Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 83


__ADS_3

Sepanjang malam Delia tidak bisa tidur , pikirannya terus terbayang akan pertemuan nya dengan Rey ,ada rasa rindu yang menggebu tapi ada juga amarah dan kebencian yang tak terkira.


Hatinya kembali rapuh,cinta yang telah di kubur perlahan kembali bangkit dengan sendirinya tapi bersamaan dengan itu amarah juga menyelimutinya.


Delia mendongak saat seseorang memegang pundaknya dari belakang, seketika Delia menghapus jejak-jejak air mata di pipinya,Delia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap seseorang yang tadi memegang pundaknya dengan senyum yang tersungging di bibirnya untuk menutupi kepedihan hatinya,namun seseorang itu terlanjur sudah melihatnya dari semalam dan mengetahui masalahnya.


"Kakak baik-baik saja?" Tanya Revan sambil duduk di samping Delia yang berada di sofa kamarnya.Delia hanya mengangguk sisa-sisa air mata masih nampak jelas di wajahnya meski dia berusaha untuk menghapusnya, matanya pun begitu sembab tanda semalam ia menangis tak hentinya.


"Kamu tidak Kuliah?" Tanya Delia balik untuk mengalihkan perhatian Revan agar tak banyak bertanya lagi mengenai keadaan nya saat ini.


"Ini mau pamit kuliah,kakak tidak kerja?"


"Sebentar lagi kakak berangkat,sana gih berangkat nanti telat loh.." Ucap Delia sambil mendorong tubuh Revan agar keluar dari kamarnya, sedangkan Revan hanya bisa menurut saja,padahal begitu banyak hal yang ingin di tanyakan nya pada Delia.


"Baiklah,aku pergi." Pamit Revan,lalu keluar meninggalkan apartemen menuju kampus tempatnya menimbah ilmu.


Sepeninggal Revan,Delia pun bangkit dari duduknya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah itu ia berangkat ke klinik.


Delia berjalan keluar dari apartemen tempat tinggalnya,menuju parkiran untuk menunggu taksi yang sudah di pesannya tadi.


Tak berapa lama taksi pun datang dan berhenti tepat di tempat Delia berdiri,Delia masuk ke taksi dan taksi pun meluncur ke jalan raya,Delia tak menyadari sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan nya di dalam sebuah mobil yang tak jauh dari tempatnya berdiri,setelah taksi yang Delia tumpangi pergi,mobil itu pun mengikutinya dari belakang.


Rey keluar dari mobilnya saat ia memastikan Delia sudah berada dalam klinik tempatnya bekerja.Dengan menggunakan kacamata hitam dan baju kaos lengan panjang serta celana jeans membuat penampilan Rey benar -benar berubah menjadi begitu santai dan membuat kadar ketampanan nya semakin bertambah.Rey berjalan memasuki klinik tempat Delia bekerja,saat berada dalam klinik semua tatapan mata mengarah kepadanya.

__ADS_1


Rey masuk begitu santainya tanpa mempedulikan tatapan mata orang-orang di sekitarnya,ia kemudian menuju meja receptionis.


"Dimana ruangan dokter Delia?" Tanya Rey , resepsionis itu memandang kagum kepada Rey dan tidak langsung merespon ucapan nya,melihat tingkah aneh resepsionis itu,Rey menepuk kedua tangannya tepat di hadapan wanita yang berprofesi sebagai resepsionis .


"Apa anda ingin berkonsultasi atau ingin memeriksa kesehatan anak anda?" Tanya receptionis itu sedikit gugup karna di buat terkejut oleh Rey tadi.


"Saya suaminya."


"Hach..." resepsionis itu melongo,ia pikir Delia belum menikah,tapi laki-laki yang berdiri di depannya ini mengaku sebagai suami Delia.


"Sungguh?" Ujar resepsionis itu belum percaya.


"Kenapa,kamu tidak percaya jika saya suaminya?"


"Katakan saja dimana ruangan nya." Seru Rey sedikit kesal dan dingin karna wanita di depannya ini hanya membuang waktunya saja.


"Di...di sana tuan,anda lurus saja empat ruangan dari sini,dan ruangan terakhir itu adalah ruangan dokter Delia." Jelas nya.


Rey kemudiaan berjalan ke arah ruangan yang di tunjuk tadi,ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih.


