Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 167


__ADS_3

Malam hari tepat pukul sepuluh malam Vio pulang dari klinik dengan berjalan kaki sendirian, biasanya dia akan pulang bersama dengan dokter Farhan atau rekan kerjanya tapi karena ia tadi begitu sibuk di klinik akhirnya ia pulang larut malam dan sendirian karena dokter Farhan sedang ke kota untuk mengambil beberapa obat yang sudah menipis di klinik .


Suasana desa malam itu begitu sepi tak ada seorang warga pun yang terlihat ,mereka semua mungkin sudah terlelap karena memang malam memang sudah begitu malam hanya cahaya lampu jalan yang terpasang di setiap halaman rumah warga yang menerangi gelapnya malam,serta suara-suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan.


Baru saja akan berbelok melewati pos kamling sebuah tangan tiba-tiba menarik tubuh Vio dan membawanya masuk ke dalam pos kamling,Vio terlihat begitu ketakutan saat ia melihat tubuh seseorang yang berdiri di hadapannya, Sejenak mereka saling berpandangan .


"Kamu ngapain kamu di sini?" Tanya Vio saat ia mengetahui orang yang menariknya tadi.


"Aku sedang berkunjung dan ingin menemui mu." Ujar sang pria yang tak lain adalah Ramon.


Vio memutar bola matanya malas, sejujurnya ia sudah tak ingin berurusan dengan Ramon lagi,tanpa sadar sejak Vio berada di desa ini dan bertemu dengan dokter Farhan perlahan ia memang sudah kembali bangkit dan melupakan segala masa lalu nya bersama Ramon.


"Aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan,kita sama sekali tidak punya kepentingan untuk bertemu." Ucap Vio sembari berjalan ingin keluar dari pos kamling,namun baru saja akan melangkah Ramon menarik tangannya dan membuatnya terhuyung menabrak tubuh Ramon dan Ramon yang tak siap akhirnya keduanya pun jatuh ke lantai dengan posisi tubuh Vio tepat berada di atas tubuh Ramon.


"Hei... ngapain kalian ?" Suara seseorang yang datang tiba-tiba membuat Ramon dan Vio yang masih dalam posisi yang sama begitu terkejut dan menoleh ke arah yang sama di mana dua orang pria sedang berdiri di depan mereka dengan raut yang terlihat menahan amarah.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini ?" Tanya seorang warga lagi sambil berkacak pinggang dengan tatapan tajam yang mengarah ke arah Vio dan Ramon.


Dengan rasa takut dan malu. menyadari akan posisinya Vio segera bangkit dan memperbaiki pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan,begitu pun dengan Ramon ia berdiri tepat di samping Vio , ia terlihat biasa saja tidak seperti Vio yang sudah pucat pasi dan keringat dingin.


"Ibu dokter?" Gumam salah seorang warga setelahelihat jelas wajah Vio yang ternyata adalah orang yang mereka tangkap basah.


"Sa......saya...saya bisa jelaskan,ini tidak seperti yang kalian lihat,ini...ini...".Jelas Vio gugup dan malu.


"Maaf Bu dokter sebaiknya anda dan kekasih anda kami bawa kerumah pak kades."

__ADS_1


Bagai tersambar petir di siang hari ,wajah Vio semakin pucat,segala perasaan berkecamuk di hatinya,antara malu dan takut apalagi jika mereka di bawa ke rumah pak kades.


"Tidak...jangan...kami tidak melakukan apa,sungguh." Ucap Vio meyakinkan.Mau di simoan di mana wajahnya jika jika mereka di arak ke rumah pak kades,pasti seluruh warga akan mengetahuinya dan juga rekan-rekannya.Ia tidak bisa membayangkan sua itu,dan bagaimana jika dokter Farhan sudah kembali dan mengetahui semua ini harga dirinya akan sangat terluka.


Dengan segala perdebatan panjang ,di sinilah mereka di rumah pak kades,dimana beberapa warga sedang berkumpul menyaksikan sidang Vio dan Ramon.


"Kami tidak melakukan apa pun pak,saya tidak sengaja terpeleset dan tidak sengaja menimpa tubuh pak Ramon." Jelas Vio takut dan malu harga dirinya kini di pertaruhkan,image nya mungkin juga akan berubah di mata warga dan rekan-rekannya terlebih di mata dokter Farhan.


