Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 166


__ADS_3

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat , dan tidak terasa pula Vio dan timnya sudah empat bulan menghabiskan waktu di desa itu . Tinggal dua bulan lagi kegiatan mereka akan berakhir,hubungan Vio dan dokter Farhan pun semakin dekat,sedangkan Ramon kembali ke Jakarta dengan terpaksa karena ibunyaenyuruhnya pulang setelah sebulan ia berada di desa. Sejak kepergian Ramon ke desa Sophia mengancam akan mengakhiri hidupnya.


"Mama sudah memutuskan untuk menikahkan kalian dua Minggu dari sekarang." Ujar ibu Ramon saat Ramon sudah berada di apartemen miliknya bersama denagn ke dua orang tuanya dan juga Sophia.


"Benarkah Ma?" Tanya Sophia sambil tersenyum bahagia karena impiannya untuk menikah dengan Ramon akan terlaksana.


Sedangkan Ramon hanya terdiam mendengar ucapan mamanya,tak ada respon yang di perlihatkan olehnya,entah itu menolak atau menerima.


"Mama sudah mengundang kedua orang tuan mu untuk datang ke Indonesia karena pesta pernikahan akan di adakan di sini saja.


"Kamu mau kemana Ramon?" Tanya mama Ramon saat melihat Ramon beranjak dari duduknya saat ia belum selesai membicarakan rencana pernikahan putranya itu.


"Aku mau ke kantor Ma." Ucap Ramon sembari berlalu meninggalkan ruang tengah menuju pintu.


"Tapi..."


"Biarkan saja dia ke kantor." Potong papa Ramon tegas tak terbantahkan membuat mama Ramon dan Sophia terkejut mendengar nada suara papa Ramon.


Mama Ramon pun terdiam tak lagi melanjutkan ucapan nya dan membiarkan Ramon pergi begitu saja.


Di kantor Ramon duduk sembari menatap bingkai foto kecil yang ada di dalam laci meja kerjanya. Sebuah potret kenangannya bersama Vio saat hubungan mereka masih sangat dekat,terlihat jelas senyum keduanya di dalam gambar itu.


"Aku merindukan mu Vi ." Batin Ramon sambil memejamkan matanya dan semua kenangan bahagia bersama Vio sewaktu mereka masih di Jerman.


Di tempat lain Vio dan dokter Farhan tengah sibuk menyiapkan segala keperluan untuk melakukan tindakan operasi pada salah satu warga yang mengalami kecelakaan dan mengalami cedera kepala yang serius.


"Bukankah saya menyuruhmu untuk selalu mengawasi mereka, lalu bagaimana bisa kamu kehilangan jejaknya. Apa saja yang kamu kerjakan di sana." Omel Ramon saat ia mendapat kan kabar dari orang suruhannya kalau Vio menghilang dari pengawasan nya.


Sejak meninggalkan desa itu Ramon memang memerintahkan seseorang untuk mengawasi segala kegiatan Vio,apa lagi saat ia mengetahui ada seorang pria yang dekat dengannya di desa itu. Ramon yang terpaksa pulang saat itu karena di paksa mamanya dengan alasan Sophia berusaha mengakhiri hidupnya karena Ramon tak pernah sekalipun datang menjenguknya di rumah sakit.

__ADS_1


Ramon membanting ponselnya di atas meja setelah ia mengakhiri panggilan dari orang suruhannya. Matanya nyalang menyimpan kemarahan , ia mengepalkan tangan begitu kuat hingga urat-urat tangannya terlihat menegang.


Ramon keluar dari ruangannya dengan membanting pintu hingga membuat sekertaris nya terperanjat kaget dari tempatnya duduk yang berada tepat di depan ruangan Ramon. Melihat raut kemarahan yang terpancar dari wajah sang bos membuat saqng sekertaris tak berani untuk menyapanya,ia hanya mampu terdiam sambil melihat sang bos yang berlalu dan masuk ke dalam lift.


Ramon masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir tepat di depan pintu lobi yang memang menunggu nya , Rendi sang asisten pun tak berani menyapanya saat ia melihat Ramon terlihat begitu marah.


Ramon duduk di bagian belakang sedang kan Rendi yang duduk di bagian kemudi kemudian melajukan mobilnya menuju jalan raya. Dalam perjalanan mereka terlihat begitu hening,Rendi tak berani membuka percakapan karena ia melihat Ramon masih di kuasai amarah .


"Antar saya ke bandara." Perintah Ramon dengan dingin.


Rendi yang bingung dan heran akan perintah sqang bos pun hanya mengikuti perintahnya tanpa berani bertanya meski di benaknya timbul berbagai pertanyaan.


