
"Kalian....Vio." Ucap Delia begitu terkejut saat mendapati kedua adiknya sudah berada di mansion dan yang membuatnya terkejut tak percaya adalah kedatangan Vio yang terlihat begitu sehat.Delia berjalan menghampiri kedua adiknya yang begitu di rindukan nya,Vio dan Revan berdiri dari duduknya menyambut sang kakak dan memeluk mereka bergantian.
Delia menatap Vio dari ujung rambut sampai ujung kakinya,mata Delia berkaca-kaca tak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya,wanita yang beberapa bulan lalu masih terbaring di rumah sakit kini telah berdiri di hadapannya dengan tubuh yang sangat sehat,tak ada cacat yang ia lihat .
"Kamu sudah sehat,ya Tuhan ...." Ucap Delia menatap tak percaya pada Vio,Delia begitu bahagia melihat sang adik kini berdiri di hadapannya .
"Sejak kapan?kenapa tidak mengabari kakak?" Ucapnya lagi sambil duduk di sofa bersama dengan kedua adiknya,sedangkan Rey masih berada di dalam kamar,ia baru saja selesai mandi dan memakai pakaian kerjanya yang telah di siapkan oleh Delia sebelum Delia keluar dari kamar karna salah satu pelayan mengetuk pintunya dan mengatakan jika ada tamu yang mengaku adiknya.
Mata Rey menyapu setiap sudut ruangan mencari sesosok wanita yang kini menemani hari-harinya,namun ia tak menemukan keberadaan istrinya itu.Rey pun keluar dari kamar dan menuju lantai bawah menggunakan lift,baru saja kakinya melangkah keluar dari lift ia mendengar suara istrinya itu tengah mengobrol dengan seseorang,ia pun berjalan menuju suara yang di dengar nya,dan ia pun takkalah terkejut saat melihat kedua adik iparnya itu tengah mengapit istrinya,mereka seolah larut dalam setiap obrolan sehingga tak menyadari kedatangan Rey.
"Hemmmm." Dehem Rey sambil menghampiri ketiga saudara itu yang berada di ruang tamu, ketiganya pun menoleh ke arah yang sama saat mendengar deheman Rey.
"Mas..." Delia berdiri dari duduknya dan menghampiri Rey yang berjalan menuju tempatnya.
Rey menatap Vio dengan tak percaya.
"Kamu..."
"Iya mas,Vio sudah sehat sekarang,tapi mereka malah menyembunyikan nya dari kita." Ujar Delia sambil menggandeng tangan Rey dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Kalian hanya berdua,dimana Ramon?" Tanya Rey lalu duduk di sofa yang berada di hadapan Vio dan Revan,Delia pun duduk di samping sang suami.
"Dokter Ramon sedang menangani pasien ,ada pasien yang sedang kritis,tadi nya kami ingin ke Indonesia bertiga,tapi tiba-tiba dokter Ramon di butuhkan di sana." Ucap Revan lalu menyeruput segelas minuman yang telah tersaji di atas meja.
"Sarapan nya sudah siap tuan nona." Ucap seorang pelayan yang baru saja datang dari arah dapur untuk memanggil majikannya itu untuk sarapan.
"Oh iya makasih,ayo kalian sarapan dulu." Ujar Delia mengajak kedua adiknya itu untuk ikut sarapan bersama,lalu ke empat orang itupun beranjak menuju meja makan.
Di rumah orang tua Rey,terlihat ibu Rey sedang sarapan seorang diri, suaminya telah berangkat ke kantor,rumah yang dulu penuh dengan kehangatan kini berubah jadi dingin nan senyap,di rumah besar itu hanya ibu Rey yang tinggal, kehampaan Dan kesepian kini menemani masa tuanya, kenyataan yang tak pernah ada dalam benaknya sekalipun.
Sementara di negeri nun jauh disana,nampak seorang dokter pria yang tengah membaca sebuah laporan kesehatan seorang pasien yang akan di tanganinya,nampak kedua alis dokter itu mengkerut saat membaca nya,ada sebuah tanya besar saat mengetahui nama sang pasien ,nama yang begitu familiar di telinganya.
