Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 124


__ADS_3

Vio dan Ramon bersiap untuk berangkat ke kota Hamburg.Mereka berangkat menggunakan kereta,ini kali pertama Vio pergi tanpa di dampingi oleh Revan,karna biasanya jika Vio ingin bepergian Revan selalu mendampinginya tapi karna Ramon bersamanya jadi Revan bisa melepaskan Vio,ia mempercayakan keselamatan Vio pada Ramon.


"Dengar ya ,jaga kakak ku baik-baik sedikit saja ada lecet di tubuhnya kamu berhadapan denganku." Ujar Revan saat mengantar Ramon dan Vio ke stasiun.


Ramon yang bosan mendengar kalimat-kalimat Revan yang sama sejak masih di rumah hanya diam malas menanggapi nya.


"Vio itu bukan anak kecil lagi,dia bahkan lebih tua darimu,jadi jangan cemas dia bisa menjaga dirinya sendiri." Ucap Ramon sambil membuka ponsel nya ,ia mengetik sesuatu di ponselnya dan entah pada siapa di tujukan.


"Kamu tidak tahu bagaimana cerobohnya dia saat bepergian,pokoknya jika terjadi sesuatu padanya tamat riwayatmu."Ujar Ravan lagi.


"Baiklah tuan raja,sang putri akan aman di tangan paduka." Ucap Ramon sambil membungkukkan tubuhnya sedikit dengan tangan di lipat kedepan dadanya.


Revan dan Vio yang melihat tingkah konyol Ramon menahan tawa,mereka tak menyangka dokter yang begitu di hormati di rumah sakit bisa juga melakukan hal-hal konyol.


"Baiklah,kalau begitu paduka raja mengisinkanmu membawa putri kerajaan ini." Ucap Revan sambil menepuk-nepuk bahu Ramon dengan mimik seperti seorang raja yang memberi perintah."


Ketiga orang itu kemudian menertawai tingkah konyol mereka.


"Dengar,setelah pekerjaan mu selesai kamu harus menyusul dan pastikan Rey dan Delia menyusul kemari, kamu pikir saja alasan untuk membawa mereka." Ucap Ramon sambil mengangkat tas ransel miliknya dan di pasangnya di punggungnya.


"Tenang saja." Ujar Revan .


Vio pun bersiap mengambil koper pakaian miliknya,lalu berjalan mengikuti Ramon yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju kereta yang sudah siap untuk berangkat.


Keduanya masuk kedalam kereta lalu duduk di kursi yang masih kosong,setelah semua penumpang masuk kereta pun berjalan meninggalkan stasiun,sedangkan Revan masih berdiri menatap badan kereta yang mulai berjalan meninggalkan lintasan stasiun dan menuju kota Hamburg.


Didalam kereta mata Vio selalu memandang ke arah jendela, menatap panorama alam yang di lalui, setelah puas ia pun bersandar di kursi dengan mata terpejam, sedangkan Ramon yang duduk di sampingnya,sedari tadi sudah terpejam,entah karna begitu lelah atau sekedar melepas kebosanan di kereta,mereka saling diam dengan segala pemikiran yang ada di otak mereka.


Tak terasa mereka pun tiba di kota Hamburg, keduanya lalu berjalan keluar stasiun.Ramon dan Vio duduk di sebuah bangku tunggu di pinggir jalan,Vio duduk sambil bersandar di bangku yang terbuat dari besi itu menunggu Ramon yang sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel.

__ADS_1


Setelah mengakhiri pembicaraan nya dengan seseorang di balik telfon itu,Ramon lalu berjalan menghampiri Vio yang duduk di bangku,ia kemudian duduk di samping Vio.


"Mereka tinggal di salah satu perumahan elit di kota ini,dan kebetulan apartemen yang akan kita tempati dekat dari perumahan itu." Ujar Ramon setelah duduk di samping Vio.


"Maksudmu kita akan tinggal di satu apartemen?" Tanya Vio sambil menoleh ke arah Ramon.


"Ya seperti itulah." Jawab Ramon santai, sedangkan Vio yang mendengar jawaban Ramon sedang menahan kesal.


"Aku tidak mau."


