
Sinar mentari mulai menerpa melalui celah-celah jendela kamar milik Delia,Rey yang semalam terkapar tak berdaya mulai membuka matanya secara perlahan-lahan,kepalanya masih terasa berat dan sedikit pusing,matanya matanya menyapu bersih seisi ruangan tempatnya berada saat ini.Saat matanya ke samping ia mengembangkan senyum bahagia melihat wanita yang di rindukannya itu sedang tertidur sambil menangkupkan wajahnya di samping tempat tidur Rey sambil duduk di lantai,nampak tidurnya begitu pulas Karna semalaman Delia tidak tidur demi menjaga kondisi Rey,Delia baru bisa terlelap selepas subuh tadi setelah sholat subuh dan memastikan suhu tubuh Rey sudah tidak panas lagi.
Rey memandang Delia begitu lekat,hatinya sungguh di warnai rasa bahagia melihat ke khawatiran dan perhatian Delia masih sama seperti dulu.
Rey menutup matanya kembali saat ia melihat Delia menggeliat dan perlahan membuka matanya,lalu duduk memperbaiki posisinya,ia kemudian menatap ke arah Rey yang masih terpejam padahal Rey pura-pura masih tidur.
Delia menempel kan telapak tangannya di dahi Rey untuk memastikan suhu tubuh Rey, setelah di rasa sudah normal Delia lalu mengambil handuk yang di tempel di dahi Rey sejak semalam.Kemudian beranjak dari duduknya.
Krakkkkk....suara deretan pintu kamar mengalihkan tatapan Delia kearah pintu,dengan senyum tipis ia tersenyum pada Revan yang membuka pintu kamarnya lalu masuk kedalam medekat ke arah tempat tidur Delia, dimana Rey masih pura-pura terlelap.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Revan sambil menatap kearah Rey.
"Panasnya sudah turun." Jawab Delia sambil berdiri dari duduknya." Kamu jaga dia dulu,kakak mau menyiapkan sarapan."Lanjut Delia sambil berjalan kearah pintu menuju dapur, sedangkan Revan mengangguk lalu duduk di pinggir tempat tidur di samping Rey.
"Bangun kakak ipar, sandiwara mu sudah tidak berlaku padaku." Ucap Revan saat ia memastikan Delia sudah menghilang dari balik pintu.
Rey membuka matanya lalu duduk bersandar dan bug...ia memukul kepala Revan menggunakan bantal,Ravan yang mendapat serangan tiba-tiba terperanjat kaget dan dengan spontan berdiri dari duduknya sambil mengusap kepalanya bekas pukulan bantal yang di lakukan oleh Rey .
"Kenapa memukuliku?" Protes Revan masih mengusap kepalanya.
Rey menatap Revan dengan tatapan mematikan,melihat tatapan Rey pada nya Revan tersenyum tipis sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V lalu kembali duduk di depan Rey yang masih bersandar di sandaran tempat tidur.
"Kamu benar-benar ya,mau membunuhku Karna kedinginan di luar semalam." Kesal Rey saat mengingat dirinya berdiri di bawah hujan lebat dengan setelan lengkap atas ide konyol Revan .
"Tapi kan berhasil." Ucap Revan membela diri.
__ADS_1
"Kamu benar-benar ya,adik ipar kurang ajar." Sentil Rey masih kesal karna di kerjai abis-abisan oleh anak bau kencur di depannya ini,jika saja dia bukan adik istrinya sudah habis tubuh Revan di jadikan rempeyek.Selama hidupnya ini pertama kalinya ia melakukan hal konyol demi meluluhkan hati seorang wanita.
"Maaf kak, semalam aku ketiduran dan lupa kalau kakak ipar masih berada di luar ,aku benar-benar lupa,untung saja ada petir yang mengejutkan ku dan aku langsung mengingat kakak yang masih berdiri di luar,kenapa juga kakak tidak masuk di teras rumah dan mengetuk pintu."
Plakkk....Rey kembali menjitak kepala Revan saat dirinya mengetahui jika Revan ternyata keasyikan tidur dan melupakan dirinya yang kehujanan di luar.
