
"Kita mau kemana ?" Tanya Delia bingung saat matanya di tutup menggunakan kain oleh Rey.
"Ada kejutan untuk mu." Jawab Rey sambil memegang tangan Delia untuk menuntunnya berjalan menuju tempat kejutan yang telah di siapkan olehnya.
Delia tak berucap lagi,ia hanya mengikuti langkah kaki suaminya itu yang membawanya entah kemana.
Langkah mereka terhenti di sebuah bangunan mewah.Perlahan Rey membukakan ikatan kain yang di gunakan nya untuk menutup mata Delia.
Delia begitu takjub dengan pemandangan yang ada di depannya,sebuah bangunan mewah nan megah, dengan cat putih yang mendominasi,bangunan yang begitu besar berdiri kokoh di depan matanya,mungkin bangunan itu lebih pantas di sebut sebuah istana di bandingkan sebuah rumah.
"Apa aku sedang berada di alam mimpi?" Gumam Delia yang masih begitu takjub memandang bangunan mewah itu.
"Tentu saja tidak." Ujar Rey sambil merangkul pundak Delia dan mengajakanya masuk kedalam mansion mewah itu.
Delia semakin terpesona saat dirinya sudah berada di dalam dan melihat semua pelayan yang ada di mansion milik orang tua Rey di Singapura itu kini sebagian dari mereka berada di mansion tempatnya kini, termasuk pak Bian sang kepala pelayan kepercayaan keluarga Rey.
"Kita akan tinggal di sini,menghabiskan masa tua bersama-sama dengan anak-anak kita kelak." Ujar Rey dengan wajah bahagia.
Delia memandang wajah Rey dengan bahagia dan penuh haru,ia merasa begitu bahagia dengan semua perlakuan Rey padanya,merasa begitu di cintai oleh sang suami.
"Ayo..." Ajak Rey menggenggam tangan Delia menuju lantai dua menggunakan lift.
__ADS_1
"Kapan kamu membangun semua ini?" Tanya Delia,pasalnya ia sama sekali tidak mengetahui semua ini.Saat ini mereka sedang berada di dalam lift.
"Mansion ini di bangun Daddy,tapi bangunan ini belum selesai saat Daddy mengalami kecelakaan, dan sempat terkendala beberapa tahun,baru setelah aku dewasa,aku melanjutkan nya,dan baru beberapa bulan lalu selesai,dan dua hari yang lalu sudah tahap penyelesaian dan hari ini kita sudah bisa tinggal disini." Jelas Rey lalu melangkah keluar saat pintu lift terbuka.
Delia semakin di buat takjub dengan segala keindahan dan kemewahan yang ada di lantai dua.
Rey menuntun sang istri menuju sebuah ruangan yang terletak di lantai dua itu,perlahan ia membuka pintu dan terlihatlah kemegahan yang terdapat didalam ruangan itu,sebuah tempat tidur yang berukuran besar dan di lengkapi dengan berbagai furniture yang takkalah mewahnya.
"Ini kamar kita." Ucap Rey saat mereka sudah berada di dalam kamar utama milik suami istri itu.
"Benarkah,ini sangat indah." Gumam Delia,ia tak bisa menyembunyikan semburat bahagia di wajahnya.
"Tentu saja,tempat kita membuat Rey junior." Lirih Rey tepat di samping telinga Delia,yang membuat Delia seketika salah tingkah di buatnya .
*
,*
*?
Di kediaman ayah Rey terlihat begitu sepi,rumah besar nan mewah itu seperti tak berpenghuni, kebahagiaan dan kehangatan yang dulu menghiasinya kini telah hilang di telan waktu.Tak ada tawa atau pun obrolan keluarga seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Nyonya,sudah waktu nya makan malam."Ujar mbok Mirna sang asisten rumah tangga yang sudah bekerja bertahun-tahun di kediaman orang tua Rey.
