Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 111


__ADS_3

"Berhenti mencari keberadaan Rosa,dia baik-baik saja dan tak membutuhkan mu."


"Pa,apa yang kamu katakan ,Rey pun berhak atas Rosa,jangan menghancurkan keluarga kita hentikan semua ini." Ujar ibu Rey,matanya mulai berkaca-kaca.


"Dia bukan putramu,putra kita sudah meninggal." Tekan ayah Rey dengan sorot mata tajam.


"Ayo.." Rey menarik tangan Delia untuk pergi dari tempat itu.


"Tidak ,jangan pergi....jangan tinggalkan mama." ibu Rey menahan tangan Rey yang akan keluar dari rumah orang tuanya.


"Lepaskan dia." Perintah ayah Rey.


"Tidak....tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini,Rey adalah putraku ."


"Lepaskan tangannya dan biarkan dia pergi atau kamu juga bisa ikut dengannya,tapi ingat saat kaki mu melangkah keluar dari rumah ini jangan pernah kembali lagi." Ucap ayah Rey memperingati.


Bagai tersambar petir di siang bolong,Rey dan ibunya menghentikan langkahnya,air mata ibu Rey tak mampu lagi di bendungnya.Ia di dera dilema yang begitu berat.Perlahan Rey melepas kan tangan ibunya dari lengannya,ibu Rey menatapnya dengan linangan air mata.Sedangkan ayahnya masih berdiri di tempatnya.Delia hanya mampu berurai air mata melihat kehancuran keluarga suaminya di depan matanya.


"Tetaplah di sini ma,demi Rosa." Ucap Rey,nada suaranya tertahan ,ada rasa kecewa,amarah dan kesedihan yang meliputi hatinya, akhirnya ayahnya menampakkan kekerasan hati nya.


Tak ingin larut dengan keadaan Rey menarik tangan Delia dan berjalan cepat meninggalkan rumah mewah itu,rumah di mana ia bertumbuh ,di asuh dengan kasih sayang tapi pada akhirnya semua kebahagiaan masa kecil itu kini menghilang seiring waktu dan terkuaknya sebuah rahasia besar.Rahasia yang akhirnya menghancurkan kebahagiaan semua penghuni rumah itu,andai waktu bisa di putar,rahasia itu tidak perlu terkuak kembali,tak perlu membuka dan mencari tahu penyebab dan siapa orang di baliknya,karna masalalu itulah yang membuat keluarga bahagia itu kini terpecah , kehangatan, kebahagiaan dan penghormatan kini telah hilang.


Ibu Rey hanya memandang punggung Rey dan Delia hingga menghilang di balik pintu, selepas Rey dan Delia pergi Isak tangis ibunya semakin pecah,kehancuran keluarganya yang di takutkan kini telah terjadi,bahkan lebih buruk dari yang di bayangkan nya.


"Sudahlah jangan tangisi anak yang tak pernah lahir dari rahim mu,dia bukanlah anak mu yang pantas kamu tangisi." Ucap ayah Rey menohok lalu meninggalkan istrinya dan memilih masuk ke ruang kerjanya.


Ibu Rey semakin sesak mendengarnya nya, suaminya kini telah berubah ,dia bahkan tak mengenal suaminya lagi,suami yang begitu ia hormati.


Selama dalam perjalanan tak ada percakapan yang terjadi antara Rey dan Delia,mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.Delia melirik ke arah suaminya yang sedang menyetir tapi tampak dari tatapan nya terlihat kepedihan yang mendalam.


"Bagaimana kalau kita mampir makan dulu,aku lapar,ini juga sudah waktunya makan malam." Ajak Delia memecah keheningan dan juga memancing suami nya agar tak terus hanyut dengan suasana hatinya.


"Baiklah." Ucap Rey tanpa menoleh ke arah Delia,matanya terus memandang kedepan.

__ADS_1


"Mau makan dimana?" Tanya Rey.


"Di sana ." Tunjuk Delia pada sebuah warung makan lalapan yang terletak di pinggir jalan.


"Yakin di sini?" Tanya Rey meyakinkan Delia.


"Tentu saja, disana makanannya enak loh,tidak kalah dengan restoran mewah." Ujar Delia antusias.


"Baiklah." Rey pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan di depan warung makan itu, terlihat suasana didalam warung itu cukup ramai oleh pengunjung.


Rey menatap sekeliling warung makan itu,dalam hidupnya ini pertama kali dirinya menginjakkan kaki di warung kaki lima ,jadi wajar saja jika dia terlihat bingung.


"Ayo masuk." Ajak Delia sambil menarik tangan Rey yang sedari tadi hanya berdiri dengan diam.


