Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 130


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Vio sudah berangkat ke rumah sakit ,ia begitu terburu-buru padahal jam baru menunjukkan pukul enam pagi.Bahkan Ramon dan Sophia masih bergelut dengan mimpi mereka.


Vio bergegas membuka pintu apartemen setelah ia menyiapkan sarapan untuk penghuni lain di apartemen itu.


Vio pun berangkat dengan menggunakan taksi yang telah di pesannya,ia sengaja tak menunggu Ramon dan Sophia selain masih kesal pada Ramon,ia pun risih dengan pandangan Sophia yang tak lagi membuatnya nyaman.Rencananya setelah pulang dari rumah sakit ,ia akan menyewa apartemen untuk ia tinggali selama di kota Hamburg serta fokus untuk menyelesaikan misinya,karna seperti nya jika mengharapkan Ramon rencana itu tidak akan berjalan dengan baik.


Ramon keluar dari kamar mandi setelah terbangun dari tidurnya.Setelah rapi ia pun keluar dari kamarnya,matanya membelalak saat melihat sarapan sudah tersaji di meja makan.Ramon menengok kanan kiri mencari sesuatu tapi sepertinya mereka tak ada siapapun di ruangan itu.Ia pun menoleh ke arah kamar Vio yang berada di samping kamarnya,begitu sepi seperti tak ada tanda orang yang akan keluar padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan kurang, harusnya Vio sudah bangun dan sudah bersiap karena biasanya Vio lah yang paling duluan bersiap di antara mereka dan jangan tanyakan Sophia,ia baru akan berangkat setelah Ramon dan Vio berangkat tapi ia pun tak biasanya bangun terlambat.


Baru saja akan melangkah menuju meja makan,suara pintu kamar Sophia terbuka dan terlihat lah Sophia keluar dari kamarnya sudah rapi dan bersiap untuk masuk kantor.


Sejenak mereka saling berpandangan,tapi Ramon dengan cepat memutuskan tatapan mereka dan melanjutkan langkahnya menuju meja makan,begitu pun dengan Sophia.Mereka duduk di meja makan dengan saling berhadapan.


"Vio mana ?" Tanya Sophia setelah ia menyadari jika Vio tidak ada di antara mereka.


",Mungkin masih bersiap." Jawab Ramon sambil mengoleskan selai pada rotinya.


Sophia lalu melihat jam yang melingkar di tangannya." Sudah jam delapan,tumben Vio terlambat dan sarapan ini siapa yang menyiapkannya?"


"Bukannya kamu?"


Sophia menggandeng pelan ,Ramon lalu berdiri dari duduknya bermaksud ingin memanggil Vio,namun matanya tertuju pada kertas yang berada di bawah gelas yang kosong tempat dimana Vio biasanya duduk,tanpa ragu Ramon pun mengambil kertas itu dan membacanya.


"Aku berangkat duluan,aku ada janji dengan ibu Sukma di rumah sakit." Tulis Vio di kertas itu.


"Apa katanya?dia tidak sedang kaburkan ?" Tanya Sophia saat melihat ekspresi datar dari Ramon.


"Tidak,dia sudah berangkat katanya ada janji dengan keluarga salah satu pasien."


Ramon lalu menyelesaikan sarapan nya."Aku berangkat ya Piu,udah hampir telat nich." Ramon lalu beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Sophia yang tertegung melihatnya,ada sedikit perubahan yang ia rasakan pada diri Ramon, sepertinya pria itu sedang menjaga jarak dengannya,tapi kemudian pikiran negatif itu segera ia tepis dari pikirannya,tak ingin larut dengan berbagai macam prasangka,Sophia pun menghentikan sarapannya dan pergi dari meja makan.

__ADS_1


Matanya menyapu setiap sudut ruangan dan ia sudah tak menemukan Ramon.


"Cepat sekali dia menghilangnya." Gumam Sophia lalu membuka pintu apartemen dan berlalu meninggalkan nya.


"Vio pasti ingin menghindari ku." Lirih Ramon sambil menyetir ,ia merasa semakin bersalah pada wanita yang selalu mengganggu pikirannya tapi ia teramat begitu gengsi untuk mengakui perasaannya itu.


Tak terasa ia pun tiba di rumah sakit,Ramon lalu memarkirkan mobilnya di area parkir setelah itu ia pun masuk ke dalam rumah sakit.Saat tiba di depan ruangannya ia melirik ke arah ruangan Vio yang pintunya terbuka,tapi ia tak menemukan Vio disana.


Ramon melangkah cepat menuju ruangan Vio,dan ia hanya menemukan seorang perawat yang sedang duduk di dalam ruangan Vio sambil mencatat sesuatu.


