Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 146


__ADS_3

Tanpa mengulur -ulur waktu Rey lalu menarik kerah baju Ramon dengan tatapan permusuhan.Ramon yang tak terima di perlakukan seperti itu langsung menepis tangan Rey yang menarik kerah bajunya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Ramon dengan nada kesal karena di perlakukan Rey dengan kasar.


"Jauhi Vio." Ucap Rey dingin dan datar ,matanya masih memandang tajam kearah Ramon.


"Apa maksudmu,gila kamu." Ron tak terima dengan ucapan Rey yang menyuruhnya menjauhi Vio,pada hal seingatnya tak ada masalah di antara mereka.


"Kita sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya Mon,aku sudah memperingatimu untuk tidak menyakiti nya dan jika sampai aku tahu kamu ingat kan yang ku katakan pada dulu."


Ramon semakin bingung dengan ucapan Rey,tentu ia sangat ingat akan peringatan yang pernah Rey dan Revan katakan pada nya dulu,ketika ia mengutarakan rasa suka dan keinginannya untuk menjalin hubungan serius dengan Vio meski Vio belum mengetahui hal itu.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi Rey aku bingung dengan mu yang tiba-tiba datang marah-marah padaku dan memintaku untuk menjauhi Vio,apa salahku?" Ramon mencoba untuk tetap tenang menghadapi kemarahan Rey karena jika ia juga terpancing maka mereka akan adu jotos.


"Ck..." Rey tersenyum kecut mendengar pertanyaan Ramon yang seolah-olah tak tahu ajar masalahnya. "Kamu pikir aku bodoh,dengar baik-baik." Rey menunjuk dada Ramon dengan rahang mengetat menahan amarah." Sebelum Vio menaruh harapan lebih besar pada jauhi dia,aku tidak ingin melihat adikku meneteskan air mata sedikitpun karena mu, karena jika hal itu terjadi kamu akan berhadapan denganku." Lanjut Rey lagi sambil mendorong tubuh Ramon hingga hampir terjungkal.


"Kenapa aku harus menjauhi Vio,kenapa? Kamu tahu aku begitu mencintainya,aku sangat mencintainya dan kamu tahu itu." Teriak Ramon pada akhirnya ia sudah tidak tahan lagi dipojokkan oleh Rey tanpa dia tahu apa kesalahannya."


"Karena kamu adalah calon suami wanita lain,dan kamu tidak hanya membohongi Vio tapi aku juga,aku Ramon,aku mempercayai mu aku begitu mempercayai mu setelah papaku sendiri mengkhianati semua keyakinanku dan kamu ." Rey mengusap wajahnya kasar ia tak benar-benar di buat kecewa oleh Ramon.


"Aku?" Lirih Ramon sambil menunjuk dirinya sendiri,semakin bingung dengan ucapan Rey.

__ADS_1


""Apa Kamu memang tidak pernah berubah Mon,aku pikir perilaku mu yang suka mempermainkan wanita sudah berubah,aku pikir kamu tidak lagi mempermainkan wanita,tapi itu salah ku seharusnya aku tidak terkecoh oleh mu dan meyakini semua ucapanmu yang kamu katakan padaku dan Revan dulu.Kamu tahu Mon,aku begitu mempercayai mu,saking percaya nya aku membiarkan Revan dan Vio tetap tinggal di negar ini,dan aku membiarkanmu membawa Vio ke kota ini, karena aku yakin Ki bisa menjaganya dan melindunginya,aku mempercayai mu sobat." ujar Rey dengan tidak ada pelan ,tidak ada lagi kemarahan yang terpancar di matanya tapi justru kekecewaan yang ada.


"Tapi hari ini kepercayaan ku dan keyakinan ku tak ada lagi,kamu tidak ada bedanya dengan papa."Rey lalu melangkah pergi meninggalkan Ramon yang terdiam mencerna semua ucapan Rey.


"Kamu bertemu dengan Sophia?" Tanya Ramon,Rey menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Ramon,ia tersenyum kecut mendengar nya,ia lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Ramon.


Rey dan Ramon kini saling berhadapan tapi dengan jarak yang tak begitu dekat.


"Tidak penting aku bertemu dimana,yang jelas jauhi Vio dan urus saja tunangan mu karena jika sampai dia menyakiti Vio ,kamu akan berhadapan dengan ku.kamu pasti tahu betul kan watak calon istri mu itu."


