
Rey dan Delia kini berada di rumah tempat tinggal Delia,mereka sedang berkemas-kemas untuk pindah ke Apartemen milik Rey, sedangkan Revan yang sedari tadi sudah selesai berkemas sedang istirahat di kamarnya,ia ingin menikmati tidur terakhir nya di rumah ini.
"Bawa barang yang penting-penting saja ." Ujar Rey sambil membantu mengemasi barang-barang Delia.
"Iya."
"Tapi sebelum kita ke apartemen aku ingin ke klinik dulu."
Rey yang sedang menyusun beberapa barang ke dalam kardus menghentikan pekerjaannya saat mendengar ucapan Delia,ia kemudian menatap tajam ke arah Delia.
"A...aku ingin memberikan surat pengunduran diri ku." Lanjut Delia saat melihat tatapan tajam Rey padanya.
"Tidak perlu..."
"Tap..."
"Baiklah.."Ucap Delia pasrah Karna saat ini Rey benar-benar menatapnya seperti mangsa.
"Aku ingin ke rumah sakit sebentar,boleh?"
"Baiklah,kita akan pergi nanti,lagi pula Ramon juga tadi menelfon ku katanya ada yang ingin di sampaikan nya mengenai perkembangan Vio."
"Baiklah."
Rey ,Delia dan Revan kini berada di rumah sakit tempat Vio dirawat, keadaan Vio semakin hari semakin membaik meski belum bisa membuka mata tapi setidaknya tangannya mulai bisa bergerak,hari ini Vio akan di terapi lagi agar dia cepat kembali sadar .
"Bagaimana keadaannya? Tanya Rey pada Ramon yang baru saja selesai memeriksa kondisi Vio.saat mereka berempat berada di dalam ruang perawatan Vio.
"Sejauh ini perkembangan nya sudah lebih baik." Jelas Ramon .
Mereka pun sejenak mengobrol sambil bercanda , kebahagiaan terpancar jelas di wajah Rey.
"Oh ya kan misi mu sudah berhasil kapan kamu kembali ke Indonesia?" Tanya Ramon di sela-sela obrolan mereka.Delia menatap bingung ke arah Rey dan Ramon secara bergantian.
"Misi apa?" Tanya Delia penasaran ,sedangkan Rey dan Ramon menyungging kan senyum ke arah Delia.
"Apa , kenapa kalian menatapku?"
__ADS_1
"Kak Rey sedang dalam misi mengejar cinta kak Delia,kalau di sinetron kan,judul yang cocok apa ya?" Sela Revan sambil mendongak seakan sedang berfikir keras,Rey dan Ramon menjitak kepala Revan secara bersamaan lalu mereka tertawa bersama, sedangkan Delia hanya terdiam menahan tawa melihat tingkah ke tiga pria yang ada di depannya itu.
"Anak kecil di larang ikut campur urusan orang dewasa." Ucap Ramon .
"Aku sudah dewasa,aku sudah kuliah bukan anak kecil lagi,aku sudah bisa melindungi kak Vio dan Kak Delia,jadi jika kalian menyakiti kedua wanita ku maka kalian akan berhadapan denganku." Kesal Revan sambil mengancam Rey dan Ramon.Ia tidak terima dirinya masih di anggap anak kecil padahal di kampus dia adalah sang penakluk hati wanita.
Rey dan Ramon kembali tertawa mendengar ancaman Revan pada mereka ,lalu kemudian merangkul Revan secara bersamaan dan jadilah mereka saling berpelukan seperti Teletubbies.
Delia memutar bola matanya ,jengah melihat tingkah aneh ke tiga pria itu.Ia kemudian melirik ke arah Vio dan betapa ia begitu terkejut saat mata nya memandang wajah Vio.
"Vio .." Gumam Delia sambil berjalan mendekati Vio,air matanya tiba-tiba merembes begitu saja saat melihat sebuah keajaiban di depan matanya.
Sementara ke tiga pria yang berada dalam satu ruangan dengannya belum menyadari dengan apa yang terjadi pada Vio .
"Vio bangun... lihatlah Vio membuka matanya." Teriak Delia antusias,ketiga pria yang tadinya sedang asyik mengobrol bangkit bersamaan dan berlari kecil ke arah tempat tidur Vio,dimana Delia sudah berdiri di samping Vio sambil membelai rambut Vio.
"Vio.." Ucap Ketiga pria itu secara bersamaan saat melihat Vio,antara terkejut dan bingung disertai rasa bahagia yang membuncah melihat keajaiban yang mereka lihat di depan mata.
Ramon bergegas memeriksa kondisi Vio,sedangkan Vio hanya dapat memandang orang-orang yang berada di sekeliling nya.
"Ini sebuah keajaiban dari Tuhan, kondisi nya sudah membaik sekarang ."
Rey kemudian mencubit kecil lengan Vio ,tangan Vio bergerak dan matanya menatap tajam ke arah Ramon yang baru saja mencubitnya.
...****************...
