucap Ramon lagi.
"Tapi bagaimana caranya?"
"Tenang saja semua sudah di kerjakan Revan ,biarkan dia yang bekerja , Revan sudah menemukan informasi mereka dan alamat mereka,mereka tinggal disalah satu kota di negara ini dan cukup jauh dari kota ini,kita akan berangkat Minggu depan ke kota itu untuk menyelesaikan misi kita." Ucap Ramon lalu beranjak dari duduknya .
"Kenapa tidak memberitahuku,jadi selama ini aku hanya melakukan pekerjaan yang sia-sia." Kesal Vio sambil menumpuk bahu Ramon dengan menggunakan sebuah bantal sofa yang ada di ruang kerja Ramon.
"Kamu tidak bertanya." Ucap Ramon santai tanpa rasa bersalah,ia lalu melangkah keluar meninggalkan Vio yang masih menahan kesal karena di kerjai abis-abisan oleh kedua pria tersebut .
Vio pun keluar dari ruang kerja Ramon mengikuti Ramon yang sudah terlebih dahulu keluar, keduanya akan memulai misi mereka untuk menyatukan keluarga Rey hingga mereka bisa kembali bersatu seperti dulu.
__ADS_1
Jika Vio ,Ramon dan Revan tinggal di kota Berlin Jerman maka orang tua Rey kini berada dan menetap di kota Hamburg, kota terpadat kedua setelah kota Berlin.
Disebuah rumah yang cukup mewah,berlantai dua yang terletak di salah satu perumahan elit di kota Hamburg, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan elegan sedang duduk bersandar di sebuah taman yang berada di belakang rumah miliknya,ia memandang sebuah foto yang selama lima tahun ini selalu di tatapnya,sebuah pose pria tampan yang berbalut jas mewah,dan seorang gadis kecil yang berada di gendongan nya ,mereka terlihat berpose dengan senyum yang begitu lepas,senyum yang seolah tak akan pernah memudar,senyum yang begitu membahagiakan.
"Bagaimana kabarmu Nak? apa yang sedang kamu lakukan? masihkah kamu ingat dengan wanita tua ini?" Lirih wanita itu yang tak lain adalah ibu Rey sedangkan foto yang di tatapnya adalah foto Rey dan Rosa,diusapnya gambar yang berada di dalam bingkai berukuran kecil itu.
Sejak suaminya memutuskan untuk tinggal di Jerman,ia semakin kehilangan kabar dari Rey dan keluarga kecilnya,lima tahun berada di kota ini tidak membuat ibu Rey melupakan sang putra,dan selama itu pun ia hanya mampu memendam rasa rindu yang begitu mendalam pada sang putra,hanya menatap fotonya saja yang sedikit mengobati rasa rindu yang selalu melanda dirinya.
"Oma..." Panggil seorang gadis kecil yang beranjak remaja itu.
Ibu Rey lalu menoleh ke arah sumber suara itu,lalu mengembangkan senyumnya saat melihat gadis kecil itu berjalan menghampiri nya.
"Sudah pulang kamu sayang ." Ucap ibu Rey ,raut wajah kesedihan yang dulu nampak kini telah berubah ceria saat menyadari kedatangan Rosa.
"Iya ,Oma lagi ngapain?" Rosa lalu duduk di kursi yang ada di samping Omanya.
"Tidak ngapain-ngapain sayang,Oma gak ada kerjaan jadi ya duduk di saja ."
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Rosa saat melihat sebuah bingkai kecil yang berada di pangkuan sang Oma.
"Oh ini...buka apa-apa." Ucap ibu Rey lalu menyimpan bingkai itu di belakang nya,ia tak ingin Rosa tahu siapa sosok yang berada di bingkai foto itu,karena jika Rosa tahu maka bisa di pastikan Rosa akan mengalami tekanan dan kesedihan karena merindukan sang paman yang selalu di panggilnya Daddy itu dan jika itu akan mempengaruhi kondisinya yang kini semakin membaik.