Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 70


__ADS_3

Delia baru saja kembali dari rumah yang di sewanya,sedangkan Revan di rumah sakit menjaga ayahnya dan Vio.Revan yang sedang jenuh menunggu di kamar beranjak dari duduknya ,dia ingin keluar berjalan -jalan sebentar untuk melepas kejenuhan nya karna sudah sebulan ini waktunya di habiskan di rumah sakit dan sekolah saja.


Sesaat saat Revan keluar dari kamar ayahnya , seorang perawat pria memasuki kamar itu dengan mengendap-endap,ia membawa sebotol cairan obat dan sebuah jarum suntik, dengan pelan dan setelah di rasa aman, perawat itu membuka pintu kamar ayah Delia.


Setelah masuk keruangan itu, perawat itu melangkah pelan mendekati ayah Delia yang tergeletak tak berdaya,dengan seringai licik perawat itu menyuntikkan sesuatu ke slang infus yang terpasang di tangan ayah Delia.


Setelah selesai melakukan tugasnya, perawat itu berlalu pergi meninggalkan ayah Delia yang mulai merasakan reaksi obat itu,saat akan membuka pintu kamar perawat itu di kejutkan dengan kedatangan Revan yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Apa terjadi sesuatu pada ayah saya?" Tanya Revan tanpa curiga,ia pikir perawat itu sedang memeriksa kondisi ayahnya.


"Tidak,saya hanya saja memeriksa cairan infus pasien." Jawab perawat itu sedikit gugup tapi sekaligus lega karna tindakan nya tidak di lihat Revan.


Revan hanya mengangguk pelan mendengar jawaban perawat pria itu.


"Permisi.."Perawat itu berjalan cepat meninggalkan Revan sebelum obat itu benar-benar beraksi.


Setelah kepergian perawat itu,Revan masuk ke kamar ayahnya tanpa ada rasa curiga sedikit pun.Namun baru saja akan duduk di sofa matanya menatap ke arah ayah nya.


Tidak ada keanehan yang di lihatnya,sampai pada detik saat Revan ingin membaringkan tubuhnya di sofa ,ia di kejutkan dengan tubuh ayahnya yang tiba-tiba bergetar,seolah ada sengatan listrik yang mengenai tubuh ayahnya,dengan sigap Revan berjalan ke arah ayah nya dan matanya melotot melihat kondisi ayahnya yang kejang dan mengeluarkan busa.Dengan cepat Revan menekan tombol darurat yang berada di dinding tepat di atas kepala ayahnya.


Tidak menunggu lama,dokter dan perawat lainnya bergegas ke kamar ayahnya,saat dokter tiba di kamar itu,ia dan beberapa perawat segera memberikan pertolongan,butuh beberapa menit untuk menghentikan kejang ayahnya dan busa yang keluar dari mulut ayahnya itu sudah di hentikan,hanya saja tubuhnya masih kejang dan hampir saja gagal nafas jika saja dokter tidak segera memasang tambahan oksigen dan mencabut slang infus yang terpasang di tangan ayahnya.


Braakkkkk


Pintu kamar perawatan ayah Delia di buka dengan kasar,semua orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arah pintu karna suaranya begitu mengganggu, sementara Delia,pelaku yang membuka pintu berdiri terdiam di ambang pintu,dan semua orang yang tadi menoleh kembali ke aktivitas Meraka masing-masing.


Delia melangkah pelan mendekati Revan yang tengah berdiri di dekat pintu dan matanya menatap dokter dan para perawat itu.


"Apa yang terjadi?" Tanya Delia memecah keheningan dengan raut penuh rasa khawatir.

__ADS_1


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya karna dokter masih sibuk memeriksa kondisi ayahnya,sedangkan Revan masih syok dengan apa yang di lihatnya tadi.


Tidak mendapatkan respon siapapun Delia mendekati dokter yang tengah sibuk memeriksa ayahnya.


"Apa yang terjadi pada ayahku?" Tanya Delia lagi pada dokter yang berada di sampingnya,dokter itu menoleh saat mendengar pertanyaan Delia.


Deg....deg....


Delia dan dokter itu seketika saling menatap, seolah-olah mengingat sesuatu.


"Kau..."Ucap Delia dan dokter itu bersamaan saat mereka sudah mengingat kejadian yang sama.


"Bukankah kamu dokter yang bersama dengan Rey waktu di Singapura?" Tanya Ramon,ya dokter itu adalah dokter Ramon,dokter yamg di tunjuk untuk menangani langsung ayah Delia karna kasus penyakit yang cukup sulit.


