
"Pulanglah,tenangkan dirimu."
"Tidak,aku mau memberikan pelajaran pada pelakor murahan ini."Mona mengangkat tangannya kembali ingin menampar Delia namun dengan gerakan cepat Boy berdiri di depan Delia untuk melindungi Delia dari amukan Mona.
"Kau...."Mona tak percaya akan apa yang di lakukan Boy padanya, Boy lebih melindungi wanita lain yang jelas-jelas sudah menghancurkan semua impiannya daripada mendukungnya.
"Ingat Mona,kamu itu wanita berkelas berperilaku seperti ini hanya akan merendahkan mu,semua bisa di bicarakan,ikutlah bersamaku." Bujuk Rey,ia tidak akan membiarkan Mona menyakiti wanita yang telah mencuri hatinya itu tapi Boy juga tidak ingin Mona mengetahui perasaannya pada Delia,bisa-bisa hidup Delia semakin tidak tenang di buatnya.
Sejenak Mona memikirkan perkataan Boy yang menurutnya ada benarnya juga,ia lalu berbalik pergi meninggalkan Delia dan Boy serta orang-orang yang menonton tindakannya tadi.
"Maaf ..." Ucap Boy,saat Delia hendak membuka pintu ruangannya,dirinya sudah terlalu malu untuk hanya sekedar melihat Boy dan orang-orang yang sudah kembali pada tempatnya masing-masing.
"Maaf untuk apa?" Tanya Delia ,ia merasa Boy tidak mempunyai kesalahan padanya.
"Maaf atas perlakuan Mona tadi, sebagai temannya aku mewakilinya untuk meminta maaf."
Delia kini tahu hubungan antara Boy dan Mona,ia lalu mengangguk dan masuk ke ruangannya, sementara Boy hanya menatap Delia yang sudah menghilang di balik pintu .
Boy menghela nafas, sebenarnya dia ingin mengobrol dengan Delia untuk memberinya dukungan tapi sepertinya Delia butuh waktu sendirian,jadi dia akan menunggu sampai Delia merasa baikan.
Walau di terpa rasa sakit dan malu tapi ,Delia tetap bekerja dengan profesional,ia tetap melayani para pasiennya walau tampak jelas wajah ibu- ibu yang mengantar anak mereka itu terdengar saling berbisik dan mencibirnya,tapi Delia tidak ingin menanggapi nya ia menutup telinga agar tak mendengar segala keburukan yang sedang di tujukan padanya .
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat,para pasien Delia juga sudah tak ada lagi,kini waktunya istirahat untuk melepas lelah dan mengisi perut,namun Delia kehilangan rasa lapar dan lelahnya saat ini ia masih terbayang -bayang akan kejadian yang menimpanya pagi tadi.
__ADS_1
Betapa dia begitu sangat malu untuk bertemu dengan orang-orang bahkan mungkin satu rumah sakit ini sudah mengetahui semua kabar tentang nya .
Tring...tring...sebuah panggilan di ponselnya membuyarkan lamunannya,Delia lalu melirik ponsel nya yang tergeletak di atas meja kerjanya,ia menghela nafas melihat id pemanggil yang tertera di layar ponselnya namun entah mengapa ia tak ingin menjawab panggilan suaminya itu, sementara Rey yang terus menelfonnya berulang-ulang itu semakin frustasi karna istrinya itu tak juga mengangkat telfonnya,Rey kemudian melirik jam tangannya untuk melihat jam dan waktu menunjukkan sudah jam istirahat tidak mungkin istrinya itu masih bekerja .
Rey membanting ponselnya dengan kesal karna sudah lebih dari dua puluh kali ia menelfon namun istrinya itu tak sekalipun menjawab telfonnya.
"Siiiittt sebenarnya kemana dia ?"Tanya Rey bertanya pada dirinya sendiri,baru saja akan beranjak dari duduknya sebuah pesan masuk ke ponselnya,Rey lalu mengambil ponselnya yang sempat di banting nya tadi untung saja ponsel itu tidak rusak,Rey lalu membuka pesan di aplikasi chat berwarna hijau itu,dan betapa terkejut dan marahnya dia saat melihat sebuah video pendek yang di kirimkan oleh anak buahnya yang bertugas untuk menjaga Delia dari jauh, amarahnya semakin bertambah saat dirinya melihat kedatangan Boy yang melindungi istrinya itu.