Dengan senyum mengembang Rey berjalan di lorong-lorong klinik tempat Delia bekerja dan dari kejauhan ia melihat beberapa anak yang di antar oleh orang tuanya sedang duduk berjejer di depan ruangan Delia,Rey yang tak ingin mengganggu pekerjaan Delia memilih duduk di sebuah kursi yang terletak di pojok ruangan Delia,ia akan menemui Delia saat Delia selesai melayani para pasiennya.


Sambil menunggu ,Rey membuka ponselnya dan memeriksa email nya untuk melihat beberapa laporan yang telah di kirim Dion padanya,saat begitu fokus memeriksa ponselnya sebuah pesan masuk di aplikasi hijau miliknya,Rey membuka pesan itu dengan segera saat ia melihat nama pengirimnya.

__ADS_1


Mama : "Rey kamu di mana nak,papa sedang tidak sehat sekarang." Rey membaca isi pesan itu yang ternyata dari mamanya,Rey menghela nafas berat,ia begitu menyayangi dan menghormati wanita yang telah membesarkannya ,meski tidak terlahir dari rahim nya tapi ibunya begitu menyayangi dirinya,tak pernah membedakan kasih sayang nya dengan kakak nya,anak kandung mereka.Rey mengetik tapi di hapusnya kembali pesan yang ingin di kirim nya ke ibunya,ia masih marah dan kecewa pada ayahnya,rasa hormatnya perlahan memudar pada orang yang begitu di hormati dan di percayai nya.


Rey kembali memasukkan ponselnya di saku celananya,tanpa membalas pesan dari ibunya.Saat ini Rey belum mau bertemu atau berbicara dengan orang tua nya.


Rey kembali menatap ke arah ruangan Delia dan kursi yang tadinya berisi para pasien itu kini terlihat sudah banyak yang kosong,tinggal tiga kursi lagi yang masih menunggu giliran.


Rey beralih menatap seluruh ruangan di sekitarnya,namun saat matanya tak sengaja mengarah ke lift yang terbuka ia melihat seorang pria yang seperti nya tak asing baginya,Rey kemudian memelototkan matanya untuk memperjelas dengan apa yang di lihatnya dan sebuah kebetulan yang tak di harapkan oleh Rey matanya melihat Boy keluar dari lift seorang diri,dengan segera Rey mengambil ponselnya dan menunduk seolah ia sedang sibuk membuka ponselnya padahal ia tak ingin Boy menyadari kedatangan nya.


Boy berjalan ke arahnya,yang membuat Rey semakin menundukkan kepalanya agar Boy tak mengenalnya.Nafas Rey hampir saja terhenti saat Boy berjalan di depannya,bukan tak ingin ketahuan dari Boy,tapi ia ingin tahu kenapa Boy beradaa di klinik ini juga.


"Selamat siang pak..." Ucap seseorang menyapa Boy,Rey pun terkejut mendengar sapaan itu Karna itu artinya Boy adalah atasan mereka.


"Aku harus menyelidiki ini." Batin Rey sambil menatap Boy yang berjalan memasuki ruangan Delia dan itu membuat Rey mengepalkan tangannya dengan kuat menahan amarah.


tidak berselang lama pasien Delia pun habis,baru saja akan beranjak dari duduknya Rey melihat Delia dan Boy sedang keluar dari ruangan Delia bersama seorang perawat di belakang mereka,dengan di selimuti amarah dan cemburu Rey melangkah menghampiri mereka dan berdiri tepat di depan Delia dan Boy yang membuat keduanya terkejut.


"Makan siang bersama ku." Ucap Rey dingin dengan sorot mata yang tajam.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Boy sambil tersenyum kecut melihat kedatangan Rey di klinik.


"Aku sedang menjemput istriku."


"Hach...istri ? oh setahu ku bukankah kalian sudah berpisah?" Sinis Boy,ya dirinya mengetahui permasalahan Rey dan Delia dari Mona ,itulah mengapa Boy menyuruh sepupunya yang ada di Indonesia yang kebetulan juga berteman dengan Delia utnuk mencarikannya seorang dokter anak,yang sebenarnya hanya sebuah alibi Karna rencananya memang untuk membawa Delia ke Jerman dan semakin menjauhkannya dari Rey.Tapi ia tak menyangka jika Rey pun berada di Jerman dan kini mereka bersama di sini.

__ADS_1


Rey melangkah pelan ke arah Boy dan Delia.


__ADS_2