Ramon yang merasa penasaran akhirnya beranjak untuk memastikan kecurigaan nya .
Saat berada di sebuah ruang kamar milik pasien anak itu,Rey membuka pintu kamar ruang perawatan milik Rosa, matanya membelalak tak percaya saat ia melihat dengan jelas seorang anak perempuan yang begitu ia kenal telah terbaring di atas ranjang pasien, antara bahagia dan sedih Ramon melangkah masuk kedalam ruangan itu dimana Rosa sedang terlelap.
"Rey pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini." Lirih Ramon masih menatap Rosa ."Ternyata om Gunawan membawa Rosa ke rumah sakit ini."
Setelah melihat Rosa ,Ramon pun keluar dari ruangan itu,kini ia akan menjaga dan merawat Rosa di sini,Ramon pun bermaksud untuk memberitahu Rey akan keberadaan Rosa saat ini.
__ADS_1
Vio dan Revan masih berada di mansion milik Rey,mereka kini telah beristirahat setelah lelah menempuh perjalanan jauh, sedangkan Delia dan Rey kerumah sakit untuk mengecek kandungan Delia.
"Lihat titik hitam itu,itu janinnya masih sangat kecil." Tunjuk seorang dokter kandungan ke layar monitor USG saat memeriksa kandungan Delia, sedangkan Delia dan Rey begitu bahagia melihat calon bayi mereka yang berada di dalam perut Delia,dan tanpa terasa air mata Delia menetes,ia begitu bahagia karna kini telah menjadi wanita dan istri seutuhnya.
Rey pun merasakan hal yang sama, kebahagiaan terpancar dari wajahnya, sebentar lagi ia akan menyandang gelar seorang ayah.
"Janinnya sehat,masih sangat kecil karna memang baru memasuki usia lima Minggu,di usia kandungan ini biasanya ibu hamil akan mengalami perubahan Horman yang signifikan seperti mual,sakit kepala dan sebagainya,saya akan memberikan vitamin dan juga beberapa obat anti mual agar mengurangi rasa mual yang ibu alami." Jelas dokter dengan senyum ramah.
"Hheemm maaf dok,apakah di usia ini untuk melakukan hubungan suami istri akan membahayakan bayi kami." Tanya Rey .
"Tidak apa-apa melakukan hubungan suami istri tapi jangan terlalu sering dan juga harus hati-hati.Ucap dokter itu sambil menuliskan beberapa obat resep di sebuah kertas kecil dan memberikan nya kepada Rey.
"Makasih dok,kami permisi." Pamit Rey lalu beranjak meninggalkan ruangan sang dokter dan di ikuti oleh Delia.
"Mas ini apa-apaan sih tanyanya hal begitu an." Ujar Delia saat mereka sudah berada di luar dan berjalan menuju apoteker untuk menebus obat yang telah di resepkan oleh dokter tadi.
"Ya nggak apa-apa dong sayang,biar kita tahu." Ucap Rey santai,mereka pun tertawa di sepanjang koridor rumah sakit,nampak jelas raut kebahagiaan dari keduanya,dan tanpa mereka sadari dari kajauhan dirumah sakit yang sama seseorang telah menatap mereka , seorang wanita paruh baya yang kebetulan datang untuk memeriksakan kesehatannya seorang diri,saat baru saja keluar dari ruangan dokter spesialis jantung matanya tanpa sengaja menangkap kedua sosok yang begitu ia rindukan namun tak bisa lagi ia gapai.
"Kamu terlihat begitu bahagia Rey,mama pun sangat bahagia jika melihat senyum mu itu nak."Gumam ibu Rey dengan pandangan yang tak lepas dari putra dan menantunya itu.Air matanya kembali menetes dengan sendirinya,air mata rindu pada sang putra yang ia besarkan dengan kedua tangannya,kini hanya mampu dilihatnya dari jauh.
__ADS_1