Tak membutuhkan waktu lama mereka pun tiba di bandara, keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam bandara.


"Pesankan tiket tercepat untuk ke Kalimantan." Perintah Ramon lagi sangat mereka sudah berada di dalam bandara dan duduk di bangku tunggu.


"Kalimantan bos?" Tanya Rendi heran karena daqlam jadwal Ramon tak ada jadwal ke Kalimantan hari ini.


"Tapi..."


Di desa tempat Vio berada, dokter Farhan mengajak Vio ke sebuah taman yang berada di desaq itu.


Taman itu begitu indah nan asri,semua yang ada di sekitar taman yang masih begitu alami belum ada campur tangan manusia. Terdapat bukit dengan rumput hijau ,sebuah danau kecil dan tak jaug dari danau itu terlihat air terjun yang begitu indah,dan di sanalah warga sering mandi dan mencuci pakaian.


Vio dan Ramon memandang tempat itu dengan penuh kekaguman, mereka selalu saja di buat takjub oleh pemandangan yang terpampang nyata di depan mereka meski kedatangan mereka ke tempat itu bukanlah yang pertama kalinya.


"Sangat indah,di kota mana ada pemandangan indah seperti ini." Ucap Vio penuh dengan rasa takjub.


Farhan yang mendengar ucapan Vio hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.Mereka berdiri saling bersisian dengan pemandangan yang ada di depan mereka.

__ADS_1


Namu Bio seketika di buat terkejut saat tiba-tiba dokter Farhan berlutut di hadapan nya .


"Aku tahu kamu pasti sangat terkejut dan aku juga mengerti jika kita baru saja saling mengenal,namun jujur saja sejak kita bertemu di desa ini aku langsung jatuh hati pada mu.Mungkin ini terlalu cepat tapi aku sudah tidak bisa menahan lagi segala perasaan yang selama ini aku pendam sendirian. Jadi Viola Anastasya mau kah kamu menikah dengan ku dan menghabiskan sisa hidup mu bersama ku hingga kita menua bersama." Ucap dokter Farhan masih dengan berlutut s.


,meski


Vio yang di buat begitu syok akan ungkapan dokter Farhan yang secara tiba-tiba itu membuat nya tak mampu untuk berkata-kata,ia begitu syok pada apa yang di dengarnya tadi. Sebuah ungkapan cinta yang tak pernah ada dalam benaknya.


"Dokter Farhan... aku..." Lirih Vio masih dengan keterkejutannya.Matanya membulat yang justru terlihat menggemaskan di mata dokter Farhan.


"Jangan di jawab sekarang jika kamu belum siap,tapi aku akan menunggu mu hingga kamu siap untuk menerima ku. Aku tahu ini sangat membuatmu begitu terkejut,tapi percayalah semua yang aku katakan tadi adalah kebenaran. Dan harap cintaku ini tidak lah bertepuk sebelah tangan."


"Vio menghela nafas panjang lalu berkata." Tapi kamu tidak begitu mengenalku,kita bahkan baru saling mengenal itu pun karna kita bertemu di desa ini." Ucap Vio gugup,ia masih sedikit terkejut tapi masih bisa menguasai dirinya .


Mendengar ucapan Vio Ramon tersenyum lalu berdiri dari tempat berlutut dan menatap wajah Vio begitu dalam.Sejenak mereka saling menatap hingga Vio menunduk untuk memutus tatapan mereka.


Melihat Vio salah tingkah di depannya dokter Farhan tersenyum bahagia melihat rona merah yang muncul di kedua pipi Vio


"Aku tahu dan mengenalmu,tidak butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk mengenal wanita yang sudah mengisi hatiku."


Mendengar itu Vio mendongak lalu menatap wajah dokter Farhan mencari kebenaran di matanya tapi semakin ia menatap mata dokter Farhan semakin ia menemukan ketulusan.


"Aku mengenalmu begitu baik,aku mengenal kakak mu yang bernama dokter Delia,aku mengenal kakak ipar mu yang bernama Reyhan Pratama dan aku mengenal adik mu Regan yang saat ini berada di Jerman ." Jelas dokter Farhan panjang lebar.


Mata Vio membola tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan dari mulut dokter Farhan.


"Dan satu lagi,aku tahu dengan siapa dulu kamu dekat ." Sambung dokter Farhan sambil mengedipkan matanya sembari tersenyum ,sedangkan Vio semakin di buat stok akan ucapan terakhir dokter Farhan.


" Kamu...?"

__ADS_1


"Ya,aku tahu semuanya


~


__ADS_2