"Dengar Rey,aku bisa menjelaskan semuanya,semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan,ya benar aku dan Sophia di jodohkan oleh orang tua kami,sungguh aku tidak tahu perihal perjodohan itu Rey,aku baru tahu saat kamu baru tiba di kota ini,tapi aku sudah menolak perjodohan ini Rey,aku..."


"Kalau begitu selesai kan udah urusanmu itu,aku tidak ingin Vio menjadi korban kebrutalan Sophia jika dia tahu hubungan kalian dan aku tidak ingin dia mencelakai Vio,kamu tahu maksudku kan." Rey kembali memutar tubuhnya membelakangi Ramon ,"Oh ya, sebelum urusan mu belum selesai jangan pernah menghubungi Vio atau pun menemuinya,dan jangan pernah menampakkan dirimu di hadapan Vio sebelum kamu selesaikan semuanya." Sambung Rey lagi tanpa menoleh ke arah Ramon.


"Tidak ada tapi-tapian,aku sudah berjanji di hadapan makam kedua mertuaku untuk menjaga dan melindungi Vio dan Revan,dan akuaku sudah menganggap dan memperlakukannya seperti adik kandungku sendiri bukan adik ipar."Potong Rey lalu berlalu meninggalkan Ramon yang masih berdiri mematung.


Ramon semakin terperangah dan tak berkutik saat melihat Vio berdiri tak jauh dari tempatnya dan Rey berbicara.Sejenak Rey menghentikan langkahnya tepat di hadapan Vio,Rey lalu menepuk sebelah bahu Vio dan mengajaknya masuk.


Vio pun menurut dan masuk bersama Rey ke dalam hotel tempat mereka menginap.Sementara Ramon terkulai lemas saat melihat wajah sendu dan sembab Vio,ia yakin Vio mendengar semua percakapan nya bersama Rey tadi.


Ramon menendang kaleng minuman kosong bekas minuman yang ada tepat di bawah kakinya, berbagai perasaan berkecamuk di hatinya.

__ADS_1


Ron lalu melangkah menuju mobilnya yang terparkir tepat di samping mobil Rey. Ia kini kehilangan semangatnya.


Ramon lalu membuka pintu mobilnya dan masuk ke kursi bagian kemudi.Rencana yang telah ia susun sejak jauh-jauh hari untuk menyatakan cinta dan sekaligus melamar Vio di sebuah restoran mewah yang telah ia booking dua hari yang lalu karena rencananya besok malam ia akan melaksanakan rencananya itu,,tapi kini semua rencana dan persiapan yang telah matang itu di pastikan gagal sebelum di mulai.


"Hhhuuaaaa..." Jerit Ramon sambil memukul-mukul setir kemudi yang ada di depannya,ia benar-benar patah hati,cintanya layu sebelum berkembang.


"Apa Sophia..." Lirih Ramon kesal,ia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari halaman hotel.Ramon mengemudikan mobilnya dengan rasa kesal dan amarah.


Di hotel, tepatnya di dalam kamar Vio,ia sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil memangku sebuah bantal di pahanya, matanya memandang kosong ke depan.


Butir air matanya nya jatuh begitu saja saat ingatannya kembali ke beberapa jam uang lalu saat tanpa sengaja Vio mendengar percakapan antara Rey dan Ramon mengenai status Ramon yang ternyata adalah calon suami Sophia.


Ternyata apa yang aku pikirkan tempo hari itu benar,tidak mungkinkan mereka sedekat itu jika tak punya hubungan." Lirih Vio .


"Ternyata sesakit ini,padahal belum menjadi siapa-siapa tapi kenapa sesakit ini,hiks....hiks...bodohnya aku menyimpan perasaan lebih pada milik orang lain."


Vio lalu mendongakkan wajahnya berharap agar air matanya tak lagi jatuh,tapi usaha itu tidak berhasil karena air matanya justru semakin deras ketika mengingat kenangan nya bersama Ramon.Sejak sembuh dari sakitnya Ramon lah yang selalu bersama nya.


Hubungan mereka memang aneh,mereka begitu sangat dekat, kemana pun selalu bersama,menghabiskan waktu bersama tapi hubungan sedekat itu,tak ada satupun dari mereka yang pernah menyatakan cinta,hubungan mereka mengalir begitu saja. Jadi hubungan seperti apa yang mereka jalan? Dan hari ini kenyataan menampar mereka,dan tak ada yang patut di persalahkan atas kenyataan yang mereka hadapi.


"Akucs

__ADS_1


"


__ADS_2