Rey memukul meja kerjanya dengan akibat rasa kesal bercampur cemburu karna seharusnya dirinyalah yang berada di samping Delia saat istrinya itu di permalukan akibat perbuatan dirinya sendiri dan ini lah sebabnya Rey tak ingin Delia bekerja untuk sementara waktu sampai dirinya bisa menyelesaikan semua masalah ini.
Tak ingin larut Rey menyambar kunci mobilnya lalu melangkah pergi meninggalkan ruangannya untuk menyusul sang istri yang di pikirnya saat ini tengah bersedih dan pastinya sangat malu .
"Urus semua pekerjaan di kantor." Perintah Rey saat dirinya berpapasan dengan Dion di depan ruangannya.Dion yang saat itu ingin menemui sang bos tentang jadwal kerjanya terpaksa hanya sanggup berdiam diri mendengar perintah bos nya itu.Rey kemudian berlalu meninggalkan Dion tanpa menunggu jawaban sang asisten.
Tak ada yang membuka suara sejak mereka berada di kantin ini, kedua nya seolah larut dalam pikirannya masing-masing.
" O ya,Kevin sangat merindukan mu katanya dia ingin bertemu denganmu." Ucap Boy memecah keheningan,setelah beberapa saat mereka saling berdiam diri.
Delia yang tadi nya tidak mempunyai semangat seketika menatap Boy dengan berbinar,moodnya berubah seketika lalu tersenyum seakan tak terjadi apa-apa.
"Benarkah, bagaimana kabarnya sekarang,aku juga merindukannya."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita video call saja,dia pasti sangat senang melihat mu."Ajak Boy sambil menekan nomor untuk menelfon putranya itu.
__ADS_1
"Hallo Dad..." Sapa seorang anak kecil di layar ponsel Boy.
"Hai jagoan,lagi ngapain sih?" Tanya Boy pada putranya itu yang terlihat sedang duduk di ruangan yang penuh dengan mainan itu.
"Lagi main aja,Daddy kapan pulangnya."
"Nanti Daddy pulang ya,o ya Daddy ada kejutan ni." Ucap Boy sambil menatap Delia yang juga sedang menatapnya mendengar kan percakapan antara ayah dan anak itu,ia lalu tersenyum tipis saat layar ponsel Boy mengarah ke arah Delia.
"Haiii.....anak ganteng ." Sapa Delia saat melihat Kevin di layar sambil melambaikan tangan.
"Dokter cantik..."Seru Kevin antusias sambil bersorak ria melihat wanita yang selalu di rindukannya itu meski mereka baru saja saling mengenal.
"Daddy curang ,nggak ngajak Kevin." Omel Kevin pada Daddynya.
Boy lalu mengarahkan kamera ponselnya ke arahnya.
"Sorry jagoan,Daddy juga nggak sengaja ketemu dengan dokter cantik." Ucap Boy menatap kearah Delia sebentar lalu kembali menatap ponselnya dimana putranya berada.
"Ajak Tante cantik ke rumah dong,Dad...Kevin kangen banget." Pinta Kevin penuh harap yang membuat Boy kembali menatap Delia,lalu memberikan kode pada Delia untuk mencari solusi atas permintaan sang putranya yang sebenarnya dia juga mengharapkannya.
"Nanti kalau dokter cantik punya waktu luang Daddy akan mengajaknya ke rumah." Bujuk Boy pada putranya,saat ia tak melihat reaksi atau tanggapan Delia.
Delia hanya tersenyum tanpa mengiyakan dan tak menolak juga.Mereka bertiga mengobrol begitu asyiknya seperti sebuah keluarga kecil dan Delia seketika lupa akan permasalahan yang baru saja menimpanya.
__ADS_1
Sementara di ujung kantin rumah sakit berdiri seorang pria yang tengah mengepalkan kedua tangannya begitu erat sampai memperlihatkan buku-buku jarinya,Rey begitu kesal dan amarah terpancar jelas dari raut wajahnya melihat keakraban istrinya dengan pria lain yang kebetulan adalah pria yang sangat tak di sukainya itu,pria yang terang -terangan mengibarkan bendera persaingan untuk merebut istrinya dari tangannya.