"Ya sudah,kamu cari tempat tinggal sendiri saja."


"Hach.... kau."


Vio semakin kesal mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ramon.


Sebal Vio dengan wajah cemberut tapi begitu menggemaskan di mata Ramon.


"Siapa yang menelantarkan mu,aku kan sudah menawarimu tinggal di apartemen."


"Tapi aku tidak mau tinggal satu atap dengan mu."


"Kenapa,apa yang salah?"


"Salah sangat salah,kita ini bukan suami istri dan kita tidak punya hubungan apa pun,jadi sangat salah jika kita tinggal berdua di dalam ruangan yang sama."


Jelas Vio,meskipun tinggal di luar negeri tapi Vio tak pernah melupakan ajaran orang tuanya,dan Delia selalu memberikan nasehat padanya untuk selalu menjaga diri .


"Kalau begitu,ayo kita menikah." Ujar Ramon santai,matanya menatap wajah Vio yang jadi salah tingkah atas ucapan Ramon yang keluar begitu saja dari mulutnya,meski Ramon menyimpan perasaan lebih pada Vio tapi ia selalu menjaga perasaannya itu,hingga saat waktunya tiba ia akan mengatakan pada nya.

__ADS_1


Bugh...bugh...


Sebuah pukulan kecil mengenai bahu Ramon,Vio yang sudah tak bisa menahan kekesalannya menimpuk bahu Ramon menggunakan tas kecil yang di tenteng nya.


"Jangan bicara sembarangan kamu." Kesal Vio masih dengan raut kesal.


"Jadi mau mu bagaimana,aku sudah menawarkan padamu , keputusan ada padamu,jadi pikirkan baik-baik dulu,mau ikut denganku atau jalan sendiri."


Ramon lalu berdiri dari duduknya dan berjalan kedepan,ia berdiri tepat di sisi jalan saat ia melihat sebuah mobil mewah berwarna abu-abu sedang melaju kearahnya.


Vio yang masih duduk hanya terdiam melihat tingkah Ramon yang berdiri tak jauh dari nya.


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Ramon, seseorang lalu keluar dari mobil tersebut dan tersenyum lebar saat melihat Ramon berdiri dengan tatapan mengarah kepada sosok yang baru saja keluar dari mobil, seorang wanita muda yang cantik dan anggun,terlihat wajah wanita itu begitu ceria lalu iapun memutari mobilnya dan menghampiri Ramon yang masih pada posisinya.


"Maaf membuat mu menunggu." Ujar Wanita itu saat sudah berada di samping Ramon.


"Tidak masalah."Jawab Ramon lalu menoleh ke arah dimana Vio sedang duduk dan menatapnya bingung.


"Ayo..." Ajak Ramon namun Vio masih enggan meninggalkan duduknya,entah mengapa ada rasa tak suka melihat wanita itu begitu dekat dengan Ramon.


"Dia?"Tanya Wanita itu pada Ramon.


"Dia yang aku ceritakan itu." Bisik Ramon tepat di telinga wanita itu dan tingkah Ramon itu berhasil membuat Vio menahan cemburu dan ia pun langsung membuang wajahnya kesamping tak ingin melihat kedekatan dua orang yang berbeda jenis itu begitu dekat.


Ramon yang tak mendapat respon dari Vio pun akhirnya membuka pintu depan dan masuk kedalam serta di ikuti oleh wanita itu membuka pintu bagian kemudi,walau terlihat bingung ia pun hanya ikut dengan Ramon masuk kedalam mobil miliknya.


"Kamu masih mau di situ atau aku tinggal." Teriak Ramon dari dalam mobil.


Vio yang merasa takut jika di tinggal sendirian jadi terpaksa beranjak dan menghampiri Ramon yang sudah berada di dalam mobil,Vio berjalan pelan sambil menghentakkan kakinya,entah mengapa hatinya begitu panas melihat interaksi kedua orang yang ada di dalam mobil itu,terlihat begitu mesra seperti ada hubungan spesial di antara mereka, memikirkan itu Vio semakin di buat panas dan seperti ada rasa tak suka jika melihat wanita itu begitu dekat dengan Ramon.

__ADS_1


__ADS_2