Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 68


__ADS_3

"Aku ingin pernikahanku segera di laksanakan dad,sebelum Rey berubah fikiran lagi." Ujar Mona,ia tidak ingin kehilangan Rey untuk yang kesekian kalinya.


""Tenanglah,sayang selama Handoko berada dalam kendali Daddy,semua akan berjalan sesuai keinginan mu,kamu akan memiliki Rey." Ucap ayah Mona dengan seringai jahatnya.


Ayah Mona adalah orang yang sangat berbahaya,ia tidak akan segan-segan melenyapkan orang - orang yang di anggapnya membahayakan dirinya.


Dan kelicikan Mona menurun dari ayahnya, ambisius dan tak ingin di kalahkan.


"Tapi,Daddy lihat kan bagaimana Rey masih begitu dingin padaku."


"Berikan dia waktu untuk menyelesaikan masalahnya,tapi terus dampingi dirinya ."


"Bagaimana Mona bisa berada di samping Rey terus dad,kalau dia selalu saja menghindari Mona dan memilih pekerjaannya itu ." Sungut Mona kesal lalu duduk di sofa samping ayahnya,saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga.


"Bersiaplah,malam nanti kita akan ada acara makan malam di restoran bersama Rey dan orang tua nya." Ujar ayah Mona sambil membaca majalah yang di pegangnya.


"Benarkah?" Mona menoleh ke arah ayahnya dengan senyum bahagia.


"Hmmmmmm..."


"Baiklah,Mona ke salon dulu sekarang." Mona lalu berlalu meninggalkan ayahnya di sofa seorang diri.Ayah Mona hanya menggeleng pelan melihat tingkah putri kesayangannya itu.


Setelah kepergian Mona,ayah Mona kemudian beranjak ke ruang kerjanya untuk menghubungi seseorang.


"Lenyapkan dia, bagaimana pun caranya." Perintah ayah Mona pada seseorang di balik telfon.Ia lalu mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja kerjanya dengan kasar.


"Jika dia selamat,semua nya akan hancur ...ini tidak boleh terjadi, butuh bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan segalanya,dengan susah payah dan kerja keras,aku tidak ingin kehadiran nya merusak segala kerja kerasku selama bertahun-tahun ini." Ujar ayah Rey pada dirinya sendiri.


Sementara dirumah orang tua Rey,mereka sedang makan malam tanpa Rey,semenjak kejadian itu Rey jarang kerumah bahkan hampir tak pernah,ia hanya datang sesekali untuk menemui sang ibu untuk melepas rindu,Rey pun jarang juga tinggal di apartemen karna itu akan mengingatkan nya pada Delia,jadi dia memilih menyibukkan diri dengan bekerja,bahkan hari-harinya hanya di habiskan untuk bekerja dan bekerja saja,ia bahkan lebih sering tinggal di kantor daripada di rumah atau apartemen nya,ruangan Rey memang di lengkapi dengan kamar pribadi yang cukup luas yang terhubung langsung di dalam ruangan nya,jika tidak di perhatikan dengan seksama tidak akan ada yang menyadari jika di belakang kursi kerja Rey yang terdapat lukisan tergantung sebenarnya adalah pintu rahasia yang terhubung ke kamarnya.

__ADS_1


"Sudah seminggu ini Rey tak pernah kerumah ini lagi,mama khawatir pa,Rey seolah kehilangan penopangnya." Ujar ibu Rey saat mereka tengah berada di kamar setelah menghabiskan makan malam hanya berdua saja.


"Papa juga khawatir,tapi mau bagaimana lagi." Balas ayah Rey yang tengah duduk di tempat tidur dengan bersandar ."Pikirannya kalut ada rasa bersalah yang begitu besar di hatinya tapi ia pun belum siap jika Rey mengetahui semua kenyataan itu,biarlah dia mengorbankan orang lain demi keutuhan keluarga nya,walau terlihat egois tapi tak ada jalan lain,harus ada yang di korbankan,dan itu adalah saksi kunci atas segala kesalahan masa lalu.


"Apa sebaiknya kita memperbaiki hubungannya dengan Delia,wanita itu terlihat begitu baik dan lembut,mama sudah menyukainya sejak pertemuan pertama saat dia menangani Rosa."