"Permisi." Ucap Ramon pada perawat wanita itu.Perawat itu pun menoleh ke arah pintu dan mendapati Ramon sedang berdiri di situ.Perawat itu lalu berdiri .


"Pagi dok?" Sapa perawat itu dengan tersenyum.


"Pagi,dimana dokter Vio?" Tanya Ramon to the point .


"Oh dokter Vio sedang ada urusan dok,baru saja dia keluar." Jawab perawat itu.


Vio sedang berada di ruangan Rosa,sejak kedatangan nya tadi Vio kangsung di telfon oleh ibu Rey untuk menemui nya di rumah ruangan Rosa.Ayah Rey pun sudah kembali dari luar kota,dan kini berada di ruangan Rosa bersama Vio dan istrinya.


"Rosa sedang membutuhkan donor darah,tapi spai hari ini,kami belum menemukan nya, sedangkan opanya tidak bisa mendonorkan darahnya karna sudah lanjut usia dan juga ada riwayat diabetes." Ujar ibu Rey sambil menatap Rosa yang sedang terbaring tapi tidak tidur,ia sedang menonton film kartun kesukaan nya.


Ayah Rey yang duduk di samping cucunya dan menemani Rosa menonton hanya bisa terdiam sambil menatap sang cucu dengan lekat,gadis yang beranjak remaja itu begitu kurus kini,wajahnya pun terlihat pucat,rambutnya kian menipis karna rontok aku at kemoterapi.


"Aku akan berusaha membantu mencarikan pendonor untuk Rosa Bu,ibu tenang ya...ibu harus tenang dan kuat agar Rosa pun bisa tanah dan kuat seperti ibu." Ucap Vio menenangkan ibu mertua dari kakaknya itu, pikirannya kini tertuju pada Rey sang kakak ipar, satu-satunya orang yang bisa membantu mendonorkan darahnya pada Rosa.


Drrrtt drrrtt suara dering ponsel Vio berbunyi dan membuat Vio dan ibu Rey saling pandang.Vio lalu merogoh kantong nya dan mengambil ponselnya,di lihatnya nama orang yang tertera di layar itu.Vio menghembuskan nafasnya berat melihat orang yang memanggilnya.


"Aku angkat telfon dulu Bu." Vio lalu beranjak dan keluar dari ruangan Rosa untuk menerima telfon.

__ADS_1


Namun baru saja akan di angkat panggilan itu pun berakhir.


"Vio..." Panggil seorang pria dari arah yang tak jauh dari tempat nya berdiri .Pria itu lalu berjalan mendekati Vio.


"Kenapa berangkat duluan?" Tanya Ramon ,tadi ia menelfon Vio untuk menanyakan keberadaan nya tapi saat sibuk menelfon nomor Vio ,Ramon tanpa sengaja melihat Vio yang sedang keluar dari salah satu ruang rawat pasien,tanpa menunggu Vio mengangkat telfonnya ia pun mutuskan panggilannya dan lebih memilih menemui Vio secara langsung.


"Tadi aku buru-buru ." Jawab Vio.


"Rosa baik-baik saja."


Vio menggeleng pelan,ada gurat kesedihan di wajahnya,melihat perubahan pada wajah Vio ,Ramon pun menghela nafas berat.


"Rosa butuh donor darah,tapi hanya kak Rey yang bisa membantunya,ayah Rey sudah berkeliling mencari pendonor tapi belum ada.


"Kita harus segera membawa Rey ke kota ini,Rosa begitu membutuhkannya sekarang." Ucap Ramon.


Drrrrrt drrrt suara dering ponsel Vio kembali berbunyi,tapi kali ini matanya membola saat melihat id pemanggil yang tertera pada layar ponselnya.


"Hallo kak."


"Vio kami ada di Hamburg Sekarang,baru saja tiba." Ucap Delia di balik telfon.Vio yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang kakak,begitu terkejut dan tak percaya,baru saja ia merencanakan untuk memanggil kakak dan kakak iparnya tapi mereka sudah ada di kota ini.


"Yang benar kak,jangan bercanda ya?" Ucap Vio tak percaya.


"Kamu ini,memangnya aku pernah berbohong padamu,mas Rey ada undangan dari rekan kerjanya di kota ini,jadi sekalian saja kami juga ikut untuk menemui mu,o ya kamu datang saja ke hotel X kami ada di sana,sudah dulu ya ,aku mau bersiap dulu untuk ke acara temannya mas Rey."


Delia lalu mematikan sambungan telfonnya tanpa mendengarkan ucapan Vio yang menggantung.Setelah panggilan itu terputus Vio menatap Ramon dengan tak percaya,Ramon yang di tatap seprti itu pun mengerutkan alisnya bingung .


"Kak Vio dan kak Rey ada di kota ini."

__ADS_1


"Hach..."


__ADS_2