Sedangkan Ramon hanya terdiam sedari tadi,entah apa yang ada dalam fikirannya kini, tapi melihat wajah Vio yang ketakutan dan pucat membuat hatinya teriris,jika hanya dirinya sendiri dia tidak akan ambil pusing tapi ada Vio,ia tidak ingin harga diri Vio di pertaruhkan dan kepribadiannya di pertanyakan dan hal itu akan membuat semua mata memandangnya rendah.


"Kami tidak melakukan apa pun,dan apa yang dokter Vio katakan itulah kebenarannya."Ucap Ramon akhirnya.


"Saya percaya kalian tidak melakukan apapun,saya sangat mengenal dokter Vio dan dokter Vio tidak akan melakukan hal-hal yang buruk, tapi pak warga desa tidak akan mau menerima alasan apa pun,apa lagi mereka melihat dengan jelas sulit untuk menerima,dan sebentar lagi tokoh adat desa kami akan datang ." Jelas pak kades ,sejujurnya ia pun tak percaya tapi desa ini memiliki aturannya sendiri dan warga desa sangat menjaga segala aturan yang ada di desa mereka.


Tak berselang lama seorang tokoh adat pun tiba di rumah pak kades, seorang pria sepuh dengan pakaian berwarna serba hitam,pria itu naik ke atas anakan tangga dengan seorang pemuda di sisinya untuk membantunya menaiki tangga.


"Silahkan duduk pak." Ucap pak kades sambil berdiri mempersilahkan sang sepuh untuk duduk.


"Apakah mereka pelakunya?" Tanya sang sepuh dengan menunjuk menggunakan dagunya. .


Ucap pak kades.


Sang sepuh pun memandang Vio dan Ramon bergantian sambil mengangguk-angguk.


"Kalian orang - orang kota memang memiliki kebebasan,dan perilaku kalian tidak bisa di terima di desa ini.Apa kalian sadar perilaku kalian telah menodai kesucian desa kami ,desa yang kami jaga sejak berpuluh-puluh tahun."

__ADS_1


"Kalian harus menikah secara adat desa kami, hal ini di lakukan agar nenek moyang kami tidak murka pada kami dan berdampak pada warga desa."


Dunia Vio seakan berhenti saat itu juga setelahi dia mendengar ucapan sang sepuh,tokoh adat yang di tuakan dan sangat di hormati warga desa .


"Tapi pak..."


"Tidak ada alasan,kalian harus menikah dengan melakukan ritual adat.Ini sudah menjadi keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat."


"Tapi pernikahan itu bukan mainan pak,tidak ada keluarga kami di sini dan juga...."


"Jika kalian berani melakukan perbuatan tercela maka kalian pun harus berani menerima segala konsekuensi nya,ini bukan kota anak muda."Potong dan sang sepuh saaqt mendengar protes dari Ramon.


"Araqu kalian lebih memilih di amuk warga?"


"Baiklah ." Ucap Ramon mantap,ia tidak akan mbiarkan Vio menjadi bahan amukan warga jadi mau tidak mau ia menerima keputusan dari saAng sepuh urusan lainnya ia akan memikirkannya nanti.


Vio menoleh ke arah Ramon dengan menahan amarah dan kecewa karena Ramon telah membuatnya berada dalam kesulitan ini.


"Baiklah,besok kita akan memulai prosesnya,sekarang kalian semua beristirahatlah,dan kamu anak muda tinggallah di rumah ini,dan ibu dokter akan di antar ke rumahnya,sidang ini selesai." Ujar sang sepuh sembari berdiri meninggalkan Vio dan Raqmon yang masih berperang dengan fikirannya sendiri, sedangkan pak kades mengantar sang sepuh keluar.


"Semua ini karena mu,ingatlah aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan mu ini." Ujar Vio dengan amarah yang tergambar jelas di wajahnya ia lalu beranjak meninggalkan Ramon sendirian yang masih tertegun dengan ucapan Vio,ia dapat melihat dengan jelas amarah di wajah Vio dan hal itu membuatnya terluka. Hubungan yang ingin dia perbaiki justru semakin merenggang.


ia memang ingin menikahi Vio tapi bukan dengan cara seperti ini,ia sudah mengatur rencana dengan baik tapi semua rencana yang tersusun rapi itu kini rusak dan gagal sebelum di mulai.Dan hal yang membuatnya terluka kebencian di mata Vio yang baru saja di lihatnya di mata indah itu.


"Iya pak."

__ADS_1


T


__ADS_2