Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 62


__ADS_3

Di berbagai sudutnya,api bahkan sudah mulai lenyap.Namun yamg tersisa adalah asap disertai puing-puing bangunan berwarna hitam gosong sisa amukan api yang bisa jadi sudah lebih dari satu jam membakarnya.Rumah mereka memang agak jauh dari tetangga.Disebelah depan,belakang ,dan samping kiri dan kanan rumahnya hanya tanah kosong.Sebagian berisi kebun rambutan dan jambu biji.Sebagian hanya tanah berumput.Namun kobaran api yang besar,akhirnya terlihat oleh para peronda malam dan beberapa anak muda yang kebetulan masih berkeliaran.Suara-suara itu bergema,saling bersahut-sahutan.


" Kebakaran...kebakaran...kebakaran...."


Dalam waktu sekejap,para penduduk sekitar berdatangan,menyaksikan amukan si jago merah.Sementara Delia dan Revan hanya diam mematung.Dada Delia bergemuruh,hatinya bagai diamuk badai.Mereka tak lagi saling berkata- kata.Kedukaan hebat ,sekaligus ke khawatiran besar,menyesak dada.Saat itu mereka serasa terbangun dari mimpi indah,dan terpuruk di depan realita yang memedihkan.Suasana hati mereka bercampur aduk.Ada rasa kecewa,sedih,duka,pedih dan kebingungan.Karna kebingungan itulah,mereka jadi tidak menyadari hal-hal lain.Mereka baru tersadar ,telah puluhan atau mungkin ratusan orang sudah berkumpul di dekat mereka.


"Ya Allah,Ayah.Ya , ayah ,ibu dan Vio masih di atas." Delia berteriak keras dengan tubuh lemah.Tanpa berpikir,ia berlari hendak merangsek masuk ke dalam rumah yang sedang di penuhi oleh api.


" Jangan kak,jangan..." Revan berteriak memanggil-manggil.Salah seorang tetangga,seorang pria setengah baya,bertubuh kekar,mengambil inisiatif mengejar Delia,ia mengajak beberapa orang membantu menahan tubuh Delia yang hendak menerjang ke arah api.


"Jangan lakukan itu,Nak..itu sama saja dengan bunuh diri.Sabar,kita cari jalan keluar.Sabar Nak..."Pria itu mengingatkan,sambil menahan sekuatnya tubuh Delia.

__ADS_1


Delia meronta-ronta.Pikirannya gelap.Namun akhirnya tubuhnya terdiam,karna beberapa orang menahannya dengan sekuat tenaga.Pandangan matanya nyaris hilang.Tapi Delia berusaha menahan diri.Saat ia sudah mampu menguasai dirinya,ia duduk bersimpuh.


Penduduk sudah datang membawa air dengan ember.Secara bersama-sama mereka menyiramkan air itu ke arah kobaran api di rumah Delia.Tak banyak pengaruh.Untuk memanggil mobil pemadam kebakaran ,rasanya terlalu terlambat,kalau pun mobil itu datang beberapa saat lagi,rumah Delia tentu sudah habis di lalap api.Akhirnya ,secara kolektif mereka sepakat menggunakan berbagai cara agar api lebih mudah di padamkan.Minimal,tidak merambat ke tempat lain.Meski kemungkinan itu amat kecil,karena rumah Delia itu menyendiri.Agak jauh dari rumah-rumah lain.Jarak terdekat mungkin seratus meter lebih.Terpisah oleh lahan kosong tanpa pohon,hanya rerumputan hijau saja.Namun mereka mengusahakan sebisanya.Dan usaha itu sedikit banyak memberi hasil sambil menunggu mobil pemadam yang sudah di hubungi oleh salah satu warga lainnya.


Api terlihat agak mereda.Bahkan ruang tamu terlihat hanya terbakar sebagiannya saja.Dapur , kamar mandi,seluruhnya terbakar hangus.Bagian atas rumahnya saja,yang masih belum jelas.Api memang terlihat merambat ke atas.Sempat menghanguskan sebagiaannya,tapi sebagian lain masih utuh.


