
Delia ingin bangkit dari duduk nya saat melihat kondisi Vio yang tak baik-baik saja tapi Rey melarang nya dengan menggelengkan kepalanya.Delia lalu pun mengurungkan niatnya itu dan kembali duduk di tempatnya .
"Biarkan dia menenangkan dirinya sayang,biarkan dia memutuskan apa yang menurutnya terbaik untuk dirinya ,kita hanya perlu memberi dukungan." Ujar Rey bijak.
#
#
#
Sudah tiga hari ini Rey ,Delia dan Vio berada di Indonesia, mereka pun menjalani hari-hari seperti biasa nya, sedangkan Vio bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Fikirannya perlahan-lahan melupakan Ramon,walau terkadang ia masih memikirkan nya .
Delia juga kembali di sibukkan dengan mengurus kliniknya yang berada tak jauh dari tempat tinggal,dan Rey tentu saja dia adalah orang yang paling sibuk,tapi meski di sibukkan dengan berbagai pekerjaan ia tetap menomor satukan keluarga nya.Kehidupannya pun terasa begitu membahagiakan hingga suatu kabar memberikan mereka sebuah kedukaan yang sangat begitu mendalam.
Semalam orang suruhan Rey yang di perintahkan oleh Rey untuk menjaga dan memberikan informasi mengenai Rosa dan ibunya ,memberikannya sebuah kabar duka,dimana sang orang suruhan itu mengabarkan jika Rosa telah menutup matanya untuk selamanya. Sejak koma Rosa tak pernah terbangun hingga menutup usia. kabar itu duka itu merupakan kabar yang paling menyesakkan dan memilukan hati.
Rey terduduk lemas di lantai sambil melipat kedua lututnya setinggi dada dan menumpukan kepalanya di kedua lututnya.ia tak peduli lagi seberapa banyak air mata yang telah ia tumpahkan karena sebuah penyesalan tak mendengar ucapan Delia untuk tinggal beberapa hari lagi menunggu perkembangan Rosa,tapi ego dan rasa kecewanya mengalahkan cara berfikir nya.
__ADS_1
Sedangkan Delia dan Vio pun takkalah syok dan sedihnya atas kabar yang baru saja mereka terima,Delia semakin di buat gelisah karena Rey mengurung dirinya di ruang kerjanya sejak malam tadi saat ia menerima telfon dari orang suruhannya.
"Mas...Mas Rey." Panggil Delia serak sambil mengetuk- ngetuk pintu ruang kerja Rey dari luar,tapi beberapa kali ia mengetuk dan memanggil Rey tapi tak pernah ada jawaban dari dalam dan hal itu semakin membuat Delia cemas.
Tak hilang akal Delia lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya . Rey mencari - cari kunci cadangan pintu ruang kerja Rey di laci , beberapa laci dan lemari telah di bukanya tapi tak juga dia temukan,hingga sesuatu mengingatkannya pada sebuah kota.Delia lalu melangkah menuju bufet yang berada di sisi tempat tidurnya,ia lalu duduk menjongkok dan perlahan membuka laci bufet itu ,matanya langsung tertuju pada sebuah kota kecil yang berada di dalam laci. Diraihnya kota itu lalu membuka penutup nya , seketika hatinya lega saat ia melihat kunci cadangan itu berada di dalam kotak, Delia lalu mengambil kunci itu dan ia pun berlari kecil kembali ke lantai bawah untuk membuka pintu ruang kerja Rey dimana sejak semalam Rey mengurung dirinya.
Perlahan Rey membuka pintu ruang kerja Rey, ia lalu mengarahkan matanya ke seluruh sudut ruangan,tapi Rey tak nampak berada di ruangan itu,Delia lalu melangkah masuk dan menutup pintu,matanya terus mencari keberadaan sang suami, hingga tanpa sengaja matanya menangkap sosok sang suami yang sedang duduk menelungkup di bawah meja kerjanya.
"Mas..." Lirih Delia sembari berlari kecil menghampiri Rey yang sudah terlihat lemah disana.
"Rosa Del,Rosa." Isak Rey di dalam pelukan Delia,ia benar-benar rapuh saat ini,,dadanya begitu sesak .
