Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 118


__ADS_3

Di kantor Rey terlihat begitu gelisah,fikirannya sedari tadi terus tertuju pada sang ibu,ada rasa rindu yang begitu mendalam pada wanita yang telah membesarkan nya itu,ingin menemui nya tapi terhalang oleh sang ayah.


Rey hanya bisa melepaskan rasa rindunya hanya dengan menatap foto sang ibu,foto yang selalu terpajang di atas mejanya,foto dimana dirinya baru saja menjabat sebagai CEO PRATAMA GROUP,di situ sang ibu berpose dengan bergelayut manja pada sang putra.


Namun saat menahan rindu yang begitu berat,bayangan masa lalu kecelakaan kedua orangtuanya muncul di otaknya,Rey yang tadinya begitu merindukan sang kembali di dera rasa benci dan kecewa,semua kerinduan nya pada sang ibu ia tepis dan menyimpan bingkai itu ke dalam laci meja kerjanya.


Siang hari Rey beranjak dari kantornya menuju ke rumah sakit untuk menjemput Delia karna memang sang istri hanya bekerja setengah hari saja.


Setelah tiba di area rumah sakit Rey dan Revan keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit tempat Delia bekerja,sedangkan Delia baru saja keluar dari ruangannya dan mencari keberadaan Vio yang tak ada di tempatnya,ponselnya pun tak bisa di hubungi.


"Kalau begitu ibu pulang dulu ya,sudah siang juga, kamu masih mau disini?" Ujar ibu Rey saat keduanya begitu larut dalam obrolan,ibu Rey yang baru tersadar jika dia begitu lama di rumah sakit ini bersama Vio lalu berpamitan untuk pulang.


"Ini juga Vio sudah mau pulang Bu, sepertinya jam kerja kakak sudah berakhir." Ucap Vio sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya.


Keduanya pun kembali saling berpelukan untuk berpisah karna akan kembali pada tujuan masing-masing,Tak lama sepeninggal nya ibu Rey ,Delia berjalan menghampiri Vio yang di lihatnya berada di taman bersama seorang wanita,tapi sayang wajah wanita itu tak terlihat oleh Delia karna posisi ibu Rey membelakangi nya.


"Kamu mengobrol dengan siapa?" Tanya Delia saat sudah berada di depan Vio.


""Oh itu kenalan aku kak,kami bertemu di bandara waktu itu dan juga satu pesawat ke Indonesia,tapi tadi tidak sengaja ketemu lagi." Jelas Vio.


"Sudah selesai kak?" Tanya Vio lagi.


""Sudah,ayo mas Rey sudah menunggu di luar."

__ADS_1


Keduanya pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan menuju pintu utama ,baru saja akan menginjakkan kakinya pada sebuah tangga kecil di depan pintu utama ,terlihat Rey dan Revan sedang berjalan ke arah mereka,di saat yang bersamaan ibu Rey sedang berjalan menuju mobilnya yang terparkir di area parkir rumah sakit.


Saat membuka pintu mobil dan ingin masuk ke dalam mobil tiba-tiba hatinya bergetar begitu cepat.


"Rey.. " Lirih ibu Rey sambil memegang dadanya, hatinya mengatakan jika Rey berada dekat dengannya,ibu Rey menoleh kebelakang seolah ada yang ingin di lihatnya,namun seketika segala prasangka nya segera di tepisnya,ia pun menggeleng pelan mengusir rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak.Ibu Rey lalu masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan area rumah sakit.


Sedangkan di lokasi yang sama dengan ibu nya tadi Rey,Delia,Vio dan Revan berjalan menuju area parkir dimana tadi mobilnya di parkir,mereka kemudian meninggalkan rumah sakit itu menuju ke kediaman mereka.


Tak memerlukan waktu yang lama untuk tiba di mansion,Vio dan Revan sudah keluar dari mobil terlebih dahulu meninggalkan sepasang suami istri yang masih berada di dalam mobil.