"Aku tidak lapar mbok,makan saja dulu." Ucap Ibu Rey yang sedang duduk di taman belakang tempat favorit Rey dulu ketika berada di rumah itu.
Tanpa membalas ucapan dari sang majikan mbok Mirna pun kembali ke dapur, wajahnya pun ikut sendu melihat sang tuan rumah yang seperti kehilangan kehidupan nya, hari-harinya hanya di lalui dengan duduk di tempat favorit putranya, keceriaannya hilang bersama dengan perginya sang putra.Hatinya kosong,tak lagi ada gurat bahagia di wajahnya seperti dulu,semua hilang,lenyap di telan waktu, kebahagiaan dan kehangatan hilang tak bersisa.
Dari kejauhan,diruang keluarga ayah Rey menatap punggung sang istri yang masih betah berlama-lama di taman,jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam,tapi ibu Rey tak sekalipun menyentuh makanannya,sejak kedatangan Rey terakhir kali yang menyebabkan pertengkaran antara ayah dan anak itu,ibu Rey kehilangan gairah hidupnya,ia hanya makan dua tiga sendok saja,itu pun karna di paksa.
Sebuah selimut terpasang di bahu ini ibu Rey,ia kemudian menoleh sebentar lalu kembali menatap ke depan letak kolam renang.
"Kamu tidak lelah seharian menghabiskan waktu di sini,ayo makan dan istirahat lah." Ujar ayah Rey masih berdiri di belakang sang istri, sedangkan ibu Rey hanya diam membisu tak ada niat untuk menanggapi ucapan suaminya,ia masih menyimpan kekecewaan dan kemarahan atas keputusan suaminya itu.
Ayah Rey menghela nafas berat, sejujurnya ia pun sama tersiksa nya dengan sang istri,ia pun merasakan kesepian dan kehilangan tapi ke egoisan dan keras kepalanya menepis semua rasa itu.Kekerasan hati yang tak ingin menunduk meski jelas ia telah melakukan kejahatan pada keluarganya sendiri.
"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini,ingat masih ada Rosa yang membutuhkan mu.Saat ini hanya kita yang di milikinya di dunia ini." Ucapan ayah Rey kali ini berhasil memancing ibu Rey.
Ibu Rey menoleh kearah suaminya yang kini duduk di sampingnya.
"Jika kehilangan darah daging sendiri itu akan menyakitkanmu bukan? berbeda dengan kehilangan anak yang bukan darah dagingmu ." Ujar ibu Rey pelan tapi menusuk, hatinya terlampau sakit kehilangan putranya,meski tidak lahir dari rahimnya tapi ia begitu menyayangi nya seperti putra kandung nya sendiri.
Ayah Rey tertegun mendengar ucapan sang istri,tanpa berkata-kata lagi ia pun beranjak dari tempat nya dan meninggalkan istrinya begitu saja.Hatinya masih begitu keras sehingga saat mendengar ucapan istrinya bukannya melunak ia justru terlihat geram. Dengan hati di Liputi berbagai perasaan yang campur aduk,ayah Rey masuk ke ruang kerjanya.Hubungannya dengan sang istri perlahan berubah jadi dingin ,tak ada lagi keharmonisan dan kemesraan seperti dulu,tiga puluh lima tahun menjalani biduk rumah tangga yang harmonis dan bahagia di lengkapi dengan dua putra yang begitu membanggakannya,meski lima tahun lalu ia kehilangan putra sulungnya,tapi masih ada sang putra bungsu yang mengisi kekosongan hatinya, perlahan-lahan bayangan masa kecil Rey merasuk dalam ingatan nya, potongan-potongan kecil kenangannya saat ia membawa Rey kecil masuk kerumah ini,disambut bahagia oleh istri dan putra sulungnya saat itu, kebahagiaan dalam rumah mewah ini bertambah disaat Rey melangkahkan kaki kecil nya masuk kerumah itu.
__ADS_1
"Hach......" Ayah Rey mendengus pelan.