Rey dan Delia lalu duduk ,di meja yang masih kosong.


"Kemana pelayannya, kenapa tidak ada yang melayani kita?" Ucap Rey yang nampak mulai kesal karna dirinya tak dapat sambutan dari pelayan rumah makan itu,padahal jika di restoran mewah ,baru saja ia menginjak kaki di pintu masuk para pelayan restoran itu akan menyambutnya dengan hormat,tapi di sini dia seakan tak di peduli kan,karna tak satu pun pelayan menghampiri mejanya.


Delia menghela nafas panjang melihat tingkah Rey yang mulia terpancing apa lagi suasana hatinya saat ini tidak baik-baik saja.


"Oh begitu,hampir saja."


"Hampir apa,jangan bikin keributan di sini ya,disini ini bukan daerah kekuasaan mu." Ujar Delia sambil tersenyum saat melihat wajah suaminya itu berubah jadi cemberut.


"Baiklah nyonya Reyhan Pratama."


Tak menunggu lama ,semua pesanan yang di pesan oleh Delia telah di antar oleh beberapa pelayan, sementara Rey tercengang melihat banyaknya menu yang di pesan istrinya itu,mungkin semua jenis menu yang tersedia di warung makan itu di pesan semuanya.


"Sebanyak ini,yakin kamu bisa menghabiskan nya.?" Tanya Rey yang merasa makanan di atas meja begitu banyak.


"Aku sangat lapar dan ingin memakan semuanya,entahlah tiba-tiba nafsu makan ku meningkat." Jelas Delia ,ia pun bingung telah memesan makanan sebanyak itu.


"Terserah kamu saja ,ayo makan."

__ADS_1


Mereka berdua pun makan dengan lahapnya,bahkan hampir semua menu itu ludes dimakan oleh mereka berdua,padahal tadi Rey begitu tidak yakin akan menghabiskan nya tapi lihatlah,justru dia yang begitu berselera memakannya,sedangkan Delia hanya memakan sedikit saja.


Setelah selesai makan dan membayar nya,mereka pun beranjak dan melanjutkan perjalanan menuju apartemen.


"Hentikan pencarian kalian." Ujar Rey pada Dion saat mereka telah tiba di apartemen dan mereka bertemu dengan Dion di lobi.


Dion menatap bingung dengan apa yang di ucapkan oleh bosnya,karna baru saja kemarin dia di perintahkan untuk memperluas pencarian mereka,bahkan dia hanya di kasih waktu seminggu saja.


"Tapi bos,saya su~." Dion menghentikan ucapannya saat matanya memandang wajah dingin bosnya itu.


"Baik bos." Ucap Dion walau hatinya penuh dengan tanda tanya.


"Bagaimana dengan proyek itu,kapan aku bisa membawanya untuk memperlihatkan padanya."


"Semua sudah tahap penyelesaian bos,tinggal mengatur segala isinya,dan juga semua pelayan sudah datang mereka sedang membersihkan nya,mungkin sekitar dua hari lagi sudah bisa di tinggali."


"Baiklah,setelah proyek itu selesai kamu dan anak buahmu bisa pergi berlibur." Ucap Rey.


Dion melongo mendengar kata libur keluar dari mulut bosnya karna selama dia bekerja tak sekalipun ia di biarkan untuk libur kecuali hari Sabtu-Minggu itupun sangat jarang sekali.


"Kenapa masih di situ,mau saya batalkan liburanmu."


"Tidak bos." Ucap Dion cepat lalu memutar tubuhnya untuk pergi dari apartemen bosnya itu,saat akan melangkahkan kakinya menuju pintu Dion berpapasan dengan Delia yang sedang membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan.


"Minum dulu,Dion." Ajak Delia lalu berjalan menuju sofa dimana suaminya itu masih terduduk dan memandang Dion dengan penuh intimidasi.


"Te.... terimakasih nona,tapi saya buru-buru,lain kali saja." Ujar Dion lalu berjalan cepat keluar dari apartemen itu.


Delia yang bingung dengan tingkah Dion hanya menggeleng pelan.


"Seperti nya dia butuh liburan,hidupnya terlihat begitu tegang." Gumam Delia dan di dengar oleh Rey.


"Sebegitu perhatian nya kamu padanya." Ucap Rey bernada cemburu.

__ADS_1


"Cemburu nich." Goda Delia sambil memeluk suaminya dari samping.


"Tapi benar dia butuh liburan juga,jangan terus menekannya dan memberikannya pekerjaan yang berlebih,diakan juga manusia ingin punya privasi." lanjut Delia lagi.


__ADS_2