Dua minggu berselang setelah Vio bangun dari komanya, kondisinya kian membaik,sedangkan Rey dan Delia sudah kembali ke Indonesia dan Revan di sibukkan dengan kuliahnya.Rey memberi tanggung jawab kepada Ramon untuk menjaga Vio dan Revan di Jerman selama dirinya dan Delia berada di Indonesia,tapi mereka akan berkunjung ke Jerman setiap dua bulan sekali.
Sejak kembali ke Indonesia Delia belum juga bekerja,ia masih betah tinggal di apartemen menjadi ibu rumah tangga meski sebenarnya Rey tidak mempermasalahkan jika Delia kembali bekerja tapi Delia belum ada ke inginan untuk kembali bekerja,ia sedang ingin menikmati menjadi ibu rumah tangga mengurus suaminya.
Sejak pagi-pagi buta Delia sudah di sibukkan dengan berbagai pekerjaan.
"Lagi sibuk apa sih, pagi-pagi sudah tidak ada di kamar." Seru Rey sambil memeluk Delia dari belakang,wajahnya ia tempelkan di ceruk leher Delia yang sedang memasak .
Delia tidak menjawab pertanyaan Rey karna ia yakin tanpa di jawab pun Rey sudah tahu apa yang sedang di kerjakan nya.
"Iiiihhh geli sayang ,lepas aku mau angkat ini." Ucar Delia merasa geli Karna Rey terus saja menciumi leher Delia,padahal semalam ia mendapatkan jatahnya,tapi seakan tak ada puasnya Rey masih terus saja tergoda akan tubuh sang istri.
__ADS_1
"Sudah dong,kamu gak mau makan."
"Rasa laparku hilang jika bersama dirimu." Ujar Rey sambil masih terus saja menggerayangi tubuh Delia.
Delia kemudian menyikut perut Rey pelan karna Rey terus saja menempel padanya hingga membatasi ruang gerak nya.
"Kamu kok jadi kejam banget sih sayang." Protes Rey saat tubuhnya terlepas dari tubuh Delia akibat di sikut oleh Delia.
Delia tidak menanggapi ocehan Rey ,Delia hanya fokus menata meja makan untuk sarapan mereka,setelah selesai Delia lalu mendekati Rey yang masih berdiri di posisi nya.
Cup...
Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Rey,dan tentu saja itu membuat Rey jadi semakin sumringah Karna Delia sangat jarang memberikan ciuman padanya terlebih dahulu.
"Woww aku merasa jadi lebih bersemangat sekarang." Ujar Rey sambil menarik tubuh Delia kedalam pelukannya dan menghujaninya ciuman di seluruh wajahnya,setelah di rasa puas ia lalu menggandeng sang istri menuju meja makan dan menarik kursi untuk di duduki Delia.
"Silahkan duduk tuan Putri." Ucap Rey sambil membungkuk kan sedikit tubuhnya,Delia hanya tersenyum tipis melihat tingkah Rey yang selalu memperlakukan dirinya dengan manis dan romantis.
Setelah Delia duduk,Rey pun menyusul duduk di samping Delia,lalu menyantap makanan yang telah di berikan Delia.Mereka pun makan dengan lahap tanpa ada yang bersuara.
"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Delia saat melihat Rey yang masih bersantia di ruang tv sambil menonton dengan masih menggunakan pakaian santainya.
"Tidak sayang,aku masih ingin bersamamu,sulit rasanya berjauhan darimu ." Ujar Rey lalu menarik tubuh Delia untuk duduk di sampingnya.
"Jangan ke kanak-kanakan deh,kalau kamu tidak kerja siapa yang akan mengurus pekerjaan mu,aku tidak mau kamu bangkrut Karna ingin menempel terus lalu menelantarkan semua pekerjaan mu,ingat ribuan orang menggantungkan hidupnya pada mu." Ujar Delia panjang lebar.Ia tidka ingin Rey berubah jadi pemalas setelah bersama dirinya,ia menginginkan Rey yang seperti dulu pekerja keras tapi tetap mengutamakan keluarganya .
"Iya,baiklah sayang ,demi perintah ibu bos ." Ucap Rey terkekeh melihat tatapan tajam Delia padanya.
Tring...tring...Ponsel Rey berbunyi dan membuat Rey menghentikan aktivitas indahnya bersama Delia di sofa.
Dengan wajah di tekuk Rey lalu mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
"Kenapa menelfonku pagi-pagi begini, bukankah aku sudah mengatakan jangan menggangguku." Maki Rey saat menerima panggilan dari Dion,wajah dan nada bicaranya berubah jadi dingin dan datar.Sedangkan Delia hanya bisa menggeleng melihat perubahan pada suaminya itu,yang tadinya begitu manis dan manja di depan nya tiba-tiba berubah jadi di gin dan datar saat berbicara dengan Dion.
"Dasar bunglon."Gumam Delia.
"Siapa yang bunglon?" Tanya Rey saat dirinya sudah memutuskan sambungan telfonnya .
__ADS_1