Sejujurnya ayah Rey pun setuju,tapi jika itu terjadi tentu ayah Mona tidak akan tinggal diam ,dia pria yang sangat berbahaya,dan ayah Rey terlanjur bersekutu dengannya dan itu membuatnya tak berdaya.


Ayah Rey menghela nafas berat,seberat beban dan pikirannya saat ini,hati nya saling berdebat antara baik dan jahat,kadang timbul di hatinya untuk berkata jujur dan mengakhiri segalanya tapi ia pun belum siap kehilangan segala yang di milikinya kini.


"Beri dia waktu,semua akan baik- baik saja seiring berjalannya waktu." Ucap ayah Rey lalu merebahkan tubuhnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Ibu Rey pun mengikuti sang suami,berbaring membelakangi suaminya.


...****************...


Kini Rey dan Dion sudah berada di Surabaya,mereka kini tengah berada di rumah sakit untuk melihat langsung tahap penyelesaian rumah sakit.


"Apa semua sudah rampung dengan sempurna,bos tidak ingin ada kesalahan sedikit pun nanti nya." Ujar Dion,Rey hanya berjalan pelan mengamati setiap pembangunan itu.Semenjak berpisah dengan Delia,Rey semakin pelit berbicara,ia hanya akan berucap jika itu sangat penting,selebihnya Dion yang menjadi penyambung lidahnya.


"Bos,kita ada pertemuan Dengan gubernur siang ini." Lanjut Dion lagi mengingatkan Rey.


"Hhhhhhmmmm." Rey hanya menjawab dengan deheman yang membuat Dion sedikit kesal.


Rey berjalan meninggalkan Dion dan pengawas itu.


Raganya ada bersama yang lain tapi pikirannya melanglang buana entah kemana.


"Apakah bos ,ingin bertemu tuan Ramon dulu,hari ini dia ada dirumah sakit X ,ada pasien yang tengah membutuhkan pertolongannya." Ujar Dion sambil berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan langkah Rey.

__ADS_1


Rey hanya terdiam melanjutkan langkahnya ,tidak peduli dengan ucapan Dion yang terus saja bercoloteh.


"auuuuhhhhhh." Dion merintih kecil sambil mengusap-usap dahinya yang menabrak bahu Rey yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya,karna kesal mendengar celotehan Dion yang tak berhenti.


Rey hanya berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa peduli kesakitan Dion,Rey kini semakin dingin dan datar.... matanya menatap tajam kedepan hatinya beku,tak ada lagi kelembutan yang terpancar di mata nya kini.


Di tempat lain,Delia sedang bersiap untuk keluar,ia kini berada di rumah sederhana yang di sewanya,sedangkan Revan berada di rumah sakit untuk menjaga ayahnya dan Vio.


Seorang dokter pria tengah memeriksa ayahnya, sepertinya dokter itu dokter baru karna Revan baru melihatnya,dokter yang selama ini pun yang menangani ayahnya tidak terlihat.Revan mengerutkan alisnya bingung.


"Anda dokter baru?" Tanya Revan curiga,ia menelisik tubuh dokter itu dengan seksama karna merasa asing.


"OOO kamu, keluarga pasien?" Tanya dokter itu berbalik menatap Revan dengan senyum ramah.


Revan mengangguk sebagai jawaban.


"Hanya kamu?" Tanya dokter itu lagi, karena melihat usia Revan yang kelihatan nya masih remaja.


"Tidak,ada kakak saya dok,tapi. dia pulang sebentar ada urusan." Jelas Revan.


"Anda dokter baru?"


"O iya,saya dokter pengganti sementara untuk menangani pasien ini." Jawab dokter itu .


Revan tersenyum dan di balas senyum dokter itu lagi .


"Nama kamu siapa?"Tanya dokter itu lagi.


"Revan."

__ADS_1


" O baiklah Revan,kalau begitu saya permisi dulu, sebentar saya kemari lagi untuk mengecek kondisi pasien." Seru dokter lalu beranjak meninggalkan kamar perawatan ayahnya.


Revan menatap kepergian dokter muda itu hingga menghilang di balik pintu.


__ADS_2