Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 61


__ADS_3

Usai bepergian seharian ke pusat kota yaitu kota Surabaya bersama kedua orang tua nya dan adiknya ,mereka tiba dirumah pukul sepuluh malam.Karena terlalu lelah, sesampainya di rumah ,mereka duduk sejenak,menikmati secangkir teh hangat.Kemudian masing-masing ke kamar,untuk tidur.


Delia dan Revan tidur di lantai bawah,kamar Delia bersebelahan persis dengan kamar Revan yang berada di lantai bawah. Sementara itu kedua orang tua mereka tidur di lantai atas begitu pun dengan Vio,kamarnya berada di lantai dua berhadapan dengan kamar kedua orang tuanya.


Karna tubuh yang kelelahan ,mereka tidur begitu nyenyak,Karna besok mereka akan memulai hari dengan aktivitas masing-masing.


Mereka tertidur nyenyak.Malam itu Delia bermimpi sedang mendaki gunung,bersama Rey,kedua orangtuanya dan juga kedua adiknya.Semenjak kecil ,ia memang ingin sekali melakukan hiking dan climbing bersama teman-temannya,tapi,selain karna kesibukannya belajar untuk mengejar beasiswa ia juga merasa kurang suka berjalan-jalan ,berkemah,dan mendaki gunung bersama teman-temannya.Biasanya mereka pergi rombongan ,laki-laki dan perempuan,pergi hingga berhari-hari,tanpa di temani mahram mereka.Ia tak bisa membayangkan melakukan hal itu ,Meski saat itu ia juga belum tahu benar tentang hukum wanita bepergian tanpa di temani mahram.


Tapi pergi tanpa bersama orangtua atau adik laki-lakinya ,bergerombol,bersama banyak orang,pria dan wanita,sungguh tak bisa dia bayangkan,Risih, dan dan tidak nyaman.


Tapi dalam mimpinya ini,keinginan terpendam itu terwujud,bersama keluarganya,mereka mendaki gunung yang cukup tinggi.Jalannya mendaki,tapi tidak terlalu banyak semak-semak.Pendakiannya juga tidak terjal,sehingga tidak terasa menyulitkan,setelah berjam-jam melakukan pendakian,mereka pun tiba di puncak.


Delia tak pernah tahu bagaiman kondisi puncak gunung.Ia hanya pernah mendengar cerita dari teman-temannya.Ternyata begit indah.Ada hamparan luas,bergunduk-gunduk,di tengahnya ada rongga besar,menyerupai lembah ,tapi tidak dalam.Disitu ada juga lubang-lubang tidak terlalu besar yang mengeluarkan asap panas.

__ADS_1


Diluar rongga lembah itu ,tanah lebih datar . Cukup luas,dan terlihat sangat mempesona.Apalagi udara terasa dingin sekali,dan langit terlihat cerah berawan.Awan-awan putih itu sebagian terlihat begitu dekat,seperti bisa di jangkau dengan tangan .Indah sekali.


Namun, pada saat mereka sedang menikmati keindahan panorama puncak gunung tersebut , tiba-tiba tanah di mana mereka berpijak,bergetar.Awalnya hanya pelan saja.Tapi lama kelamaan semakin keras.Mereka panik.Saat itu tak ada seorang pun terlihat di puncak gunung tersebut,selain mereka sekeluarga.Delia langsung memeluk Rey,sementara kedua adiknya merapat ke sisi kedua orang tuanya.Mereka saling mendekat,saling merepat,sehingga tanpa terasa saling berpelukan.Karna mereka bingung,kemana harus pergi,mereka berada di puncak gunung.Menuruni gunung saat seperti itu,sungguh lebih beresiko lagi.Akhirnya mereka pasrah. Sementara guncangan semakin terasa .Akhirnya betul-betul mengguncang hebat,sehingga tubuh mereka seolah-olah di ayun ombak besar,ditengah lautan.Mereka semakin panik.


"Gempa...gempa...gempa..!!!"


Saat itu tengah malam,atau mungkin dini hari.Antara pukul satu atau dua .Ditengah kenikmatan tidur,dalam belaian mimpi yang indah,sayup-sayup Delia mendengar suara gemercik.Makin lama makin terdengar.Bukan suara gemericik air,tapi seperti hembusan angin yang menerpa tumpukan dedaunan,sehingga menimbulkan suara menderu dan menggemericik.Ditengah keheningan ,suara-suara itu terdengar semakin jelas.Mula - mula Delia mengira hanya hembusan angin kencang di luar rumah.Tapi semakin lama suara itu semakin mendekat.Udara di kamar itu tiba-tiba berubah menjadi sedikit hangat.Padahal dia tidur di ruangan ber-AC yang di setting hingga dua puluh derajat.