"Maaf sayang,aku tidak bisa mengantarkan mu ke dalam,masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ujar Rey masih di dalam mobil sambil menatap wajah Delia.


"Tidak apa-apa mas." Ucap Delia dengan senyum manisnya.


Rey kemudian meraih kedua tangan Delia dan mengangkat pelan lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang.


"Tentu dong." Rey lalu mengecup kening istrinya dan di balas sebuah kecupan manis di kedua pipi Rey.Seelah itu Delia lalu membuka pintu mobil dan keluar.


Delia masih berdiri di samping mobil,memandang Rey yang melambaikan tangannya ke arah Delia dan Delia pun membalas hal yang sama hingga mobil Rey hilang di balik pintu gerbang.


Sementara di kediaman orang tua Rey.Ibu Rey yang semenjak pulang tadi masih betah berlama-lama di kamar Rey.Kamar yang banyak menyimpan kenangan ,ibu Rey menatap foto kecil Rey.Foto Rey yang saat itu masih berusia lima tahun dan baru saja masuk TK.


"Tak terasa kamu sudah begitu dewasa Rey,apa kamu masih mengingat mama mu ini nak, temui lah mama sekali saja.Mama sangat merindukanmu, merindukan putra kecil mama...hiks..hiks."

__ADS_1


Ibu Rey memeluk bingkai kecil itu kedalam dadanya,ibu mana yang bisa menahan luka saat putranya tak pernah lagi menampakkan dirinya.


"Berhenti lah menangisi nya jika tak ingin terluka sendirian." Ucap ayah Rey yang tiba-tiba muncul dari pintu kamar Rey.Ibu Rey menoleh kebelakang setelah mengusap tetesan air matanya.


"Dia sudah memilih pilihan hidupnya sendiri,jika dia saja sudah melupakan kita lalu untuk apa kita terus mengingat dirinya,fokuslah pada cucu kita,dia lebih membutuhkan kita daripada terus larut dalam kesedihan." lanjutnya lagi lalu duduk di samping istrinya .


Ibu Rey tak menanggapi setiap ucapan suaminya itu,bibir serasa keluh.


"Minggu depan kita harus kembali ke Jerman,Rosa akan melakukan kemoterapi lagi dan Kuta harus mendampingi nya."


Ibu Rey berdiri dari duduknya,hatinya masuk h menyimpan kekecewaan pada suaminya itu.


"Mau kemana?" Tanya ayah Rey saat melihat istrinya beranjak.


"Aku lelah." Ucap ibu Rey menghentikan langkahnya.


"Mau sampai kapan kita seperti ini,tidak bisakah kita melupakan segalanya dan memulai hidup kita seperti dulu?"


Ibu Rey tersenyum kecut mendengar ucapan suaminya itu lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah suaminya yang masih duduk di pinggir tempat tidur milik Rey.


"Bukankah kamu yang telah memutuskan semua kebahagiaan itu,bukankah kamu yang memisahkan ibu dari putranya,memisahkan keponakan dari omnya,lalu kamu meminta untuk memperbaiki hubungan saat seperti dulu, sedangkan kamu sendiri yang menghancurkannya."


"Sukma...." Teriak ayah Rey pada istrinya,ibu Rey tersentak saat dirinya mendengar suara tinggi suaminya itu memanggil namanya.Tifa puluh tahun menikah ini kali pertama suaminya itu meninggikan suaranya di depannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu sebesar apa masalahmu dengan orang tua Rey dan aku juga tidak tahu dendam apa yang membuatmu begitu kejam pada mereka." Ucap ibu Rey sambil menatap wajah suaminya yang berdiri dari duduknya,mata ibu Rey sudah menampung bulir-bulir air mata yang siap akan menetas.


"Jika kamu ingin hubungan kita seperti dulu kembali kan putraku ." Ibu Rey berlalu meninggalkan kamar milik Rey dan meninggalkan suaminya yang masih berdiri sambil mengepalkan tangannya,ia terlihat marah dan sedih secara bersamaan.


__ADS_2