"Menangis lah mas,jika tangisan itu mampu mengurangi kesedihanmu,menangis lah." Ucap Delia menenangkan Rey sambil mengusap pelan punggung sang suami.
Rey semakin mempererat pelukannya,ia menumpahkan segala beban nya di pundak sang istri,sedangkan Delia hanya terdiam masih mengelus lembut punggung suaminya,hatinya pun ikut pilu melihat Rey yang biasa nya begitu kuat dan tenang tapi hari ini sang suami benar-benar berada di titik rapuhnya.
Rey lalu merenggangkan pelukannya ,matanya begitu sembab, rambut dan pakaian nya acak-acakan.
__ADS_1
"Ayo kita Jerman mas." Ajak Delia sambil menatap mata sembab Rey.
"Tidak ,kita tidak akan ke Jerman,aku tidak ingin bertemu dengan papa,semua ini karena papa,jika saja papa membiarkan ku membawa Rosa ke Amerika,mungkin ini tidak akan terjadi." Tolak Rey,ia masih ingat betul ketika Rey minta untuk membawa Rosa ke Amerika untuk berobat saat Rosa dalam keadaan koma, karena ia merasa di rumah sakit itu Rosa tidak mengalami kemajuan sama sekali,tapi rencana nya di tentang oleh ayahnya,mereka bahkan saling mendebat dan bertengkar hingga sebuah ucapan yang keluar dari mulut sang ayah begitu menyakiti hatinya,hingga akhirnya ia memutuskan untuk tak lagi m ngurusi Rosa,di tambah saat ia melihat Ramon bermesraan dengan wanita lain,semakin menambah kemarahan dan kekecewaan nya hingga akhirnya ia memutuskan kembali ke Indonesia.
"Hilangkan rasa dendam mu mas,cobalah untuk berdamai dengan keadaan,berdamailah dengan masa lalu mas." Bujuk Delia lembut.
"Cobalah untuk membuka hatimu mas,cobalah untuk memaafkan papa,aku tahu itu sangat sulit bagi mu." Lanjut Delia lagi sambil memangku plan kedua tangannya di wajah Rey." Hidup kita tidak akan bisa tenang,jika rasa dendam ,sakit hati dan amarah itu masih menguasai kita.Lihatlah kita punya segalanya,harta berlimpah tapi hati kita kosong,hidup kita sepi, aku tahu perbuatan papa sulit untuk di lupakan,tapi mau sampai kapan kita menyimpan kebencian itu, kebencian yang terus merongrong kebahagiaan kita. lihatlah mama,di usia tuanya dia harus hidup seperti itu,tak ada anak dan cucu di dekatnya."
"Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya , bagaimana terlukanya hati ini saat mengetahui kenyataan Del,orang yang begitu aku hormati,aku begitu menyayangi,bahkan setiap ucapan nya adalah perintah bagiku,dia membawaku masuk kerumahnya,memberikanku kasih sayang dan mengajariku banyak hal,tapi di saat yang lain ternyata dialah yang sebenarnya menghancurkan kebahagiaan,memaksa seorang anak berumur dua tahun menjadi yatim piatu,merenggut kasih sayang yang seharusnya sang anak dapatkan dari kedua orang tu kandungnya."
Delia terdiam mendengar keluh kesah Rey.
"Aku begitu menyayangi nya Del,tapi sisi lain aku pun begitu membencinya,aku tidak punya hati sekuat itu untuk menerima kenyataan yang ada,tidak bisa."
"Aku paham ,aku memahami nya Rey,Aku pun akan melakukan hal yang sama jika posisi itu terjadi pada ku,tapi menanam kebencian hanya akan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan segalanya,aku tahu perlakuan papa tidak bisa di benarkan,tapi bukankah dia sedikit membayar dosanya itu dengan menjaga dan merawat mu,aku tahu itu tidak bisa di bandingkan dengan semua rasa sakit yang ia berikan untuk mu,tapi cobalah membuka lembaran baru hidup kita,memaafkan akan menjadikan hati kita tenang dan bahagia."
Rey men
__ADS_1