Biasanya terasa sangat dingin,sehingga Delia merasa perlu menggunakan selimut tebal,Setelah itu tidur terasa nyaman,di bawah kehangatan selimut ,dan dinginnya AC yang menyatu menjadi sebuah nuansa rasa yang nikmat di tubuh.Di tengah heningnya malam.Tapi suara itu ,udara terasa hangat .Dan suara-suara menggemericik itu kini malah di iringi dengan suara -suara tumpukan kayu yang baru di nyalakan,sebelum kayu-kayu menjadi bara.


Terdengar seperti kayu-kayu terbakar,Delia melompat dari tempat tidurnya.Selimut besar yang dia pakai langsung di campakkan.Suara tubuhnya yang melompat dan menjejakkan kakinya di atas menimbulkan suara gedebum.


Delia bergegas kaluar kamar .Saat pintu di buka,terasa udara semakin jauh lebih hangat dari biasanya.Delia sudah mulai curiga ,Tapi dua meter dia keluar dari kamar,matanya terbelalak ngeri.Delia melihat ruangan belakang rumahnya,bagian dapur dan ruang makan,sudah di penuhi kobaran api.Api berkobar-kobar,menyala hebat,membakari seluruh isi ruangan.Termasuk meja dan kursi-kursi.Api mulai menjalar menuju ruangan tengah.Jarak antara dirinya dengan kobaran api hanya beberapa meter saja.Hanya di pisahkan sebuah kamar saja.Yah...sebuah kamar saja.

__ADS_1


Deg...


Delia mendadak teringat .Kamar pemisah itu adalah kamar,dimana Revan adik bungsunya itu,tidur di situ.Jaraknya dari tempatnya berdiri hanya satu meter saja.Saat ingat,Delia langsung melompat kearah pintu kamar adiknya itu.Ia membuka pintu yang untung nya tidak terkunci dan langsung berhambur masuk.Kamar itu memang agak kedap suara.Saat masuk kamar ,ia melihat Revan masih tertidur pulas,meski di kamar itu sudah cukup panas.Beruntung api belum menjalar masuk.Tapi suasana kamar mulai agak panas,padahal ruangan itu juga ber-AC,seperti kamarnya.


"Revan...Van..." Seru Delia sambil menggoyang-goyangkan tubuh Revan untuk membangunkannya,untung adiknya itu bukan tipe orang yang susah di bangunkan,hanya sekali panggil saja Revan langsung bangun dari tidurnya.


"Ada apa,kak.."Tanya Revan sambil duduk mengucek kedua matanya sembari mengumpulkan nyawanya yang masih beretebaran.


"Entahlah,tapi sepertinya rumah kita kebakaran." Ucap Delia tenang dan pelan agar adiknya itu tidak panik,mendengar ucapan kakaknya rasa kantuk Revan langsung hilang dan berganti kecemasan.


"Jangan panik ,ayo keluar..."Ajak Delia sambil berdiri dan melangkah keluar yang di ikuti oleh Revan di belakangnya,Revan dan Delia menjerit tertahan ,karena secara tiba-tiba saat itu lampu mati.Tampaknya kobaran api sudah memutuskan aliran listrik dalam rumah.Suasana menjadi gelap ,Delia dan Revan agak kesulitan merambat-rambat mencapai pintu kamar.Saat matanya sudah agak terbiasa ,Delia dan Revan melihat celah pintu ,segera mereka menghambur keluar.


Setelah berada diluar kamar,saat itu yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana mereka dapat keluar dari rumah itu secepatnya.Tak ada terlintas dalam pikiran mereka ,untuk menyelamatkan barang-barang yang ada dalam rumah itu,Termasuk perhiasan dan sejumlah uang kes di kamar Delia.Saat itu nyawa bagi mereka yang lebih penting di selamatkan.Karna api tinggal berjarak setengah meter dari mereka.

__ADS_1


Api sudah membakar sebagian kamar dimana Revan tertidur tadi.Ruang belakang,dapur,kamar mandi dan ruang makan,sudah habis terkurung api.Satu-satunya jalan adalah keruang tamu.Hanya ruangan itu dan juga kamar Delia yang sementara ini terlihat aman dari jilatan api yang menjilat-jilat ganas.Akhirnya mereka berhambur cepat menuju ruang tamu.Membuka pintu cepat-cepat,lalu berlari ke luar.Mereka terus berlari menjauhi rumah,setelah agak jauh,mereka berbalik ke belakang.Delia dan Revan memandang nanar ke arah depan mereka.Memandang rumah mereka yang sudah di selimuti kobaran api.


__ADS_2