Delia tersadar dari pikirannya sendiri,dengan sedikit terkejut Delia mengangguk pelan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Delia lagi untuk yang ketiga kalinya karna pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban.


Ramon menghela nafas berat ."sepertinya ada yang memasukkan cairan racun melalui infus pasien."


Delia terhenyak mendengar jawaban Ramon begitu pun dengan Revan yang melangkah mendekati kedua orang yang berada di sisi tempat tidur ayahnya.


"Racun..." Lirih Delia tak percaya


"Tapi untuk apa?" Delia begitu syok mendengar sebuah fakta yang sangat mengejutkan itu.


"Iya untuk apa , seseorang meracuni ayah, seingat ku ayah tidak punya musuh." Ujar Revan tak percaya.


Delia mengangguk,tapi kemudian ingatannya mengarah pada dua orang pria yang masuk ke ruangan ini dan memberikan nya peringatan,seketika Delia menutup mulutnya dengan kedua tangannya,menolak untuk percaya dengan apa yang baru saja muncul di otaknya.

__ADS_1


Ramon yang sedari tadi memperhatikan tingkah Delia mengerutkan alisnya .


"Kenapa?" Tanya Ramon.


"Tidak apa-apa ,aku baru ingat aku harus menghubungi seseorang. " Ucap Delia beralasan,dia tidak ingin menceritakan dulu apa yang ada dalam benaknya, sebelum ia mendapatkan kebenaran nya, sepertinya mulai saat ini,dia harus berhati-hati,mereka benar -benar berbahaya.Pikir Delia.


"Baiklah ,kalau begitu saya permisi dulu,lain kali kita harus berbincang -bincang." Ucap Ramon lalu melangkah meninggalkan Delia yang masih berdebat dengan pikiran nya sendiri.


"O ya , beberapa hari yang lalu Rey ada di rumah sakit ini,apa dia sedang menemui mu di sini?" Lanjut Ramon lagi dan berlalu keluar dari ruangan itu.


Delia tersentak mendengar penuturan Ramon mengenai kedatangan Rey ke rumah sakit ini.


"Apakah kedatangan Rey berhubungan dengan dua pria asing tempo hari dan ini ,apakah ini perintah Rey?" Batin Delia, pikirannya kalut,saling berdebat ingin rasanya dia membangunkan ayahnya dan meminta jawaban atas semua ini,dan menyelesaikan semuanya agar hidup mereka kembali tenang.


"Ada apa kak?" Tanya Revan yang sedari tadi menatap heran dan bingung kepada Delia.


"Tidak apa-apa" Jawab Delia berbohong padahal hatinya kini tengah gelisah dan khawatir,ia lalu berjalan ke arah sofa dan menghempaskan tubuhnya dengan pelan.Revan pun menyusul sang kakak.Suasana seketika hening mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku harus mencari tahu,apa yang sebenarnya terjadi,aku tidak bisa diam,nyawa ayahku kini terancam,apakah Rey sedang merencanakan untuk melenyapkan ayah?" Batin Delia ,ia tidak akan bisa membayangkan hal buruk itu ."tapi bukankah itu bisa saja terjadi,Rey ingin membalas dendam pada keluargaku? oh tidak aku harus melakukan sesuatu,tapi bagaimana caranya,aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana?"


"Seperti nya perawat itu yang melakukan nya,tapi untuk apa?" Lirih Revan ,ia mengingat ketika akan masuk ke kamar ini hanya perawat itu yang berada di ruangan ini dan begitu terburu-buru saat meninggalkan ruangan ini, perawat itu juga sedikit salah tingkah tadi.


"Perawat?" Tanya Delia bingung,ia tadi mendengar gumaman Revan.


Revan mengangguk sebagai jawaban,Delia kemudian menatap ayahnya lalu menatap Revan secara bergantian, kemudian mengangguk seperti nya Delia harus melakukan sesuatu dengan atau tanpa penjelasan dari ayahnya.Tapi ia harus memulai darimana?


Deg


Seketika bayangan beberapa tahun lalu muncul di kepalanya,Delia pernah melihat ayahnya menyimpan sebuah kotak di bawah tanah,ya Delia ingat sekarang ada sebuak kotak berwarna merah yang pernah di kubur ayah ya di halaman belakang rumah apakah itu artinya....?

__ADS_1


__ADS_2