"Ini semua karna ide konyol mu."
"Hemmmmm...ada apa ini?" Seru Delia saat berada berdiri di depan pintu kamarnya,Rey dan Revan menatap kearah Delia.
"Hehehe ini kak ...katanya kepala kakak ipar masih berat dan pusing." Ucap Revan sambil berdiri dari duduknya untuk memberi tempat pada Delia.
Delia menaruh nampan berisi bubur dan segelas air putih,lalu menempelkan telapak tangannya ke dahi Rey.
"Sudah normal,mungkin hanya efek lelah semalaman berada di bawah hujan." Tekan Delia menyindir Rey ,ia begitu kesal melihat tingkah ke kanak-kanakan Rey semalam yang dengan bodohnya bermandikan hujan dengan pakaian lengkap.
Revan menahan tawanya saat mendengar Omelan Delia yang bernada sindiran,sedangkan Rey melirik kesal ke arah Revan Karna berani menertawakan nya.
"makan sarapannya lalu minum obatmu,kalau sudah baikannya ,segera pergi dari sini." Lanjut Delia sambil duduk di depan Rey lalu mengambil mangkuk di atas meja yang berisi bubur buatannya.
Rey membuka mulutnya saat Delia meyuapinya dengan pelan,ada rasa bahagia yang tak bisa di jelaskan olehnya,yang pasti ia menikmati momen ini,jika boleh meminta ia akan rela sakit lebih lama lagi agar dirinya bisa mendapatkan perhatian dari istrinya ini.
"O ..ya kak aku pamit ya,mau ke kampus." Ucap Revan sambil berjalan keluar.
"Sarapan dulu,sudah ada di meja." Ucap Delia.
__ADS_1
"Oke..."
Delia menatap wajah Rey dengan seksama,seolah mencari sesuatu di wajah itu.
"Kamu sudah baikan kan?" Tanya Delia sambil memasukkan suapan terakhir di mulut Rey.
"Belum,kepalaku masih pusing dan agak berat." Ucap Rey lemah ,padahal sebenarnya dia sudah lebih baik,hanya saja ia akan bersandiwara sakit saja biar dia bisa lebih dekat dengan Delia.
"Ya sudah istirahat lah,atau aku panggilkan dokter Ramon saja untuk memeriksa kondisi mu." Tawar Delia sambil membereskan mangkok bekas makan Rey lalu menyimpan nya kembali diatas nampan yang berada di meja,setelah itu Delia mengambil gelas yang berisi air putih dan di berikan kepada Rey.Rey menerimanya dengan senang hati dan bahagia yang tak terkira.
"Tidak perlu,kan ada kamu." Ucap Rey menolak sambil memberikan gelas yang berisi air setengahnya setelah setengah nya di minumnya.
Delia memutar bola matanya malas,tapi ia juga tidak tega membiarkan Rey pulang dengan kondisi yamg masih lemah seperti ini.
"Baiklah,hari ini kamu bisa menginap,tapi ingat hanya hari ini,besok kamu harus pulang." Ucap Delia lalu memberikan obat kepada Rey dan Rey menerima obat itu lalu di masukkan ke mulutnya.
"Kalau kondisiku masih lemah,apa aku boleh menambah beberapa hari untuk tinggal?" Tawar Rey dengan puppy eyes nya.
Melihat itu membuat Delia jadi bimbang sendiri, baiklah satu Minggu,hanya satu Minggu setelah itu kamu harus pergi dari sini."
"Baiklah..." Ucap Rey antusias,ia begitu bahagia mendapatkan kesempatan untuk tinggal lebih lama bersama Delia,dan kesempatan ini ia akan gunakan sebaik mungkin untuk meluluhkan hatinya.
"Ya sudah istirahat lah,aku mau beres-beres dulu." Delia beranjak dari tempatnya membawa nampan yang berisi mangkok dan gelas bekas makan Rey.
"Kamu tidak bekerja?" Tanya Rey menghentikan langkah Delia yang sudah berada di ambang pintu.
__ADS_1
"Tidak.." Ucap Delia tanpa menoleh ke arah Rey ,lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar.