Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 117


__ADS_3

"Kamu yakin mau masuk kerja,kamu terlihat masih begitu lemah dan masih terus mual,aku tidak mau kalau terjadi sesuatu padamu dan juga calon bayi kita." Ujar Rey sambil memeluk Delia dari belakang,pagi ini Delia ingin masuk kerja meski kondisi nya masih belum stabil.


"Aku nggak akan lama mas,cuman memeriksa pasien rawat inap saja,kalau pasien rawat jalan sudah aku alihkan ke dokter lain,nggak apa-apa kan mas?"


Delia memutar tubuhnya menghadap ke Rey,mereka saling berhadapan dengan jarak yang begitu sangat dekat.


Rey sebenarnya tak ingin Delia bekerja dulu selama kondisinya masih belum stabil,tapi ia pun tak dapat menolak keinginan istrinya itu.


"Baiklah,tapi Vio ikut denganmu,jangan menolak atau aku tidak mengisinkanmu pergi."


Cup...


Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Rey,Delia lalu melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Rey.


"Kamu ingin menggodaku,apa semalam belum cukup,baiklah..." Goda Rey sambil menarik tangan Delia dan menahan langkah istrinya itu.


Delia mengerucutkan bibirnya,wajahnya kini terlihat begitu imut di mata Rey.


"Jangan membuat kita mandi dua kali sayang." Bisik Rey tepat di telinga Delia.


Delia yang mendengar ucapan fulgar suaminya itu seketika salah tingkah di buatnya, wajahnya pun berubah merona karna godaan suaminya itu.Sedangkan Rey menahan tawanya melihat istrinya itu salah tingkah.


"Mau tetap di kamar saja atau kita berangkat sekarang." Ucap Rey lalu menggandeng tangan Delia.


Delia pun hanya mengikuti langkah suaminya itu keluar dari kamar mereka.


"Aku akan menjemputmu nanti,jangan terlalu lelah dan ingat makan tepat waktu dan~"


"Iya mas,aku ingat jangan khawatir semua akan baik-baik saja oke." Potong Delia cepat soalnya sudah berulang kali Rey mengucapkan kata-kata yang sama.


Rey dan Delia keluar dari lift dan berjalan menuju meja makan untuk sarapan,saat memasuki ruang makan mereka melihat Revan dan Vio sudah duduk manis di meja makan menunggu mereka.


"Pagi kakak ipar,pagi kakak." Sapa Revan dan Vio bersamaan saat melihat Rey dan Delia sudah berada di dekat meja makan,Rey menarik kursi dan mempersilahkan Delia untuk duduk, Delia pun segera duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh Rey,setelah sang istri duduk Rey pun menarik kursi yang ada di ujung meja dan menduduki nya.


"Kak Delia kerja?" Tanya Vio sambil melahap nasi goreng yang menjadi menu sarapan mereka pagi ini.


"Iya,tapi cuman sebentar kok,setengah hari doang."


"Tapi kakak kan sedang hamil muda, kondisi kakak juga belum stabil."


"Na untuk itu kamu harus ikut dengan kakakmu itu." Ucap Rey.

__ADS_1


"Ikut kerumah sakit?"


"Iya."


Vio pun mengangguk pelan menyetujui saran kakak iparnya itu.


"Jadi aku di tinggal sendiri gitu?" Ucap Revan .


"Kamu ikut saya ke kantor."


"Ngapain saya ke kantor kak Rey."


"Ya ngapain kek,belajar gitu jadi pengusaha biar saat selesai kuliah kamu sudah bisa terjun ke dunia bisnis." Rey lalu meminum air putih yang telah tersedia di depannya,setelah itu ia mengelap mulutnya menggunakan tisu.


Sedangkan Delia dan kedua adiknya itu pun melakukan hal yang sama setelah mereka sudah merasa kenyang.


Ke empat orang itu pun beranjak dari meja makan dan bersiap untuk berangkat bekerja.Ke empatnya memasuki sebuah mobil mewah berwarna hitam,Rey yang duduk di bagian kemudi,Delia duduk di sampingnya, sedangkan Revan dan Vio duduk di bangku bagian belakang.Setelah ke empat nya berada di dalam mobil,Rey pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Delia bekerja.


Dua puluh menit mereka lalui dan akhirnya tiba di sebuah rumah sakit tempat Delia bekerja.


"Ingat...."


"Iya mas,aku ingat jangan khawatir."


"Hati- hati mas." Delia lalu membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil.


"Turun dan duduk di sini." Ucap Rey pada Revan saat Delia dan Vio sudah masuk ke dalam rumah sakit.


"Iya kakak ipar." Revan membuka pintu mobil bagian belakang lalu keluar dan kembali membuka pintu mobil bagian depan dan masuk kedalam.


Rey lalu melajukan mobilnya menuju kantornya.


Di rumah sakit Delia masih sibuk memeriksa kondisi para pasiennya, sedangkan Vio yang merasa jenuh menunggu Delia,berjalan menuju ke taman rumah sakit ,ia lalu duduk di salah satu bangku yang terlihat masih kosong,nampak di taman itu terlihat ramai oleh anak-anak yang sedang bermain-main untuk melepas jenuh di kamar perawatan,rumah sakit itu memang di lengkapi taman bermain yang di khususkan untuk anak-anak.


Vio menatap mereka dengan tersenyum saat melihat anak-anak itu sedang bermain dengan begitu gembira seolah tak ada beban sakit yang mereka rasakan.Namun saat memalingkan wajahnya ke arah sudut taman mata Vio tanpa sengaja melihat sesosok wanita yang sepertinya tak asing baginya.


"Ibu Sukma." Gumam Vio di iringi senyum sumringah saat mengingat wanita itu yang pernah di temuinya sewaktu akan terbang ke Indonesia.Vio beranjak dari duduknya ingin menghampiri wanita itu,entah kenapa hatinya seolah begitu dekat dengan wanita paruh baya itu padahal mereka baru bertemu sekali itupun tanpa sengaja.


"Ibu.." Sapa Vio sambil memegang sebelah pundak wanita yang tak lain adalah ibu Rey.Nyonya Sukma pun memutar tubuhnya saat merasa ada yang memanggil namanya dan memegang pundaknya.


Vio dan ibu Rey kini saling berhadapan.

__ADS_1


"Masih ingat saya kan ?" Ucap Vio sambil menunjuk dirinya sendiri.


Ibu Rey menatap Vio dengan intens mengingat-ingat dimana pernah bertemu dengan wanita cantik yang sedang berdiri di depannya.


"Oh. kamu." Ujar ibu Rey saat sudah mengingat kejadian pertemuan nya dengan Vio.


"Kamu disini, ngapain?" Tanya ibu Rey sambil memegang kedua pundak Vio.


""Lagi nungguin kakak,Bu.Kalau ibu ngapain di sini?"


"Kakakmu sakit?" Tanya ibu Rey .


""Hehe tidak,kakak salah satu dokter yang bekerja di sini,tapi karna lagi hamil muda aku di suruh kakak ipar temenin kakak,suaminya itu protective banget Bu."


"Ayo kita ngobrol di sana,kamu tidak lagi buru-buru kan?" Ajak ibu Rey.


Vio mengangguk pelan di iringi senyum kecil ,ia lalu menggandeng tangan ibu Rey menuju salah satu bangku yang tersedia di taman.


""Ibu sakit?" Tanya Vio saat mereka sudah duduk di bangku ,ia pun kembali bertanya pasalnya pertanyaannya tadi belum di jawab oleh ibu Rey.


Ibu Rey tersenyum ada sinar bahagia di matanya saat bertemu dengan Vio, seperti ada dorongan dari dalam dirinya untuk lebih dekat dengan wanita yang baru saja di kenalnya itu.


"Tidak,aku sedang mengunjungi teman." Jawab ibu Rey.


"Teman ibu sakit?"


"Tidak,dia pemilik rumah sakit ini."


"Ooh gitu,ibu sendirian atau diantar anak ibu?"


Deg....


Hati ibu Rey tiba-tiba meringis,ketika Vio yang tanpa sadar dengan ucapan nya telah membuat ibu dari Rey itu kembali menelan rasa pahit karna kepergian sang anak yang di akibatkan oleh perselisihan dari suami dan anaknya yang sama-sama keras.Wajah ibu Rey tiba-tiba berubah jadi sendu padahal baru saja ia begitu terlihat bahagia saat bertemu dengan Vio.Melihat perubahan pada wajah ibu Rey ,Vio merasa tak enak hati .


"Maaf Bu,jika saya salah ucap?" Ucap Vio sambil menggenggam kedua tangan ibu Rey yang berada di pangkuannya,ibu Rey kemudian tersenyum kecil lalu berkata ." Tidak apa-apa,kamu tidak salah,hanya saja ibu tiba-tiba merindukan putra ibu yang sudah lama kami tak pernah lagi bertemu."


"Maaf Bu,saya tidak bermaksud..."


"Jangan di pikirkan." Potong ibu Rey." Ibu punya dua putra yang tertua sudah meninggal beberapa tahun yang lalu,dan yang bungsu dia putra ibu yang sangat baik,tapi karna satu hal kami harus berpisah,dan cucu ibu kini sedang melawan penyakitnya di Jerman...hiks..hikss" Ibu Rey akhirnya mengeluarkan segala keluhnya yang selama ini di simpan nya seorang diri,segala beban dan masalah dalam keluarga nya begitu membuat nya terbebani dan ia pun hanya bisa menyimpan nya seorang diri tanpa ada teman untuk berbagi duka.


Vio lalu menarik ibu Rey dalam pelukannya,ia pun merasa begitu sedih mendengar penuturan wanita yang tak lain adalah mertua kakaknya sendiri dan mereka tak menyadari itu jika sebenarnya mereka mempunyai hubungan kekerabatan.

__ADS_1


"Aku yakin putra ibu pun sangat merindukan ibu,mungkin saat ini ia juga sedang berperang dalam kesedihannya dan segala dukanya,tapi Bu selalu ada mentari setelah badai."


__ADS_2