Dengan bersusah payah,tiga orang pemuda membasahi tubuhnya dengan air,lalu secara perlahan-lahan dengan takut-takut memasuki rumah yang sudah sebagian besarnya hangus terbakar api.Tak berapa lama,keberanian mereka mulai muncul .Mereka mengendap-endap memasuki rumah,menaiki tangga yang bersebelahan dengan ruang makan,terus ke atas.Beruntung,tangga masih bisa di naiki,meski dinding-dindingnya sudah terbakar hangus.Bahkan ruang kamar sudah runtuh,berjatuhan batu-batu batanya yang berbalut semen dan pasir.Dengan semangat kepahlawanan ,ketiga pemuda itu meringset naik.


Bersama ratusan orang yang ada, Delia dan Revan memandang ke arah ketiga pemuda yang turun dan tergesa-gesa itu.Saat tiba di hadapan Delia,ketiga tubuh lemas itu mereka turunkan di atas tanah.Yang pertama di letakkan adalah tubuh ibu Delia.Delia dan Revan langsung menjatuhkan diri ,memandang ke arah tubuh yang terbujur lemah di hadapan mereka.


" Dia sudah meninggal dunia." Ucapn itu meluncur cepat dari mulut salah seorang pemuda tadi.

__ADS_1


Tubuh ibunya itu memang terlihat sebagian besarnya hitam,menghangus.Wajahnya pucat.Kulit mukanya dingin.Dan suara napas memang sudah tak lagi terdengar .Detak jantung terhenti.Nadi juga tak berdenyut lagi.Ia memang sudah meninggal dunia,seperti di katakan pemuda tadi.


Revan menjerit pasrah.Delia menangis terseduh- seduh.Tubuhnya berguncang-guncang ,secara tiba-tiba tubuh Delia melemah,akhirnya jatuh terjerembab,pingsan.


Beberapa orang wanita ,membantu memegangi tubuhnya.Revan sendiri sudah tak mampu menggerakkan badannya.Ia juga syok berat.Kejadian itu ibarat pukulan telak di akhir ronde pertarungan.Mereka begitu sedih sehingga tak teringat lagi harus berbuat apa.Sementara Vio dan ayahnya segera di larikan ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan pertama.Dan sisa malam itu berlangsung sendu.Hanya di isi tangisan dan rintihan Revan,Delia masih tak sadarkan diri berjam-jam,hingga tiba waktu subuh.Mereka melakukan sholat subuh di masjid terdekat .Setelah sadar Delia shalat dirumah tetangga mereka.Pak Bayu.


Malam itu juga ayah dan adik ke dua Delia yaitu Vio yang belum jelas kondisinya langsung di larikan ke puskesmas dan di rujuk ke rumah sakit . Delia dan Revan tidak bisa mengantar,Tubuh mereka masih lemas.Baru dipagi harinya,jam sembilan pagi,mereka pergi menjenguk.Mereka berangkat dengan mobil tetangga yang secara suka rela meminjamkannya kepada mereka .Mobil Delia sendiri sudah menjadi bangkai hangus di garasi rumahnya.Kobaran api terlalu hebat dan besar.Tak sesuatu pun di rumah itu yang dapat di selamatkan.


Alhamdulillah,ayah dan Vio selamat,mereka memang mengalami luka bakar parah di sekujur tubuhnya .Namun masih bisa di selamatkan.Wajah mereka bahkan tak tersentuh api sedikit pun,bersih tak ada kulit yang terbakar.Meski demikian jiwa mereka amat terpukul.


Kalau Delia merasa begitu sedih dan terhenyak pasrah,ayahnya itu hanya terdiam menahan tangis ,ia merasa begitu sedih akibat musibah yang meluluhlantakkan harta benda yang sudah susah payah putrinya itu kumpulkan.Namun lebih dari itu,ia juga amat terpukul atas wafatnya sang istri ,ibu Delia.Ia tak pernah membayangkan ,akan di tinggal mati istrinya dengan cara seperti itu.Saat mereka seperti sedang dalam buaian kebahagiaan yang begitu memanjakan hati.Kini , jiwanya justru bagai terjajah.Terjajah oleh kepedihan dan kesengsaraan yang datang begitu tiba-tiba.

__ADS_1


Sementara nasib Vio lebih buruk dari ayahnya,meski selamat tapi sampai saat ini Vio masih kritis.


__ADS_2